04 | Tak Lupa pada Akarnya

Pak Harto selalu ingat pada desa kelahirannya. Jika datang berkunjung, ia selalu menyempatkan diri berkumpul dengan masyarakat desa dan teman-teman sepermainannya.

Sejauh mata memandang, sawah terbentang luas. Ditanami padi yang mulai menguning keemasan, ditimpa matahari pagi. Angin sejuk menghembus harum embun yang mulai hilang. Burung-burung kecil terbang di atas pematang. Mencari ulat di antara belukar.

Musim panen akan segera tiba di Kemusuk, Bantul, Jawa Tengah. Desa kelahiran Haji Muhammad Soeharto, mantan Presiden RI kedua. Setiap musim panen, hasil pertaniannya yang didominasi tanaman padi selalu memuaskan. Sistem irigasi yang teratur memberikan kesejahteraan bagi masyarakat petani di desa itu.

Samsuri dari Tokoh Indonesia berkunjung ke desa itu beberapa hari menjelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI ke-60. Rumah-rumah di sepanjang jalan desa yang beraspal tampak sudah berhias. Pagar-pagarnya dicat putih, bendera Merah Putih berkibar di setiap halaman rumah. Begitu juga terlihat umbul-umbul warna-warni di setiap sudut.

Jalan yang beraspal rata itu ikut menunjang percepatan roda ekonomi antar desa. Keluar masuknya arus barang dan jasa pun menjadi lebih lancar dan mudah.

Menyusuri jalan itu, tampak para pelajar yang hendak berangkat ke sekolah. Mereka begitu penuh semangat dan bercanda sesama teman. Tak perlu heran jika animo penduduk Desa Kemusuk begitu tinggi terhadap pendidikan. Di desa itu, tidak hanya ada SD, SMP dan SMA saja, melainkan juga sebuah perguruan tinggi telah dibangun. Menurut Suharjo, seorang penduduk setempat, Pak Harto dan Pak Probo yang sangat memperhatikan pembangunan di desa asalnya.

Keponakan Pak Harto, Aryo Winoto, SPt, yang kini menjabat anggota DPRD Kabupaten Bantul dari PKPB yang bergabung di Fraksi Kesatuan Baru, dengan ramah bersedia mengobrol tentang Pak Harto dan Desa Kemusuk yang dicintainya. Putra Noto Soewito, adik Pak Harto dan Pak Probo, itu mengatakan dirinya dan keluarga besarnya selalu meneladani kebaikan Pak Harto. Menurut politikus muda dari Kemusuk itu, Pak Harto selalu mengajarkan kepada mereka, baik langsung maupun tersirat, dari hal yang sederhana sampai yang luar biasa. Baik masalah politik, ekonomi, sosial, visi yang melihat jauh ke depan, sikap yang selalu menjunjung tinggi orang tua atau orang yang dituakan.

Menurut, Aryo, Pak Harto tidak pernah melupakan masyarakat desa kelahirannya, apalagi teman-teman masa kecilnya. Setiap kali berkunjung, ia akan mengundang teman-teman sepermainannya untuk mengobrol dan bernostalgia.

Sikap Pak Harto yang tak pernah lupa pada akar dan asal-usulnya seharusnya diteladani oleh para pejabat saat ini. Para pejabat sekarang ini kebanyakan bersikap adigung adiguna. Mereka cenderung ingin melupakan sejarah, sekalipun ada nilai keteladanan dan keberhasilannya. Misalnya berkaitan dengan Pak Harto. Mereka tidak melihat sejarah keberhasilan Pak Harto membangun negara ini, melainkan malah mencari-cari kesalahannya. Bagi Aryo, hal Itu tidak adil dan sama saja memanipulasi sejarah.

Mikul dhuwur mendem jero
Aryo kembali bercerita tentang Pakde-nya, Pak Harto. Sudah menjadi tradisi bagi Pak Harto sekeluarga untuk berziarah ke makan keluarga di Kemusuk setiap bulan Ruwah atau sebelum bulan Ramadhan. Di saat-saat seperti itulah biasanya Pak Harto menyempatkan diri bertemu dengan teman-teman masa kecilnya maupun teman-teman seperjuangan.

Advertisement

Hal yang sama dilakukan Pak Probo. Setiap bulan Ruwah, ia membagi-bagikan rezeki kepada masyarakat desa Kemusuk dan sekitarnya. Itu merupakan agenda tahunannya.

Baik Pak Harto maupun Pak Probo memang selalu memperhatikan warga desa kelahirannya. Untuk kemajuan warga desa, Pak Probo telah membangun sarana pendidikan dari mulai, SD, SMP, SMU sampai perguruan tinggi. Hal itu dimaksudkan agar warga desa tidak harus mengikuti pendidikan keluar desa. Namun selain warga Desa Kemusuk, masyarakat umum pun boleh memanfaatkan sarana pendidikan itu.

Bagi keluarga besar Pak Harto, keteladanan merupakan hal penting. Mereka sangat menjaga agar segala perbuatan yang dilakukan tidak merusak nama baik keluarga. Dan segala konsekuensi perbuatan jangan membawa nama keluarga, melainkan ditanggung sendiri. Sebagai orang Jawa, falsafah kejawen menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan. Hal itu telah diajarkan Pak Harto. Peribahasa mikul dhuwur mendem jero bukan hanya sekedar kata-kata, tetapi telah dilakukan oleh Pak Harto.

Sebagai adik dari Pak Harto, Pak Probo juga meneladani hal itu. Ketika Pak Harto masih menjabat Presiden, ia banyak menyampaikan kritik kepada kakaknya itu. Meski sifatnya kritik membangun, tak urung menyebabkan Pak Probo dimusuhin orang-orang sekitar Pak Harto.

