Pengamat Ekonomi Pertanian

[ Bustanul Arifin ]
 
0
1126
Bustanul Arifin
Bustanul Arifin | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Bustanul Arifin masih bisa menjaga diri untuk tetap steril dari kepentingan politik praktis. Dia pengamat ekonomi pertanian brilian yang mendasarkan pisau analisa pada kebeningan nurani. Konsisten ingin memperbaiki peradaban melalui ilmu dan kapasitas yang dimiliki. Bustanul kukuh untuk berjuang membela petani melalui jalur akademis dan jalur profesional sebagai peneliti, konsultan dan penulis.

Sejumlah tawaran dan iming-iming jabatan penting di pemerintahan pernah mampir kepadanya. Tetapi dengan halus ia masih menolaknya dengan alasan sederhana. Menurutnya, membela kepentingan petani memberikan kemerdekaan tersendiri yang tak ternilai harganya.

Ia memang pria yang rendah hati dan hidup bersahaja. Rendah hati menurutnya tak berarti rendah diri. Bustanul penganut ilmu padi, yang semakin berisi semakin merunduk. Tak heran jika ia merasa hidupnya biasa-biasa saja tak ada yang terlalu istimewa.

Bustanul Arifin (44) resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap Ilmu Ekonomi Pertanian, pada Fakultas Pertanian, Universitas Lampung (Unila), Lampung, pada 20 Februari 2006. Dalam orasi ilmiah yang diberi judul, “Peran Ilmu Ekonomi Pertanian Dalam Membangun Peradaban Sebuah Refleksi Untuk Reposisi”, ia menyebut ilmu ekonomi pertanian dapat berperan dalam membangun peradaban.

Menurutnya, syarat untuk bisa memasuki peradaban, ilmu ekonomi pertanian harus melakukan reposisi dengan menempatkan petani sebagai subjek atau aktor sentral dalam pembangunan pertanian. Pria kelahiran Bangkalan, Madura 27 Agustus 1963 ini memastikan industrialisasi atau diversifikasi usaha pertanian tidak akan berjalan mulus apabila pendapatan overall petani produsen masih rendah.

“Artinya, agenda yang harus diselesaikan adalah bagaimana memberikan tambahan modal kerja dan investasi bagi petani dan kelompok marjinal lainnya untuk adopsi teknologi baru, akses informasi, intensitas tenaga kerja proses produksi, manajemen pengolahan, pemasaran, dan pasca panen lain, baik secara individual maupun secara kelompok,” jelas ayah tiga orang anak bernama Muhammad Naufal Yugapradana (13), Nabila Isnandini (8), dan Muhammad Nawaf Tresnanda (6) ini.

Menikah tahun 1991 dengan Astuti Sariutami (40), mantan adik kelasnya di kampus, Bustanul Arifin menyelesaikan studi S-1 di IPB Bogor tahun 1985. Setelah melalui persiangan ketat berhasil memenangkan mendapatkan beasiswa fellowship fullbright, Bustanul menyelesaikan S-2 (Master of Science) tahun 1992 di University of Wisconsin-Madison, AS dengan tesis Land Use Intensification of Indonesia Agriculture. Di kampus sama tahun 1995 ia menyelesaikan S-3 (Doctor of Philosophy) dengan judul disertasi The Economics of Land Degradation: A Case Study of Indonesia Upland.

Sebagai pria berdarah Madura, kehidupan sekeliling Bustanul di masa kecil sangat kental dengan NU. Ia lahir sebagai anak keempat dari enam bersaudara, dan ketika ibu kandung meningal dunia ayahnya menikah lagi hingga mereka lengkap menjadi 10 bersaudara. Ayahnya yang seorang tokoh NU, dan kiyai pemilik sebuah pesantren, itu lalu menempatkan Bustanul ke SMP Muhammadiyah hingga dianggap berkhianat sebab peristiwa semacam ini jarang pernah ada dan jauh dari cerita orang kebanyakan.

Tetapi pilihan tersebut rupanya memberi Bustanul pelajaran praktis bagaimana berdemokrasi dan beradu argumen secara jujur apa adanya. Bustanul kerap berbeda pendapat secara tajam, adu mukut hingga bertengkar dengan saudara-saudaranya yang mempertahankan tradisi asli NU, dengan Bustanul yang membawakan ajaran Muhammadiyah, hanya karena masalah sepele. Misal perihal bagaimana solat pakai khunut, pakai peci, pakai celana dan semacamnya. Ayahnya yang turut menyaksikan pertengkaran itu hanya senyum-senyum saja.

Pendidikan di rumah model demikian dirasakan Bustanul sebagai pelajaran demokrasi pertama beradu argumen. “Saya beruntung dengan pendidikan seperti itu, keras. Orang jaman dulu mana ada yang tidak keras, dan saya mengalaminya pasti keras, tidak boleh gagal dan seterusnyalah,” kata Bustanul yang mengangap, pasal pertama dari demokrasi adalah mendengarkan pendapat orang lain terlebih dahulu, baru menawarkan pendapat sendiri.

Setamat SMA Negeri 2 Bangkalan Bustanul bercita-cita sekali ingin kuliah sarjana kedokteran di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Ia sangat mengidealkan seorang dokter yang sekali nyuntik pasti dapat duit. Tetapi para guru SMA mendorong-dorong siswa pemegang ranking dua ini, supaya mau mengambil kuliah di IPB Bogor. Alasannya, mumpung bisa masuk tanpa test, sebab di Unair masih belum tentu bisa diterima. Alasan ini masuk akal, lalu diterima masuk IPB, padahal guru-guru itu rupanya hanya ingin membuat image baru tentang sekolahnya yang baru berdiri tetapi sudah meluluskan alumni pertama masuk tanpa test ke sebuah PTN ternama.

Setelah ‘bermukim’ di Kota Hujan Bogor pada akhirnya Bustanul harus mengakui dan mengucapkan salut kepada Andi Hakim Nasution (Almarhum), Rektor IPB Bogor waktu itu yang memberi banyak warna terhadap pola kehidupan ilmiah Bustanul. Di Bogor Bustanul berkenalan dengan beragam asal suku bangsa, yang membentuk visi barunya tentang ke-Indonesiaan, sehingga tak lagi terkungkung dengan pemikiran sempit di kampung. Di Bogor ia mengalami titik balik baru, yang lalu berlanjut lagi tatkala berkesempatan menginjak benua lain, di Amerika Serikat, saat mendapat beasiswa mengambil program S-2 di Universitas Wisconsin, Madison. Perjalanan ini memberi Bustanul wisdom yang tak berbatas, bahwa sesungguhnya di atas langit masih ada langit.

Orang Lapangan
Bustanul Arifin pendiri Institute for Development of Economic and Finance (INDEF), salah satu wahana lain pengabdian Bustanul Arifin dalam membangun peradaban, semasa kuliah dan bertugas sebagai Asisten Dosen (antara 1983-1985, untuk mata kuliah Ekonomi Umum di bawah Prof Rudy Sinaga, dan Kependudukan di bawah Prof Sediono Tjondronegoro), memang bercita-cita ingin melanjut ke pendidikan yang lebih tinggi di luar negeri. Oleh dosennya ia lalu disarankan untuk melamar menjadi dosen sekaligus pegawai negeri di luar Jawa. Sebab jika tetap bercokol mengabdi di IPB daftar antriannya sudah sangat panjang.

Sambil memasukkan lamaran, pemuda Bustanul yang sudah seorang sarjana bergelar insinyur pertanian, itu berkesempatan bekerja di Aceh menjadi Kepala Project Management Unit (PMU), Proyek Pengembangan Pedesaan Wilayah (P3W) Transmpigrasi Terpadu Krueng Tadu, Aceh Barat, D.I. Aceh (1986-1987). Di kawasan yang gadisnya cantik-cantik itu, Bustanul menikmati sekali bekerja langsung bersama petani di lahan transmigrasi yang terpencil. Di sana ia hidup tanpa koran tanpa televisi tanpa listrik dan kalau mau pergi kota jaraknya jauh sekali.

Sebagai Kepala Unit ia bertugas membuat demplot, demonstrasi percontohan pertanian yang baik untuk demplot jagung, cabe dan sebagainya. Karena merupakan insinyur duluan yang ada di sana, ia lalu dianggap sebagai pembina atau tokohlah oleh sesepuh di sana. Jadi kalau ada acara Maulid, atau Lebaran, ia duduk di depan bersama Pak Lurah dan diminta memberikan sambutan. Bahkan, karena ketokohannya, petani yang bercerai pun lapor kepada Bustanul, atau petani yang berkonflik mengenai air. Ia menikmati betul profesi itu, yakin itu tak lebih sebagai proses pematangn diri pribadi dan kepemimpinan.

Setelah 10 bulan bekerja Bustanul diminta cepat-cepat datang ke Lampung. Singkat cerita ia dipanggil pulang, menjalani proses seleksi yang demikian cepat, termasuk tes bahasa Inggris, aktif mengajar makro-mikro. Dari seribuan orang yang melamar untuk dapatkan beasiswa ke Amerika, terseleksi menjadi 800 orang, diinterview 400 orang, dan yang diberangkatkan 12 orang. “Saya termasuk yang 12 orang itu,” kata Busatnul, tepat pada tahun 1988 akhirnya berkesempatan pergi sekolah ke luar negeri.

Keberhasilan mendapatkan beasiswa itu tak terlepas pula dari kejujuran Bustanul dalam menuliskan pengalaman-pengalaman yang didapatkannya di lapangan, melampirkan profil latar belakangnya sebagai ilmuwan ekonomi pertanian, dan keinginan mengambil pendalaman ilmu sumberdaya lahan pertanian. Menurut Bustanul di sana ada degradasi lahan, dan pemecahannya harus dengan pendekatan multidisiplin, bukan hanya ilmu ekonomi semata tetapi juga sosial dan sebagainya. “Kira-kira itu yang mungkin membuat impress para penyeleksi,” tutur Bustanul mengenang.

Pengalaman di Universitas Wisconsin
Kuliah di University of Wisconsin-Madison, Amerika, itu tak cukup hanya mengandalkan beasiswa. Apalagi sudah dengan satu orang anak, dan satu istri yang harus ditanggung. Anak pertama Bustanul, Muhammad Naufal Yugapradana itu lahir di Amerika.

Untuk menambah penghasilan Bustanul nyambi bekerja di perpustakaan. Ia mengerti betul komputer atau programmer. Bekerja di pusat komputer dapat uang, sambil mengerjakan pekerjaan sekaligus ia menulis disertasi.

Di University of Wisconsin ini kulturnya berbeda dengan di IPB. Sejumlah pelajaran berharga berhasil diperolehnya selama bermukim di sana. Misalnya, banyak hal yang bisa menjadi pertimbangan, atau bahan, mengapa negara lain memperhatikan pendidikan dan menghargai orang tinggi sekali. Bisa disambungkan dengan ilmu politik, setelah melihat dengan mata kepala sendiri, mengalami dan melihat orang, Bustanul menyimpulkan bahwa paling tidak yang namanya demokrasi bunyi pada pasal pertamanya mungkin menyebutkan mendengarkan pendapat orang lain, bukan memasukkan pendapat sendiri dulu. “Kita berpendapat setelah orang lain kita ketahui pendapatnya. Jadi, sebetulnya tenggang rasa masih nyangkut di situ,” kata Bustanul.

Usai menamatkan S-2 tahun 1991, break selama enam bulan, Bustanul melanjutkan program S-3 di universitas yang sama dan menulis disertasi tentang degradasi lahan. Pilihan ini didasari ketertarikan dan kepedulian sejak awal tentang ide pembangunan yang berkelanjutan, atau sustainability development. “Waktu itu semua orang berbicara mengenai pembangunan berkelanjutan, membuat saya tertawa juga. Saat itu ada Summit Rio sehingga saya ikut terbawa ingin meneliti lebih jauh mengenai keberlanjutan pembangunan. Saya menuliskan, ada penyusutan di lahan atau sumberdaya alam secara umum yang perlu dipertimbangkan dalam perhitungkan GNP,” kata Bustanul penulis sejulah buku dan ratusan artikel di berbagai media mengenai ekonomi pertanian.

Terlibat Dirikan INDEF
Bustanul menyelesaikan S-3 dan meraih gelar Ph.D tahun 1995, terus pulang ke Indonesia saat-saat INDEF mulai berdiri. Ia mulai ikut-ikutan di sana, kendati suasana di tahun 1995 itu masih tidak terlalu baik untuk berdemokrasi. Satu hal membuat Bustanul semakin tertarik untuk bergabung, sebuah hasil studi INDEF tentang “Tata Niaga Tepung Terigu” terbukti cukup menggemparkan.

