Sipil Pertama Pengganti Militer

[ Effendi Anas ]
 
0
105
Effendi Anas
Effendi Anas | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Jabatan Walikota Jakarta Utara biasanya dipegang oleh kalangan militer, terutama dari Angkatan Laut. Effendi Anas adalah orang sipil pertama yang memegang jabatan walikota Jakarta Utara. Namun, soal mengganti jabatan yang sebelumnya dipegang oleh militer, ternyata bukan kali ini saja. Ia juga pernah menjadi orang sipil pertama yang menjadi Kepala Kantor Sosial Politik Jakarta Pusat menggantikan tentara. Juga, menjadi Kepala Direktorat Sospol DKI, yang sebelumnya menjadi langganan militer.

Terhadap jabatannya mengganti peran militer ini ia berujar, “Pada saat sekarang ini yang penting adalah profesionalitas, komitmen untuk mengabdi kepada rakyat secara tulus dan menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. Bukan karena dia sipil atau militer.”

Drs Effendi Anas, MSi dalam usianya yang masih relatif muda, 40 tahun, telah dipercaya menjadi Walikota Jakarta Utara. Padahal, Jakarta Utara dikenal sebagai kawasan hitam, yang memiliki cukup banyak titik rawan kriminal, namun di lain pihak memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Adanya Pelabuhan Tanjung Priok, kawasan wisata Ancol, berbagai pabrik dan pemukiman mewah, tersebar di Jakarta Utara. Namun, lingkungan kumuh di sekitar pelabuhan dan tempat lainnya menjadi masalah yang harus diselesaikan.

Effendi Anas lahir di Denpasar, Bali, 26 Agustus 1963. Ayahnya adalah seorang tentara yang selalu berpindah tempat tugas. Ia masuk Sekolah Rakyat (SR) di Malang, tetapi lulus SR di Manado Sulawesi Utara. Di kota ini pula ia menyelesaikan pendidikan SMP. Sedangkan SLTA ditempuhnya di Madiun hingga lulus. Setelah lulus SLTA, ia kuliah di IAIN Surabaya. Pendidikan S2 dengan spesialisasi Public Administration ditempuh di Universitas Indonesia, Jakarta.

Dengan perpindahan tersebut, ia menemukan suatu nilai yang sangat berharga dan memperkaya dirinya, karena mampu mengenal dan menjalani kehidupan dalam lingkungan yang kulturnya sangat bervariasi. Kultur masyarakat Jawa dengan Manado cukup berbeda. Menurut Effendi, masyarakat Manado itu memiliki budaya yang lebih bebas seperti budaya Eropa dibanding masyarakat Jawa, yang cenderung tertutup, tertib, dan memiliki banyak aturan atau tata krama.

Si Anak Nakal
Masa kecil Effendi yang dijalani di Manado tidaklah dapat dikatakan baik. Sebagai anak tentara, ia mengaku sangat nakal untuk anak seusianya. Ketika masih duduk di kelas 5-6 SD ia sudah ikut pergaulan orang dewasa di kota itu. Ia pun mulai belajar main judi yang menjadi kebiasaan sebagian warga Manado.

Meskipun nakal, ternyata jika masuk ke rumah, Effendi menjadi anak manis dan mengaku takut terhadap ayahnya. Ia sering tidak pulang karena takut dimarahi dan kalau pulang bersembunyi di atap. Adiknyalah yang membawakan nasi ke tempat persembunyiannya. Tak hanya sampai di situ, ia juga sering menggunakan mobil dinas dan menambrak got dan lain sebagainya. Ia sendiri mengaku heran waktu itu kenapa berani sekali.

Menurutnya, mungkin karena ia memiliki ayah yang seorang perwira tinggi. Jadi Kodim itu tidak berani marah kepadanya. Saking bandelnya, sampai ia dipaksa masuk sekolah agama. Ia didaftarkan orang tuanya di IAIN Surabaya, padahal ia tidak menghendakinya. Itu karena keluarga amat menyayanginya dan ingin ia berubah menjadi anak yang baik. Selama kuliah di IAIN, ia dititipkan pada pamannya. Selama 6 bulan tidak boleh keluar rumah kecuali hanya untuk kuliah. Setiap pulang dari kuliah, harus langsung pulang ke rumah, masuk kamar, dan dikunci dari luar kamar. Di kamar ia tinggal sendirian.

Meskipun tinggal dengan pamannya, namun mereka tidak pernah makan bersama. Keluarga sang paman merasa takut karena ia adalah orang yang pemarah. Maka, ia lebih sering makan di kamar yang letaknya dekat garasi sendirian. Ia benar-benar dikucilkan.

Tetapi karena semua ‘pembinaan’ itulah, ia menemukan dunianya. Effendi yang suka berantem, bandel didaftarkan di sekolah agama. Namun, di situlah ia menemukan nilai kehidupan. Ia pun akhirnya cepat dewasa dan mulai memahami hidup.

