05 | CEO Perusahaan Berbasis on-demand

Betti Alisjahbana
Betti Alisjahbana | TokohIndonesia.com – Ist

Perubahan yang cepat, dinamis dan tidak dapat diprediksidalam dunia bisnis menuntut berbagai perusahaan untuk memperbaiki bahkan bila perlu merombak mekanisme responsifitas proses bisnisnya. Salah satu solusi terbaiknyaadalah dengan mengadopsi kemampuan teknologi yang terbukti mampu mengantisipasi berbagai perubahan baik dari dalam atau luar perusahaan.

Itulah sebabnya IBM dengan gencar menjual konsep on-demand ke berbagai perusahaan. Dengan konsep ini, perusahaan berbasis on-demand dapat menyesuaikandiri terhadap perubahan yang terjadi baik yang positif maupun negatif serta terus meningkatkan kinerja perusahaan baik dari segi perolehan laba, produktivitas, dan sebagainya.

Perusahaan berbasis on-demand berusaha meminimalkan fixed cost dan lebih mengaju pada variable cost dalam melakukan aktivitas bisnisnya. Bila keadaan bisnis sedang baik dan permintaan meningkat, cost yang dikeluarkan sebanding dengan peningkatan itu. Bila keadaan bisnis kurang baik dan permintaan menurun, cost yang dikeluarkan sebanding dengan penurunan itu. Jadi, perusahaan terhindar dari biaya-biaya yang tidak produktif. Kenyataan yang ada sekarang adalah masih banyak perusahaan bersandar pada fixed cost sehingga bila keadaan ekonomi sedang sulit, biaya tetap tinggi. Oleh karena itu, IBM membantu pelanggan-pelanggannya menjadi perusahaan yang berbasis on-demand, responsif, fleksibel dan variabel sehingga mereka bisa sukses dengan pendapatan yang terus tumbuh berkembang.

Dalam membantu pelanggannya menjadi perusahaan berbasis on-demand, IBM mempunyai 3 pendekatan. Pendekatan pertama adalah menyediakan jasa konsultasi transformasi bisinis. IBM membantu pelanggannya mendefinisikan on-demand strategy dan business model yang diperlukan supaya perusahaan mempunyai dasar yang benar dan kuat untuk menjadi sebuah perusahaan berbasis on-demand.

Pendekatan kedua adalah menyediakan teknologi yang menunjang dimana perusahaan berbasis on-demand memiliki karakteristik khusus seperti terbuka, artinya, perusahaan berbasis on-demand perlu mengintegrasikan proses bisnisnya mulai dari internal perusahaan hingga ke supplier dan konsumen. Oleh karena itu, dibutuhkan teknologi yang mengikuti standar, memungkinkan integrasi dari berbagai aplikasi, software dan hardware, mempunyai utilisasi yang tinggi sehingga terhindar dari computing resources yang menganggur, autonomic, yaitu berusaha sebanyak mungkin membuat system management-nya menjadi sederhana dan otomatis serta resiliency, yaitu ketahanan terhadap berbagai perubahan.

Pendekatan ketiga adalah fleksibilitas pengadaan teknologi itu sendiri. Dengan adanya fleksibilitas dalam pengadaan teknologi, perusahaan bisa menikmati teknologi dan support tanpa harus memiliki secara langsung teknologi itu sendiri, inilah yang dinamakan outsourcing. IBM juga memberikan fleksibilitas dari segi on-demand capacity. Artinya, biaya pemakaian dapat disesuaikan dengan jumlah pemakaian computing resources.. Bila perusahaan membutuhkan lebih banyak penggunaan, maka yang dibayarkan sesuai dengan tambahan jumlah pemakaian yang dilakukan.

Untuk mendukung bisnisnya, tahun 2002 lalu, IBM membeli PricewaterhouseCoopers Consulting sekitar 3,5 milyar dolar AS dalam bentuk dana tunai maupun saham. Bila dulu IBM lebih ke arah teknologi saja, sekarang IBM turut pula menangani business transformation suatu perusahaan yang tentu saja sangat membutuhkan konsultan-konsultan bisnis yang profesional.

Mengkomunikasikan dan menjual konsep on-demand kepada berbagai perusahaan menuntut IBM mengubah pendekatannya. Komunikasi harus dimulai dengan orang yang tepat. Bila dulu penawaran teknologi IT dibicarakan dengan IT manager saja, sekarang dengan konsep ini, komunikasi juga dilakukan dengan pemilik atau pemimpin perusahaan dimana mereka lebih mengerti tentang model bisnis dan prioritas bisnis perusahaannya.