Temuan dan publikasi mengenainya adalah sesuatu hal yang baru pada waktu itu, dimana sebuah lembaga independen berani mengkritik pemerintah secara terbuka. Tentu saja, temuan ini berhubungan pula dengan Om Liem (Sioe Liong), Indofood, Bulog dan seterusnya. Ia pun ditelepon Mas Didik (J. Rachbini), membuat Bustanul ikut-ikutan. “Dari situ awalnya sampai akhirnya keterusan. Saya tidak terlibat dalam studi itu sebab masih sekolah di Amerika,” kata Bustanul.

Bustanul memang tidak terlibat mendirikan INDEF dari awalnya. Pembentukan awal, ide, gagasan, pembentukan kaedah, kumpul-kumpul dan kongkow-kongkownya sudah dimulai Agustus 1995 saat Bustanul asih di Amerika. Ia pulang ke Jakarta Oktober, saat INDEF sudah berdiri tetapi hanya berdiri sebab belum berbadan hukum. Karena itu sangat tepat bia ia lebih berperan sebagai re-establishing saja. Ketika INDEF didaftarkan menjadi PT ia masuk di situ dan menjadikan INDEF menjadi lebih baik sebagai pusat kajian ekonomi dan keuangan.

Nah, setelah berada di sana Bustanul membawakan misi utama pendirian INDEF sebagai public education. INDEF berperan lebih banyak memberikan pelayanan dan pendidikan publik. Paling tidak, menyampaikan kebenaran walau kebenaran itu pahit.

Berada di Jakarta, selain di INDEF, Bustanul mulai kenal banyak orang Jakarta. Ia pun mulai berkiprah di berbagai bidang pengabdian seperti mengajar, hingga menjadi penasehat di Golkar di DPR tahun 1997 setelah mendapat izin secara resmi dari universitas. Di almamater IPB Bogor ia mengajar Studi Kebijakan, di UI sebagai Koordinator Ekonomi Politik, di Unila mengajar Ekonomi Sumberdaya Alam dan Metodologi Penelitian Ekonomi (MPE). Dalam beberapa kali juga mengajar di Unri Riau dan di Universitas Pajajaran.

“Sebagai dosen saya harus mengajar, sebab kalau tidak mengajar ya bukan dosen,” kata Bustanul, yang juga pernah punya pengalaman konsultansi seperti di USAID, Bank Dunia, UNDP, ILO. Kalaupun pernah bekerja di badan usaha berbentuk PT, itu tak lebih di INDEF yang memang berbadan hukum PT. Tetapi INDEF bergerak masih dalam lingkup pendidikan dan penelitian, semua produksinya berbentuk buku hasil-hasil penelitian. “Jadi, saya belum pernah bekerja di sektor swasta murni, di pabrik atau apa, mungkin tidak tertarik juga. Menurut saya tantangannya terlalu biasa di dunia ini,” kata Bustanul.

Jika ada yang bertanya, mungkinkah akan bekerja di private sector, Bustanul memastikan jawabannya tidak. Karena itu bukan kebiasaan atau core-nya. Demikian pula apabila ditanya lagi apakah mau bekerja di birokrasi, kata Bustanul itu tidak menarik, tak banyak tantangannya menjadi pimpinan birokrasi. “Apakah Anda tanya kepada saya mau di politik, seperti Didik dan Dradjad (Hari Wibowo), mungkin nggak juga, tidak terlalu menariklah buat saya. Mungkin di politik adalah pengelolaan konflik tingkat tinggi dan saya tidak berminat untuk itu, tidak tertarik belum tahu kalau lima atau sepuluh tahun lagi. So far belum tertarik.”

Konsisten Melakukan Penelitian
Di luar mengajar dan menjadi pengamat ekonomi pertanian, Bustanul banyak melakukan kegiatan penelitian dan konsultansi.

Belum lama ini, misalnya, ia melakukan penelitian studi kakao di 16 kabupaten di Sulawesi Selatan. Penelitiannya sederhana tetapi ada kesan menarik yang membuatnya trenyuh. Kesan mereka, terutama suku Bugis dan suku Makassar itu, belum ada Presiden yang sebaik Habibie. Kenapa, karena sewaktu Habibie menjabat semua orang kampung bisa naik haji, semua petani makmur sebab harga coklat kakao sekilo Rp 20 ribu. Sekarang, payah, bisa empat enam ribu rupiah saja per kilo sudah hebat. “Saya tentu catat saja, tak harus saya komentari itu karena nilai tukar dolar, saya cuma bilang, oh, begitu, ya.”

Setiap melakukan penelitian Bustanul selalu menjaga integritas diri dalam menghasilkan penelitian. Ia percaya lebih banyak yang bisa dijaga untuk menghasilkan penelitian yang objektif. Minimal, yang harus diambil sebagai parit garis untuk seorang peneliti adalah objektivitas itu. Baik katakan baik, tidak katakan tidak. Untuk sementara ini pemberi atau sponsor penelitian cukup maklum dengan sikap Bustanul itu. Kepada sponsor biasanya ia bisa berdebat dua hal saja, bisa dari hasilnya dan bisa dari metodologinya.

Sebagai peneliti ia yakin bekerja bukan sebagai budak dari pemberi dana, tetapi pasti memiliki tujuan tersendiri pula di setiap penelitian. Yang dilakukan Domain pekerjaan peneliti adalah memproduksi ilmu pengetahuan, atau producing knowledge. Karena itu setiap peneliti wajib mempublikasikan penelitiannya. Tidak perlu ada keluhan penelitian hanya untuk laporan, tetapi harus untuk pengaplikasian sebab knowledge tidak pernah ada batasnya. “Kita hanya memproduksi pengetahuan. Padahal, ilmu kita itu hanya setitik tetes air di tengah lautan. Berarti kita tidak ada apa-apanya,” kata Bustanul.

Karena bekerja menghasilkan ilmu pengetahuan, Bustanul berprinsip untuk harus terus berkarya sampai meninggal dunia. Ia yakin makin banyak peneliti, makin banyak penelitian, maka ide pasti makin berkembang. Ide berbeda dengan kartu, atau barang yang bila dipertukarkan masing-maisng dapat satu kartu atau barang. Tetapi, ide bila dipertukarkan masing-masing menjadi mendapat dua ide. Itu yang esensi dari penelitian, membuat ide makin kaya, dan ilmu pengetahuan berkembang untuk kemaslahatan manusia.

Penelitian memberi rasa senang tersendiri bagi Bustanul. Dengan menjadi peneliti ia merasa bukan menjadi yang paling tahu, tetapi menggali sesuatu yang tidak diketahui. Kalau seorang peneliti, atau yang disebut pengamat atau siapa pun, sudah merasa sebagai yang paling tahu mungkin sudah bukan peneliti lagi. Menurut Bustanul dia harus humble, harus rendah hati tapi percaya diri. Biasanya orang yang percaya diri itu tinggi hati. Atau, kalau orang tidak percaya diri biasanya rendah diri. Rendah hati itu bukan rendah diri, tetapi makin berisi makin merunduk. Seorang peneliti harus skeptis mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mempertajam dan untuk dia berkontribusi pada pemecahan persoalan.

Bustanul selalu mengajarkan mahasiswa, atau kepada pejabat eselon dua yang mengikuti training di Diklat SPAMEN, “Bapak adalah pelayan bagi petani. Kalau Bapak sudah merasa pejabat saya pikir itu sudah pelanggaran utama dari birokrasi.” Ia mengatakan demikian walau sadar dan tahu tidak banyak yang mendengarkannya. Tetapi ia akan terus mengatakan itu, karena kita sudah terlanjur salah menempatkan pejabat sebagai terjemahan yang jelek. Pejabat seharusnya bertindak sebagai adalah civil server, atau pelayan publik, tetapi kita salah menerjemahkan government itu sebagai memerintah. Itu salah, tidak tepat, to govern ya mengatur, atau memfasilitasi.

Usung Perbaikan Peradaban
Bustanul Arifin memberi judul orasi ilmiah saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap Fakultas Pertanian Uiversitas Lampung (Unila), di Lampung pada 20 Februari 2006 tergolong unik lain dari yang lain. Yaitu, “Peran Ilmu Ekonomi Pertanian Dalam Pembangunan Peradaban Sebuah Refleksi Untuki Reposisi.”

Unik, sebab ia memposisikan ekonomi pertanian sebagai unsur terpenting jika ingin membangun peradaban lebih baik, sesuatu yang belum pernah diangkat oleh para ekonom pertanian sebelumnya. Bustanul merasa belum tuntas dengan apa yang saya pidatokannya itu. Tetapi, inti pidatonya adalah, bahwa ekonomi pertanian telah berkontribusi besar dalam peningkatan keberadaban manusia, minimal dari perumusan kebijakan.

Dengan kata lain bisa pula diartikan sebaliknya, kalau lingkungan tidak beradab yang salah bukan ekonomi pertaniannya, tetapi kemampuan kita untuk menterjemahkan ide-ide objektivitas desain itu menjadi langkah kebijakan atau langkah praksis dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi, siapapun kalau menemui ketidakberadaban itu bukan refleksi kesalahan dari suatu science, atau ilmu, atau knowledge. Tetapi tidak lebih ketidaksempurnaan kita sebagai manusia mengaplikasikannya. Yang diketahui khalayak peradaban adalah common denominator atau tujuan umum untuk perbaikan civil society. Civil society sangat dekat dengan civilize atau masyarakat beradab. “Nah, di situ saya uraikan sejarah mulai ilmu ekonomi pertanian ini berkembang, bagaimana Indonesia berhasil dalam melakukan pembangunan pertanian, kemudian kita mundur lagi,” kata Bustanul.

Ia percaya, mundurnya peradaban sangat berhubungan erat dengan mundurnya sebuah kinerja kesejahteraan sosial ekonomi. Kalau kita salah mengaplikasikan science, kita salah mengaplikasikan ilmu pengetahuan, umumnya cenderung mengarah kepada ketidakberadaban dengan segala definisinya. “Argumen saya di situ, perkembangan ilmu ekonomi pertanian ini seiring sejalan dengan pembangunan peradaban. Peradaban yang mengarah kepada keterbukaan, globalisasi, itu seiring juga bahwa kita harus mampu kompatibel, kalau tidak mampu mewarnai peradaban, paling tidak mampu kompatibel dengan perubahan peradaban.” ti/ht-am

02 | Kaya Ide Pembangunan Pertanian

Sebagai Guru Besar Tetap Fakultas PertanianUniversitas Lampung, kegiatan sehari-hari Bustanul Arifin berkutat pada mengajar, menulis, meneliti, atau kalau di rumah bermain badminton. Hidupnya benar-benar terlalu biasa. Tetapi bila didalami terbuktilah, Bustanul Arifin memiliki banyak ide bagaimana membangun pertanian yang tangguh. Tujuannya sederhana saja, memperbaiki peradaban demi kemaslahatan umat manusia.

Sesekali Bustanul Arifin masih diminta untuk memberikan masukan kepada Menteri dan sejumlah pejabat di bidang ekonomi pertanian. Seperti, memberi masukan ke Departemen Perdagangan, atau Dewan Ketahanan Pangan. Tetapi kegiatan itu selain tak rutin, agaknya sudah tak terlalu menarik baginya. Bustanul menyebut diri bukan orang kantoran. Kegiatan kantorannya tak lebih dengan terus mengajar dan menguji. “Hidup terlalu indah kenapa ambil pusing. Yang penting sehat dan berpikiran positif,” bunyi rahasia dan kunci hidup orang yang tampak bersahaja dan biasa-biasa saja ini.

Bustanul ternyata tak tertarik untuk menjadi eksekutor kebijakan di lembaga eksekutif pemerintahan. Ia mengatakan sudah sangat bangga dengan menjadi eksekutif untuk tugas-tugas kesehariannya yang sudah cukup menyita waktu. Sebagai eksekutif di situ ia melaksanakan tanggungjawab membimbing, mengajar, dan membuat pintar orang tanpa harus menjadi pintar sendiri. “Saya merasa melaksanakan tanggungjawab eksekusi di situ. Kalau Anda maksudkan saya sebagai birokrasi, atau apa, saya memang tidak akan mencari jabatan itu,” urainya.