Ketika tinggal dengan pamannya, banyak sekali menyelesaikan masalah hanya dengan menangis, karena tidak bisa keluar rumah, tidak punya uang. Tugas harian mencuci mobil, tetapi tidak pernah naik mobil. Ia mendapat pelajaran berharga dengan hidup dalam disiplin yang cukup ketat. Tapi sekarang ini ia menemukan kebahagian atas masa lalunya itu. Maka ketika kini ia bertemu dengan orang bandel ia pun berkata, “Ah, belum apa-apa”.

Perjalanan Karir
Pengalaman masa lalunya itu dipandangnya cukup menyenangkan. Ia juga bersyukur bisa bekerja di lingkungan Pemda. Karirnya sebagai birokrat di pemerintahan DKI Jakarta dimulai dari bawah, yaitu sebagai staf urusan kesejahteraan rakyat, tahun 1978.

Dua tahun kemudian ia mendapat promosi menjadi kepala seksi di tempatnya karena kepala seksi yang lama melanggar PP 10 tentang perkawinan, yang membuat jabatannya dicopot. Ia terpilih karena ketika masuk ke jajaran birokrasi dengan bekal ijazah sarjana. Jabatan itu dipegangnya selama dua tahun. Kemudian naik menjadi Kepala Sub Bagian (Kasubag) dan akhirnya mendapat promosi kembali menjadi kepala bagian. Seluruh karirnya saat itu dilaluinya di kantor Walikota Jakarta Pusat.

Effendi mengungkapkan, mengapa bisa bekerja di Kesra, itu karena ijazahnya sebagai lulusan IAIN di Pemda hanya lakunya di situ, karena di situ ada sektor agamanya. Itu juga yang menyebabkannya menjadi Kepala Biro Bina Mental. Tetapi, S2 di UI dengan spesialisasi Public Administration membuat karirnya menjadi lebih terbuka dan bisa ke mana-mana.

Waktu pun terus berjalan. Setelah dirasakan cukup menjabat kepala bagian, Effendi kemudian mendapat penugasan sebagai Kepala Kantor Sosial Politik Jakarta Pusat. Saat itu ia adalah satu-satunya kepala kantor sospol yang berasal dari kalangan sipil di Indonesia. Ia menggantikan seorang tentara yang sebelumnya menjabat Kakansospol.

Pengangkatannya sebagai Kakan Sospol itu karena prestasinya di Kabag Kesra. Padahal, menurutnya, Kabag Kesra sebenarnya sama sekali tidak berhubungan dengan Sospol. Kesra mengurusi pendidikan, agama, sosial, dan budaya. Pada waktu itu belum ada Trantib, pariwisata, dan yang lain, sehingga urusan WTS di situ, urusan MTQ di situ, ulama juga di situ. Tapi ia merasa enjoy melaksanakan tugasnya, sehingga berbagai komunitas pendidikan, generasi muda banyak berkoordinasi dengannya. Kedekatannya dengan tokoh-tokoh masyarakat, menjadi kunci baginya menjadi Kakan Sospol yang sebelumnya dikepalai oleh seorang tentara.

Kemudian setelah selesai tugasnya menjadi Kakansospol, suami dari dr Farida ini mendapat promosi untuk menduduki jabatan di tingkat provinsi. Awalnya ia berkantor di Sub Bidang Pembinaan Masyarakat, Provinsi DKI. Selanjutnya ia diangkat menjadi Kepala Biro Bina Mental dan Spiritual Provinsi DKI Jakarta, yang menangani bidang pendidikan, olahraga, kebudayaan, dan agama.

Di tempatnya itu ia dapat memperkaya wawasannya. Di sana ia bergaul dengan berbagai suku dan golongan masyarakat, mulai dari golongan yang miskin hingga berada, penyandang masalah sosial, atlet, sampai ulama. Pendalamannya terhadap masalah yang berkembang di masyarakat itu kemudian menjadi masukan bagi gubernur dalam membuat kebijakan.

Kemudian karirnya naik lagi menjadi Kepala Badan Kesbang DKI Jakarta,yang sebelumnya lembaga yang dipimpinnya ini bernama Direktorat Sosial Politik. Sekali lagi, posisinya kali ini menggantikan peran militer yang biasa menjadi Kepala Direktorat Sospol selama masa Orde Baru. Ia adalah orang sipil pertama di Kesbang (Dit Sospol).

Saat jabatan Walikota Jakarta Utara yang lama berakhir, ia ditugaskan untuk menggantikan posisi tersebut. Jabatan walikota Jakarta Utara biasanya dipegang oleh militer dari Angkatan Laut. Ia pun kembali menjadi orang sipil pertama yang menggantikan jabatan yang biasa dipegang militer setingkat walikota.

Untuk menduduki kursi walikota dibutuhkan bekal kemampuan dan pengalaman yang cukup, sehingga dapat menjalankan program dan pengabdian kepada masyarakat secara sempurna. Effendi mengaku, dengan bekal karir yang dirintisnya dari bawah, bergaul dengan berbagai kalangan yang demikian luas, memiliki kesempatan belajar manajemen dengan baik, semuanya merupakan pengalaman yang berharga dalam mendukung tugasnya saat ini dan di masa mendatang.

