Hitung Cepat Paling Akurat

 
0
137
Hitung Cepat Paling Akurat
Jokowi – Prabowo

[OPINI] – CATATAN KILAS Pilpres 2014 – Komisi Pemilihan Umum (KPU), Selasa 22/7/2014 malam, telah menetapkan rekapitulasi perhitungan suara resmi Pilpres 2014 dan menetapkan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih 2014-2019 dengan meraih 70.997.883 atau 53,15 persen suara nasional. Mengalahkan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa yang memeroleh 62.576.444 atau 46,85 persen suara.

Dari hasil rekapitulasi perhitungan suara resmi Pilpres 9 Juli 2014 yang ditetapkan KPU tersebut, hitung cepat (quick count) lembaga survei mana paling akurat dan paling melenceng? Saya menganggap catatan tentang hal ini sangat penting sebagai bahan kajian dan pertimbangan untuk membuktikan kredibilitas lembaga survei dan untuk menghindari agar kelak ke depan jangan ada lagi lembaga survei yang abal-abal dan/atau sengaja membohongi publik serta mengacaukan perhitungan hasil Pemilu.

Setelah KPU menetapkan rekapitulasi perhitungan suara resmi Pilpres 2014, kita mencatat hitung cepat lembaga survei paling akurat adalah Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang hanya meleset 0,17 persen. Sedangkan hitung cepat lembaga survei paling melenceng adalah Indonesia Research Center dan Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) yang meleset 4,26 % dan 5,2 persen.

SMRC yang melakukan hitung cepat dengan 4.000 sempel tempat pemungutan suara memprediksi perolehan Jokowi-Kalla sebesar 52,98 persen dan Prabowo-Hatta sebesar 47,02 persen. SMRC mematok rentang kesalahan hanya 0,00 sampai 0,62 persen untuk tingkat kepercayaan 95 persen. Dan, ternyata hanya melenceng 0,17 persen dari perolehan suara resmi nasional yang ditetapkan KPU.

Selain SMRC, urutan kedua paling akurat adalah Indikator Politik yang didirikan Burhanuddin Muhtadi, dengan presisi 0,21 persen (Prabowo-Hatta 47,06% dan Jokowi-JK 52,94%. Paling akurat ketiga adalah Poltracking    yang didirikan Hanta Yudha hanya presisi 0,22% (Prabowo-Hatta 46,63% dan Jokowi-JK 53,37%). Disusul urutan keempat,
Lingkaran Survei Indonesia presisi 0,42% (Prabowo-Hatta 46,43% dan Jokowi-Kalla 53,37%). Urutan kelima, Radio Republik Indonesia (RRI) presisi 0,64% (Prabowo-Hatta 47,49% dan Jokowi-Kalla 52,51%). Urutan keenam, Litbang Kompas presisi 0,81% (Prabowo-Hatta 47,66% dan Jokowi-JK 52,34%). Kelima lembaga survei ini dinilai akurat dengan presisi di bawah 1 persen. Metode hitung cepat kredibel umumnya meletakkan rentang kesalahan tebakan (presisi) pada angka 1 persen.

Sedangkan enam lembaga survei lainnya dinilai melenceng karena presisi hitung cepatnya di atas 1 persen. Keenam lembaga survei yang melenceng itu adalah CSIS-Cyrus presisi 1,25% (Prabowo-Hatta 48,10% dan Jokowi-JK 51,90%). Populi Center melenceng 2,20% (Prabowo-Hatta 49,05% dan Jokowi-Kalla 50,95%). Jaringan Suara Indonesia melenceng 3,28% (Prabowo-Hatta 50,13% dan Jokowi-Kalla 49,87%). Lembaga Survei Nasional melenceng 3,51% (Prabowo-Hatta 50,36% dan Jokowi-Kalla 49,64%). Indonesia Research Center melenceng 4,26% (Prabowo-Hatta 51,11% dan Jokowi-Kalla 48,89%). Puskaptis paling melenceng yakni 5,20% (Prabowo-Hatta 52,05% dan Jokowi-Kalla 47,95%).

Lima lembaga survei terakhir yang melenceng 2,20% hingga 5,20% layak dikategorikan sebagai lembaga survei yang tidak akurat dan sangat tidak akurat, atau tidak kredibel dan abal-abal. Lembaga survei CSIS-Cyrus dan Populi Center yang melenceng 1,25% dan 2,20%, kendati tidak akurat masih belum mengacaukan kepercayaan publik karena masih tepat dalam memprediksi pasangan Capres-Cawapres yang menjadi pemenang.