Ketidaktertarikan Bustanul menjadi eksekutif di pemerintahan erat kaitannya dengan kisah kuno benaran. Konon dalam sebuah keluarga ada anggota yang inginnya memiliki sesuatu. Misal seorang anak yang ingin mobil-mobilan, atau anak yang selalu inginnya lebih dari saudaranya yang lain. Kemudian ketika kepala keluarga pergi keluar rumah tentu berpikir tanggungjawab rumhatangga ia akan berikan kepada siapa. “Dugaan saya, Anda tidak akan memberikan tangungjawab itu kepada anak Anda yang ingin mendapatkan sesuatu itu. Anda pasti memberikan tanggungjawab kepada orang yang memang Anda dapat percayai, anak atau siapapun yang Anda tahu tidak ambisi pada sesuatu apapun. Kalau itu yang terjadi, saya yakin Indonesia oke,” kata Bustanul mencoba berfilsafat.

Kata dia, kalau Indonesia memberikan sesuatu kepada orang-orang yang inginkan sesuatu hingga mau gesek sana gesek sini, maka dia bekerja pasti tidak akan genuine tidak tulus. Dia mungkin tidak akan pernah mengeksekusikan apa yang dimandatkan. Padahal kepadanya sudah sempat diharapkan melaksanakan apa yang sudah menjadi tugas dan tanggungjawabnya. Sudah terlanjur ia diharapkan memiliki program-program yang lebih cukup dan baik dan diyakini pasti bisa dilaksanakan. Tetapi dia pasti menjadi tidak genuine di situ karena dasarnya ambisi tadi.

Cita-Cita Sederhana
Bustanul Arifin sebagai akademisi tulen memiliki hidup yang biasa-biasa saja, bahkan sampai-sampai ia tak berambisi untuk menginginkan sesuatu hal apapun padahal usianya masih sangat muda belia. Ia sesungguhnya memiliki prospek karir dan masa depan yang cerah.

Kendati mengecap pendidikan tinggi di luar negeri, terbuktilah Bustanul Arifin memiliki cita-cita tentang Indonesia masa depan sangat sederhana saja. Ia hanya ingin bisa melihat anak-anak dan cucu-cucunya kelak betah menjadi orang Indonesia. Ia tidak bermuluk-muluk bisa merasakannya segera, atau lima tahun lagi itu akan terlihat sebab dibutuhkan proses yang mungkin memakan waktu hingga 20 tahun ke depan. Saat itulah menurutnya kita baru bisa melihat Indonesia yang sudah lebih baik.

Bustanul mendasarkan cita-cita sederhananya pada proses siklus pertama yang sudah dilalui Indonesia. Sekarang kita sedang berada pada siklus kurva sinus yang akan menaik lebih baik lagi. Tidak akan lama-lama tapi tidak juga akan cepat. “Kalau saya menjadi bagian dari upaya untuk naik seperti itu, saya tentu saja sangat bangga. Tetapi, tentu saja saya menjadi tidak bangga kalau saya menjadi bagian dari penurunan di kurva itu. Saya yakin kita masih akan bangkit,” kata Bustanul optimis melihat masa depan Indonesia yang baik.

Memiliki cita-cita sederhana tentang Indonesia masa depan tetap tidak membuat Bustanul tertarik untuk masuk dan berada pada lingkaran dalam para pengambil keputusan. Tempo hari, misalnya, ada seseorang pejabat yang menawarinya kedudukan tertentu. Kepadanya Bustanul malah mengatakan, biarkan saya mengejar karya akademik saya dulu.

“Dia menerima alasan itu. Mungkin lima tahun lagi saya akan berpikir lagi. Mereka menghargai pendapat saya. Untuk sementara saya senang berada pada pilihan saya, saya ingin berbuat lebih banyak lagi,” kata Bustanul. “Yang penting kerja keras. Jangan berharap keberhasilan akan datang dengan sendirinya. Itu merupakan proses panjang dan berliku, dan dalam proses pencarian itu seninya harus dinikmati. Kita semua bagian dari universe. Kalau sudah menentukan pilihan maka harus kommit pada itu jangan mencla-mencle.”

Bustanul mengatakan kata kommit mahal. Ngapain komitmen banyak-banyak tetapi kinerjanya payah. Lebih baik komitmen tidak terlalu banyak tetapi tercapai. Kata ahli strategi, lebih baik Anda memiliki strategi tidak sempurna 100 persen, mungkin 80 persen saja, tapi Anda mampu melaksanakannya semua 100 persen. Daripada Anda memiliki strategi 100 persen, tetapi hanya mampu melaksanakan 80 persen saja itu tidak baik. “Itu berarti ada growing, growing dan growing. Tidak apa-apa growing dan evolution. Ini pelajaran berharga untuk para politisi untuk tidak memberi janji muluk-muluk tapi tak mampu. Janjinya yang realistis saja,” kata Bustanul.

Berdasar Keseimbangan Umum
Bustanul Arifin berbicara masalah peradaban dalam orasi ilmiahnya sebagai Guru Besar Tetap Fakultas Pertanian, di Universitas Lampung (Unila), Lampung pada 20 Februari 2006.

Mengangkat isu peradaban tak berarti Bustanul sudah meninggalkan mikro pertanian, sebagaimana dipelajari saat kuliah di IPB Bogor. Tetapi sebagai pengusung ide perbaikan peradaban melalui ekonomi pertanian, Bustanul harus konsisten untuk selalu berkutat pada persoalan kemaslahatan manusia minimal pada proses kebijakan di suatu negara.

Ilmu itu universal tidak ada batasnya. Awal berkembangnya ilmu ekonomi pertanian memang dari mikro, seperti bagaimana mengkombinasikan pupuk dengan tenaga kerja, dengan air dan seterusnya dengan menghasilkan keuntungan yang sangat mikro. Tetapi belakangan ekonomi pertanian tidak dapat lagi dipisahkan dari teori ekonomi pembangunan. Ia mencontohkan persoalan beras, di tingkat petani ini persoalan mikro. Tetapi beras menjadi sangat makro kalau tiba pada pengambilan keputusan. “Mikro tetap penting. Tetapi kombinasi atau formasi makro-mikro menjadi sinergi yang cukup baik,” kata Bustanul.

Hampir semua sejarah negara-negera di dunia membangun ekonomi baik itu industri maupun jasa, dimulai dari pembangunan yang berbasis pertanian minimal pada resources. Termasuk Taiwan yang sangat ketat membangun ekonomi pertanian. Demikian pula dengan Hongkong dan Singapura yang diperdagangkan adalah komoditas pertanian. Singapura sangat terkenal dengan kinerja re-ekspor beberapa komoditas pertanian. CPO atau minyak mentah kita lewat sana, lalu diolah, dipak, kemudian diekspor ulang.

Karena peta perjalanan pembangunan ekonomi semua negara pasti berbasis pertanian, membuat Bustanul tiba pada kesimpulan untuk harus lebih banyak menelusuri makro. Dan bila berbicara masalah makro pertanian itu berarti sudah sangat dekat dengan lingkungan politik saat berlangsung pengambilan keputusan.

Tetapi Bustanul menyimulkan pemerintahan sekarang masih belum mampu menterjemahkan itu. Tidak usah bersoal kepada politik praktis, pada proses pengambilan kebijakan saja tidak segampang yang kita maui tidak segampang teori berbicara. Di dalamnya banyak sekali resistensi, keengganan dan keacuhan semua pihak. “Dan kalau sudah sampai ke sana maka pasal satu dari peradaban sudah tak terpenuhi. Kita sudah tak beradab. Jadi, memang harus ke makro sana, integrated,” urai Bustanul.

Bustanul tidak jauh-jauh berpikir, ia memperbandingkan saja ketidakmampuan pemerintahan sekarang dengan era Pak Harto. Menurutnya Pak Harto mengerti secara baik persoalan makro dan mikro pertanian. Dia tahu harus mengelola birokrasi seperti apa. Pemerintahan sekarang belum mampu, apalagi kalau dikaitkan dengan cerita petani kakao dari Bone. Jadi mandat yang diberikan rakyat kepada pemerintah untuk membangun pertanian sampai sekarang belum mampu diterjemahkan menjadi suatu action yang nyata. Kata Bustanul, yang ideal dalam pengambilan keputusan adalah model deduktif-induktif, dari yang besar, makro, ambil kasus, perdalam, kemudian implikasikan lagi ke makro.

Bustanul sadar ekonomi pertanian tergolong rumit. Tak heran apabila Indonesia negara agraris, yang mestinya perekonomiannya didorong oleh pergerakan pertanian tetapi nyatanya tidak. Sebuah artikel di Journal American Economic Review yang dibacanya menyebutkan, pembangunan pertanian merupakan in general equilibrium atau keseimbangan umum. Teori keseimbangan umum ini menyebutkan, kalau dikasih shock (kejutan) di sini maka justru di sana yang bergoyang.

Aplikasinya, kalau mau mengembangkan hibrida misalnya, atau padi varietas unggul berproduksi tinggi, tidak sesederhana berikan itu lalu ukuran produksi pasti akan meningkat. Sebagai negara agraris keinginan membangun pertanian tidak sesederhana membangun seperti itu, lalu besok produksi tumbuh dan petani senang. Dalam in general equilibrium elemen lain dari persamaan umum saling berhubungan. Dia membutuhkan dukungan infrastruktur yang baik dan teknologi yang tersedia. Atau dari sesama faktor produksi, bila bicara benih maka harus pula bicara pupuk, bicara pupuk bicara air, bicara air bicara sumber air dan seterusnya.

Kata Bustanul, kalau kita menginginkan sesuatu yang baik dari itu tidak salah. Tetapi itu harus mampu diterjemahkan oleh para pemimpin dan tokoh elit menjadi sesuatu yang bisa diaplikasikan langsung di lapangan. “Itu yang belum terlihat sekarang. Saya katakan Pak Harto pernah sedikit berhasil melakukan itu. Tetapi kemudian tidak berhasil lagi karena tantangannya berubah dan Pak Harto belum mengubah framework-nya,” kata Bustanul.

Kasus beras merupakan contoh aktual dan sesuai dengan in general equilibrium. Kasus beras membuktikan persoalan dibenahi di sini lalu yang goncang di sana. Sayangnya, selama ini tidak banyak orang yang mempertimbangkan dengan cara seperti itu. Para pengambil keputusan di tingkat elit lebih banyak mempertimbangkan kepentingannya saja. Itu sebab kita tidak akan pernah bisa mencapai demokrasi yang sebenarnya.

“Saya katakan, demokrasi itu bagaimana kita mendengarkan pendapat orang dulu baru kita tawarkan pendapat kita. Negosiasi, sebetulnya. Kita belum kita berdemokrasi, demokrasi kita masih demokrasi smackdown memaksakan kehendak sendiri,” kata Bustanul, mengurai peliknya persoalan beras.

Bustanul pernah memberikan saran kepada anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, yang berkali-kali menggagas ide interpelasi soal beras di DPR. Bustanul memastikan “Anda tidak bisa, pasti tidak sampai ke interpelasi karena yang Anda lakukan itu terkesan oleh publik semata-mata untuk kepentingan politik Anda, bukan untuk membangun pertanian yang sebenarnya.”

Kata Bustanul ide interpelasi harus genuine dari dalam. Jika memang genuine maka paling tidak lawan dan kawan politik akan melihat apakah ide interpelasi ini layak diteruskan atau tidak. “Kalau istilahnya Yohannes Surya, kan, Mestakung, Semesta Mendukung. Kalau iya, akan didukung, kalau tidak, ya tidak ada yang dukung. Kejatuhan Pak Harto itu karena Mestakung juga, sebetulnya,” jelas Bustanul.

Menurut Bustanul masalah beras tidak akan pernah selesai urusannya. Karena setelah masalahnya dipecahkan akan ada masalah lain lagi dan itulah kehidupan. Ada masalah sangat mungkin ada bridging, lalu ada masalah baru lagi. Tetapi menjadi norak dan menyebalkan apabila permasalahannya tidak berubah dari tahun ke tahun.

Berikan Stimulus Pertanian
Bagaimana cara membangun pertanian dengan membuat konsep yang matang, Bustanul sangat yakin Presiden SBY tahu soal itu. “Cuma, memang, entah tidak ada waktu atau tidak didelegasikan ke bawahannya sehingga saya tidak melihat action yang konkrit,” kata Bustanul.

