BIOGRAFI TERBARU

Continue to the category
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
More
    27.7 C
    Jakarta
    Trending Hari Ini
    Populer Minggu Ini
    Populer (All Time)
    Ultah Minggu Ini
    Lama Membaca: 5 menit
    Lama Membaca: 5 menit
    Lama Membaca: 5 menit
    Lama Membaca: 5 menit
    Beranda Berita Nasional Simposium Guru Besar

    Simposium Guru Besar

    Validasi Gagasan Syaykh Al-Zaytun Tentang 500 Titik Sekolah Berasrama

    0
    Ch. Robin Simanullang menyampaikan kata sambutan dalam forum Simposium 50 Guru Besar dari berbagai universitas ternama di Indonesia, pada 1 Juni 2026 di Kampus Al-Zaytun. Toto: TI/Wiratno
    Lama Membaca: 5 menit

    Simposium 50 Guru Besar dan Cendekiawan berbagai universitas ternama yang belangsung selama satu tahun sejak 1 Juni 2025 di Kampus Al-Zaytun, Indramayu, Jawa Barat, dan berpuncak pada 1 Juni 2026 dengan memaklumatkan Rekomendasi Guru Besar dan Cendekiawan Indonesia tentang Transformasi Revolusioner Pendidikan Berasrama di 500 Titik, Menuju Indonesia Raya Abadi. Sebelum Syaykh Al-Zaytun Panji Gumilang membacakan rekomendasi tersebut, sejumlah profesor menyampaikan sambutan ‘pandangan akhir’, serta memberi ‘kesempatan’ kepada Ch. Robin Simanullang menyampaikan sambutan paling akhir.

    Ch. Robin Simanullang mengatakan, jika kita melihat gagasan 500 titik pendidikan ini dari sudut pandang supranalar Syaykh Panji Gumilang, proyeksi ini menjadi sangat realistis dan memiliki dimensi religiusitas yang sangat mendalam. Sejak awal, para santri di Al-Zaytun memang dididik untuk memiliki wawasan global, namun kaki mereka harus tetap berpijak kuat pada bumi lokal. Dan basis lokal yang selalu ditanamkan di sini adalah Ideologi Pancasila.

    Berikut narasi lengkap kata sambutan Ch. Robin Simanullang, yang disampaikan dalam forum Simposium Pendidikan Nasional Para Profesor dari berbagai universitas ternama Indonesia— di Kampus Al-Zaytun, 1 Juni 2026 yang sekaligus merayakan hari lahir Pancasila:

     

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Horas!

    Sebelum saya memulai, izinkan saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada para Profesor dan Guru Besar yang hadir di sini, karena posisi mimbar ini mengharuskan saya untuk membelakangi sebagian dari Bapak dan Ibu sekalian.

    Jujur, saya merasa sangat tersanjung sekaligus bersyukur atas kehormatan yang diberikan oleh tuan rumah untuk menyampaikan kata sambutan terakhir—sebagai pamungkas—sebelum Syaykh Al-Zaytun Panji Gumilang menyampaikan kesimpulan dari simposium ini. Sejatinya, forum ini adalah dunianya para profesor dan kaum akademisi. Sementara saya hanyalah seorang generalis, seorang wartawan. Oleh karena itu, diajak berbicara di hadapan para pakar yang memiliki keahlian spesifik di bidangnya, bahkan para guru besar, merupakan sebuah kehormatan yang luar biasa bagi saya.

    Mengingat keterbatasan waktu, izinkan saya langsung mengulas apa yang telah didiskusikan oleh para profesor selama lebih dari satu tahun terakhir, sejak simposium pertama yang saya hadiri.

    Bapak dan Ibu sekalian, saat ini tengah digagas program pembangunan 500 titik pendidikan yang model percontohannya telah berdiri kokoh di Al-Zaytun. Namun, saya menangkap adanya kesan dari sebagian pihak yang menganggap gagasan ini tidak realistis. Selain itu, muncul pula kekhawatiran bahwa konsep sekolah berasrama di 500 titik di seluruh kabupaten tersebut justru akan membentuk karakter anak didik yang eksklusif.

    Menanggapi hal ini, saya ingin berbagi kesaksian. Saya telah bergaul dan berinteraksi dengan Ma’had Al-Zaytun selama seperempat abad. Sepanjang 25 tahun itu, tidak ada satu pun momentum penting di lembaga ini yang terlewatkan dari kehadiran saya. Sebagai seorang jurnalis, sejak awal saya selalu memprioritaskan penggalian informasi dari sumber primer demi menjaga akurasi. Dan sumber paling primer di tempat ini tidak lain adalah Syaykh Panji Gumilang.