Meskipun terkesan cepat perjalanan karirnya, namun bukan tanpa sandungan. Ia pada awal bekerja di Pemda tidak punya meja sendiri selama 6 bulan. Jadi bergantian jika ingin menggunakan meja.

Semua jabatan dijalaninya dengan penuh dedikasi. Ia bertekad selalu mencari kepuasan dalam bekerja, dan untuk itu harus punya prestasi. Tidak semua pekerjaan bisa ditanganinya. Ia menyadari hal itu. Dan, sebagai manusia, ia tahu betul ada batas kemampuannya. Namun, ia juga tahu apa kelebihannya. Kelebihan itulah yang harus ditunjukan dan akhirnya meraih prestasi.

Kebetulan waktu itu ia suka menulis dan membaca, sehingga sejak di kantor walikota menjadi konseptor pidato walikota. Ketika Gubernur menyampaikan pandangan sosial dan politik, ia juga yang menjadi koseptornya. Untuk membuat kata sambutan dianggapnya merupakan beban yang cukup besar. Kadang–kadang sampai tengah malam harus mengerjakannya dan besoknya harus masuk. Sejak zaman Suryadi Soedirdja, dirinyalah yang mengerjakan setiap bahan-bahan pidato gubernur.

Ia juga punya kemampuan membaca peta sosial politik karena ia cukup lama mengurusi politik di bagian sospol. Apalagi pada waktu di Orde Baru, posisi di kantor Sospol dianggap sebagai “jagoan”-nya wilayah di bidang politik. Jika ada komponen masyarakat yang macam-macam maka Sospol yang turun. “Pada masa itu memang kekuatan infrastruktur politik harus tunduk kepada kebijakan negara. Semua komponen politik harus kita rangkul dan itu bagi saya harus mempunyai seni tersendiri,” terangnya.

Doa Sang Ibu
Kunci kesuksesan hidup Effendi tidak lepas dari keikhlasan doa orangtua. Setelah ayahnya meninggal, sang ibulah yang banyak membimbing dan mengarahkannya. “Pada waktu saya nakal, ibulah yang menyadarkan saya. Ibu yang terus mengarahkan saya sekolah dan menggapai masa depan,” jelasnya.

Namun, tak dapat dipungkirinya, jenjang pendidikan yang tidak diduganya sama sekali juga menjadi titik tolak kesuksesannya. Jika saja ia tidak masuk IAIN, mungkin ia tidak akan seperti sekarang ini. Ketika belajar di IAIN ia memahami bahwa kunci kesuksesan seseorang itu tergantung kepada Tuhan dan orangtua.

Maka, kini apapun keinginan ibunya, ia merasa wajib untuk memenuhinya. Doa ibu yang mengalir terus-menerus, akan selalu dirasakannya. Kalau ia melakukan sesuatu menyimpang, sang ibu pasti tahu dan merasakannya. Sang ibu akan bertanya, “kamu koq begini, kamu koq begitu.”

Effendi juga merasakan ada suatu kekuataan spiritual yang dimiliki orang tua dalam hal ini ibunya. Kekuatan spirtitual yang memberikan kepadanya suatu kesempatan agar segala pintu dipermudah. Ada sisi trandensial atau nilai-nilai Ilahiah yang mempermudah langkah-langkahnya untuk terus maju mencapai cita-cita.

Isteri Effendi adalah seorang dokter yang juga pegawai negeri di pemerintah daerah Jakarta Pusat. Kehidupan rumah tangga mereka dikaruniai 3 orang anak, laki-laki semua, dan ketiganya telah menjadi mahasiswa. Padatnya jadwal kerja dan demikian banyaknya acara yang dimiliki seluruh anggora keluarga itu membuat keluarga itu merasa sulit untuk bertemu. Jadi kalau ada acara keluarga esok hari, hari ini perlu diinstruksi. “Besok jam sekian semua sudah harus di rumah”. Kalau seperti itu semua menjadi tahu dan akan berusaha hadir. Akan tetapi, kalau di tunggu-tunggu, tidak mungkin datang, sebab semua anggota keluarga sudah punya acara.

Meskipun masing-masing anggota keluarga memiliki jadwal sendiri-sendiri, namun Effendi sebagai kepala keluarga tidak pernah memaksakan kehendak. Ia sadar betul bahwa kini semuanya zaman mobilitas tinggi. Namun, menurutnya, yang terpenting adalah rumah tangga. “Cintailah rumah tanggamu” itulah filsafat hidupnya dalam membangun keluarga. Sebab jika seorang pejabat tidak mencintai rumahnya, rumah tangganya, berarti mencari rumah orang lain. e-ti yayat, atur,yusak

Data Singkat
Effendi Anas, Walikota Jakarta Utara (2003) / Sipil Pertama Pengganti Militer | Direktori | Walikota, UI, IAIN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here