Pendekatan yang dilakukan pun harus relevan dan berbeda. Pendekatan kepada pemimpin perusahaan lebih kepada bagaimana teknologi itu bisa mempengaruhi bisnisnya sedangkan dengan IT manager lebih kepada sisi teknologinya itu sendiri. Misalkan saja, untuk mendukung fokus bisnisnya ini, IBM mensosialisasikan konsep on demand kepada para pelanggan, di Darmawangsa Hotel, 17 Januari 2003 yang lalu.

Sebelum gencar menjual konsep on-demand ke berbagai perusahaan, IBM sudah menggeluti dunia e-business, dimana internet dan IT dimanfaatkan untuk menunjang bisnis pelanggan. Ada tiga tahap yang IBM lalui dalam menerapkan e-business dalam suatu perusahaan. Tahap pertama adalah perusahaan memiliki situs di internet. Tahap kedua adalah integrasi. Selain tampil di web, pengunjung juga dapat melakukan transaksi online, misalkan membeli barang, transfer uang antar account, dan sebagainya.

Tahap ini implementasinya lebih kompleks karena memerlukan integrasi yang menyeluruh terhadap proses bisnis dalam perusahaan itu. Mulai dari integrasi penjualan, proses delivery, proses penagihan. Tahap ketiga adalah e-business on-demand. Bila pada tahap kedua integrasi hanya terbatas pada perusahaan itu sendiri, sedangkan pada tahap ketiga, integrasi yang dilakukan sudah termasuk partner, customer dan supplier-nya. Integrasi pada tahap ketiga ini jauh lebih lengkap.

Semenjak tahun lalu, IBM mulai fokus pada on-demand dan secara agresif masuk pada tahap ketiga dengan menyediakan jasa transformasi bisnis. Berkaitan dengan kondisi pasar, IBM masih harus berhadapan dengan kenyataan bahwa 65% perusahaan di dunia masih berada pada tahap pertama, 28% tahap kedua, dan sisanya mulai masuk ke tahap ketiga.

Perusahaan Berbasis on-demand
Perubahan yang cepat, dinamis dan tidak dapat diprediksi dalam dunia bisnis menuntut berbagai perusahaan untuk memperbaiki bahkan bila perlu merombak mekanisme responsifitas proses bisnisnya. Salah satu solusi terbaiknya adalah dengan mengadopsi kemampuan teknologi yang terbukti mampu mengantisipasi berbagai perubahan baik dari dalam atau luar perusahaan.

Itulah sebabnya IBM dengan gencar menjual konsep on-demand ke berbagai perusahaan. Dengan konsep ini, perusahaan berbasis on-demand dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi baik yang positif maupun negatif serta terus meningkatkan kinerja perusahaan baik dari segi perolehan laba, produktivitas, dan sebagainya.

Perusahaan berbasis on-demand berusaha meminimalkan fixed cost dan lebih mengaju pada variable cost dalam melakukan aktivitas bisnisnya. Bila keadaan bisnis sedang baik dan permintaan meningkat, cost yang dikeluarkan sebanding dengan peningkatan itu. Bila keadaan bisnis kurang baik dan permintaan menurun, cost yang dikeluarkan sebanding dengan penurunan itu. Jadi, perusahaan terhindar dari biaya-biaya yang tidak produktif. Kenyataan yang ada sekarang adalah masih banyak perusahaan bersandar pada fixed cost sehingga bila keadaan ekonomi sedang sulit, biaya tetap tinggi. Oleh karena itu, IBM membantu pelanggan-pelanggannya menjadi perusahaan yang berbasis on-demand, responsif, fleksibel dan variabel sehingga mereka bisa sukses dengan pendapatan yang terus tumbuh berkembang.

Dalam membantu pelanggannya menjadi perusahaan berbasis on-demand, IBM mempunyai 3 pendekatan. Pendekatan pertama adalah menyediakan jasa konsultasi transformasi bisinis. IBM membantu pelanggannya mendefinisikan on-demand strategy dan business model yang diperlukan supaya perusahaan mempunyai dasar yang benar dan kuat untuk menjadi sebuah perusahaan berbasis on-demand.