    Advertisement

    Dalam tulisan awal saya dulu, saya mencatat bahwa Syaykh Panji Gumilang adalah personifikasi dari Al-Zaytun itu sendiri. Apa yang kita lihat pada Al-Zaytun adalah cerminan dari pemikiran Beliau.

    Mengapa kekhawatiran akan dampak eksklusivisme itu bisa muncul? Menurut hemat saya, hal itu terjadi semata-mata karena kurangnya informasi yang utuh mengenai apa yang sebenarnya diterapkan di Al-Zaytun. Kenyataannya, Al-Zaytun bukanlah sarang eksklusivisme, melainkan sebuah laboratorium inklusivitas. Di sini, keterbukaan sangat dijunjung tinggi.

    Sebagai contoh kecil, ketika masa libur sekolah tiba, anak-anak memang libur dari pendidikan formal. Namun, mereka justru diberi tugas untuk membaur dan bersosialisasi dengan masyarakat di kampung halaman mereka. Saat kembali ke ma’had, mereka akan dievaluasi dengan pertanyaan: “Bagaimana Anda mengaplikasikan nilai-nilai yang dipelajari di sini saat berada di tengah masyarakat?” Ini adalah bukti nyata dari proses pendidikan yang inklusif.

    Jika kita meninjau persoalan ini dengan kacamata akademis, saya berani menyatakan bahwa saya adalah seorang peneliti Al-Zaytun yang menggunakan metodologi induktif primer—sebuah metode yang saya yakini memiliki validitas tertinggi karena digali langsung dari realitas di lapangan. Sementara itu, sebagian pihak—termasuk beberapa analisis yang saya dengar—cenderung menggunakan metode deduktif yang bias dalam menilai Al-Zaytun. Akibatnya, muncullah kesimpulan keliru yang mengkhawatirkan gagasan 500 titik ini akan melahirkan eksklusivisme.

    Padahal, di sinilah tempat digodoknya cara hidup yang inklusif, selaras dengan ideologi bangsa kita. Semuanya berjalan secara empiris dan dikelola hingga bagian paling detail. Syaykh Panji Gumilang yang saya kenal adalah seorang pemikir yang selalu menggunakan nalar, namun gagasan-gagasannya sering kali melompat jauh melampaui zamannya. Beliau adalah seorang kiai yang memahami esensi agama sedemikian rupa, sehingga bagi sebagian orang yang belum memahaminya, langkah-langkah Beliau dianggap supranatural atau di luar logika mapan.

    Namun, setelah mengamati rekam jejak Beliau, saya rasa diksi “supranatural” kurang tepat. Saya sempat mencari di berbagai ensiklopedia dan kamus untuk menemukan istilah yang paling pas guna menggambarkan corak berpikir Beliau, tetapi saya tidak menemukannya. Akhirnya, saya merumuskan sebuah diksi sendiri: bahwa Syaykh Panji Gumilang, dalam dialektika berpikirnya, menggunakan metode supranalar.

    Supranalar bukanlah kebenaran relatif ala Einstein, bukan pula sekadar kebenaran progresif yang hari ini tengah masif kita saksikan, di mana saking logisnya manusia berpikir, segala hal dianggap relatif—bahkan Tuhan dan Kitab Suci ikut direlatifkan. Kebalikan dari itu, supranalar adalah sebuah metodologi berpikir yang secara matematis, algoritma, logika, dan sains belum terpecahkan, namun polanya telah ditemukan dan diterapkan di sini.

    Oleh karena itu, jika kita melihat gagasan 500 titik pendidikan ini dari sudut pandang supranalar Syaykh Panji Gumilang, proyeksi ini menjadi sangat realistis dan memiliki dimensi religiusitas yang sangat mendalam. Sejak awal, para santri di Al-Zaytun memang dididik untuk memiliki wawasan global, namun kaki mereka harus tetap berpijak kuat pada bumi lokal. Dan basis lokal yang selalu ditanamkan di sini adalah Ideologi Pancasila.

    Ketika pertama kali melakukan penelitian di sini, saya meminta dokumen tertulis berupa naskah-naskah tausiah dan khotbah Syaykh di masa lalu. Saya ingin memastikan apakah komitmen kebangsaan Beliau ini murni atau sekadar lip service. Hanya dalam waktu 15 menit, dokumen-dokumen lama tersebut diserahkan kepada saya dalam jumlah yang banyak. Setelah saya pelajari satu per satu, hasilnya sangat luar biasa: tidak ada satu pun khotbah Syaykh Panji Gumilang yang tidak berakar pada nilai-nilai ideologi Pancasila.

