Guru dan Pelukis itu Telah Pergi

 
0
221

Guru dan Pelukis itu Telah Pergi

[BERITA TOKOH] – – Barli Sasmitawinata (86), pelukis dan guru yang berperan penting dalam perkembangan seni rupa Indonesia, telah pergi. Seniman ini meninggal di Rumah Sakit Advent Bandung, Kamis 8 Februari 2007 sekitar pukul 16.30.

“Bapak masuk rumah sakit, Kamis sekitar pukul 08.00, karena sesak napas dan batuk, tapi dahaknya tidak bisa keluar. Sempat ditransfusi darah, tapi Bapak kemudian meninggal,” kata istri Barli, Nakisbandiah (66), saat dihubungi dari Jakarta, Kamis sore.

Kesehatan Barli memburuk setengah bulan terakhir. Ia sempat masuk Rumah Sakit Advent Bandung, 8 Januari 2007, akibat gangguan pernapasan, ginjal, dan gula darah naik. Setelah menjalani enam kali cuci darah, kondisinya sempat membaik dan diperbolehkan pulang. Namun, Kamis kemarin, ia kembali masuk rumah sakit.

Jenazah disemayamkan di rumah dan museum Barli di Jalan Sutami 91, Setrasari, Karangsetra, Kota Bandung. Pemakaman direncanakan Jumat ini. Barli meninggalkan 2 anak kandung, 3 anak tiri, 15 cucu, dan 9 buyut. Setelah istri pertamanya, Atikah Basari, meninggal tahun 1991, Barli menikah lagi dengan Nakisbandiyah tahun 1992.

“Hingga beberapa hari menjelang sakit parah, Bapak tetap melukis dan mengajar. Bahkan, saat di rumah sakit, Bapak masih sempat membuat sketsa orang tidur,” kata anak kedua Barli, Chandra Dewi Rahmadi (57).

Barli adalah sosok penting dalam sejarah dan perkembangan seni rupa di Indonesia. Ia dikenal sebagai guru dengan ilmu gambar (drawing) yang mumpuni, pelukis realis yang andal, serta bergabung bersama pelukis perjuangan semasa kemerdekaan. Hingga akhir hayatnya, ia konsisten menekuni pilihannya di tengah perubahan zaman.

Sebagai guru, Barli punya bekal dasar ilmu gambar akademis yang kuat. Maklum saja, ia belajar di Academie Grande de la Chaumiere, Paris, Perancis, tahun 1950, kemudian di Rijksacademie voor Beeldende Kunsten, Amsterdam, Belanda, sampai tahun 1956.

Seni realistik
Menurut kritikus seni rupa Jim Supangkat, Barli menduduki posisi dalam seni realistik sebagai basis perkembangan seni rupa di Indonesia. Barli melukis wajah-wajah rakyat secara wajar, apa adanya. Itu memberikan citra berbeda di tengah lukisan karya pelukis Belanda yang menggambarkan wajah pribumi dengan jelek. Itu juga lain dengan lukisan Basuki Abdullah, yang terlanjur berhadapan dengan lukisan realis yang lebih mengekspresikan “jiwa kethok”, sebagaimana disuarakan pelukis Soedjojono.

“Karyanya mungkin agak kurang populer dibandingkan dengan karya pelukis Affandi atau Hendra Gunawan. Tetapi, peran Barli dalam dunia seni rupa sangat penting. Dia berada pada ‘titik sambung’ antara seni lukis masa kolonial dan seni lukis modern Indonesia. Kalau mau mencari dasar lukisan realistik, ya ke Barli,” katanya.

Enin Supriyanto, pengamat seni rupa yang pernah belajar melukis pada Barli, mengungkapkan, Barli memahami detail peralatan dan media lukis, seperti pena, tinta, cat air, crayon, dan cat minyak. Ia pun menguasai ilmu-ilmu melukis akademis, antara lain anatomi tubuh manusia, warna, garis, komposisi, atau perpektif.

“Soal anatomi tubuh, Barli bahkan hapal sampai istilah Latin-nya,” kata Enin.

Kemampuan itu berusaha ditularkan Barli kepada murid-muridnya dengan disiplin dan sistem. Setiap murid diminta mengenali karakter alat dan belajar bertahap. Bagi Barli, pelukis harus menguasai ilmu menggambar dengan benar.

Sepulang dari Eropa, tahun 1958, Barli mendirikan Sanggar Rangga Gempol di kawasan Dago, Bandung. Barli sempat mengajar seni lukis di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan ikut merintis pembentukan jurusan seni rupa di Institut Kejuruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung•sekarang Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Setelah itu, Barli memilih lebih banyak mengajar murid secara informal di sanggar. Usai Sanggar Rangga Gempol eksis tahun 1960-1980-an, ia membangun studi sekaligus museumnya di Setrasari, Karangsetra, Bandung, lantas mendirikan Bale Seni Barli di Kota Baru, Padalarang, Bandung.

Keberhasilannya sebagai guru bisa dilihat dari sejumlah muridnya yang mekar menjadi pelukis kuat. Sebutlah beberapa di antaranya, Popo Iskandar, Srihadi Soedarsono, Yusuf Affendi, AD Pirous, Anton Huang, R Rudiyat Martadiraja, Chusin Setiadikara, Sam Bimbo, Rudi Pranajaya.

Chusin (58) termasuk salah satu murid yang berhasil mengembangkan dasar ilmu gambar menjadi karya seni yang diperhitungkan dalam peta seni kontemporer. Karyanya punya reputasi baik di dunia internasional. Pelukis yang kini tinggal di Kuta, Bali, ini pernah mengantongi penghargaan dari Beijing International Art Biennale tahun 2005.

Pengamat seni rupa asal Bandung Mamannoor mengungkapkan, Barli menjadi inspirator bagi beberapa generasi pelukis di Bandung. Barli selalu menegaskan, melukis adalah disiplin hidup yang dijalani dengan semangat dan produktif berkarya. Ia berkarya dalam banyak corak, tetapi ketekunannya pada corak realistik dipertahankan lewat pasang-surut pergeseran zaman.

Saat remaja, sekitar tahun pertengahan tahun 1930-an, Barli bergabung dalam ‘Kelompok Lima’ bersama Affandi, Hendra Gunawan, Sudarso, dan Wahdi. Ia punya semangat nasionalis tinggi.

“Saat terjadi perdebatan realisme sosial pertengahan tahun 1960-an, Barli tangguh berdiri sendirian. Ia saksi hidup dan rujukan penting bagi perjalanan seni rupa saat itu,” katanya.

Barli pernah menerima penghargaan Satyalencana Kebudayaan dari Presiden pada tahun 2000. Kepergiannya adalah kehilangan besar bagi dunia seni rupa Tanah Air.

Guru gambar di Bale Seni Barli, Hendra (32), mengisahkan, Barli sempat beramanat agar keluarga memelihara lembaga pendidikan itu. Sehari sebelum meninggal, ia sempat meneruskan lukisan di kamar. (Ilham Khoiri, Kompas Jumat 9 Februari 2007) e-ti

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Tokoh Terkait: Barli Sasmitawinata, | Kategori: Berita Tokoh – | Tags: Seniman, pelukis

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here