Berpegang Pada Pakem Busana Muslimah

[ Anne Rufaidah ]
 
0
96
Anne Rufaidah
Anne Rufaidah | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Lulusan Fakultas Seni Rupa & Desain, ITB Bandung ini memilih berkarir di dunia mode sebagai desainer busana muslimah kontemporer. Dalam setiap desainnya, ia berpegang pada prinsip bahwa busana muslimah pada hakikatnya berfungsi sebagai penutup aurat, tidak membentuk siluet tubuh, serta tidak tembus pandang. Lebih menekankan pada fungsi namun tanpa mengurangi aspek keindahan.

Perlahan-lahan busana muslimah mulai menjadi gaya hidup wanita urban yang modern. Padahal beberapa tahun sebelumnya, busana muslimah dipandang kuno dan kampungan karena modelnya yang itu-itu saja. Tapi kini, semakin banyak kaum hawa yang mengenakan busana muslimah. Perkembangan tren busana muslimah yang semakin menggembirakan juga ikut melambungkan nama para desainer spesialis busana muslimah yang selama ini konsisten di jalurnya. Salah satunya, Anne Rufaidah.

Perempuan kelahiran Bandung, 15 Juni 1962 ini memulai kiprahnya sebagai desainer sejak tahun 1981. Bakatnya sebagai desainer mulai terlihat sejak usianya masih belia. Anne kecil yang dikenal sebagai sosok yang senang menyendiri ini lebih senang menghabiskan waktunya untuk menggambar dan membaca ketimbang bermain boneka dengan teman-teman sebayanya.

Di usia 17 tahun, tepatnya pada 1979, putri pasangan H. Endang Agah Bajuri dan Hj. Suwarni ini mengikuti Lomba Perancang Mode Majalah Femina Gadis dan berhasil keluar sebagai finalis. Setahun kemudian, ia keluar sebagai jawara ajang pemilihan Putri Remaja Indonesia yang juga diselenggarakan oleh Majalah Femina Gadis. Setelah memenangkan ajang tersebut, Anne menjalani hari-harinya sebagai foto model bahkan sempat terjun ke dunia akting.

Namun, Anne akhirnya lebih memilih untuk mengasah bakatnya dalam bidang mendesain pakaian. Untuk mempertajam kemampuannya, Anne melanjutkan kuliahnya di Fakultas Seni Rupa & Desain, ITB Bandung. Ketika menjadi mahasiswi di kampus bergengsi tersebut, Anne beserta beberapa rekannya memberikan bimbingan belajar pada sejumlah siswi sebuah SMA, yang lokasinya berdekatan dengan Masjid Salman di ITB. Para siswi tersebut dikeluarkan dari sekolah karena berjilbab. Bantuan yang diberikan, bukan sekadar bimbingan pelajaran, tapi juga memberikan semangat pada mereka untuk menegakkan kebenaran bahwa mengenakan jilbab sebagai penutup aurat merupakan hak sekaligus kewajiban setiap muslimah.

Sementara pelarangan mengenakan jilbab di sekolah kian memanas, Anne justru semakin giat memasyarakatkan busana muslimah rancangannya yang dimuat di Majalah Kharisma Salman ITB. Desain-desain karyanya yang kreatif dan menarik, sedikit demi sedikit mulai mengubah pandangan masyarakat yang selama ini menilai busana muslim dengan sebelah mata. Tak berhenti sampai di situ, keindahan busana muslimah rancangan Anne pun menjadi kian nyata di mata publik setelah ia meluncurkan busana muslimah siap pakai.

Semenjak itu, busana muslimah yang semula dianggap kampungan pun memulai era barunya. Di sana-sini orang mulai memproduksi busana muslimah. Kaum ibu hingga gadis remaja mulai menggunakannya tanpa ragu. Pemerintah, terutama lembaga pendidikan, yang awalnya melarang, akhirnya mulai melunak. Media pun tak tabu lagi menampilkan para artis berbusana muslimah dan berbagai hasil rancangan yang praktis sehingga busana muslimah bukan lagi menjadi halangan dalam berbagai kegiatan.

Setelah lulus dari ITB, Anne meneruskan studi fashionnya di Sekolah Mode Susan Budihardjo, Jakarta. Kemudian di tahun 1983, Anne yang sempat mendalami ilmu psikologi di Unisba, Bandung selama satu tahun ini memulai karir profesionalnya dengan bekerja sebagai desainer Rumah Busana Zahra, Bandung.

Lima tahun berselang, Anne secara khusus menyoroti acara Qasidah yang tayang di TVRI setiap hari Minggu. Ia merasa prihatin lantaran pakaian para pengisi acara kesenian Islam tersebut dinilai menyalahi syariah. Kendati serba panjang namun terbuka di bagian dada bahkan ada pula yang menerawang. Padahal fungsi busana muslimah yang sebenarnya ialah untuk menutup aurat, dengan ketentuan tidak boleh ketat supaya tidak membentuk siluet tubuh, apalagi tembus pandang.

