02 | Satria Dari Desa Kemusuk

HM. Soeharto berakar dari desa. Selama 32 tahun berkuasa, Pak Harto tidak pernah melupakan akarnya sebagai anak petani. Karenanya, ia selalu memperhatikan nasib dan kesejahteraan para petani.

Pembentukan wataknya ditempa oleh keprihatinan hidup dan pendidikan keluarga. Ia seorang negarawan dan nasionalis yang religius, memahami dan menghayati ajaran agamanya dan filosofi hidup Jawa. Ojo kagetan, ojo gumun, ojo dumeh. Jangan kagetan, jangan heran, jangan mentang-mentang, merupakan pegangan hidupnya, sehingga tetap tegak menghadapi cobaan seberat apa pun.

Suatu hari, Soeharto, bertelanjang dada, berlari sembari melompat, lantaran gembira dipanggil mbah buyutnya yang tukang jahit untuk mengepas baju baru. Soeharto kecil merasa riang sekali memakai baju itu. Namun Notosudiro, kakek dari ibunya, meminta Soeharto untuk memanggil Mas Darsono.
Soeharto kembali berlari, memanggil kakak sepupunya.

Darsono dalam sekejap sudah berdiri di depan Notosudiro, lantas disuruh mencoba baju yang sedang dikenakan Soeharto. Soeharto kemudian melepas baju itu, diserahkan ke Darsono. Ternyata pas. Baju itu memang untuk Darsono. Soeharto pun merasa sedih sekali.

Saat itu Soeharto hanya mengenakan celana. Ia merasa mbahnya lebih sayang pada putra kakak ibunya, anak orang berada. Kenangan getir masa kecil ini dituturkan kembali oleh Pak Harto di dalam otobiografinya, Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya. Saat buku itu terbit (tahun 1988), Pak Harto sudah 21 tahun menjabat Presiden Republik Indonesia.

Ibu Sukirah, sewaktu melahirkan bayi laki-laki di rumah suaminya yang sederhana, di desa Kemusuk, Argomulyo, Godean, arah barat dari kota Yogyakarta, ditolong oleh dukun bersalin mBah Kromodiryo, adik kakeknya, mBah Kertoirono. Bayi yang lahir tanggal 8 Juni 1921 itu diberi nama Soeharto oleh ayahnya, Kertosudiro.

Soeharto, anak ketiga Kertosudiro dari Sukirah, istri yang dinikahinya setelah lama menduda. Dengan istri pertama, Kertosudiro, petugas pengatur air desa (ulu-ulu), memperoleh dua orang anak. Ia bertani hanya di sawah lungguh, tanah jabatan.

Agaknya perkawinan Kertosudiro dan Sukirah tidak bertahan lama. Mereka cerai tidak lama setelah Soeharto lahir. Ibu Sukirah yang menjanda, menikah lagi dengan Pramono, melahirkan tujuh orang anak, termasuk putra kedua, Probosutedjo. Dan ayah Soeharto juga menikah lagi, memperoleh empat anak dari istrinya yang ketiga.

Usianya belum genap empat puluh hari, tatkala bayi Soeharto dibawa ke rumah mBah Kromo, lantaran ibunya sakit, tak bisa menyusui. Mbah Kromolah yang mengajarnya berdiri dan berjalan. Bersama mBahnya, ia sering pergi ke sawah.

Kadang-kadang, mBah Kromo menggendong Soeharto kecil di punggungnya ketika mengerjakan sawah, atau ditumpangkan di atas garu. Kenangan yang tak pernah dilupakannya, memberi komando pada kerbau tatkala membajak; maju, belok kiri atau belok kanan. Ia juga suka bermain air, bermandi lumpur atau mencari belut, ikan kegemarannya sampai usia tua.

Advertisement

Ketika usianya semakin besar, Soeharto tinggal bersama kakeknya, mBah Atmosudiro, ayah dari ibunya. Di situ ia pernah menggembala kerbau. Suatu hari ia disuruh kakeknya menuntun kerbau dari kandang ke sawah. Dalam perjalanan, di pinggir sungai, kerbau itu terperosok, masuk parit. Soeharto tidak tahu, jalan mana yang sebaiknya dilewati. Ia pikir, kerbau itu bisa menemukan sendiri jalan untuk menyelamatkan diri, malah turun ke sungai. Soeharto mengikutinya dari belakang.

