Politisi Berpengaruh dari PKS

[ Anis Matta ]
 
0
172
Anis Matta
Anis Matta | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Ia merupakan salah satu politisi muda berpengaruh dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sekjen DPP PKS dan Wakil Ketua DPR (2009-2014) yang kutu buku ini aktif menulis di berbagai media Islam dan sudah menghasilkan sejumlah buku.

Pria bernama lengkap Muhammad Anis Matta, LC ini sangat mencintai buku. Hobi membaca sudah dilakoni Anis sejak kecil. Pada musim liburan sekolah misalnya, jika anak-anak seusianya asyik bermain, pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan pada tanggal 28 September 1968 ini justru lebih suka menghabiskan waktunya dari pagi hingga malam dengan membaca.

Jika ada orang mengatakan “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”, hal itu tidak berlaku bagi Anis. Ia bahkan mengaku tidak pernah punya cita-cita muluk. Ia “hanya” terobsesi memiliki perpustakaan besar. Dari sekian banyak buku yang dibaca, buku yang paling berpengaruh pada dirinya adalah Berpikir dan Berjiwa Besar.

Hobinya membaca berpengaruh besar pada kemampuan menulisnya. Karya-karyanya tersebar di beberapa media Islam seperti Saksi, Tarbawi, Ummi dan Suara Hidayatullah. Karya-karya yang tercecer di berbagai media Islam tersebut sebagian besar telah dikumpulkan menjadi sebuah buku. Hasil goresan penanya dapat dilihat pada dua buku monumental, yakni Biar Kuncupnya Mekar Menjadi Bunga yang diterbitkan Pustaka UMMI dan Risalah Pergerakan, terjemahan Risalah Ta’lim-nya Hasan AI-Banna. Selain, itu ada beberapa buku lagi yang ikut menyumbang perkembangan pemikiran Islam di Indonesia.

Sejak kecil kedua orangtuanya telah mendidik Anis dengan pendidikan agama yang baik. Ia pun disekolahkan pada sekolah Islam. Begitu pula saat menempuh jenjang pendidikan tinggi, ia meraih gelar S1 di bidang syariat Islam dari LIPIA pada tahun 1992. Kemudian pada tahun 2001 ayah tujuh anak itu ikut pendidikan di LEMHANNAS.

Berbicara dalam konteks Indonesia, Anis Mata berpendapat bahwa gerakan-gerakan pemikiran Islam yang dibangun sebagai kekuatan pro sekuler di dalam basis-basis pertahanan budaya Islam, baik yang dulu bernama gerakan pembaruan maupun yang reinkarnasinya kini bernama Islam Liberal atau Islam kiri, tidak pernah sanggup membawa konsep-konsep pemikiran yang orisinil, komprehensif, berlandaskan metodologi yang kokoh dan output empiris yang sukses. Sementara, permasalahan lain dari gerakan sekuler seperti Islam Liberal atau Islam kiri adalah ketergantungan mereka akan dukungan politik, media dan dana dari Barat.

Anis Matta menyebut gerakan semacam itu dengan istilah “pepesan kosong”, suka bermain retorika, tidak produktif dan lebih berorientasi mengganggu apa yang mereka sebut sebagai gerakan “Islam Fundamentalis”, ketimbang membangun sebuah dunia nyata dari gagasan besar yang lengkap.

Kiprahnya di panggung politik nasional dimulai ketika terpilih sebagai anggota DPR RI periode 2004-2009. Mantan Anggota Majelis Hikmah PP Muhamadiyah itu sebelumnya menduduki kursi Sekretaris Jenderal PKS dua periode berturut-turut yakni periode 2003-2005 dan 2005-2010.

“Pangkatnya” sebagai anggota naik menjadi Wakil Ketua DPR berdasarkan Rapat Badan Pengurus Harian Dewan Pengurus Pusat PKS. Pengalamannya, baik sebagai anggota DPR maupun kiprah di internal PKS dianggap cukup mumpuni karena sudah beberapa periode menjadi Sekretaris Jenderal. Ia juga dianggap pribadi yang bersih, bebas dari masalah hukum. Suami Anaway Irianty Mansyur itu juga pernah duduk di Majelis Hikmah PP Muhammadiyah.

Saat sebagai Wakil Ketua DPR RI, hal yang paling ia harapkan adalah adanya sumber daya infrastruktur yang kuat akan percepatan pembangunan. Ia mengusulkan, infrastruktur itu dapat berupa perpustakaan semacam perpustakaan Kongres Amerika Serikat. Dengan adanya perpustakaan, yang diimpikannya terbesar di dunia, maka anggota DPR tidak perlu lagi melakukan banyak studi banding ke luar negeri sehingga negara bisa menghemat pengeluaran negara. e-ti | muli, red

Data Singkat
Anis Matta, Wakil Ketua DPR, 2009-2014 / Politisi Berpengaruh dari PKS | Direktori | Politisi, Partai, PKS, DPR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here