Namun setelah Pak Harto lengser lalu banyak dihujat, Pak Probo dengan setia membela Pak Harto. Saat ini, siapa lagi yang berani membela Pak Harto secara terbuka kalau bukan Pak Probo. Sementara, orang-orang yang dulu pernah diberi jabatan dan kedudukan serta dinaikkan derajatnya oleh Pak Harto memilih diam, karena takut jabatannya dicopot.

Saat ini, Pak Probo tengah membuat monumen di rumah tempat Pak Harto dilahirkan, satu kilometer ke bagian utara dari rumah adiknya, Noto Soewito.

Bangunan lama tengah dipugar. Namun, nantinya akan dibangun kembali dengan model bangunan dan ornamen semirip aslinya. Maksud pembangunan itu adalah sebagai monumen peringatan bagi generasi selanjutnya akan sejarah pemimpinnya dan tempat kelahirannya.

Perbincangan beralih ke masa-masa Pak Harto ramai dihujat. Suatu kali ada yang menyebarkan fitnah bahwa Pak Harto menyimpan harta di Desa Kemusuk. Aryo dengan tegas membantah hal itu. Menurutnya, itu tidak benar dan fitnah. Keluarga besar Pak Harto tidak pernah menutup-nutupi sesuatu. Siapa pun boleh datang dan berkunjung ke rumah itu. Setiap hari selalu ada tamu dengan jumlah yang bervariasi dengan kepentingan yang berbeda-beda. Mereka selalu diterima dengan baik. Hal itu menunjukkan bahwa keluarga besar Pak Harto sangat terbuka.
Aryo menganggap tuduhan itu keji dan tidak sesuai dengan kenyataan. Warga Desa Kemusuk sendiri tidak pernah mempedulikan isu-isu semacam itu. Keluarga besar Pak Harto pun tetap rukun dan harmonis dengan warga sekitarnya. Masjid Bashirotul Muslimat yang didirikan satu area dengan rumah Pak Noto tidak pernah lengang dari kegiatan ibadah, baik sholat maupun pengajian yang diselenggarakan warga.

Prihatin nasib bangsa
Menurut sang keponakan, Pak Harto yang dikenal sebagai Bapak Pembangunan sangat sedih melihat kenyataan di era reformasi ini. Ia melihat masyarakat Indonesia yang kesusahan ekonomi, belum lagi berbagai penyakit yang melanda seperti busung lapar, flu burung dan jenis penyakit lainnya yang melanda bangsa ini. Pak Harto juga prihatin dengan banyaknya kasus bunuh diri akibat himpitan ekonomi. Padahal, di era Pak Harto tidak terdengar ada hal-hal yang sangat menyedihkan itu, karena lajunya pembangunan, baik fisik maupun mental spiritual.

Di era Pak Harto, masyarakat merasakan hasil-hasil pembangunan secara nyata, meski belum maksimal. Sekarang hasil pembangunan hampir dikatakan belum tampak, apalagi dirasakan masyarakat secara keseluruhan.
Bila kita mau jujur, pembangunan jangka panjang yang dipelopori Pak Harto melalui tahapan Pelita itu sudah bagus dan tinggal diteruskan. Tetapi demi gengsi dan politis, hampir semua pemikiran Pak Harto dalam pembangunan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia banyak diubah.

Budaya politik bangsa ini sudah pada tahap memprihatinkan. Seperti yang terjadi di beberapa daerah dalam rangka pemilihan kepala daerah (Pilkada). Dimana yang kalah belum siap untuk kalah, sehingga yang kalah mencari banyak cara untuk menjatuhkan yang menang, termasuk melakukan tindakan yang tidak terpuji, dari pembakaran, kekerasan fisik serta menjelek-jelekan yang menang.

Sebenarnya keteladanan dan jiwa besar Pak Harto bisa jadi panutan. Menurut Aryo, sejauh ini ia belum pernah mendengar atau membaca ada komentar Pak Harto yang menjelelek-jelekan Orde Lama atau Bung Karno. Memang Pak Harto mengambil sikap politik yang berbeda dengan Bung Karno. Tetapi perbedaan itu wajar, dan disikapi dengan cara mikul dhuwur mendem jero.

Sekarang Pak Harto sudah sepuh dan tidak bisa berbuat banyak seperti yang diinginkan oleh rakyat yang masih mengharapkan pemikiran beliau. Aryo menekan, perlu dicatat bahwa setelah Pak Harto lengser, ia tidak pernah menjelek-jelekan orang lain. Sebaliknya banyak tuduhan yang berupa fitnah ditujukan kepada Pak Harto yang semua itu tidak benar dan tidak terbukti dan biarlah rakyat yang menilainya.

Bahkan Aryo pernah mendengar kisah anak buah Pak Harto, bahwa saat Pak Harto memimpin salah satu batalyon, sebelum anak buah makan semua Pak Harto belum mau makan. Itu menandakan rasa tanggung jawabnya sebagai pimpinan. Sementara sekarang ini, banyak pimpinan makan kenyang duluan, setelah itu baru anak buah.

Meski demikian, Aryo yakin, suatu saat masyarakat akan menyadari landasan ekonomi yang dibuat di era Pak Harto ternyata berguna, termasuk para pejabat maupun mantan pejabat yang takut dicap “soehartoisme.” Waktulah yang kelak akan menentukan. crs, samsuri, retno, wawancara TokohIndonesia.com, dan berbagai sumber. (Majalah Tokoh Indonesia No.24)

***TokohIndonesia.com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here