Tahu-tahu sungai itu menyempit setelah melalui bagian yang dalam. Akibatnya, kerbau itu, maju susah, mundur susah. Soeharto hanya bisa menangis. Padahal pukul tujuh pagi, kerbau itu sudah harus ada di sawah. Namun tak lama kemudian orang suruhan kakeknya menemukannya. Soeharto pun lega, karena ia dan kerbaunya lolos dari perangkap.

Soeharto masuk sekolah tatkala berusia delapan tahun, tetapi sering pindah. Semula disekolahkan di Sekolah Desa (SD) Puluhan, Godean. Lalu pindah ke SD Pedes, lantaran ibunya dan suaminya, Pak Pramono pindah rumah, ke Kemusuk Kidul. Namun, Pak Kertosudiro lantas memindahkannya ke Wuryantoro. Soeharto dititipkan di rumah adik perempuannya yang menikah dengan Prawirowihardjo, seorang mantri tani.

Bibi dan pamannya menerima Soeharto sebagai putra mereka yang paling tua, diperlakukan sama dengan putra-putri mereka sendiri. Soeharto disekolahkan. Ia menekuni semua pelajaran, lebih-lebih pelajaran berhitung. Karena itu ia mendapat pujian dari gurunya. Selain itu ia mendapat pendidikan agama yang cukup kuat, karena keluarga bibinya terbilang taat beragama.

Empati Pada Petani
Kegemaran bertani bertambah selama Soeharto menetap di Wuryantoro. Di bawah bimbingan pamannya yang mantri tani, Soeharto menjadi paham dan menekuni pertanian. Di dalam situasi yang penuh kesulitan (tahun 1920-an), Soeharto acapkali berada di tengah-tengah para petani, menanamkan benih-benih simpati kepada mereka.

Pamannya sering mengajaknya meninjau ke desa-desa. Dari pamannya, ia tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, melainkan juga praktik. Di tiga kebun percontohan, di desa Ngungking, Kenongo, dan Tangkil, ia diberi kesempatan untuk menggumuli sawah. Ia juga sering mengikuti acara tanya jawab antara Pak Prawirowihardjo dan para petani. (Hal seperti ini diterapkannya ketika menjadi Presiden RI dari 1967 sampai 1998).

Lepas sekolah, sore hari, Soeharto belajar mengaji di Langgar bersama teman-temannya, seringkali sampai semalam suntuk. Ia juga aktif di kepanduan Hizbul Wathan. Ia mulai mulai mengenal para pahlawan, seperti Raden Ajeng Kartini dan Pangeran Diponegoro dari sebuah koran yang sampai ke desa.

Pembantu Klerek
Setamat sekolah rendah empat tahun, Soeharto dimasukkan orang tuanya ke sekolah lanjutan rendah (schakel school) di Wonogiri. Ia pun pindah ke Selogiri, enam kilometer dari Wonogiri, tinggal di rumah kakak perempuannya, istri seorang pegawai pertanian. Ia disunat pada usia 14 tahun, karena orang tuanya tidak mudah mengumpulkan biaya. Namun ia merasa gembira, badannya cepat tumbuh besar, tinggi dan kekar.

Rumah tangga kakaknya retak, Soeharto terpaksa pindah rumah. Ia pindah ke Wonogiri, tinggal di rumah Pak Hardjowijono, teman ayahnya, pensiunan pegawai kereta api. Keluarga ini tidak punya anak, karenanya Soeharto suka membantu untuk pekerjaan-pekerjaan rumah. Tetapi ia tak pernah mengeluh.

Pak Hardjo, pengikut setia Kiai Darjatmo, mubalig terkenal di Wonogiri waktu itu. Kiai itu pandai meramal dan mengobati orang sakit. Ia sering bersama Pak Hardjo berkunjung ke Kiai Darjatmo, diizinkan mendengar diskusi agama, terutama tentang isi Al-Quran.

