Jopie Item
Jopie Item | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Gitaris ini populer di pentas jazz Tanah Air sejak era tahun 70-an lewat acara Nada dan Improvisasi di TVRI asuhan Jack Lesmana. Ia suka bereksperimen memadukan jazz dengan berbagai jenis musik seperti rock, pop, country, blues, dangdut hingga keroncong. Selain itu, musisi yang sering berganti band ini sudah mengiringi puluhan penyanyi dan melanglang buana ke beberapa negara. 

Jopie Reinhard Item, demikian nama lengkap musisi kelahiran Manado, 20 Juni 1950 ini. Jopie yang dibesarkan di Surabaya mulai akrab dengan lingkungan jazz yang ditumbuhkan ayahnya, yang juga seorang gitaris, Lodewijk Item atau yang biasa disapa Lodi. Lodi merupakan eksponen pada komunitas jazz Surabaya era 1950-an yang diramaikan Didi Pattirane, Bubi Chen, Maryono, Jack Lesmana, serta pecinta jazz Wim Gontha, ayah Peter F Gontha.

Berkat bimbingan ayahandanya, Jopie sudah menjadi gitaris profesional saat berusia 14 tahun. Ia bahkan sudah dilibatkan dalam proyek pembuatan album sejumlah penyanyi dengan latar belakang jenis musik yang beragam. Seperti pada tahun 1964, ia datang ke Jakarta untuk menggantikan ayahnya yang tak bisa mengikuti sesi rekaman di studio Irama yang terletak di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat.

Saat itu Jopie terlibat dalam rekaman album penyanyi kondang Lilis Suryani yang antara lain memuat lagu kondang Tiga Malam. Selain itu Jopie ikut berperan dalam penggarapan album piringan hitam milik Titiek Puspa yang memuat lagu Si Hitam. Musisi senior sekelas Mus Mualim juga pernah ditangani Jopie termasuk menjadi musisi pengiring dalam grup musik seperti Eka Sapta, Buana Suara, Baby Face dan Fabolous.

Jopie sempat bergabung dengan band 4 Nada sebelum A Riyanto bergabung. Bersama 4 Nada, Jopie pernah mengiringi Ernie Johan dalam album buatan tahun 1967 yang memuat lagu Berilah Daku Jawaban dan Kasih yang Pertama.

Sepanjang tahun 1960-1970-an, Jopie menjadi pemain gitar untuk rekaman album Rhoma Irama yang ketika itu masih berstatus sebagai penyanyi solo. Jopie juga mendukung rekaman penyanyi Anna Mathovani, Ida Royani, Deddy Damhudi, sampai si ratu dangdut Elvy Sukaesih. Akhir 1970-an, ia menjadi gitaris untuk rekaman penyanyi rock Duo Kribo, Mickey Marckellbach.

Sepanjang tahun 1974, Jopie pernah nyaris tanpa job di Jakarta. Sebelumnya ia sempat berpindah-pindah dari satu band ke band lain. Hingga suatu ketika, ia bertemu Karim Suweileh, kawan lamanya sejak di Surabaya. Karim yang saat itu bergabung dengan Jack Lesmana Combo akhirnya mengajak Jopie bergabung dengan Jack menggarap acara Nada dan Improvisasi untuk TVRI. Acara tersebut merupakan acara apresiasi jazz asuhan Jack Lesmana yang berhasil menebar benih selera dan referensi dengaran publik tentang jazz. Dalam acara itu, Jopie seperti dikembalikan pada habitat lamanya, jazz. Jopie berkisah, meski sejak kecil telinganya sudah akrab dengan alunan musik jazz, namun ia mengaku lebih menyukai genre rock n roll yang diusung band era tahun 60-an seperti The Shadows dan The Ventures.

Pada tahun 1975, ia pindah ke Studio Celebrities di kawasan Blok M, Kebayoran Baru. Di sini ia banyak mengaransemen ulang musik jazz rocknya yang pernah ia ditampilkan di TVRI. Pada tahun 1976, ia kembali bereksperimen dengan mengajak Idris Sardi untuk membuat pagelaran jazz dengan nuansa simfoni-pop, yang salah satunya berhasil memainkan lagu Es Lilin dengan citarasa jazz yang hingga kini cukup melegenda. Tak heran di masa itu, ia menjadi pemusik yang paling kontroversial karena memasukkan unsur rock dalam jazz. Karena itu, kehadirannya sebagai seorang musisi jazz dianggap tidak murni bahkan cenderung merusak gaya bermain jazz secara murni.