Menurutnya, karena membangun pertanian rumit maka diperlukan pemahaman yang lebih agar kerumitan bisa disederhanakan dan dihasilkan sebuah action yang tidak terlalu rumit. Pak Harto telah berhasil melakukannya paling tidak pada 16 tahun pertama kepemimpinannya. Dia merencanakan secara baik karena ingin swasembada, bertekad mencapainya dengan membangun infrastruktur, jembatan, berikan fasilitas kredit BIMAS/INMAS/INSUS, birokrasi di bidang itu dikuasai sehingga orang tidak macam-macam. “Singkat cerita kita bisa.”

Seharusnya pemerintah sekarang atau yang akan datang minimal meniru, walaupun dengan level yang harus disesuaikan dengan kondisi sekarang untuk memperlakukan pembangunan pertanian sebagai in general equilibrium. Indonesia dulu bisa melakukannya karena Indonesia masih sederhana. Sekarang kompleksitas eksternal dan peradaban sudah berubah dan harus diterjemahkan dari konsep yang abstrak menjadi konkrit. “Ide saya, pertanian itu perlu dibangun sejalan dengan sektor lain, bukan atau/dan sektor lain. Jadi di sebuah negara agraris kalau membangun pertanian harus sejalan dengan industri dan pembangunan sektor jasa. Itu yang kita kurang,” papar Bustanul.

Stimulus yang diperlukan untuk membangun pertanian menurutnya tidak rumit-rumit amat. Seperti sediakan financing atau akses kredit. Beberapa kendala yang dihadapi pertanian terutama land holding, atau luas lahan pertanian yang sangat kecil berikan stimulus dengan agraria reform. Berikan pula akses teknologi dan akses perubahan. Dalam bahasa umum, stimulusnya adalah berupa incentive system atau sistem insentif yang mampu mengubah perilaku pelaku, paling tidak petani sebagai pelaku agar sesuai dengan yang di-setting dalam sistem insentif. Kalau itu tidak dilakukan kita jangan berharap terlalu banyak.

Bustanul memiliki banyak ide dan konsep memperbaiki pertanian yang sedang carut-marut ini. Ia memulainya dari yang sederhana yaitu memberikan akses atau insentive system kepada masyarakat. Bahkan, message-nya lagi, apabila pemerintah memang harus tidak intervensi maka daripada tidak membantu janganlah mengganggu konsep yang sederhana sistem insentif tadi.

Konkritnya, kalau orang ingin mendirikan usaha baru, punya ide baru teruskan saja. Pemerintah sebagai birokrasi hanya perlu menarik garis sebab dia punya law, regulation untuk melaksanakan apa yang harus dilaksanakan. “Yang paling simpel, kerjakan saja apa yang bisa dikerjakan, just do it.”

“Tetapi, memang, yang diinginkan juga tidak tahu lalu bagaimana orang bisa ber-action,” simpul Bustanul, melihat tiadanya gerakan pemerintah. Misalnya maunya pemerintah adalah membangun ketahanan pangan, atau mau high value quota. Maksudnya petani tak harus tanam beras tapi menanam tanaman yang paling menguntungkan sehingga bisa keluar dari jeritan kemiskinan. “Kalau itu yang harus dipilih tentu saja harus itu yang diusung. Tapi kalau tidak pernah memilih kita juga tak pernah tahu.”

Kemudian kalau petani tidak akan terganggu dengan hal-hal yang berhubungan dengan keharusan mengikuti suatu patokan tertentu, maka kelolalah mereka sesuai dengan dinamika seperti itu. Petani memiliki kebebasan untuk menanam apapun. “Tapi apa insentif yang menarik yang Anda berikan dia pasti akan bergerak ke sana,” kata Bustanul.

Ia mencontohkan bila sekarang orang membangun pertanian setelah melihat kepada harga sawit sekian, maka dia akan menanam sawit dengan ekspektasi tujuh tahun kemudian akan memanen dengan pendapatan sekian. “Insentive system harus terjaga seperti itu bagaimana akses ke kredit, pupuk, bagaimana memperoleh varietas baru dan seterusnya,” ujar Bustanul Arifin. ti/ht-am

03 | Ikon Baru Ilmu Ekonomi Pertanian Moderen

Bustanul Arifin kelahiran Bangkalan, Madura 27 Agustus 1963, sejak 1 September 2005 diangkat menjadi Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Uiversitas Lampung (Unila) Lampung. Ia lalu resmi dikukuhkan sebagai Professor setelah menyampaikan orasi ilmiah pada 20 Februari 2006 di Lampung.

Setelah itu ekonom dan peneliti di sejumlah lembaga penelitian ini menjadi ikon baru ilmu ekonomi pertanian, yang konsisten memperjuangkan perbaikan nasib para petani, yang notabene merupakan aktor sekaligus figur sentral dalam ilmu ekonomi pertanian. Dalam orasinya Bustanul Arifin mengusung ide, ilmu ekonomi pertanian harus bisa mereposisi diri agar secara overall dapat memperbaiki nasib petani sehingga peran ilmu ekonomi pertanian dapat menempatkan diri dalam pembangunan peradaban manusia.

Sebagai bagian dari pembangunan peradaban, Bustanul menyebutkan ilmu ekonomi pertanian di Indonesia harus mempunyai ciri khas yaitu pedulipada pengentasan masyarakat dari kemiskinan dan pemerataan pendapatan. Sesuatu yang tidak boleh dilupakan dalam melakukan reposisi ilmu ekonomi pertanian ini, kata Bustanul, adalah menempatkan petani sebagai subyek atau aktor sentral dalam pembangunan pertanian. Industrialisasi atau diversifikasi usaha pertanian tidak akan dapat berjalan mulus apabila pendapatan overall petani produsen masih rendah.

“Artinya, agenda yang harus diselesaikan adalah bagaimana memberikan tambahan modal kerja dan investasi bagi petani dan kelompok marjinal lainnya untuk adopsi teknologi baru, akses informasi, intensitas tenaga kerja proses produksi, manajemen pengolahan, pemasaran, dan pasca panen lain, baik secara individual maupun secara kelompok. Apabila pilihan dan kesempatan tersedia, petani produsen pasti akan lebih leluasa melakukan diversifikasi usaha,” kata Bustanul, merujuk kepada keberhasilan pembangunan ekonomi pertanian di jaman Pak Harto yang memberikan insentif kepada petani berupa Bimmas (Bimbingan Massal), Inmas (Intensifikasi Massal), Insus (Intensifikasi Khusus) dan lain sebagainya.

Bustanul Arifin menyebutkan 16 tahun pertama kepemimpinan Pak Harto Indonesia berhasil membangun ekonomi pertanian secara gemilang dengan ditandai swasembada beras. Keberhasilan sama masih bisa dilakukan, kata Bustanul, asal pemerintah bisa memberikan insentif yang menarik kepada petani. Bukan hanya itu. “Singkatnya, pembangunan pertanian tidak dapat dilakukan secara sambilan dan ad-hoc, tapi perlu serentak dan komprehensif, karena melibatkan elemen pendukung penting seperti sektor infrastruktur, pembiayaan, perdagangan, pemasaran, penyuluhan, pengembangan sumber daya manusia, riset dan pengembangan (R&D) dan sebagainya,” kata ayah tiga orang anak ini (Muhammad Naufal Yugapradana, Nabila Isnandini, dan Muhammad Nawaf Tresnanda), dari istri yang mantan adik kelas di IPB Bogor, Astuti Sariutami.

Yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan, menurut Bustanul adalah penguatan modal sosial seluruh aktor, petani, pemerintah, swasta dan masyarakat madani, yang akan menjadi faktor vital karena pembangunan pertanian memerlukan jembatan penghubung yang kuat, yang mampu menerjemahkan ide-ide progresif strategis menjadi langkah aksi di lapangan, yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Dari garis-garis pemikirannya taklah salah bisa disebutkan Bustanul Arifin adalah pewaris tunggal dua ekonom pertanian terkemuka, Prof Mubyarto dari Indonesia dan Theodore W. Schultz dari AS. Mubyarto, Guru Besar Ekonomi Pertanian Universitas Gajahmada (UGM) Yogyakarta, selama hayatnya telah memberikan kontribusi sangat besar dalam ilmu ekonomi pertanian di Indonesia. Mubyarto bahkan dikenal sebagai pembela kaum miskin dan advokat yang sangat gigih untuk tegaknya ekonomi kerakyatan atau sistem demokrasi ekonomi di Indonesia. Mubyarto telah memberikan pencerahan kepada kalangan akademik dan lingkungan kampus, yang yang lebih utama lagi sebagai perumus kebijakan dan pelaksana pembangunan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat tingkat lapangan.

Demikian pula dengan ekonom pertanian sekaliber Theodore W. Schultz, yang telah meletakkan dasar-dasar pemikiran tentang pentingnya pembangunan pertanian dalam pertumbuhan ekonomi di mana pun di dunia. Schultz adalah seorang ilmuwan, peneliti, manajer, wiraswasta, katalis intelektual, dan ekonom pertanian tangguh alumnus Universitas Wisconsin-Madison, kampus yang juga almamater Bustanul Arifin saat mengambil gelar master dan doktor ilmu ekonomi pertanian.

T.W. Schultz yang mengembangkan karier akademiknya di Universitas Chicago, karena sumbangsih besarnya pada ilmu eknomi pertanian pada akhirnya dianugerahi Hadiah Nobel Bidang Ekonomi pada tahun 1979, bersama Arthur Lewis dari Universitas Princeton. Sebagaimana yang diwarisi Bustanul, Schultz secara konsisten menantang pemikiran hipotesis “produk marjinal sama dengan nol”, yang dikembangkan oleh teman sekaligus lawan berdebatnya Arthur Lewis.

Schultz berargumen bahwa pendidikan petani dapat menjadi salah satu investasi dengan biaya rendah, dan mampu menghasilkan tambahan pendapatan tinggi yang permanen. “Inilah salah satu kontribusinya yang sangat berharga bagi ilmu ekonomi,” kata Bustanul, seorang “Ikon Baru Ilmu Ekonomi Pertanian Indonesia” saat ini.

Berikut ini bagian pertama dari petikan lengkap orasi ilmiah Bustanul Arifin, yang diberi judul “Peran Ilmu Ekonomi Pertanian Dalam Pembangunan Peradaban: Sebuah Refleksi Untuk Reposisi”, disampaikan dalam rangka Orasi Ilmiah sebagai Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian di Gedung Serbaguna Universitas Lampung, 20 Februari 2006.  ti/ht-am

04 | Peran Ilmu Ekonomi Pertanian Dalam Pembangunan Peradaban

Berikut ini bagian pertama dari petikan lengkap orasi ilmiah Bustanul Arifin, yang diberi judul “Peran Ilmu Ekonomi Pertanian Dalam Pembangunan Peradaban: Sebuah Refleksi Untuk Reposisi”, disampaikan dalam rangka Orasi Ilmiah sebagai Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian di Gedung Serbaguna Universitas Lampung, 20 Februari 2006.

Reposisikan Ilmu Ekonomi Pertanian Untuk Membangun Peradaban
IImu ekonomi pertanian merupakan salah satu cabang tertua dari ilmu ekonomi yang dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip kelangkaan dan pilihan. Kandungan sumberdaya pada suatu wilayah menjadi landasan pengembangan konsep keunggulan komparatif yang menjadi esensi utama perdagangan barang dan jasa. Strategi aplikasi atau turunan konsep di atas kemudian dikenal sebagai keunggulan kompetitif, yang berkembang sangat pesat dalam praksis dan peradaban umat manusia dalam proses industrialisasi dan globalisasi saat ini.

Dalam konteks tersebut, ilmu ekonomi menempatkan sektor pertanian atau basis sumberdaya alam sebagai landasan utama pembangunan ekonomi suatu bangsa. Proses transformasi sektor pertanian yang mampu menghasilkan produksi atau surplus pertanian di tingkat domestik dalam jumlah besar juga dianggap sebagai syarat pokok pertumbuhan ekonomi, pembangunan jati diri dan identitas suatu bangsa, dan bahkan mewarnai tahapan peradaban serta interaksi antarpelaku dalam pergaulan dunia yang semakin kompleks.

IImu ekonomi sendiri berkembang melalui perjalanan sejarah peradaban yang tidak terlalu gemilang, terutama proses kolonialisme, imperialisme, dan perbudakan yang sama sekali bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan secara universal. Semangat ekspansionis yang ditunjukkan oleh segelintir negara di Eropa dan negara besar lainnya bertemu dengan semangat penaklukan daerah jajahan, sekaligus penguasaan kekakayaan alam dan peradabannya. Asia Tenggara, Afrika dan Amerika Latin yang sangat kaya rempah-rempah dan sumberdaya alam menjadi ajang kolonialisme dan arena imperialisme yang sekaligus merupakan perwujudan ekspansi kekuasaan tentorial.

