Sosok Ibu yang Piawai Menulis

[ Clara Ng ]
 
0
109
Clara Ng
Clara Ng | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Ia berhasil membuktikan kalau seorang ibu rumah tangga yang senang mengurus anak dan keluarga bisa menjadi penulis yang produktif. Ia telah menerbitkan sedikitnya 50 karya fiksi termasuk buku cerita anak.

Anggapan banyak orang yang mengatakan bahwa ibu rumah tangga adalah golongan wanita yang tak bisa berkarya ditepis oleh Clara Regina Juana atau yang lebih dikenal dengan nama Clara Ng. Kesibukannya mengurus rumah tangga tak menghalanginya untuk berkarir sebagai penulis.

Walaupun pada awalnya ia tidak pernah pernah bercita-cita menjadi seorang penulis, Clara Ng sukses melahirkan sejumlah buku, novel dan cerpen. Kepiawaiannya menulis dituangkan mulai dari novel dewasa hingga buku anak-anak. Istri Nicholas Ng ini mengaku bahwa kegemarannya menulis karena hidup ini singkat dan begitu banyak yang harus diungkapkan. Seperti yang diungkapkannya dalam salah satu novel karyanya berjudul Dimsum Terakhir.

Selepas menamatkan sekolahnya di SMA Bunda Hati Kudus, Jakarta, Clara yang awalnya bercita-cita menjadi jurnalis televisi ini memutuskan untuk berkuliah di luar negeri. Australia menjadi negara pilihannya. Namun ia urung meneruskan pendidikannya di Negeri Kangguru tersebut karena sistem pendidikan di sana mengharuskannya mengulang tahun terakhir di SMA sebelum kuliah. “Aduh, males banget,” ujar ibu dari Elysa dan Cathy itu.

Clara pun akhirnya memilih kuliah jurnalistik di Ohio State University, Amerika Serikat. Tapi, di Ohio, Clara juga menemui sedikit masalah. Kurikulum di jurusan yang dimasukinya tengah dibenahi. Atas anjuran penasihat akademiknya, Clara akhirnya mengambil jurusan interpersonal communication.

Setelah menyelesaikan pendidikan di negeri Paman Sam dengan gelar Bachelor of Art, Clara diterima bekerja di sebuah perusahaan sebagai staf sumber daya manusia. Wanita berwajah oriental ini sempat bekerja selama dua tahun di negeri adidaya tersebut sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke Tanah Air.

Sekembalinya ke Indonesia, Clara kembali bekerja pada bidang yang sama di sebuah perusahaan shipping multinasional. Tak lama berselang, Clara bertemu dengan Nicholas Ng Hook Hooi. Meski keduanya tak sekantor, Nicholas rajin bertandang ke tempat kerja Clara. Karena seringnya bertemu, tumbuhlah benih-benih cinta di antara keduanya, hingga mereka memutuskan untuk menikah pada tahun 2000.

Setahun setelah menikah, perempuan berbintang Leo itu jatuh sakit. Clara pun mengundurkan diri dari pekerjaannya karena harus menjalani pengobatan. Setelah berhenti bekerja, waktu yang sangat luang itu tidak disia-siakan Clara. Sambil menjalani pengobatan, waktu luangnya ia gunakan untuk menulis cerita. Hingga akhirnya dia menerbitkan novel perdananya, Setahun Tujuh Musim di tahun 2002, secara swadaya. Novel itu berhasil terjual hingga 6.000 eksemplar.

Keputusan Clara untuk menjadi seorang penulis pada awalnya tidak mendapat dukungan dari orang-orang di sekitarnya terutama keluarga. Pasalnya, mereka menganggap profesi penulis bukanlah pekerjaan yang bisa dibanggakan. Namun, Clara tak sependapat. Ia ingin membuktikan sekaligus membuka mata semua orang bahwa menjadi penulis adalah sebuah kebanggaan karena bisa berbagi dengan sesamanya lewat tulisan.

Bagi pemilik sebuah penerbitan ini, novel pertamanya merupakan satu perjuangan yang besar. Di tengah derasnya arus pertentangan, ia tetap mempertahankan idealismenya. Clara menganggap, gairah menulis tersebut merupakan satu penyaluran diri yang tak bisa dibendung.