Di penghujung tahun 1979, Jopie tampil sebagai pemain tetap di Captain’s Bar di Hotel Mandarin, Jakarta. Ketika itu, ia bermain bersama Chris Kayhatu, Yance Manusama, Rully Bachri, dan penyanyi Utha Likumahua. Bersama grupnya ini, ia juga men-jazzrock-kan lagu Bengawan Solo ciptaan Gesang. Kelima musisi tadi kemudian menelurkan sebuah album rekaman di tahun 1980 yang berjudul Tersiksa Lagi. Untuk aransemen musiknya, Jopie dkk didukung Karim Suweleih pada drum dan Embong Rahardjo pada saksofon.

Lagu Tersiksa Lagi saat itu cukup mendapat sambutan positif dan sering diputar di radio meski sempat mengundang kontroversi karena dianggap jiplakan. Meski demikian, lagu itu telah turut meramaikan khazanah musik negeri ini pada era 1980-an yang saat itu dikenal dengan sebutan “pop jazzy”. Selain kelompok Jopie, aliran musik yang sama juga diusung band-band lain seperti Karimata, Jakarta Power Band dan Funk Section.

Rekam jejak Jopie yang banyak bergaul dengan musisi jazz dan berkecimpung dalam pembuatan lagu-lagu bernuansa jazz, membuatnya sering disebut sebagai gitaris jazz. Padahal Jopie sendiri mengaku tidak pernah menyebut diri sebagai pemusik jazz. Menurut Jopie, orang menyebutnya sebagai gitaris jazz karena selama ini ia terkelompok dengan Jack Lesmana.

Setelah itu, Jopie dan rekan-rekan sesama musisi termasuk Utha Likumahua mempopulerkan lagu Esok Masih Ada yang termuat dalam album “Bersatu dalam Damai” di tahun 1983. Sejak saat itu, Jopie kerap menjadi sosok di belakang layar suksesnya sebuah lagu berirama pop jazzy, salah satunya lagu Keraguan milik 2D lewat vokal Dian Pramana Poetra di tahun 1986.

Rekam jejak Jopie yang banyak bergaul dengan musisi jazz dan berkecimpung dalam pembuatan lagu-lagu bernuansa jazz, membuatnya sering disebut sebagai gitaris jazz. Padahal Jopie sendiri mengaku tidak pernah menyebut diri sebagai pemusik jazz. Menurut Jopie, orang menyebutnya sebagai gitaris jazz karena selama ini ia terkelompok dengan Jack Lesmana. Padahal ia tidak pernah mengkhususkan dirinya hanya pada musik jazz. Jopie bahkan mengistilahkan dirinya sebagai musisi gado-gado, yang biasa memainkan beragam jenis aliran musik mulai dari rock, pop, country, blues, dangdut hingga keroncong.

Jika ia pernah bereksperimen dengan jazz, kemudian meramunya dengan rock dan lainnya, itu karena Jopie mempersepsikan jazz sebagai musik yang terbuka untuk eksplorasi artistik. “Aku tidak melihat jazz dengan kacamata kuda. Semakin digali, semakin banyak dilakukan dengan jazz dan bisa digabung dengan musik apa saja,” ujarnya. Ia juga menempatkan jazz sebagai realitas musik yang boleh dan bisa dijamah setiap orang. Ia yakin, jazz akan mendefinisikan diri ketika dimainkan dan berinteraksi dengan pendengar.

Pada Maret 2007, Jopie tampil dalam perhelatan akbar Java Jazz. Ini merupakan pemunculan pertamanya dalam ajang tersebut. Sebenarnya sebagai musisi senior, penggemar The Beatles dan Phil Collins ini sudah beberapa kali diminta tampil di Java Jazz, hanya saja ia mengaku belum siap. Baru di tahun 2007, ayah empat anak ini bersedia tampil menjumpai para penggemarnya. Kala itu Jopie bermain dalam kelompok Jopie Item and Friends bersama Jimmy Manopo pada drum, Trie Utami (vokal), Nyong Anggoman (kibor), Darius Radjab (saksofon), Ating (bas), dan Yoram (perkusi). “Kami ingin kasih tahu orang bahwa kami masih ada,” kata mertua Emil Naif ini seperti dikutip dari harian Kompas.

Meski jam terbangnya tak sepadat dulu lagi, Jopie setidaknya bisa tersenyum karena tiga dari empat anaknya mengikuti jejaknya di dunia musik. Selain Audy Item yang kini dikenal sebagai salah satu penyanyi muda wanita berbakat, dua anak laki-lakinya yakni Stevie dan Rainaldy juga menjadi gitaris. Jika Stevie bergabung dalam grup rock Andra and the Backbone, si bungsu Rainaldy menjadi gitaris pengiring sang kakak, Audy Item. eti | muli, mlp

Data Singkat
Jopie Item, Musisi (Gitaris) dan Arranger / Mainkan Jazz Berbagai Rasa | Direktori | musisi, jazz, gitaris, arranger, Musis

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here