Yang paling melenceng adalah lembaga survei yang justru memprediksi Prabowo-Hatta sebagai pemenang. Empat lembaga survei ’abal-abal’ yang layak diduga sengaja membohongi publik tersebut adalah Jaringan Suara Indonesia melenceng 3,28%; Lembaga Survei Nasional melenceng 3,51%; Indonesia Research Center melenceng 4,26%; dan Puskaptis paling melenceng yakni 5,20%.

Perbedaan yang mencolok bahkan saling bertentangan hasil hitung cepat pada Pilpres 2014 ini sempat meresahkan masyarakat. Karena Kedua pasangan Capres-Cawapres masing-masing mengklaim dan mendeklarasi kemenangan berdasarkan hasil hitung cepat yang berbeda tersebut.

Perbedaan yang mencolok bahkan saling bertentangan hasil hitung cepat pada Pilpres 2014 ini sempat meresahkan masyarakat. Karena Kedua pasangan Capres-Cawapres masing-masing mengklaim dan mendeklarasi kemenangan berdasarkan hasil hitung cepat yang berbeda tersebut. Hal ini sangat mengganggu kredibilitas lembaga survei yang selama ini telah teruji keakuratan dan kredibilitasnya.

Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) menyikapi hal ini dengan mengaudit delapan lembaga survei yang masuk anggotanya terkait hasil hitung cepat yang memuat hasil saling bertentangan tersebut. Namun Jaringan Suara Indonesia (JSI) dan Pusat Studi Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) tidak bersedia diaudit. Sehingga Dewan Etik Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) memutuskan untuk mengeluarkan kedua lembaga survei itu dari keanggotaan Persepi.
“Dengan tidak memenuhi panggilan untuk mempresentasikan hasil quick count, Dewan Etik Persepi menganggap kedua lembaga tersebut tidak memiliki iktikad baik untuk mempertanggungjawabkan kegiatan ilmiah yang sudah menimbulkan kontroversi di masyarakat,” kata anggota Dewan Etik Persepi, Hari Wijayanto, Rabu (16/07/2014).
Anggota Dewan Etik Persepi, Hamdi Muluk, mengatakan akan memberi rekomendasi kepada Komisi Pemilihan Umum mengenai kredibilitas JSI serta Puskaptis. “Kalau prosesnya ilmiahnya saja mereka tidak mau buka, bagaimana kita percaya dengan hasilnya? Kita akan kasih rekomendasi, namun KPU yang berwenang untuk mencoret dari daftar lembaga survei atau tidak,” kata Hamdi.
Sementara itu, Ketua Puskaptis Husin Yazid yang menolak diaudit menyatakan audit seharusnya dilakukan setelah 22 Juli 2014. Dia berdalih lembaga negara yang berhak mengumumkan siapa calon presiden yang menang atau kalah adalah KPU. Menurutnya, setelah tanggal 22 Juli, ketika ketahuan siapa yang salah, siapa yang benar, baru audit dilakukan.
Dua lembaga survei, Puskaptis dan Indonesia Research Center (RCTI) yang hasil hitung cepatnya mengunggulkan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, menyatakan yakin benar dengan penelitian yang mereka lakukan. Bahkan kedua lembaga itu menyatakan siap membubarkan diri jika hasil hitung cepatnya tidak sesuai dengan hasil resmi Komisi Pemilihan Umum. Publik pun menunggu pembubaran diri kedua lembaga survei ’abal-abal’ (yang amat tidak akurat tersebut.

Maka untuk menghindari terulangnya kebohongan publik oleh lembaga survei, perlu dibuat suatu aturan yang memberi sanksi kepada lembaga survei sesuai tingkatan kemelesetannya mulai di atas 1% – 2 -3%. Misalnya, kemelesetan 1 -2 -3% dikenai hukuman pidana pembohongan publik, di blacklist dan denda Rp.10 milyar. Catatan Kilas Ch. Robin Simanullang | Redaksi TokohIndonesia.com |

© ENSIKONESIA – ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA

 

Tokoh Terkait: Ch. Robin Simanullang, Hatta Rajasa, Joko Widodo, Jusuf Kalla, Prabowo Subianto, | Kategori: Opini – CATATAN KILAS | Tags: opini, Catatan Kilas, Pilpres 2014, Quick Count, Hitung Cepat

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here