Dua tahun kemudian ia menerbitkan novel keduanya yang berjudul “Indiana Chronicle-Blues”. Novel ini merupakan trilogi dari Indiana Chronicle. Berbeda dengan novel pertamanya yang dirasa serius, novel kedua ini terasa jauh lebih ringan. Clara pun tak ambil pusing saat menulis apakah novel ini akan dikelompokkan dalam chicklit, teenlit atau pun metro pop. Baginya, ia hanya menuliskan apa yang ia rasakan.

Tak ingin mengecewakan pembaca, perempuan kelahiran 28 Juli 1973 ini pun segera menyelesaikan dua seri Indiana Chronicles dan mendapat respon positif dari para pembacanya. Meski demikian, tak sedikit pula yang mengkritisi karyanya karena dianggap terlalu berani dan menganut paham seks bebas. Namun, Clara menanggapi kritik itu dengan santai. Ia hanya menjawab bahwa dirinya hanya berusaha jujur dan apa adanya saat menulis.

Sejak saat itu, ia semakin menunjukkan produktivitasnya dalam menulis. Mulai dari buku dewasa seperti The (Un)Reality Show dan Utukki hingga buku anak-anak berjudul Seri Berbagi Cerita Berbagi Cinta. Bahkan untuk salah satu buku dari seri itu yang berjudul Gaya Rambut Pascal, dianugerahi penghargaan Adikarya Ikapi di tahun 2006. Seri buku ini juga yang diterjemahkan ke bahasa Inggris dan dipasarkan di negara-negara ASEAN.

Kemudian putri pasangan Willy Atmadjuana dan Sri Angela ini kembali melahirkan sembilan judul dalam seri Sejuta Warna Pelangi. Setahun berselang, Clara menulis seri Bagai Bumi Berhenti Berputar yang terdiri dari lima buku.

Clara mengaku sudah kesengsem pada buku-buku anak ketika ia berkuliah di Amerika Serikat. “Waktu kecil aku nggak punya banyak buku. Mami aja yang senang bercerita. Mami langganan majalah Bobo saat aku masih bayi,” kenang Clara.

Kebiasaan itu pun diwarisi Clara dalam mendidik buah hatinya. “Aku biasa membacakan buku cerita untuk anakku yang kecil. Dia masih 4 tahun, masih sering baca buku bersama. Rutin setiap malam,” ucap kolektor ratusan buku anak itu. Clara menyadari cerita atau dongeng berdampak positif bagi anak karena bisa memancing daya pikir, cara pandang, dan imajinasi anak. Baginya 24 jam dirasa kurang bagi dirinya, Clara tetap menyempatkan diri untuk membaca buku. Pasalnya, membaca merupakan salah satu proses kreatif yang sangat penting, tak mengherankan jika ternyata penyuka komik, novel dan buku-buku psikologi ini sudah memiliki koleksi buku sebanyak 800 buah.

Ditengah hebatnya gempuran games, televisi dan internet saat ini, Clara berharap agar para orangtua tetap dapat menjalankan perannya dalam memberikan pendidikan untuk anak-anaknya, salah satunya dengan mendongeng. Ia merencanakan membuat buku dongeng anak yang kaya akan nilai edukasi dan sesuai dengan budaya Indonesia. Kelak kata Clara, dongeng itu juga akan dikemas apik sebagai collectible item. “Tapi ada juga versi paperback agar harga lebih terjangkau,” tambah Clara.

Clara merasa prihatin dengan minimnya buku cerita lokal untuk anak, terutama untuk usia SD. Menurutnya, hal itu disebabkan karena persoalan prioritas membaca. “Bangsa ini bukan bangsa yang suka membaca. Karena negara ini masih struggling, jadi mendahulukan urusan pangan, sandang dan papan. Membaca entah menjadi prioritas ke berapa,” kata Clara.

