03 | Romo Digelari Kyai Katolik

Franz Magnis Suseno
Franz Magnis Suseno

Franz Magnis mengaku kagum dan menjadi bersemangat jika melihat betapa terbukanya lingkungan intelektual Indonesia. Dia yang “Romo” Katolik digelari oleh teman-teman Islam sebagai “Kyai Katolik”. Dia terus saja diundang oleh para cerdik pandai Islam ke ceramah-ceramah khususnya ceramah menyangkut ideologi dan filsafat modern.

Franz Magnis melihat kalangan intelektual muda Islam, khususnya dari kelompok studi filsafat dan agama, amat gandrung dan menaruh minat besar terhadap filsafat. Intelektual muda Islam itu sadar, Islam dalam 500 tahun pertama keemasannya telah menghasilkan cerdik pandai dan ahli filsafat berkelas dunia namun kemudian macet. Zaman Renaissance (masa kelahiran kembali) serta masa Pencerahan, telah mengorbitkan Eropa (dan kemudian Amerika) menjadi pemimpin kekuatan intelek zaman modern. Intelektual muda Islam itu berkeyakinan Islam hanya bisa tampil lagi sebagai kekuatan intelek di arena internasional jika filsafat dan pemikiran kritis dimekarkan kembali.

Franz Magnis punya pengalaman menarik tentang hal itu di tahun 1989. Dia menulis sebuah artikel tentang hal tersebut secara kritis di harian “Kompas”, tak lama sebelum DPR membicarakan RUU Peradilan Agama. Artikel itu menimbulkan reaksi yang sangat tajam dari kalangan Islam. Berbagai artikel tanggapan ditulis oleh para tokoh Islam, sebagian diantaranya menyinggung masalah pribadi Franz Magnis. Teman-teman Islam lantas memberitahu dia, bahwa nama Franz Magnis telah disebut-sebut dalam kotbah pagi di mesjid-mesjid. Di kelompok berbeda lain lagi yang dialami, nama Franz Magnis menjadi tabu untuk disebutkan bahkan masih berlaku hingga sekarang.

Namun dua bulan sesudah peristiwa itu Franz Magnis diundang ke seminar dua hari bertema “Filsafat Islam Persia”, di universitas Islam IAIN Syarif Hidayatullah, Ciputat. Dia diterima dengan sangat ramah. Dan ketika istirahat, para peserta muda Islam tampak ingin mengetahui langsung mengapa Franz Magnis menulis artikel demikian. Tanya jawab berlangsung dalam suasana akrab dan toleran, suasana yang hingga kini tetap bisa dirasakannya. Artikel itu dibicarakan secara santai dan tenang, tidak didiamkan begitu saja, telah membuat Franz Magis merasa gembira. Bagi dia hal itu merupakan salah satu tanda paling jelas bahwa di Indonesia, seperti pada orang Islam muda itu, toleransi bukanlah rumusan kosong.

Sebagai seorang imam Katolik dan rohaniwan, Franz Magnis-Suseno menyebutkan seluruh karyanya di Indonesia hanya mungkin terjadi kalau didasarkan iman. Dia menyebutkan dirinya bukan seorang romantikus yang entah kenapa lalu jatuh cinta begitu saja pada Indonesia. Dia juga bukan seorang good doer atau seorang penolong negara berkembang. Dia merasa terdorong untuk membantu gereja di Indonesia dan memberikan kesaksian yang ditugaskan kepadanya. Hanya saja, kesaksian iman itu tak bisa bersifat verbal dan tidak bersangkut paut dengan dengan hal mencari penganut bagi agamanya sendiri.

Dia menyebutkan, penawaran keselamatan Tuhan menurut iman Katolik tidak terikat pada keanggotaan dalam gereja yang kelihatan. Kesaksian yang menjadi panggilan setiap orang Kristen tidak berupa kegiatan mendapatkan penganut. Roh Allah sendirilah yang akan menetapkan kepada siapa saja Ia membuka hatinya. Juga apakah Ia memanggil seseorang kepada pegetahuan yang jelas dan membahagiakan tentang cinta Allah dalam Yesus Kristus. Kesaksian kristiani harus berupa usaha agar cinta dan keadilan Allah dihadirkan di dunia sekarang ini, dan terserah kepada siapa saja bagaimana mau menanggapi.

Menurutnya, kesaksian yang seharusnya diberikan oleh Gereja, sebagaimana dia melihat panggilan pribadi kepadanya, adalah kesaksian tentang cinta, perdamaian, kejujuran, keadilan, dan kepercayaan akan kekuatan Allah yang tanpa menggunakan kekerasan, manipulasi, kekuatan politik, bujukan, pemerasan terhadap yang lemah, pembualan, dan sebagainya. Hal itulah yang seharusnya disaksikan oleh orang Kristen lewat kehidupannya, lewat ia menjalankan profesi dan pekerjaannya, dan lewat cara ia mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat.

Dia telah berusaha melakukan hal-hal demikian dengan menempatkan keahliannya yang sangat terbatas ke alam pengabdian kepada perdamaian, keadilan, dan kebenaran. Itu pulalah yang dia utamakan setiap kali menjelaskan sesuatu, mengkritik, memberi semangat, dan bertemu dengan orang lain. Itulah yang terpenting bagi dia kalau berkomunikasi dengan orang beragama lain, juga kalau dia mengkritik ketidakadilan, penindasan, dan kebohongan yang bercorak ideologis dan kekuasaan politik.

“Karena keyakinan itulah maka saya telah datang ke Indonesia dan menjadi orang Indonesia. Ini tidak berarti Indonesia menjadi sebuah proyeksi religius. Kalau iman kristiani mengakibatkan sesuatu, maka, bahwa ia benar-benar membuka hati, sehingga orang lain tidak menjadi sarana demi tujuan religius lebih lanjut, melainkan ia diterima demi dirinya sendiri. Termasuk keyakinan dan agamanya sendiri. Begitulah saya belajar menghormati dan mencintai negeri ini dan orang-orangnya, dari semua agama, dan saya berterimakasih bahwa saya boleh termasuk di dalamnya,” ujar Franz Magnis.

Pengalaman Franz Magnis dengan Indonesia dan dengan orang-orang Indonesia telah membuatnya optimis akan masa depan Indonesia. Itu, barangkali ada hubungannya dengan iman dia sebagai imam rohaniwan Katolik. Dia mengharapkan Indonesia, sekalipun bukan tanpa macam-macam kesulitan, akan dapat memecahkan masalah-masalahnya. e-ti | crs-marjuka situmorang | Majalah Tokoh Indonesia Edisi 12

Advertisement
Data Singkat
Franz Magnis-Suseno, Direktur Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara / Cerita Indah di Indonesia | Ensiklopedi | Pastor, Indonesianis, STF Dryakara

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here