Lama kelamaan, Soeharto sering bersama Kiai Darjatmo, membantu membuat catatan (resep) obat-obatan tradisional. Nama obat-obatannya ganjil, ramuannya aneh, berasal dari tanaman-tanaman langka, tetapi banyak didapatkan di kampung. Ia juga menuliskan peringatan untuk mereka yang datang berobat. Tugas-tugas ini kadang-kadang dikerjakan sampai larut malam.

Namun di Wonogiri, ia tidak bisa melanjutkan sekolah karena tidak punya sepatu dan celana pendek. Karena itu ia ingin kembali ke kampung asalnya, Kemusuk, melanjutkan sekolah. Ia pun pindah ke Kemusuk. Soeharto masuk sekolah Muhammadiyah di Yogya, karena di situ ia boleh mengenakan sarung, tanpa sepatu. Dari rumah ke sekolah, dan sebaliknya, ia mengayuh sepeda butut.

Setamat SMP Muhammadiyah, Soeharto sebenarnya ingin melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. Apa daya, ayah dan keluarganya yang lain tidak mampu membiayai. Kondisi ekonomi mereka sangat lemah. Ia masih mengingat pesan ayahnya waktu itu: “Nak, tak lebih dari ini yang dapat kulakukan untuk melanjutkan sekolahmu. Kamu sebaiknya mencari pekerjaan. Dan kalau sudah dapat, Insya Allah, kamu dapat melanjutkan pelajaranmu dengan uangmu sendiri.”

Soeharto pun berusaha mencari kerja ke sana-kemari, tidak berhasil. Ia memutuskan kembali ke rumah bibinya di Wuryantoro. Di sana ia diterima sebagai pembantu klerek pada sebuah Bank Desa (Volks-bank). Tugasnya mengikuti klerek bank berkeliling kampung dengan sepeda, mengenakan pakaian Jawa lengkap, kain blangkon dan baju beskap. Mereka menampung permohonan pinjaman para petani, pedagang kecil dan pemilik warung.

Karena kainnya sudah usang, tak patut lagi dipakai, ia meminjam kain bibinya. Namun ia bernasib sial. Sewaktu turun dari sepedanya yang reot, kainnya tersangkut per sadel, sobek. Meskipun tak bersalah, ia dicela oleh klereknya. Bibinya juga memarahinya. Tak lama kemudian Soeharto minta berhenti.

Setelah lama menganggur, suatu hari tahun 1942, Soeharto membaca pengumuman penerimaan anggota KNIL—Tentara Kerajaan Belanda. Ia pun mendaftarkan diri, lulus dan diterima, tetapi hanya sempat bertugas tujuh hari dengan pangkat sersan. Soalnya terjadi perubahan, Belanda menyerah kepada Jepang. Sersan Soeharto kemudian pulang ke desa Kemusuk. Namun karir militernya dimulai dari sini.

Menemukan Jodoh
Suatu hari datang keluarga Pak Prawiro yang tinggal di Wuryantoro ke daerah dekat tempat tugas Letkol Soeharto di Yogya. Ia pun menemui mereka. Bibinya, Ibu Prawiro, bertanya soal masa depannya, karena sudah berusia 26 tahun.

Mula-mula Soeharto tidak menganggap serius soal ini. Ia jelaskan perjuangan belum selesai. Waktu itu Letkol Soeharto memimpin Resimen III yang bermarkas di dekat Yogya. Ibu Prawiro tidak mau tahu, karena menurutnya perkawinan tidak perlu terhalang oleh perjuangan. Membentuk keluarga sangat penting.

“Tetapi siapa pasangan saya?” tanya Soeharto kepada mereka.

“Percayakan soal itu kepada kami,” kata Bu Prawiro. “Kamu masih ingat kepada Siti Hartinah, teman sekelas adikmu, Sulardi, waktu di Wonogiri?” tanya Ibu Prawiro. Soeharto mengangguk, mengiyakan. Ia ingat.

“Apa dia akan mau? Apa orang tuanya akan memberikan? Mereka orang ningrat. Ayahnya, Wedana, pegawai Mangkunegaran.” Tanya Soeharto.