Pendekatan kedua adalah menyediakan teknologi yang menunjang dimana perusahaan berbasis on-demand memiliki karakteristik khusus seperti terbuka, artinya, perusahaan berbasis on-demand perlu mengintegrasikan proses bisnisnya mulai dari internal perusahaan hingga ke supplier dan konsumen. Oleh karena itu, dibutuhkan teknologi yang mengikuti standar, memungkinkan integrasi dari berbagai aplikasi, software dan hardware, mempunyai utilisasi yang tinggi sehingga terhindar dari computing resources yang menganggur, autonomic, yaitu berusaha sebanyak mungkin membuat system management-nya menjadi sederhana dan otomatis serta resiliency, yaitu ketahanan terhadap berbagai perubahan.

Pendekatan ketiga adalah fleksibilitas pengadaan teknologi itu sendiri. Dengan adanya fleksibilitas dalam pengadaan teknologi, perusahaan bisa menikmati teknologi dan support tanpa harus memiliki secara langsung teknologi itu sendiri, inilah yang dinamakan outsourcing. IBM juga memberikan fleksibilitas dari segi on-demand capacity. Artinya, biaya pemakaian dapat disesuaikan dengan jumlah pemakaian computing resources.. Bila perusahaan membutuhkan lebih banyak penggunaan, maka yang dibayarkan sesuai dengan tambahan jumlah pemakaian yang dilakukan.

Untuk mendukung bisnisnya, tahun 2002 lalu, IBM membeli PricewaterhouseCoopers Consulting sekitar 3,5 milyar dolar AS dalam bentuk dana tunai maupun saham. Bila dulu IBM lebih ke arah teknologi saja, sekarang IBM turut pula menangani business transformation suatu perusahaan yang tentu saja sangat membutuhkan konsultan-konsultan bisnis yang profesional.

Mengkomunikasikan dan menjual konsep on-demand kepada berbagai perusahaan menuntut IBM mengubah pendekatannya. Komunikasi harus dimulai dengan orang yang tepat. Bila dulu penawaran teknologi IT dibicarakan dengan IT manager saja, sekarang dengan konsep ini, komunikasi juga dilakukan dengan pemilik atau pemimpin perusahaan dimana mereka lebih mengerti tentang model bisnis dan prioritas bisnis perusahaannya.

Pendekatan yang dilakukan pun harus relevan dan berbeda. Pendekatan kepada pemimpin perusahaan lebih kepada bagaimana teknologi itu bisa mempengaruhi bisnisnya sedangkan dengan IT manager lebih kepada sisi teknologinya itu sendiri. Misalkan saja, untuk mendukung fokus bisnisnya ini, IBM mensosialisasikan konsep on demand kepada para pelanggan, di Darmawangsa Hotel, 17 Januari 2003 yang lalu.

Sebelum gencar menjual konsep on-demand ke berbagai perusahaan, IBM sudah menggeluti dunia e-business, dimana internet dan IT dimanfaatkan untuk menunjang bisnis pelanggan. Ada tiga tahap yang IBM lalui dalam menerapkan e-business dalam suatu perusahaan. Tahap pertama adalah perusahaan memiliki situs di internet. Tahap kedua adalah integrasi. Selain tampil di web, pengunjung juga dapat melakukan transaksi online, misalkan membeli barang, transfer uang antar account, dan sebagainya.

Tahap ini implementasinya lebih kompleks karena memerlukan integrasi yang menyeluruh terhadap proses bisnis dalam perusahaan itu. Mulai dari integrasi penjualan, proses delivery, proses penagihan. Tahap ketiga adalah e-business on-demand. Bila pada tahap kedua integrasi hanya terbatas pada perusahaan itu sendiri, sedangkan pada tahap ketiga, integrasi yang dilakukan sudah termasuk partner, customer dan supplier-nya. Integrasi pada tahap ketiga ini jauh lebih lengkap.

Semenjak tahun lalu, IBM mulai fokus pada on-demand dan secara agresif masuk pada tahap ketiga dengan menyediakan jasa transformasi bisnis. Berkaitan dengan kondisi pasar, IBM masih harus berhadapan dengan kenyataan bahwa 65% perusahaan di dunia masih berada pada tahap pertama, 28% tahap kedua, dan sisanya mulai masuk ke tahap ketiga. Mangatur Lorielcide Paniroy – Marjuka

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here