    Bahkan secara spontan, Beliau pernah berseloroh ketika ditanya mengenai mazhab apa yang diikuti oleh Al-Zaytun. Beliau menjawab, “Ini Mazhab Bung Karno! Mazhab Pancasila!” Meskipun disampaikan secara berseloroh dan tidak dalam bentuk sistematika akademis, dalam praktiknya, esensi kebebasan berpikir itu sangat terasa. Kita diberikan kebebasan untuk mengimani agama kita secara universal, namun dalam penerapannya, kita wajib berpijak pada lokalitas kebangsaan kita, yaitu Pancasila.

    Ketika saya bertanya mengenai afiliasi organisasi keislaman lembaga ini, jawaban Syaykh sangat filosofis: “Islam adalah agama yang memberikan kemampuan bagi pemeluknya untuk berpikir secara merdeka.” Beliau mengembangkan prinsip: merdeka pikir, merdeka ilmu, dan merdeka ruh.

    Jadi, segala kecurigaan bahwa Al-Zaytun itu eksklusif hanyalah penilaian dari luar oleh orang-orang yang tidak mengenal Al-Zaytun secara utuh, atau sekadar memamah opini dari pinggiran tanpa pernah berdialog langsung dengan Syaykh. Saya mencatat ada lembaga penelitian yang mengeluarkan pernyataan miring tentang tempat ini. Namun saat saya konfirmasi ke Syaykh, Beliau bahkan tidak tahu-menahu tentang penelitian tersebut dan ragu apakah peneliti itu pernah datang ke sini.

    Bagi saya, riset yang tidak mengonfirmasi subjek primernya secara langsung adalah riset yang sumir, tidak peduli seberapa mentereng nama lembaga yang mengeluarkan riset tersebut. Sayangnya, realitas hari ini menunjukkan bahwa masyarakat kita kadang lebih mudah memercayai hoaks kebenaran palsu (post-truth) yang dikemas seolah-olah ilmiah, ketimbang melihat fakta kebenaran yang sesungguhnya. Ini tentu menjadi tantangan besar bagi para akademisi.

    Bapak dan Ibu Guru Besar sekalian,

    Pada kesempatan yang baik ini, saya juga ingin menyinggung sedikit mengenai konsep Remontada from Within (kebangkitan dari dalam). Saya mengikuti betul bagaimana proses berpikir Syaykh dalam merumuskan konsep ini, mulai dari masa-masa sulit saat Beliau menghadapi isolasi tragedi. Langkah tersebut bukan sekadar penalaran biasa, melainkan sebuah lompatan supranalar.

    Dari sanalah lahir gagasan besar ini, yang kemudian diturunkan melalui konsep novum gradum serta metodologi L-Steam-nya. Kini, Beliau mengajak Bapak dan Ibu Profesor sekalian untuk memberikan kontribusi dan mematangkan gagasan ini secara akademis. Tujuannya adalah agar dimensi supranalar ini dapat dibedah secara ilmiah. Melalui pembuktian empiris yang sudah berjalan di Al-Zaytun, kita optimis bahwa gagasan ini bukanlah sekadar mimpi kosong, melainkan sebuah visi besar yang sangat terukur untuk direalisasikan.

    Mohon dimaafkan apabila dalam penyampaian ini saya terkesan lancang atau terlalu berani memunculkan diksi baru seperti supranalar di hadapan forum yang terhormat ini. Marilah kita bersama-sama mendukung pemikiran-pemikiran besar yang melampaui kalkulasi matematika duniawi ini, sebuah pemikiran yang tetap berdiri kokoh di atas fondasi yang telah diletakkan oleh para pendiri bangsa kita: Pancasila—yang hari lahirnya tengah kita peringati bersama hari ini.

    Sebagai penutup, mengingat faktor usia adalah kepastian yang tidak dapat kita hindari, pada tanggal 30 Juli nanti, Syaykh Panji Gumilang akan genap berusia 80 tahun. Melalui forum yang dipenuhi energi akademis para profesor ini, mari kita bersama-sama mendoakan agar Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa melimpahkan berkah kesehatan dan umur yang panjang kepada Beliau. Semoga Beliau terus dianugerahi ketajaman supranalar yang bersumber dari ilham Illahi, agar dapat terus membimbing para santri, ma’had ini, serta memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara Indonesia.

    Terima kasih atas perhatiannya, mohon maaf atas segala kekurangan dan kelantangan saya.

    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Kampus Al-Zaytun, 1 Juni 2026

    Ch. Robin Simanullang

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini