06 | Peran IBM Memasyarakatkan IT

Betti Alisjahbana
Betti Alisjahbana | TokohIndonesia.com – Ist

Indonesia jauh tertinggal dengan negara-negara lain seperti Singapura dan Malaysia dalam hal pemanfaatan teknologi informasi untuk menunjang berbagai sektor kehidupan. Menyadari kenyataan ini, IBM merasa perlu untuk turut berperan serta dalam memasyarakatkan IT melalui program-program yang sudah dicanangkannya.

Misalkan saja, IBM menyediakan jasa dan teknologi yang terjangkau dengan cara turut aktif mempromosikan Linux, sebuah open source operating system yang mulai banyak dilirik oleh para pelaku usaha. IBM berharap jika Linux sebagai sistem operasi yang murah berhasil diadopsi, banyak kalangan seperti perorangan, organisasi, perusahaan dan pemerintahan yang bisa memanfaatkan teknologi dengan biaya yang lebih murah.

IBM mencoba membentuk Linux Community dan bermitra dengan orang-orang yang bergerak di bidang Linux, baik itu penyedia perangkat lunak, penyedia tenaga ahli dalam hal implementasi, penyedia training di bidang linux, majalah di bidang linux, dan sebagainya. Bersama-sama dengan mereka, IBM mempromosikan Linux guna mendukung percepatan adopsi TI.

IBM juga mempunyai sebuah program kemasyarakatan yang disebut Technology for the Community. Lewat program ini IBM memberikan bantuan teknologi kepada Palang Merah Indonesia pada tahun 2002. Bantuannya berupa penyediaan komputer laptop agar tenaga-tenaga lapangan dapat lebih cepat menyebarkan informasi mengenai suatu musibah dan menggalang bantuan dengan cepat. Di samping itu, IBM juga menyediakan komputer dan scanner di daerah-daerah bencana sehingga PMI bisa lebih cepat dan lebih responsif dalam menangani masalah bencana.

Semenjak tahun lalu hingga sekarang, IBM terlibat dalam pengembangan pendidikan usia dini yang disebut dengan Program Kid’s Smart. Tahun 2003 IBM membantu 45 sekolah, jauh meningkat dibandingkan tahun 2002 sebanyak 30 sekolah. Program ini mencoba memperkenalkan teknologi sejak usia dini dengan pendekatan proses belajar yang menarik dan interaktif. Bantuannya berupa hardware dan software yang didisain semenarik mungkin sesuai dengan anak-anak usia dini. Para guru diberikan pelatihan khusus agar bisa mengkomunikasikan dengan baik proses belajar itu kepada anak-anak. Ketika IBM meluncurkan Kid’s Smart tahap kedua, dua orang anak diminta mendemonstrasikan kemampuan mereka di hadapan banyak orang. Terlihat sekali, anak-anak itu menyukai apa yang mereka lakukan dan mereka sudah bisa mengerti bahasa Inggris sejak usia dini. Bagi IBM, hal ini sudah menjadi prestasi yang membanggakan.

Di lingkungan pendidikan SMA, IBM mengadakan workshop untuk memperkenalkan teknologi kepada para siswa dengan cara yang sangat menarik. Workshop ini mengajarkan bagaimana menggunakan komputer, mendisain website, bereksperimen, menganalisa DNA, dan sebagainya. Tujuannya adalah membangkitkan minat mereka terhadap teknologi sehingga mereka bisa terjun ke dunia teknologi nantinya.

Tidak ketinggalan pula, IBM mempunyai program untuk para mahasiswa, yang disebut Student at Work, sebuah program magang yang terbagi dalam dua pendekatan, program satu hari penuh dan program yang memakan waktu beberapa bulan. Program satu hari penuh biasanya hanya memperkenalkan IBM dan teknologinya namun tidak mendalam. Sedangkan program yang memakan waktu beberapa bulan, para mahasiswa diberikan pekerjaan yang sesungguhnya.

Menurut rencana, sekitar bulan Oktober, IBM akan menempatkan kios-kios komputer di tempat-tempat yang strategis seperti mall terutama museum teknologi yang banyak dikunjungi orang. Melalui kios ini, pengguna dapat melakukan eksplorasi ke museum-museum teknologi yang terkenal di dunia dan belajar lebih banyak tentang teknologi. Satu kendala terbesar dalam mengimplementasikan program ini adalah adanya kekhawatiran bahwa kios-kios tersebut akan bernasib sama seperti telepon umum yang kebanyakan rusak atau hilang dicuri.

Melalui berbagai program yang sudah dan akan dilakukan, IBM juga berusaha menumbuhkan loyalitas para pegawainya dan menciptakan suasana kerja yang menyenangkan karena mereka mendapati bekerja di suatu perusahaan yang memberikan kontribusi kepada masyarakat.

SDM di IBM
Ada dua faktor yang menyebabkan IBM sanggup bertahan di tengah-tengah krisis nasional maupun global yang sedang terjadi di dunia. Faktor pertama adalah fokus. IBM terus fokus pada kepuasan pelanggan dengan memberikan pelayanan yang terbaik jauh lebih baik dari pesaing-pesaingnya. Faktor kedua adalah IBM terus berusaha menjadikan pegawainya terampil dan memiliki motivasi yang tinggi. Oleh karena itu, IBM membuka kesempatan untuk belajar bagi semua pegawainya melalui program IBM Global Campus yang merupakan kombinasi dari e-learning. Dalam situs IBM Global Campus Site, ada ribuan kelas dengan berbagai bidang ilmu. Melalui program ini, selain mempelajari teknologi dan industri, para pegawainya dapat mengembangkan kemampuan pribadinya seperti memimpin orang, mengatur waktu, dan sebagainya.

Metode e-learning memberikan keuntungan kepada penggunanya karena setiap orang dapat belajar sesuai dengan waktu, kecepatan, dan gaya belajarnya masing-masing. Di samping itu, setiap orang dapat belajar tentang topik apapun, kapan saja, seandainya diperlukan. Metode e-learning berusaha mengatasi kebosanan dan kejenuhan dalam belajar dengan menggunakan model belajar yang interaktif dan sistematis. Para pengguna juga didukung oleh expert yang sudah berpengalaman di bidangnya. Untuk mendukung program ini, IBM mengadakan learning day setiap tiga bulan sekali, yang bertujuan mengingatkan para pegawainya bahwa belajar adalah suatu kebutuhan.

IBM juga memiliki program yang disebut Individual Development Program (IDP). Program ini akan mengevaluasi sejauh mana gap antara skill dengan posisi yang sedang dipegang oleh seseorang. Bila ternyata untuk profesi tersebut didapati skill yang diperlukan belum memadai, maka orang tersebut akan dididik dan dilatih melalui e-learning, project assignment atau mentoring. IBM selalu menghimbau semua pegawainya untuk terbuka membantu orang lain dengan menjadi mentor. “Semakin kita berbagi maka kita semakin kaya, ” kata Betti yakin. Dengan cara ini, diharapkan proses transfer ilmu bisa lebih cepat dan semakin mengasah keterampilan mereka yang menjadi mentor.

Di samping itu, IBM dalam meningkatkan keterampilan pegawainya juga memberikan kesempatan kepada mereka untuk menangani proyek-proyek di luar negeri. Para pegawainya tidak hanya menangani proyek-proyek Indonesia saja, tetapi juga terjun menangani proyek luar negeri dengan ketentuan skill profile-nya memenuhi persyaratan. Untuk mempermudah proses pengerjaan proyek, IBM menerapkan knowledge management. Setiap proyek yang pernah dilakukan dibuat dokumentasinya sehingga sewaktu-sewaktu dapat dijadikan referensi atau bahan rujukan bagi mereka yang secara kebetulan sedang mengerjakan proyek yang hampir sama dengan proyek sebelumnya.

Prospek IT di Masa Depan
Menanggapi soal kebijakan pemerintah tentang UU hak Cipta, Betty memandangnya sebagai sesuatu yang positif. Menurutnya, UU Hak Cipta akan melindungi orang-orang yang memiliki ide dan memberikan mereka motivasi untuk membuat hal-hal yang baru. Walaupun banyak kalangan yang meragukan keseriusan pemerintah terhadap UU ini, Betti berharap bahwa dengan diberlakukannya Undang-undang ini, semua perangkat penegakan hukum dan promosi dapat dipacu persiapan dan implementasinya.

Betti juga mengatakan bahwa pemerintah perlu melakukan deregulasi terhadap pajak barang mewah yang masih diberlakukan terhadap berbagai perangkat komputer karena komputer bukanlah barang mewah. Orang-orang yang mempunyai perusahaan IT atau membuka perusahaan IT juga diberikan keringanan dari segi pajak, sehingga mempermudah mereka masuk ke dunia IT. Pemerintah juga diharapkan dapat turut berperan serta dalam menyediakan tenaga-tenaga ahli di bidang IT dengan memberikan beasiswa atau membangun sekolah-sekolah berbasis IT.

Betti percaya bahwa setiap orang dapat mempengaruhi dan memberikan kontribusi terhadap dunia IT di Indonesia, entah itu besar atau kecil. Sebagai seorang pemimpin di IBM, prospek IT di masa depan juga ditentukan oleh kontribusinya, sejauh mana ia mengembangkan bisnis serta meyakinkan orang bahwa investasi di dunia IT itu penting. Oleh karena itu, Betti melihat prospek IT di Indonesia secara positif dan terus berusaha menyediakan solusi IT dengan biaya yang terjangkau dan memuaskan bagi para pelanggan. Mangatur Lorielcide Paniroy – Marjuka

Data Singkat
Betti Alisjahbana, Pendiri QB International (2008) dan CEO IBM Indonesia (1999-2008) / Perempuan Berwawasan Teknologi | Ensiklopedi | CEO, ITB, IBM Indonesia, QB International, Quantum Business International, QB Headlines, QB Architects, QB Furniture

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here