Sejarah Revolusi Industri di Inggris abad ke-19 memang diakui sebagai salah satu tonggak modernisasi ekonomi dan penerapan prinsip-prinsip efisiensi dalam perekonomian. Di dalam negeri, Revolusi Industri ikut memacu proses industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi, yang kadang diwarnai oleh pemusatan aset dan modal pada sedikit pelaku ekonomi. Efisiensi transportasi sangat terbantu oleh penemuan kapal uap dan pembukaan Terusan Suez, yang akhirnya mampu mempersingkat waktu tempuh pelayaran dari Dunia Barat ke Timur, yang semakin menjadi insentif bagi kaum imperialis untuk lebih menguasai tanah jajahan baru.

Tu1isan ini adalalah sebuah refleksi penelusuran perjalanan ilmu ekonomi pertanian, meliputi kelahiran, modifikasi, integrasi dengan ekonomi pembangunan, masa keemasan dalam era perubahan teknologi, dan keterbatasannya dalam keberlanjutan pembangunan. Refleksi ini adalah pelajaran berharga untuk melakukan reposisi dan rekonstruksi ilmu ekonomi pertanian ke depan

Dari Usahatani ke Pembangunan Ekonomi
Pada awal kelahirannya, ilmu ekonomi pertanian lebih banyak peduli pada manajemen usahatani, yang mengalami tantangan besar pada masa Perang Dunia I, yaitu tingginya permintaan bahan pangan serta kelangkaan tenaga kerja di sektor pertanian. Sebelum perang, peningkatan produksi pertanian dapat dengan mudah dicapai melalui perluasan lahan pertanian dan intensifikasi usahatani karena tenaga kerja nyaris bukan hambatan berarti, apalagi dapat dengan mudah diperoleh dengan harga yang murah dan bahkan tidak berharga sama sekali pada skema perbudakan, terutama di Amerika Serikat (AS) dan Eropa.

Persoalan efisiensi teknis dan efisiensi ekonomis menjadi tema sentral dalam ekonomi pertanian, tentu saja beserta keterkaitan dengan kebijakan penetapan harga produk pertanian, dalam hukum pennintaan dan penawaran yang telah berkembang pesat sebelumnya. Studi akademik lebih banyak diarahkan pada organisasi usaha tani dan praktik budidaya pertanian. termasuk peternakan dan perikanan, keterkaitannya dengan faktor-faktor yang menentukan produksi dan keuntungan usahatani tersebut. Hasil-hasil studi akhirnya digunakan untuk membantu petani atau usahatani yang tidak berproduksi secara menguntungkan agar mengikuti praktik usahatani yang baik dan benar, agar pendapatannya meningkat. Langkah sinergisme seperti itu mampu meningkatkan produksi pertanian dan dapat menanggulangi pertambahan penduduk yang mulai semakin cepat.

Ketika Perang Dunia I pecah, ilmu ekonomi pertanian mulai lebih peduli pada dimensi global dari persoalan suplai bahan pangan, kebutuhan tenaga kerja, standar biaya produksi pertanian dan peran strategis koperasi dalam memperbaiki manajemen usahatani yang lebih menguntungkan dan membawa kesejahteraan bagi umat manusia. Peran yang dimainkan ilmu ekonomi pertanian pada saat itu tentu lebih banyak defensif, dalam arti hanya mampu bertahan membenahi persoalan-persoalan yang ditimbulkan oleh perang atau hegemoni para politisi yang haus kekuasaan, tanpa menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban yang mengisinya. Akibatnya, kontribusi ilmu ekonomi pertanian lebih banyak berorientasi ke dalam, misalnya terlalu memperhatikan persoalan dalam negeri sendiri, dan maksimal para sekutunya dalam perang, sesuatu yang seringdiklaim sebagai persoalan global.

Depresi besar dan resesi hebat yang melanda AS pada 1930-an sebenamya turut mewarnai perkembangan ilmu ekonomi pertanian, karena sektor pertanian dilanda persoalan yang tidak kalah beratnya dengan persoalan yang diderita sektor industri. Adalah George F. Warren, seorang petani dan profesor di Universitas Cornell (New York) dan beberapa pengikutnya yang berperan cukup besar dalam perkembangan ilmu ekonomi pertanian, bahkan ekonomi moneter dan ekonomi pembangunan pada umumnya. Dengan konsistensi yang sangat tinggi antara tulisan, ucapan dan tindakan, para ekonom pertanian ini merekomendasikan dan melaksanakan legislasi pertanian AS atau yang lebih dikenal dengan “The New Deal” itu. Tidak secara berlebihan jika ada yang menyimpulkan bahwa tidak ada kelompok ekonomi mana pun selain kelompok ekonomi pemnian yang sangat berpengaruh dalam perumusan dan administtasi kebijakan publik. Hal tersebut karena ciri khas ilmu ekonomi pertanian adalah memang dilandaskan pada penelitian mendalam, pendidikan dan pengajaran spartan, dan aplikasi lapangan secara nyata, yakni dengan perumusan masalah dan orientasi penyelesaiannya secara berkesinambungan.

Di satu sisi, terobosan pemikiran ke luar tersebut cukup menggembirakan, namun di sisi lain perkembangan ilmu ekonomi pertanian tidak terlalu pesat sampai dengan berakhirnya Perang Dunia II. Banyak negara baru yang lepas dari penjajahan tidak begitu saja mampu melepaskan ketergantungannya pada pola pikir kolonial, jika tidak dapat dikatakan mewarisi paradigma pembangunan ekonomi yang masih fokus pada pertumbuhan industri dan perkotaan. Sektor pertanian lebih banyak dilihat dan diperlakukan sebagai sektor residu yang hanya berfungsi sebagai pemasok tenaga kerja murah bagi sektor industri dan manufaktur. Akibatnya, sektor industri manufaktur dan jasa berkembang cukup pesat, yang sekaligus menandai modernisasi dalam strategi pembangunan ekonomi, walaupun “agak terlepas” dari sektor pertanian karena struktur dualistik yang menyelimuti keduanya.

Pemikiran ekonomi dualistik tersebut juga sangat dipengaruhi oleh fakta dualisme sosiologis yang dikembangkan oleh J.H. Boeke, seorang ilmuwan asal Belanda, setelah melakukan penelitian cukup lama tentang perkebunan dan pertanian di daerah jajahan, terutama di Jawa dan Sumatera. Dalam kerangka dualistik itu, terdapat hipotesis bahwa aktivitas ekonomi di sektor modem (Barat dan enclave Barat) dipicu kebutuhan ekonomis, sedangkan aktivitas ekonomi di sektor tradisional (Timur) hanya dipicu oleh kebutuhan sosial yang hanya untuk memenuhi kebutuhan subsisten. Di sana implisit bahwa tidak akan ada gunanya membawa ide-ide baru, kelembagaan dan teknologi baru ke tengah-tengah masyarakat tradisional. Hipotesis inilah yang menjadi justifikasi rasional dalam pengembangan industrialisasi dan mengabaikan pembangunan pertanian.

Varian dari hipotesis dualistik itu terdiri dari beberapa pemikiran, misalnya yang cukup populer adalah dualisme enclave yang menggambarkan suatu organisasi produksi pertanian, yang teridiri dari enclave kecil masyarakat modem (inti) dikelilingi oleh lautan masyarakat tradisional (plasma). Enclave melakukan ekstraksi komoditas primer (perkebunan dan tambang) dan aktivitas ekspor, juga mengimpor tekonologi hemat tenaga kerja. Dalam hal ini, tentu tidak terlalu banyak aktivitas yang dilakukan oleh sektor tradisional, kecuali eksploitasi sumberdaya alam semata.

Perkembangan pemikiran ekonomi dualistik ini sebenarnya sangat sejalan dengan hipotesis surplus tenaga kerja yang terjadi di sektor pertanian dan perkembangan teknologi yang terjadi di sektor industri dengan menjadi andalan argumen dalam karya-karya Arthur Lewis. Asumsi yang digunakan adalah eksistensi penduduk dengan produktivitas tenaga kerja sangat rendah, bahkan berada di bawah tingkat upah. Di sini terdapat pengangguran tersembunyi, karena produktivitas tenaga kerja nyaris sama dengan nol, sehingga apabila dilakukan pemutusan hubungan kerja pun, maka produksi dipastikan tidak akan berkurang. Proses pembangunan ekonomi adalah transfer tenaga kerja dari sektor tradisional (yang tidak banyak menambah produktivitas) ke sektor modern (yang hasilnya dapat digunakan untuk reinvestasi di peralatan, mesin, banngunan) dan masih dapat ditingkatkan.

Fondasi kapitalistik inilah yang menjadi karakter dari Arthur Lewis, yang akhirnya berkembang kepada hubungan antara negara maju dan negara berkembang, sesuatu yang fundamental dalam teori ekonomi pembangunan. Arthur Lewis kemudian diberi Hadiah Nobel Bidang Ekonomi pada tahun 1979, bersama-sama dengan Theodore w. Schultz.

Proses industrialisasi dilaksanakan dengan perbedaan yang amat prinsip, yaitu bahwa sektor industri manufaktur (modern) dijalankan dengan prinsip maksimisasi keuntungan biasa; sedangkan sektor pertanian (tradisional) dijalankan dengan norma-norma konvensional, bukan prinsip-prinsip produksi marjinal. Jadi, apabila konsep kelebihan tenaga kerja memang diartikan sebagai tingkat produktivitas marjinal yang mendekati nol, maka tingkat alokasi produksi dalam sektor perrtanian hampir tidak mungkin untuk mengikuti prinsip-prinsip persaingan pasar sempurna.

Artinya, tingkat upah buruh di sektor pertanian terlalu kecil untuk sekadar bertahan hidup, sehingga suatu norma tertentu terkadang dijadikan basis pengambilan keputusan alokasi produksi. Proses industria1isasi yang dicirikan oleh karakter dualistik tersebut umumnya menghadapi kondisi asimetri produksi dan asimetri organisasi. Asimetri produksi maksudnya adalah bahwa penggunaan faktor produksi modal tidak digunakan sepenuhnya dalam sektor pertanian dan lahan tidak digunakan sepenuhnya dalam sektor industri. Sedang asimetri organisasi maksudnya tingkat penerimaan upah di kedua sektor tersebut tidak akan mencapai keseimbangan karena perbedaan produktivitas marjinal tenaga kerja seperti telah disampaikan di atas.

Sebagaimana disebut sebelumnya, pasca Perang Dunia II itulah i1mu ekonomi pertanian mulai menunjukkan perkembangan yang cukup pesat, terutama setelah ada integrasi analisis dengan ekonomi pembanguna, sangat kontras dengan kondisi pada periode perang. Beberapa pemikiran dan karya para ekonom pertanian seakan tidak mampu menggugah para praktisi dan perumus kebijakan di setiap negara. Periode kelabu dan suasana perang pasti bukan waktu yang kondusif untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, walaupun sebenarnya manusia tidak pemah berhenti berfikir. Setelah beberapa tahun kemudian, barulah khalayak memberikan apresiasi kepada para ekonom pertanian sekaliber Theodore W. Schultz yang meletakkan dasar-dasar pemikiran tentang pentingnya pembangunan pertanian dalam pertumbuhan ekonomi, di mana pun di dunia. Schultz adalah seorang ilmuwan, peneliti, manajer, wiraswasta, katalis intelektual, dan ekonom pertanian tangguh alumnus Universitas Wisconsin-Madison yang mengembangkan karier akademiknya di Universitas Chicago.

Ketekunannya mendalami persoalan pembangunan ekonomi, dan proses pencariannya untuk menemukan rumusan dan pencerahan kebijakan yang mengarah pada kesejahteraan umat manusia. Sebagaimana diketahui, T.W. Schultz akhirnya dianugerahi Hadiah Nobel Bidang Ekonomi pada tahun 1979, bersama Arthur Lewis dari Universitas Princeton, sebagaimana diuraikan sebelumnya. Schultz secara konsisten menantang pemikiran hipotesis “produk marjinal sama dengan nol” yang dikembangkan oleh teman sekaligus lawan berdebatnya Arthur Lewis, dan berargumen bahwa pendidikan petani dapat menjadi salah satu investasi dengan biaya rendah dan mampu menghasilkan tambahan pendapatan tinggi yang permanen. Inilah salah satu kontribusinya yang sangat berharha bagi ilmu ekonomi.

Dekade 1960-an merupakan salah satu titik kulminasi dalam perkembangan khazanah ilmu ekonomi pertanian ketika paradigma bergeser menjadi “keseimbangan pertumbuhan ekonomi”. Sektor pertanian perlu mencapai tingkat pertumbuhan tertentu agar mampu lebih sejajar dan kompatibel dengan pembangunan sektor-sektor lain dalam ekonomi. Kontribusi pemikiran dari Simon Kuznets dan John Mellor sangat besar dalam meletakkan fondasi dasar bagi analisis tentang peran sektor pertanian dalam proses pembangunan. Hampir semua pemahaman umum tentang peran sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi yang dipercaya sampai sekarang adalah hasil karya ekonom pertanian pada dekade 1960an tersebut. Misalnya, pemahaman tentang sektor pertanian sebagai penyedia pangan, penghasil devisa dari ekspor, pemasok tenaga kerja bagi industri, dan stimulus pasar bagi pengembangan sektor industri adalah sedikit saja kontribusi besar yang sulit terlupakan.

Prinsip yang diperjuangkan para ekonom pertanian ini cukup sederhana, namun menyentuh sendi-sendi kehidupan perekonomian, misalnya bahwa laju penyediaan bahan pangan minimal harus sama atau lebih besar dari laju permintaan pangan, yang sangat ditentukan oleh tingkat pertumbuhan penduduk, pendapatan serta elastisitas atau persentase pendapatan untuk konsumsi pangan. John Mellor terus konsisten memperjuangkan fungsi strategis sektor pertanian sebagai pengganda pendapatan dan pengganda lapangan kerja, yang sekaligus sangat menentukan proses perubahan teknologi dan industrialisasi baik di negara berkembang, maupun di negara maju. Simon Kuznets lebih banyak peduli pada persoalan pembangunan ekonomi dalam keterkaitannya dengan pemerataan pendapatan, yang digambarkannya laksana kurva U-terbalik. Seperti diketahui, Simon Kuznets akhirnya memperoleh Hadiah Nobel Bidang Ekonomi pada tahun 1971 karena kontribusinya pada i1mu ekonomi.

Ekonomi Pertanian dalam Era Perubahan Teknologi
Era perubahan teknologi yang sangat pesat sebenarnya telah dimulai pada peridoe 1960 dan 1970-an dan berlanjut sampai dekade 1980-an. Ilmu ekonomi pertanian memperoleh pelajaran sangat berharga dari proses perubahan peradaban, yang nyaris mengubah berbagai sendi-sendi kehidupan manusia. Perubahan teknologi pertanian tidak terlalu pesat pada dekade 1990-an dan awal abad 21 ini, kecuali rekayasa genetika dan bioteknologi yang menyisakan tantangan tersendiri bagi ekonomi pertanian.

Pada awal 1970-an fokus kajian ekonomi pertanian lebih banyak pada aspek ekonomi mikro dari sektor pertanian, atau tepatnya pada teori harga dan kebekerjaan pasar. Secara mikro pula, pendalaman tentang keputusan atau tingkah laku individu dalam hal produksi, konsumsi dan perdagangan memang sangat dominan. Jadi, keterbatasan sumberdaya pertanian –lahan, tenaga kerja, modal, waktu dan lain-lain– menjadi salah satu kajian yang dominan dalam pengembangan alat analisis dan pendalaman teori ekonomi pertanian, karena para aktor ekonomi memang harus memilih dan melakukan alokasi sumberdaya yang paling efisien menurut ukuran yang baku.

Di sanalah, misalnya, dalam bidang produksi peran perubahan teknologi menjadi sangat dominan, karena dalam prinsip-prinsip ekonomi, teknologi baru tidak hanya mampu meringankan konstrain, tetapi juga mampu menambah pilihan yang tersedia. Dalam hal konsumsi, tambahan pendapatan tentu saja mampu memperlebar konstrain atau menambah pilihan barang yang dapat dikonsumsi. Aktivitas bidang pengolahan dan perdagangan sangat diuntungkan dengan perubahan teknologi karena menekan biaya pengolahan, mengurangi biaya transportasi, menghemat waktu dan tempat dan sebagainya. Ilmu ekonomi pertanian senantiasa ditantang untuk menemukan strategi kombinasi produksi dan alokasi sumberdaya dalam pengolahan dan perdagangan serta manajemen kepuasan dan kemanfaatan dalam hal konsumsi, yang semuanya bermuara pada tingkat efisiensi baik secara teknis, maupun secara ekonomis.

Ketika ekonomi pertanian semakin memperoleh tempat di tengah masyarakat, maka perubahan teknologi berikut ini menandai kehidupan dunia pertanian dan peradaban manusia umumnya. Di antaranya adalah penemuan varietas unggul baru dalam komoditas pangan biji-bijian, penambahan zat hara tanah dalam bentuk pupuk buatan, penanggulangan hama dan penyakit tumbuhan dengan bahan kimia, pengaturan populasi tanaman, serta manajemen pengaturan air irigasi dan drainase, dan sebagainya. Era perubahan teknologi yang sangat pesat itulah yang kemudian dikenal dengan sebutan Revolusi Hijau, karena memang ditujukan untuk meningkatkan produksi pertanian terutama bahan pangan, sebagai jawaban para ilmuwan lain terhadap ancaman kekurangan pangan dan kelaparan yang begitu mudah dijumpai di banyak tempat.

Revolusi Hijau telah mampu menyelamatkan manusia dan jenis peradabannya dari kepunahan atau kematian karena kelaparan, yang sekaligus memupus keraguan aliran pemikiran pesimisme ala Thomas Malthus dan pengikutnya. Lonjakan produksi pangan dan biji-bijian yang dihasilkan oleh teknologi baru dalam hal benih dan varietas unggul baru serta bahan kimia yang menjadi pupuk dan pestisida tercatat sampai pangan 4-5 kali lipat dari sebelumnya, sesuatu yang tidak pemah terbayangkan sebelumnya.

Para ekonom pertanian sering menyebutnya dengan teknologi biologis-kimiawi, yang sangat diandalkan pada lahan sempit dengan penduduk yang padat, sekaligus untuk membedakannya dengan teknologi mekanis yang mengandalkan mesin dan alat pertanian yang sangat memadai untuk areal luas dengan tenaga kerja yang terbatas.

Yujiro Hayami asal Jepang, adalah salah satu dari sedikit ekonom pertanian Asia yang sangat berperan dalam memajukan peradaban bangsa karena ketekunannya melakukan analisis tingkah lahu petani dalam keterkaitannya dengan perubahan teknologi ini. Cerita sukses Jepang, Taiwan, dan bahkan Indonesia dalam melesatkan produksi padi dan tanaman biji-bijian lain sangat berkaitan erat dengan pengembangan varietas unggul yang sangat responsif terhadap pupuk anorganik. Dukungan infrastruktur irigasi, jalan desa, ketersediaan faktor-faktor produksi teknis seperti pupuk, pestisida, dan benih itu sendiri juga sangat berperan. Kendala produksi karena keterbatasan lahan dapat diatasi dengan pengembangan teknologi biologis-kimiawi, yang lebih dikenal dengan Revolusi Hijau tersebut.

Dalam hal teknologi mekanis, ekonomi pertanian melihatnya sebagai suatu respons rasional karena kecilnya rasio lahan terhadap tenaga kerja, sebagaimana yang diadopsi di negara-negara dengan areal lahan sangat luas, seperti di Amerika Serikat, Eropa Barat, Rusia dan lain-lain. Aplikasi teknologi mekanis sering juga dianggap sebagai varian dari Revolusi Industri, yang telah berlangsung sejak abad 19, walaupun para ekonom pertanian belum terlalu sepakat tentang keterkaitannya dengan Revolusi Hijau atau revolusi di dunia pertanian tersebut.

Maksudnya, revolusi pertanian bukan sekadar penerapan atau adopsi metode-medote industrialisasi kepada proses produksi pertanian. Jika di industri proses mekanisasi merangsang terspesialisasinya tenaga kerja, di pertanian proses mekanisasi mengandung dimensi ruang dan waktu yang amat rumit. Keterpautan waktu antara pengolahan lahan, tanam, penanggulangan gulma, hama dan penyakit, panen dan sebagainya itu memang memerlukan mesin pertanian spesialis khusus. Pada sistem pertanian yang sangat mekanis, mobilitas dan spesialisasi seringkali mengakibatkan biaya investasi per tenaga kerja yang lebih tinggi dari pada di sektor industri. Hal itu berarti bahwa teradopsinya mekanisasi dalam bidang pertanian adalah untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja sektor pertanian itu sendiri. Singkatnya, perkembangan proses mekanisasi pertanian memiliki tujuan untuk meningkatkan produksi per tenaga kerja atau dalam hal ini untuk memperluas lahan produktif melalui proses ekstensifikasi pertanian.

Persoalan menjadi sedikit lebih rumit ketika dihadapkan pada pertanyaan apakah proses perubahan teknologi itu merupakan faktor eksogen dalam suatu sistem ekonomi –di sini berarti pengembangan kedua jenis teknologi merupakan produk atau hasil kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi– ataukah proses perubahan teknologi itu merupakan faktor endogen suatu sistem ekonomi. Dalam suatu sistem perekonomian yang dinamis, perubahan harga permintaan produk dan harga penawaran faktor produksi tidaklah dapat dipisahkan. Misalnya, ketika permintaan terhadap bahan makanan naik karena naiknya jumlah penduduk atau meningkatnya pendapatan per kapita, permintaan terhadap faktor produksi tersebut ikut naik secara proporsional.

Artinya, kenaikan permintaan tersebut mengakibatkan berubahnya harga relatif faktor-faktor produksi. Akibat berikutnya adalah bahwa tingkat pendapatan –termasuk distribusinya di kalangan para pemilik faktor produksi– berubah sehingga hal tersebut kembali mempengaruhi permintaan secara keseluruhan.

Prinsip-prinsip inilah yang menjadi cikal-bakal konsep keseimbangan umum dalam ekonomi, yang kelak berkembang sangat pesat sebagai salah satu analisis lebih komprehensif terhadap berbagai fenomena kehidupan manusia. ti/ht-am

05 | Ilmu Ekonomi Pertanian Berkembang di Indonesia

Perkembangan ilmu ekonomi pertanian di Indonesia nyaris paralel dengan era perubahan teknologi pertanian dan Revolusi Hijau, yang membawa peningkatan produksi pangan secara gemilang.

Berikut ini bagian kedua dari petikan lengkap orasi ilmiah Bustanul Arifin, yang diberi judul “Peran Ilmu Ekonomi Pertanian Dalam Pembangunan Peradaban: Sebuah Refleksi Untuk Reposisi”, disampaikan dalam rangka Orasi Ilmiah sebagai Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian di Gedung Serbaguna Universitas Lampung, 20 Februari 2006. (e-ti/ht/am)

Ilmu Ekonomi Pertanian Berkembang di Indonesia
Perkembangan ilmu ekonomi pertanian di Indonesia nyaris paralel dengan era perubahan teknologi pertanian dan Revolusi Hijau, yang membawa peningkatan produksi pangan secara gemilang.

Tidak secara kebetulan pula ketika profesi ilmu ekonomi pertanian ikut berkembang seiring dengan munculnya berbagai strategi peningkatan produksi pangan melalui Bimbingan Massal (BlMAS), Intensifikasi Massal (INMAS), Intensifikasi Khusus (INSUS) dan sebagainya yang melibatkan putra-putra terbaik Indonesia pada waktu itu dan kampus-kampus besar seperti Institut Pertanian Bogor (dan Universitas Indonesia sebagai induk lama IPB), dan Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta.

Sebagaimana diduga, fokus utama kajian ekonomi pertanian pada waktu itu adalah upaya peningkatan produksi pangan karena Indonesia yang baru lepas dari penjajahan, masih menghadapi persoalan kelaparan yang sangat mengkhawatirkan.

Pendidikan, pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat yang berkaitan dengan ekonomi pertanian berkembang di kampus-kampus atau universitas yang memiliki fakultas ekonomi dan fakultas pertanian. Tanpa bermaksud mengecilkan peran ekonom pertanian yang lain, kontribusi Mubyarto dari Universitas Gadjah Mada dalam ilmu ekonomi pertanian di Indonesia sangat besar. Semasa hidup, almarhum Prof. Mubyarto juga dikenal sebagai pembela kaum miskin dan advokat yang sangat gigih untuk tegaknya ekonomi kerakyatan atau sistem demokrasi ekonomi di Indonesia.

