Budayawan Peneladan Gus Dur

[ Mohamad Sobary ]
 
0
149
Mohamad Sobary
Mohamad Sobary | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Mohamad Sobary, akrab dipanggil Kang Sobary, lahir di Bantul, Yogyakarta, 7 Agustus 1952. Mantan Pemimpin Umum Kantor Berita Antara ini seorang budayawan yang piawai menuangkan pikirannya dalam tulisan. Dia seorang ‘pengikut’ Gus Dur yang amat peduli membela yang benar, keberagaman, keindonesiaan dan kemanusiaan. Dia sangat peduli pada orang-orang kecil.

Semasa remaja, Mohamad Sobary sangat ingin menjadi ahli agama. Untuk mewujudkan mimpinya dia berhasrat sekolah di PGA dan IAIN. Tapi nasib membawanya ke Sekolah Pekerjaan Sosial Atas. Setelah itu melanjut ke Departemen Sosial Universitas Indonesia. Kemudian kuliah di Monash, Australia.

Dia amat peduli pada kehidupan orang-orang kecil. Kepedulian itu membawanya aktif di lembagalembaga swadaya masyarakat (LSM). Dia pernah bekerja di Christian Children’s Fund tahun 1978-1979. Kemudian bekerja pada Divisi Komunikasi Yayasan Indonesia Sejahtera di Jakarta tahun 1993. Selain itu, dia pun gemar menulis di berbagai media nasional. Di antaranya, kolomnya Asal-Usul di Harian Kompas Minggu. Dia pun kerap ganti pekerjaan.

Pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mentor yang sekaligus sahabatnya, Kang Sobary dipercaya menjabat Pemimpin Umum Kantor Berita Nasional Antara. Selepas dari Antara, dia pun menjabat Direktur Eksekutif Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan (Partnership for Governance Reform) hingga Juli 2009. Kemudian dia memfokuskan diri pada penulisan Novel tentang keluarga Syalendra yang membangun Borobudur.

Sobary, membayangkan dirinya berjalan di belakang Gus Dur, dan mencatat apa yang dipikirkan, dirasakan dan diucapkan Gus Dur di kancah politik, agama, dan kebudayaan. Juga mencatat bagaimana Gus Dur memelihara humor untuk menandai kearifan hidup. Sobary mewartakan, apa warisan kearifan yang patut diteladani di tengah kehampaan hidup di zaman ketika jambul dan sisiran rambut, cara senyum, dan kancing baju menjadi tanda kelebihan: yang tak lain dari lebih dalam kepalsuannya.

Setelah Gus Dur wafat, dia pun menuangkan segenap kenangan persahabatan dengan Gus Dur yang dijadikannya sebagai guru yang patut digugu dan ditiru. Dia pun meluncurkan buku ‘Jejak Guru Bangsa: Meneladani Kearifan Gus Dur’ minggu ketiga Februari 2010 yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Buku yang mencatat sosok Gus Dur, potret pemikiran dan wawasan, aspirasi dan idealisme, dan segenap wujud pengungkapannya di dalam hidupnya yang tak datar, hidup penuh ombak, dan gelombang.

Sobary, membayangkan dirinya berjalan di belakang Gus Dur, dan mencatat apa yang dipikirkan, dirasakan dan diucapkan Gus Dur di kancah politik, agama, dan kebudayaan. Juga mencatat bagaimana Gus Dur memelihara humor untuk menandai kearifan hidup. Sobary mewartakan, apa warisan kearifan yang patut diteladani di tengah kehampaan hidup di zaman ketika jambul dan sisiran rambut, cara senyum, dan kancing baju menjadi tanda kelebihan: yang tak lain dari lebih dalam kepalsuannya. Juga kenangan dialog-dialognya dengan Gus Dur yang telah pernah direkam dan diperjualbelikan, diterbitkan kembali dengan judul NU dan Keindonesiaan, diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, 2010.

Sebelumnya, dia telah menulis beberapa buku, di antaranya: Kang Sejo Melihat Tuhan (Sosial & Politik), Gramedia Pustaka Utama, Januari 1993; Kisah Karna dan Dendam Kita (Sosial & Politik), Gramedia Pustaka Utama, Januari 1999; Singgasana dan Kutu Busuk (Fiksi), Gramedia Pustaka Utama, April 2004; Sang Musafir (Fiksi-Drama), Gramedia Pustaka Utama, Agustus 2007; dan Kidung (Novel), Gramedia Pustaka Utama, 2009.

Belakangan, dia ikut prihatin melihat kondisi bangsa, sebagaimana dikeluhkan para tokoh lintas agama yang menyatakan perlawanan atas kebohongan publik yang dilakukan pemerintah. Termasuk keprihatinan atas maraknya tindakan anarkis yang dilakukan sekelompok orang dengan mengatasnamakan agama. Dalam diskusi perspektif di Gedung DPD, Jumat (11/2/2011), dia menyambut baik instruksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk membubarkan organisasi masyarakat anarkistis.

Namun, Kang Sobary sangat menyesalkan ketegasan Presiden itu telah dinodai oleh salah seorang menterinya, yaitu Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar. Pasalnya, Patrialis malah mengatakan bahwa pembubaran ormas sulit dilakukan setelah Presiden menyatakan komitmen tersebut secara terbuka di depan publik. “Jangan begini. Presiden menganjurkan, tetapi menterinya melarang. Tak ada satu kata. Seharusnya dia menunjukkan bahwa Presiden ngomong demikian, maka ini hukumnya. Atau kalau keberatan, dia datang ke istana baik-baik. Jangan Presidennya didebat di depan publik seperti itu, kehilangan mukalah,” katanya.

Dia sangat prihatin melihat tingkat elite yang masih kesulitan mencapai kata sepakat dalam mencari solusi yang tepat. Sementara akar rumput membutuhkan solusi secara cepat. Menurutnya, negara seharusnya menjamin setiap warganya untuk bebas menganut agama dan menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya. Negara, katanya, melalui kaki tangannya, juga harus terus berupaya mendidik masyarakatnya dewasa dalam bertoleransi. Bio TokohIndonesia.com

Data Singkat
Mohamad Sobary, Budayawan, Pemimpin Umum KBN Antara (2002-2004) / Budayawan Peneladan Gus Dur | Direktori | Budayawan, Antara, UI

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here