Meregang Nyawa demi Kemerdekaan

[ Radin Inten II ]
 
0
77
Radin Inten II
Radin Inten II | Tokoh.ID

[PAHLAWAN] Di usianya yang masih muda belia, ia sudah berjuang melawan Belanda. Berbagai upaya yang dilakukan Belanda gagal karena kegigihannya bertempur. Ia akhirnya tewas akibat penghianatan saudara sebangsanya.

Radin Inten II lahir di Lampung pada tahun 1834. Pada usia enam belas tahun, ia dinobatkan sebagai penguasa Negara Ratu. Pada masa itu, sebagian daerah Lampung sudah dikuasai oleh Belanda. Jiwa mudanya yang merdeka tak tenang melihat penderitaan yang dialami rakyatnya akibat kekejaman pemerintah kolonial Belanda. Karena itu, Radin Inten II dengan gagah berani melakukan perjuangan mewujudkan kemerdekaan meski harus dibayar dengan nyawa.

Walaupun usianya masih muda belia, Radin Inten II merupakan sosok panglima perang dan pemikir dengan kepribadian yang kuat. Ketika ia mulai melakukan perlawanan, Belanda pun mengeluarkan bujuk rayunya agar Radin Inten II mengurungkan niatnya itu. Namun dengan tegas Radin Inten II menolak mentah-mentah upaya yang dilakukan Belanda. Semenjak itu peperangan pun berkobar.

Sejak memegang kekuasaan, Radin Inten II mengobarkan kembali semangat rakyat untuk menentang pemerintah Belanda seperti yang pernah dilakukan oleh ayahnya. Hubungannya dengan Belanda pun semakin tegang. Pada tahun 1851, pasukan Belanda yang terdiri dari 400 orang prajurit di bawah komando Kapten Yuch berusaha menaklukkan Negara Ratu dengan melakukan penyerangan. Mereka berusaha merebut pertahanan Radin Inten II di Merambung, tetapi usaha itu mengalami kegagalan bahkan pasukan itu dapat dihancurkan.

Kemenangan pertama itu seakan mengobarkan semangat juang rakyat di daerah Lampung. Beberapa kali ekspedisi penaklukan dikirimkan Belanda namun mengalami kegagalan. Oleh karena itu, Belanda merasa khawatir bila peperangan itu akan mengobarkan perlawanan di daerah lain, seperti Banten dan Jawa Tengah.

Lima tahun setelah ekspedisi yang dilakukan Kapten Yuch, Belanda kembali mengirimkan sebuah armada berkekuatan sembilan buah kapal perang, tiga buah kapal pengangkut peralatan, serta berpuluh-puluh kapal mayang dan perahu jung. Ekspedisi itu dipimpin oleh Kolonel Waleson dengan bantuan Mayor Nata, Mayor Van Oostade, dan Mayor A. W. Weitsel. Serangan hebat itu dihadapi dengan perlawanan gerilya sehingga tidak berhasil menangkap pemimpin perlawanan yang masih muda itu.

Sesudah itu, Belanda dan Radin Inten II mengadakan perjanjian damai. Belanda mengakui kedaulatan Radin Inten II di Negara Ratu. Sebaliknya, Radin Inten II mengakui pula kekuasaan Belanda di daerah-daerah yang sudah mereka duduki. Akan tetapi, perjanjian itu hanya dipakai Belanda untuk mengumpulkan kekuatan. Mereka membujuk beberapa penguasa daerah lain agar memusuhi Radin Inten II. Melihat kecurangan Belanda, Radin Inten II pun meningkatkan kekuatannya. Benteng-benteng dibangun di lereng Gunung Rajabasa dan patroli-patroli militer Belanda diserang secara tiba-tiba.

Pada bulan Agustus 1856, Belanda melancarkan serangan besar-besaran. Mereka berhasil menduduki benteng Bendulu yang sudah dikosongkan oleh pasukan Radin Inten II. Sesudah itu, berhasil pula direbut beberapa benteng lain, seperti benteng Ketimbang, benteng Galah Tanah, dan benteng Pematang Sentok.

Semakin lama kekuatan Radin Inten II semakin berkurang. Beberapa pembantu utamanya tertangkap atau gugur dalam pertempuran. Akan tetapi, ia tidak mau menyerah. Belanda berusaha menangkapnya sebab selama Radin Inten II masih bebas, selama itu pula ia akan menjadi ancaman bagi Belanda.

Belanda menyusun sebuah strategi untuk menjebak pejuang dari Lampung itu. Untuk itu, Belanda bekerja sama dengan Radin Ngerapat. Dengan alasan untuk merundingkan bantuan yang akan diberikannya, Radin Ngerapat mengajak Radin Inten II bertemu di suatu tempat dekat Kunyanya. Pertemuan diadakan malam hari 5 Oktober 1858. Sementara itu, pasukan Belanda sudah disiapkan di sekeliling tempat pertemuan. Secara tiba-tiba, serdadu Belanda menyerbu dan menyergap Radin Inten II. Ia memberikan perlawanan, namun akhirnya Radin Inten II gugur dalam usia 24 tahun dalam perkelahian yang tidak seimbang itu.

Atas jasa-jasanya kepada negara, Radin Inten II dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 082/TK/Tahun 1986, tanggal 23 Okt 1986. e-ti

Data Singkat
Radin Inten II, Penguasa Negara Ratu / Meregang Nyawa demi Kemerdekaan | Pahlawan | pahlawan nasional, Pahlawan, Ratu

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here