Berpuluh-puluh buku, beratus-ratus artikel dan tak terhitung lagi makalah tentang ekonomi pertanian, ekonomi pembangunan, pengembangan pedesaan, pemberdayaan masyarakat, otonomi daerah, dan pandangan yang agak kontroversial pada waktu itu tentang sistem ekonomi Pancasila dan lain-lain telah ditulisnya. Semua tidak sekadar memberi penceraban kepada kalangan akademik dan lingkungan kampus, tetapi kepada sebagian besar perumus kebijakan dan pelaksana pembangunan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.

Salah satu ciri khas perkembangan ilmu ekonomi pertanian di Indonesia adalab “kedekatannya” dengan teori-teori pembangunan pertanian, yang kebetulan dibawa oleb para ilmuwan Amerika Serikat, seperti David H. Penny, Arthur T. Mosber dan lain-lain. Mosber bahkan dianggap sebagai salah satu ikon pembangunan pertanian di Indonesia ketika karyanya tentang Getting Agriculture Moving atau lebih dikenal dalam Bahasa Indonesia dengan judul “Menggerakkan Sektor Pertanian.”

Kontribusi yang tidak terlupakan dari Mosber adalah kemampuannya menjelaskan secara sederhana dan gamblang tentang syarat pokok dan syarat pelancar dalam pembangunan pertanian. Ketersediaan pasar hasil, perubaban teknologi, faktor produksi, sistem insentif, dan transportasi dianggap sebagai syarat pokok; sedangkan faktor pendidikan, kredit produksi, kelembagaan petani, rehabilitasi lahan dan perencanaan pembangunan dikelompokkan sebagai syarat pelancar pembangunan pertanian. Beberapa negara berkembang, tidak terkecuali Indonesia, bahkan dengan sabar mengikuti saran dan langkah kebijakan yang disarankan oleh Mosber.

Siapa pun nampaknya sulit membantah bahwa pembangunan pertanian di Indonesia sebenarnya telah menunjukkan hasil yang cukup gemilang. Peningkatan produktivitas tanaman pangan melalui verietas unggul, lonjakan produksi peternakan dan perikanan telah terbukti mampu mengatasi persoalan kelaparan dalam tiga dasa warsa terakhir. Pembangunan perkebunan dan agroindustri juga telah mampu mengantarkan pada kemajuan ekonomi bangsa, perbaikan kinerja ekspor dan penyerapan tenaga kerja dan dampak multiplikasi lain yang mampu menurunkan jumlah kemiskinan secara signifikan. Peningkatan produktivitas dan perbaikan pendapatan petani telah berkontribusi pada perbaikan ekonomi pedesaan, sehingga akses dan daya beli terhadap bahan pangan juga meningkat.

Pengaruh kedua yang cukup dominan dalam perkembangan perkembangan ilmu ekonomi pertanian Indonesia adalah pendekatan sistem dan usaha agribisnis. Pendekatan agribisnis yang sebenarnya telah dikembangkan di Amerika Serikat pada akhir 1950-an itu mulai menjadi salah satu andalan bagi para ekonom pertanian dalam memahami dan memperbaiki tingkat pendapatan petani, perusahaan pertanian, bahkan sampai pada pengembangan wilayah. Indonesia telah mengenal agribisnis sebagai sebuah sistem dan budaya baru mengelola basis sumberdaya alam sejak akhir 1970-an. Namun karena esensi utama suatu sistem agribisnis sebagai keterkaitan seluruh komponen dan sub-sistem agribisnis, maka tidaklah mudah untuk merumuskan suatu strategi pengembangan yang terintegrasi, apalagi dengan faktor eksternal yang sukar sekali dikendalikan. Karakter utama komoditas agribisnis memang mengandung risiko dan ketidakpastian, sehingga di sana terdapat sekaligus peluang berharga untuk mengelola risiko dan tingkat ketidakpastian tersebut.

Agribisnis mencakup sub-sistem sarana produksi atau bahan baku di hulu, proses produksi biologis di tingkat bisnis atau usahatani, aktivitas transformasi berbagai fungsi bentuk (pengolahan), waktu (penyimpanan atau pengawetan), dan tempat (pergudangan) di tengah, serta pemasaran dan perdagangan di hilir, dan subsistem pendukung lain seperti jasa, permodalan, perbankan, dan sebagainya.

Memilah-milah suatu sistem agribisnis dalam satuan yang terpisah hanya akan menimbulkan gangguan serius dalam seluruh rangkaian yang ada, dan tidak mustahil dapat menciptakan permasalahan tingkat berikutnya yang lebih dahsyat. Sistem agribisnis mengedepankan suatu sistem budaya, organisasi dan manajemen yang amat rasional, dirancang untuk memperoleh nilai tambah (komersial) yang dapat disebar dan dinikmati oleh seluruh pelaku ekonomi secara fair, dari petani produsen, pedagang dan konsumen dari segenap lapisan masyarakat.

Membangun agribisnis di tingkat mikro tentu saja amat berhubungan dengan peningkatan kapasitas petani dan pelaku usahatani sebagai aktor terpenting agribisnis. Namun, membiarkan petani dan pelaku agribisnis terjerumus dalam kancah perdagangan intemasional yang makin tidak simetris ini tentu saja dapat melenyapkan seluruh upaya yang dilakukan secara susah payah di tingkat mikro tersebut. Beberapa contoh dan kasus nyata sepanjang dekade 1990-an telah cukup banyak dijumpai di Indonesia betapa langkah mikro tingkat manajemen usahatani amat memerlukan dukungan kebijakan di tingkat makro yang lebih rasional dan serius.

Ciri khas ketiga yang mewamai perkembangan ilmu ekonomi pertanian di Indonesia adalah kepeduliannya pada pengentasan masyarakat dari kemiskinan dan pemerataan pendapatan. Indonesia bahkan pernah menjadi tuan rumah Konferensi tiga tahunan Asosiasi Intemasional Ekonomi Pertanian (IAAE) pada tahun 1982 yang mengambil tema pemerataan karena di hampir seluruh belahan bumi terjadi fenomena kemiskinan dan ketidakmerataan, sekalipun perkembangan teknologi pertanian berkembang pesat dan membawa kesejahteraan bagi sebagian orang.

Langkah ini pun sebenarnya sebagai kritik atau koreksi terhadap proses pelaksanaan Revolusi Hijau yang telah membuat ketergantungan petani kecil dan buruh tani kepada para tuan tanah atau pada skala yang lebih luas. Berbagai norma dan kelembagaan di pedesaan juga mengalami perubahan, misalnya pada sistem penyakapan dan bagi hasil, cara panen dan pembagian upah buruh sektor pertanian, yang seringkali tidak mampu diikuti secara baik oleh petani kecil dan buruh tani. Beberapa inovasi di bidang pertanian tidak mampu digapai oleh mereka yang kurang memiliki akses informasi, penguasaan teknologi dan akses pasar yang juga berubah begitu cepat.

Secara makro, terdapat beberapa kerisauan mengenai ketergantungan negara berkembang terhadap negara maju karena benih bersertifikat kualitas tinggi berasal dari perusahaan multinasional yang nota bene berasal dari negara maju. Indonesia juga sangat berkepentingan memperoleh pemahaman tentang metodologi dan strategi kebijakan untuk meningkatkan pertumbuhan pertanian dan mengurangi ketimpangan pendapatan secara bersamaan.

Paradigma pemerataan pembangunan yang juga digunakan dalam ekonomi pertanian adalah kombinasi strategi menciptakan pertumbuhan yang seimbang dan berspektrum luas (balanced and broadbased). Argumennya pun cukup sederhana, karena sistem produksi pertanian umumnya memiliki skala ekonomi yang kecil, dibandingkan sistem pengolahan dan pemasaran. Oleh karena itu, pembangunan pertanian yang menempatkan rumah tangga petani sebagai kelompok sasaran jelas mampu membawa misi pemerataan dan efisiensi sekaligus. Disamping itu, usahatani berskala kecil dan menengah harus memperoleh prioritas perhatian utama dalam penelitian, pengembangan dan penyuluhan pertanian, dan dalam kredit, pemasaran dan penyediaan sarana produksi.

Strategi dan pelaksanaan kebijakan land-reform dapat ditempuh dengan program redistribusi yang seimbang dan bervisi membangun kondisi sosial-ekonomi masyarakat. Apabila produktivitas lahan lebih banyak terkonsentrasi pada usahatani berskala besar, strategi land-reform akan sangat relevan, tentunya dengan prinsip-prinsip ketelitian dan kehati-hatian. Demikian pula, dukungan investasi sumberdaya manusia di pedesaan menjadi hampir mutlak perlu dilakukan. Tingkat pendidikan pedesaan, air bersih, kesehatan, keluarga berencana, dan perbaikan nutrisi merupakan sasaran nyata investasi sumberdaya manusia, terutama untuk meltingkatkan produktivitas masyarakat miskin, meningkatkan peluang dan kesempatan mereka memperoleh pekerjaan dan pendapatan yang lebih layak.

Dalam menjalankan strategi pembangunan, para ekonom pertanian ditantang untuk mampu mengakomodasi pengembangan pendidikan dan penyuluhan pertanian, kredit dan bantuan usaha kecil dan menengah sebaiknya juga menjangkau wanita tani dan pedesaan, karena demikian pentingnya peranan dan posisi mereka dalam pembangunan pertanian secara keseluruhan.

Di sinilah, partisipasi masyarakat pedesaan dalam pengambilan keputusan menjadi sesuatu yang hampir mudak diperlukan dalam perbaikan pemerataan. Seluruh lapisan masyarakat pedesaan, bukan hanya kelas menengah dan elit pedesaan, harus berpartisipasi dalam penentuan prioritas program-program investasi pemerintah, terutama yang berhubungan langsung dengan kehidupan masyarakat desa. Visi pemerataan pembangunan di sini juga melibatkan pengembangan secara aktif perekonomian pedesaan non-usahatani, yang merupakan sumber pendapatan dan kesempatan kerja bagi masyarakat desa. Sektor non-usahatani juga diharapkan menjadi tumpuan lonjakan pendapatan dan kesempatan kerja apabila sektor pertanian mampu tumbuh cukup tinggi.

Perspektif Keberlanjutan dalam Ilmu Ekonomi Pertanian
Setelah mengalami perkembangan cukup mengesankan dan memberikan kontribusi cukup besar bagi khazanah perkembangan ilmu ekonomi dan paradigma pembangunan, ekonomi pertanian tidak terlalu gemilang dalam menggapai perspektif strategi keberlanjutan pembangunan.

Demikian pula, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa serangkaian kemajuan dalam pembangunan pertanian sebenarnya dicapai pada kondisi yang agak tertutup dari pengaruh dinamika global. Atau, pada kemampuan proteksi dan komitmen perlindungan kepada petani yang agak besar, serta pada ancaman degradasi kualitas sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang tidak terlalu tinggi.

Kini, kondisi eksternal yang diuraikan di atas nyaris semuanya berubah. Fenomena globalisasi sulit untuk dielakkan, desakan liberalisasi perdagangan telah semakin besar, fakta tentang kerusakan lingkungan sudah semakin nyata, dan ancaman pemiskinan warga telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Perkspektif keberlanjutan pembangunan dalam i1mu ekonomi pertanian sebenamya telah berkembang pada dekade 1990-an tepatnya ketika fenomena intensifikasi penggunaan lahan, khususnya pada lahan marjinal dengan tingkat kemiringan curam, telah membawa konsekuensi degradasi lahan atau kerusakan sumberdaya alam lainnya. Dalam ekonomi pertanian, derajat intensifikasi penggunaan lahan itu sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor ekonomi seperti tingkat pertumbuhan atau tekanan penduduk, performa areal garap dan keuntungan usahatani, tingkat pendapatan, tingkat pendidikan dan sebagainya.

Karena luas lahan relatif tetap, masyarakat cenderung mengeksploitasi lahan pertanian yang ada dan mengakibatkan “penambangan lahan” yang dianggap sebagai penyebab utama degradasi sumberdaya alam seperti banjir, erosi lahan, kehancuran hutan dan sebagamya.

Di satu sisi, intensifikasi penggunaan lahan yang sering dianggap sebagai solusi kebijakan untuk menjaga tingkat ketahanan pangan, masih mengandung dimensi yang cukup kompleks. Aktivitas usahatani yang seringkali dianggap paralel dengan perubahan teknologi pertanian itu, belum cukup ampuh untuk dapat menggantikan kehilangan unsur hara tanah yang tererosi, sehingga degradasi lahan di daerah-daerah tropis, nyaris tidak dapat tergantikan kembali secara cepat. Di lain pihak, adopsi penggunaan teknologi pertanian modern dalam konteks sistem pertanian berkelanjutan sangat erat kaitannya dengan tingkat pendidikan masyarakat petani, yang selanjutnya mempengaruhi nilai ekonomis ekspektasi usahatani.