Kesuksesan buku seri Berbagi Cerita Berbagi Cinta, membuat Clara semakin terpacu untuk berkarya. Yang terbaru ialah serial Dongeng Tujuh Menit. Ada tujuh judul dalam serial itu, antara lain Kancil Anak Baik dan Padi Merah Jambu. Jika selama ini kisah si Kancil yang sering kita dengar adalah kancil yang nakal suka mencuri ketimun, namun dalam bukunya Clara menampilkan kancil dengan karakter yang berbeda.

“Itu usaha saya saja nge-twist cerita si kancil. Selama ini kan kancil ialah anak nakal. Nah pada cerita itu, kancil berusaha mengubah image menjadi anak baik. Kancil berusaha menarik hati pak tani dan buaya yang selama ini selalu mengenalnya sebagai anak nakal,” cerita Clara.

Menurutnya untuk memberikan perspektif baru, cerita rakyat tidak harus selalu tampil apa adanya. Melainkan bisa ditampilkan segar dengan ide-ide dan imajinasi baru. Yang penting ialah mendorong kreativitas serta membuka ruang imajinasi pembaca. “Cerita rakyat kita itu seperti sudah lelah dan letih. Saya berharap ada pengarang yang berani nge-twist cerita-cerita itu,” kata perempuan berkacamata itu.

Clara mengatakan profesi sebagai penulis adalah pekerjaan yang menjanjikan jika dijalani dengan konsisten. “Penulis bisa menikmati pendapatan setingkat manajer perusahaan besar asalkan terus berkarya,” kata Clara. Selain konsisten, penulis harus punya idealisme yang bersanding dengan pertimbangan bisnis. Menurutnya, penulis mesti bisa juga menjadikan namanya semacam brand yang menjual.

Profesinya sebagai penulis tidak menghalangi perannya di rumah. Baik sebagai ibu maupun sebagai istri. Di tengah kesibukannya, Clara yang setiap hari bangun pukul lima pagi itu masih menyempatkan diri mengurus suami dan mengantarkan anaknya ke sekolah. Ia biasa menulis setelah buah hatinya telah tertidur pulas. Terkadang ia menulis di siang hari selama dua jam. Saat akhir pekan tiba, ia bisa menulis siang atau malam hari. Baginya menulis adalah pekerjaan kedua sedangkan pekerjaannya yang utama adalah mengurus anak.

Kecakapannya dalam mengatur waktu membuat Clara sukses dalam karir dan rumah tangganya. Dengan cara itu, sudah sekitar 40 judul ia hasilkan dalam kurun waktu 10 tahun.

Meski ia ingin memiliki sejuta keinginan, ia akan tetap menomorsatukan anak dalam hidupnya. Sebab, ia tak bisa menafikan kodratnya sebagai ibu. Bahkan saat bicara tentang masa depan pun, Clara tetap tak bisa lepas dari kata “anak”. Ia akan rela mendampingi kemana pun sang anak pergi, sekalipun ke luar negeri.

Meski demikian, ia tetap ingin menjadi orang yang mandiri sampai usia senja. Ia tak ingin menjadi tanggungan sang anak bila sudah tua kelak. Hal itu sangat berbeda dengan kenyataan yang banyak terjadi di negara ini. Orangtua kadang justru sangat obsesif pada sang anak dan ingin menjadi bagian di masa tuanya. Tapi bagi Clara, kesetiaannya sekarang tak membuatnya menuntut balik atas apa yang telah ia lakukan.

“Aku selalu merasa kurang puas. Aku tipe orang yang nggak bisa berhenti. Setiap bertemu orang, aku merasa bodoh. Aku menyerap banyak hal, lalu mengeluarkannya kembali menjadi karya. Dunia kepenulisan ini memberikan banyak sekali berkat untukku. Aku ingin membaginya kembali ke masyarakat,” ujarnya serius. Kini, namanya telah dikenal sebagai penulis buku cerita anak, kelak Clara ingin bukunya bisa menjadi ikon anak-anak Indonesia. e-ti | Muli (diolah dari berbagai sumber)

Data Singkat
Clara Ng, Penulis cerpen dan novel / Sosok Ibu yang Piawai Menulis | Direktori | Novelis, cerpen, penulis, sastra, cerpenis

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here