Untuk mempertajam kemampuannya sebagai desainer, Anne mengikuti pendidikan di Sekolah Mode Houte Couture Harry Darsono serta Pelatihan Teknik Desain Tekstil PPEI, Jakarta pada tahun 1995.

Berangkat dari keprihatinan tersebut, Anne ingin ikut ambil bagian dalam acara tersebut guna menyumbangkan idenya membuat rancangan busana muslimah yang sesuai dengan syariah namun tetap elok dipandang. Untuk mewujudkan niat tersebut, istri dari Heru Kuntoadji ini meminta bantuan seorang teman untuk memfasilitasi dirinya dengan pihak TVRI. Sayangnya keinginan tersebut tak terlaksana. Baru di tahun 1994, seorang teman yang bekerja sebagai creative director untuk tayangan musik spesial Lebaran “Semoga Fitri Kembali” di RCTI, menggandeng Anne Rufaidah untuk menangani urusan busana.

Penampilan Anne yang bersahaja bahkan bisa dibilang sangat sederhana, rupanya sempat membuat Rudy Wowor, aktor senior sekaligus pelatih dansa, yang ketika itu menjadi sutradara acara musik tersebut meragukan kemampuannya. Namun setelah mengenal sosok Anne lebih jauh beserta baju-baju hasil rancangannya, Rudy berbalik kagum pada ibu tiga anak itu.

Setelah sukses menangani acara tersebut, Anne kian gencar mempopulerkan busana muslimah. Untuk mempertajam kemampuannya sebagai desainer, Anne mengikuti pendidikan di Sekolah Mode Houte Couture Harry Darsono serta Pelatihan Teknik Desain Tekstil PPEI, Jakarta pada tahun 1995. Usai menyelesaikan pendidikannya di dua lembaga tersebut, Anne semakin mantap menggali potensinya dengan melakukan inovasi, memodifikasi tren lama dengan garis rancang yang lebih kontemporer serta menciptakan tren busana muslimah terbaru tanpa harus melanggar syariah namun tetap memberikan kesan cantik dan modis bagi si pemakai.

Perkembangan tren busana muslimah di Indonesia yang kian hari kian menggembirakan menurut Anne tak terlepas dari peran Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI). APPMI berhasil mengantarkan busana muslimah berada di tempat yang layak dan bersanding dengan busana modern lainnya. Anne menilai gelaran Moslem Wear dalam Fashion Tendance yang diadakan APPMI pada tahun 2010 misalnya, merupakan bukti bahwa APPMI sangat mendukung perkembangan busana muslimah di Indonesia sebagai salah satu mode baru.

Terlebih lagi penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam menjadi pangsa pasar sekaligus media dakwah yang tepat agar kaum muslimah bisa tampil menawan tanpa harus meninggalkan ciri kesantunan dalam berbusana. Desainer/Pembicara Konsisten Busana Muslimah Shafira tahun 1998 ini pun mengaku merasakan perubahan yang cukup besar sejak bergabung dengan APPMI, terutama dalam hal mempromosikan hasil rancangannya.

Untuk trend busana muslimah 2011, Anne menampilkan sesuatu yang baru sebagai alternatif bagi para muslimah untuk tampil gaya namun tidak pasaran yang terangkum dalam peragaan busana bertajuk Glow. Sebagai aksen, Anne menampilkan gaya klasik dengan paduan etnik timur dalam bentuk baru yang lebih menarik, modern, stylish dan glam, demi memenuhi kebutuhan muslimah urban yang memiliki mobilitas tinggi.

Bahan sifon yang melayang dengan silk organdi, lace dengan tenun ikat NTT dalam taburan beads menjadikan busana rancangan Anne semakin terlihat cantik dan bersinar. Dalam memilih bahan, Anne bersikap sangat hati-hati agar busana muslim rancangannya bisa berfungsi secara benar sebagai penutup aurat. Tidak ketat, membentuk siluet tubuh, maupun tembus pandang. “Rancangan saya memang lebih menekankan pada fungsi tanpa mengurangi aspek keindahan,” kata Anne seperti dikutip dari situs okezone.com.

Kini, busana muslimah bagai jamur di musim hujan. Para desainer semakin kreatif membuat dan memasarkan busana muslimah dengan tampilan yang lebih modern. Berbagai peragaan busana muslimah makin sering digelar dan ekspor pun digalakkan Dukungan dari media massa membuat busana muslimah kian naik pamor dan pujian dari dunia luar mulai berdatangan.

Kenyataan tersebut membuat Anne tersenyum bahagia. Namun, bukan berarti ia sudah cukup puas sehingga membuat langkahnya terhenti. Perjuangan Anne masih panjang, lantaran penolakan-penolakan dari negara-negara Eropa, salah satunya Prancis yang melarang orang menggunakan jilbab. Bio TokohIndonesia.com | muli, red

Data Singkat
Anne Rufaidah, Desainer Busana Muslimah / Berpegang Pada Pakem Busana Muslimah | Direktori | ITB, desainer, lemhanas, busana, fashion, muslimah, Unisba, APPMI

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here