Bu Prawiro seperti tidak menganggap hal itu sebagai persoalan. “Saya kenal dengan orang yang dekat dengan mereka,” kata Bu Prawiro. “Saya akan minta dia menanyakan, apa mereka dapat menerima kedatanganku. Saya tahu cara-caranya. Saya tahu adat kebiasaan di situ,” katanya.

Soeharto tidak mau mengecewakan bibinya. Hatinya tergugah. Temyata Pak Soemoharyomo dan Ibu Hatmanti berkenan menerima mereka, setelah Ibu Prawiro mengutus orang dekatnya. Kemudian dilangsungkan upacara nontoni, pertemuan antara si pelamar dan yang dilamar.

Soeharto masih ragu-ragu, apakah Hartinah benar-benar suka padanya. Ternyata upacara nontoni berjalan lancar, langsung merundingkan waktu pernikahan. “Ini rupanya jodoh saya,” pikir Soeharto.

Perkawinan Letkol Soeharto dan Siti Hartinah dilangsungkan tanggal 26 Desember 1947 di Solo. Waktu itu usia Soeharto 26 tahun dan Hartinah 24 tahun. Mereka dikaruniai enam putra dan putri; Siti Hardiyanti Hastuti, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Herijadi, Hutomo Mandala Putra dan Siti Hutami Endang Adiningsih.

Jenderal Besar H.M. Soeharto telah menapaki perjalanan panjang di dalam karir militer dan politiknya. Di kemiliteran, Pak Harto memulainya dari pangkat sersan tentara KNIL, kemudian komandan PETA, komandan resimen dengan pangkat Mayor dan komandan batalyon berpangkat Letnan Kolonel.

Lama pangkatnya tertahan, sampai-sampai ia meminta izin Ibu Tien untuk berhenti dari tentara dan menjadi sopir taksi saja. Namun Ibu Tien tidak memberi izin. Lantas Pak Harto diangkat menjadi Kepala Staf, kemudian Panglima Kodam Diponegoro, Jawa Tengah, dengan pangkat Mayor Jenderal. Pak Harto, setelah menempuh pendidikan Seskoad di Bandung, ditunjuk sebagai Panglima Komando Mandala, Wakil Panglima I Kolaga dan kemudian Pangkostrad dengan pangkat Letnan Jenderal.

Tanggal 1 Oktober 1965, meletus G-30-S/PKI. Pak Harto mengambil alih pimpinan Angkatan Darat. Selain dikukuhkan sebagai Pangad, Jenderal Soeharto ditunjuk sebagai Pangkopkamtib oleh Presiden Soekarno. Bulan Maret 1966, Jenderal Soeharto menerima Surat Perintah 11 Maret dari Presiden Soekarno. Tugasnya, mengembalikan keamanan dan ketertiban serta mengamankan ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno.

Karena situasi politik yang memburuk setelah meletusnya G-30-S/PKI, Sidang Istimewa MPRS, Maret 1967, menunjuk Pak Harto sebagai Pejabat Presiden, dikukuhkan selaku Presiden RI Kedua, Maret 1968. Pak Harto memerintah lebih dari tiga dasa warsa lewat enam kali Pemilu, sampai ia mengundurkan diri, 21 Mei 1998.

Pak Harto ditinggalkan oleh Ibu Tien yang meninggal dunia tahun 1996. Keseharian Pak Harto kini diisinya dengan beribadah, berzikir, beramal, jalan-jalan di seputar halaman kediamannya di Jalan Cendana, dan menonton acara-acara ringan, terutama wild life, di televisi.

Di dalam kesendiriannya, Pak Harto yang kini berusia 84 tahun, secara fisik masih tampak sehat. Ia tidak mengidap penyakit yang terlalu berat, kecuali serangan stroke yang membuatnya tidak bisa berkomunikasi secara normal. sahbuddin hamzah, wawancara TokohIndonesia.com, disarikan dari otobiografi, Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya dan berbagai sumber. (Majalah Tokoh Indonesia No.24)

***TokohIndonesia.com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here