Di tingkat mikro, persuasi terhadap petani untuk mengadopsi sistem teras (bangku), pola pertanian bergilir, pertanian-kehutanan, serta teknik konservasi lahan lainnya dengan cara subsidi kapital dan input dianggap sebagai cara ampuh untuk memperkecil degradasi sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Ketergantungan terhadap subsidi input –terutama pupuk dan benih/bibit unggul– menjadi penyebab utama ketidakberhasilan strategi konservasi sumberdaya alam, terutama di negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

Jika para petani mengalami kekurangan finansial dan modal yang diperlukan, maka motivasi untuk menerapkan teknik pertanian berteras pada lereng curam itu juga akan menurun. Kebijakan teknis agronomis seperti itu tidak mampu mengendalikan proses degradasi lahan serta tidak dapat bertahan lama jika tidak disertai kebijakan ekonomi secara makro. Intinya, penanggulangan kasus per kasus terhadap masalah lingkungan hidup seperti proyek konservasi lahan tetapi tidak didukung oleh perubahan kebijakan ekonomi secara luas juga tidak berhasil. Penanggulangan masalah degradasi lahan dan kerusakan lingkungan tidak akan dapat berjalan mulus jika hanya mengikuti kaidah-kaidah pendekatan parsial dan kasus per kasus.

Dalam ekonomi pertanian, pemahaman tentang degradasi lahan dapat dirunut balik jauh pada perdebatan klasik antara kaum pesimistis seperti penganut Thomas Malthus (Neo-Malthusian) dan kaum optimistis yang diwakili oleh Julian Simon atau yang menentang faham Malthus gaya baru seperti Ester Boserup dan para pengikutnya (Neo-Boserupian).

Walau terbatas, para ekonom pertanian juga telah berkontribusi pada khazanah teori ekonomi pembangunan pertanian, khususnya yang menyangkut pemahaman pemanfaatan lahan pertanian, penggunaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Paham Malthus gaya baru menganggap bahwa lahan pertanian adalah suatu komoditas yang tetap dan degradasi lahan itu adalah akibat tekanan penduduk terutama pada tingkat ekstrim. Faktor pembatas pertumbuhan penduduk menurut Malthus adalah bahan makanan serta tingkat upah minimum. Jadi perhatian utama paham Malthus gaya baru “persaingan” antara pertumbuhan penduduk dan perubahan teknologi di bidang pertanian.

Degdaradasi lahan dan gejala kerusakan lingkungan lain dapat terjadi karena faktor tekanan penduduk dapat mengakibatkan perluasan lahan-lahan pertanian, bahkan sampai pada lahan-lahan marjinal yang berada di bagian curam suatu lereng bukit serta lahan berkesuburan rendah lainnya.

Sedangkan faham Boserup gaya baru lebih menekankan pada pengaruh tekanan penduduk ini terhadap masyarakat. Menurutnya, tekanan penduduk justru dapat mempercepat inovasi teknologi, dan masyarakat cenderung berusaha mencari teknologi baru atau mengadaptasi teknologi yang ada pada lingkungan baru. Degradasi lahan dapat terjadi karena masyarakat cenderung mengeksploitasi lahan-lahan pertanian yang ada dan mengakibatkan penambangan lahan seperti diuraikan di atas. Perubahan teknologi atau intensifikasi penggunaan lahan bahkan dapat menggantikan pepohonan dan vegetasi yang berakar dalam dengan tanaman bahan makanan yang berakal dangkal, yang gampang sekali tererosi. Sementara itu, laju pembentukan kembali tanah dan lapisan permukaan yang telah tererosi sangat lambat sehingga degradasi lahan, terutama di daerah- daerah tropis, nyaris tidak dapat tergantikan kembali secara cepat.

Berdasarkan uraian di atas, maka perspektif keberlanjutan dalam ilmu ekonomi pertanian masih dapat dikembangkan apabila prioritas penelitian bernuansa keberlanjutan, konservasi lingkungan hidup dan pengembangan teknologi pertanian terus dikembangkan. Hal ini dapat memperluas spektrum pengelolaan sumberdaya alam, khususnya pada daerah aliran sungai, areal hutan dan pada daerah dengan kandungan dan berkah sumberdaya yang terbatas. Disamping itu, perbaikan hak dan kepemilikan petani terhadap sumberdaya alamnya.

Sistem lahan dengan hak adat dan ulayat dan dengan pola kepemilikan bersama, mungkin jauh lebih efektif dalam menggapai misi dan tujuan keberlanjutan tersebut. Promosi dan perbaikan pengelolaan sumberdaya milik bersama (common property resources) akan menjadi salah satu fokus mendatang dalam pengembangan ilmu ekonomi pertanian. Privatisasi boleh saja ditempuh asalkan tidak menimbulkan dan meninggalkan dampak eksternalitas yang sangat mengganggu. Eksternalitas tidak dapat hanya diinternalisasi dengan penetapan harga pasar semata, karena persoalan eksternalitas memerlukan intervensi perpajakan dan subsidi yang lebih hati-hati.

Intinya, dalam hal keberlanjutan pembangunan ini, penelitian terapan ekonomi pertanian yang membedah hal-hal di atas pasti akan menjadi prioritas penting di masa mendatang.

Reposisi dalam Arena Globalisasi dan Arus Informasi
Rangkaian refleksi perjalanan ilmu ekonomi pertanian mulai dari kelahiran, modifikasi, integrasi dengan ekonomi pembangunan, masa keemasan dalam era perubahan teknologi, sampai pada ketidakmampuannya dalam mempertimbangkan perspektif keberlanjutan pembangunan seharusnya menjadi suatu pelajaran berharga untuk melakukan reposisi dan rekonstruksi ke depan.

Dalam hal pendekatan khazanah ilmu ekonomi pertanian yang hanya mengandalkan mazhab mekanisme pasar semata, tentu agak sulit untuk mampu menembus arena globalisasi dan arus informasi yang semakin cepat. Pendekatan ilmu ekonomi kelembagaan, ilmu ekonomi politik dan kombinasi dengan ilmu-ilmu sosial lain perlu dijadikan landasan berpikir dan berpijak, karena manusia hanya mampu melakukan aproksimasi terhadap kebenaran yang abadi.

Bahkan, krisis ekonomi di Indonesia juga telah memberikan pelajaran berharga bahwa pembangunan pertanian dan proses transformasi ekonomi tidak dapat hanya disandarkan pada kenaikan harga-harga (inflasi) semata. Pergerakan tenaga kerja dari pedesaan ke perkotaan –dan sebaliknya– yang berlangsung cukup mulus sebelum krisis ekonomi, tidak dapat lagi terjadi tanpa biaya transaksi sosial yang cukup tinggi.

Sektor pendukung industri dan jasa yang selama itu mampu mengimbangi naiknya permintaan agregat karena pertumbuhan penduduk, sejak krisis ekonomi belum mengalami pemulihan yang berarti karena rendahnya investasi, kapasitas dan aktivitas produksi yang memperluas kesempatan kerja.

Pembangunan ekonomi berbasis sumber daya yang tidak mematuhi kaidah-kaidah keberlanjutan juga telah memperbesar penderitaan masyarakat dari ancaman kerusakan alam, menurunkan penerimaan ekonomi petani, dan bahkan meningkatkan potensi pemiskinan warga secara keseluruhan.

Di tingkat praksis, pengembangan industrialisasi di pedesaan harus didukung dan difasilitasi, mulai dari industri kerajinan rakyat, pengolahan produk dengan teknologi sederhana, sampai pada aktivitas jasa dan perdagangan di pedesaan, semua akan mampu meningkatkan daya permintaan atau pasar domestik dan membantu meningkatkan pendapatan petani dari luar sektor pertaian. Dinamika ekonomi pedesaan yang seperti inilah yang secara gradual akan meningkatkan investasi masyarakat, di bidang produksi pangan, peternakan, perkebunan, perikanan dan sebagainya.

Tidak perlu diragukan lagi bahwa peningkatan investasi masyarakat inilah yang akan mampu memberikan dampak ganda bagi peningkatan kapasitas produksi domestik, bahkan mampu menciptakan nilai tambah dan pendapatan secara agregat.

Sesuatu yang tidak boleh dilupakan dalam melakukan reposisi ilmu ekonomi pertanian adalah penempatan petani sebagai subyek atau aktor sentral dalam pembangunan pertanian. Industrialisasi atau diversifikasi usaha pertanian tidak akan dapat berjalan mulus apabila pendapatan overall petani produsen masih rendah. Artinya, agenda yang harus diselesaikan adalah bagaimana memberikan tambahan modal kerja dan investasi bagi petani dan kelompok marjinal lainnya untuk adopsi teknologi baru, akses informasi, intensitas tenaga kerja proses produksi, manajemen pengolahan, pemasaran, dan pasca panen lain, baik secara individual maupun secara kelompok. Apabila pilihan dan kesempatan tersedia, petani produsen pasti akan lebih leluasa melakukan diversifikasi usaha.

Singkatnya, pembangunan pertanian tidak dapat dilakukan secara sambilan dan ad-hoc, tapi perlu serentak dan komprehensif, karena melibatkan elemen pendukung penting seperti sektor infrastruktur, pembiayaan, perdagangan, pemasaran, penyuluhan, pengembangan sumber daya manusia, riset dan pengembangan (R&D) dan sebagainya.

Tidak kalah pentingnya, penguatan modal sosial seluruh aktor, petani, pemerintah, swasta dan masyarakat madani akan menjadi faktor vital karena pembangunan pertanian memerlukan jembatan penghubung yang kuat, yang mampu menerjemahkan ide-ide progresif strategis menjadi langkah aksi di lapangan, yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Ilmu ekonomi pertanian juga perlu mengkaji dan memahami lebih banyak tentang perkembangan teknologi yang demikian cepat seperti: bio-processing, bio-prospecting, bio-informatics, bio-safety dalam konteks keamanan pangan, dan kultur jaringan.

Teknologi bio-processing amatlah prospektif untuk dikembangkan di Indonesia mengingat posisi geografis Indonesia dengan keanekaragaman hayati amat besar atau mega-diversity yang akan membawa manfaat besar dalam menghasilkan terobosan penyediaan bahan pangan, obat-obatan, pupuk, pestisida, benih, embrio, ensim, mikroba dan lain sebagainya. Untuk itulah diperlukan peran swasta yang lebih besar untuk melakukan investasi dalam hal identifikasi, isolasi, eksplorasi, utilisasi sumberdaya alam untuk peningkatan kapasitas ekonomi pembangunan dan pengembangan sumberdaya manusia di Indonesia.

Teknologi bio-prospecting atau yang menghendaki presisi atau ketepatan tingkat efisiensi produksi, produktivitas optimal melalui kombinasi faktor produksi dan teknologi modern seperti pupuk dan pestisida. Teknologi bio-informatics diperluklan untuk pengembangan database genetika, biologi molekuler, analisis sekeunsi dan analisis statistik atau kuantitatif lainnya.

Teknologi bio-safety sangat perlu untuk mendukung keamanan pangan, mengingat faktor kehati-hatian terhadap teknologi transgenik dan rekayasa genetika lainnya masih menjadi kontroversi publik. Teknologi kultur jaringan juga begitu vital terhadap pengembangan benih, plasma nutfah, jaringan tanaman, bahan dan media tanaman dalam pembangunan pertanian.

Akhirnya, arena globalisasi dan percepatan arus dan teknologi informasi perlu diperlakukan sebagai ajang perpacuan peningkatan potensi dan pemanfaatan peluang yang ada. Fenomena globalisasi perlu dipandang sebagai arena kompetisi tingkat ilmu pengetahuan, riset dan teknologi dan kemampuan diplomasi tingkat internasional.

Ilmu ekonomi pertanian akan senantiasa maju dan berkembang jika para aktornya mampu tegar, terus berkarya mengembangkan dirinya dan lingkungan tempat berpijak, berkontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan, bermanfaat pada kemaslahatan umat manusia dan perkembangan peradaban dunia yang lebih positif. ti/ht-am

Data Singkat
Bustanul Arifin, Guru Besar Ilmu Pertanian Universitas Lampung / Pengamat Ekonomi Pertanian | Direktori | Guru Besar, Dosen, pertanian, peneliti, ahli, pakar

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here