Mengangkat Centhini Modern

[ Kestity Pringgoharjono ]
 
0
83
Kestity Pringgoharjono
Kestity Pringgoharjono | Tokoh.ID

[WIKI-TOKOH] Kesty mencintai bangsanya, dan ia ingin budaya leluhur dibaca oleh siapa saja. Maka “Serat Centhini” itu mewujud menjadi buku yang bisa dinikmati orang dari London sampai New York.

Kestity Adyandini (36) meraih gelar master di bidang keuangan di Universitas Macquarie, Sydney, Australia. Ia lalu bekerja di bank. Namun, kemudian ia tertarik pada “Serat Centhini,” salah satu karya sastra Jawa penting yang muncul di awal era 1800-an.

Kesty, begitu sapaanya, mengonsep dan merealisasikan proyek penerbitan buku The Centhini Story: The Javanese Journey of Life. Buku yang diterbitkan Marshall Cavendish, Singapura, tahun 2006, itu digarap oleh pakar sastra jawa Doktor Soewito Santoso berdasarkan naskah “Serat Centhini”. Soewito Santoso (almarhum) saat itu berumur 70-an tahun mengajar di Universitas Nasional Australia. Buku berjenis cofee table ini nyaman dibaca sambil santai. Buku setebal 400 halaman ini disertai foto-foto karya fotografer Fendi Siregar.

Sambil menghidangkan jajan pasar di rumahnya di bilangan Kemang, Jakarta Selatan, Kesty bercerita tentang buku tersebut.

Ada bagian yang mengupas tentang cara orang Jawa memilih istri yang baik, yaitu dengan mempertimbangkan bobot, bebet, dan bibit. Dalam bibit masih diurai lagi, yaitu tentang 20 tipe perempuan, antara lain plongeh, sumeh, manis, dan mrakati. Berikut kutipan aslinya seperti tertulis di halaman 116 buku The Centhini Story: The Javanese Journey of Life:

“Plongeh — a girl of this type is always kind-hearted, friendly, faithful, well behaved and capable of achieving….”

Kemudian sumeh: perempuan yang murah senyum, kalem, dan sabar. Wajahnya selalu cerah penuh rasa akrab. Manis: wajahnya manis, seluruh tingkah lakunya merupakan sumber pesona. Mrakati: perempuan yang penuh kehangatan, penuh gairah hidup, dan sabar.

“Banyak yang cantik, tetapi orangnya boring, membosankan, karena enggak ada isinya,” kata Kesty setelah membaca apa yang diuraikan dalam Centhini.

“Kalau dibaca, itu semua menjadi pengingat,” tutur ibu dua anak itu.

Begitulah nilai-nilai, tata kehidupan, dan falsafah Jawa yang tertuang dalam bahasa Jawa dan ditulis dengan huruf Jawa di buku “Serat Centhini” yang dibuat pada kisaran tahun 1814. Materi itu kemudian diolah menjadi buku The Centhini Story: The Javanese Journey of Life.

“Ya, mengapa karya sastra Jawa itu tak dibawa ke dunia modern. Saya pengen buku ini bisa diakses semua orang.”

“Tapi, saya kalau disuruh baca karya aslinya, ya, bisa puyeng dan mblenger, he-he-he…,” kata perempuan berdarah Minang-Jawa itu.

Kesty mencari pakar sastra Jawa yang mampu mengolah “Serat Centhini” menjadi bacaan nyaman bagi siapa saja. Dari perpustakaan Mangkunegaran, Solo, ia disarankan mencari pakar sastra Jawa Doktor Soewito Santoso yang saat itu tinggal di Australia.

Kesty lalu menghubungi penerbit Marshall Cavendish, Singapura. Buku yang terbit tahun 2006 dicetak sebanyak 5.000 eksemplar dan sampai saat ini menurut Kesty telah terjual lebih dari separuhnya. “Publisher bilang jumlah itu termasuk lumayan. Jadi, mereka tidak sebel-sebel amat sama saya, he-he-he….”

Sambil menyusui

Kesty mengerjakan proyek idealis itu ketika ia tengah menyusui anak keduanya yang kini berumur lima tahun. Saat itu ia bermukim di Singapura. Suaminya, Muljono Pringgoharjono, seorang bankir yang bekerja di sebuah bank di negeri tersebut.

Gagasan menggarap proyek itu muncul sejak tahun 2000. Suatu kali pada tahun 2.000, ketika Kesty mengunjungi Museum Nasional Singapura, dia tertarik pada manuskrip “Kitab Sejarah Melayu.” Saat itu ingatannya melayang ke Tanah Air.

“Di Indonesia pasti ada buku yang nasibnya seperti itu. Maksudnya, buku yang berisi pengetahuan penting, tetapi tidak terakses oleh masyarakat banyak,” kata Kesty yang kemudian memilih “Serat Centhini”.

Apa yang ia pelajari dari kisah Centhini?

“Banyak,” katanya.

“Bahwa, kita jangan serakah. Segala sesuatu akan tiba pada waktunya. Karena hidup adalah perjalanan. Bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan juga perjalanan jiwa dan spiritual.”

Dalam perjalanan itu, kata Kesty, mengutip buku, manusia bisa berubah. Bahwa dalam kehidupan manusia mempunyai peran yang berbeda-beda. Bahwa setiap kepribadian manusia itu akan membawa ke jalan hidup yang berbeda-beda.

“Saya tidak percaya kalau ada yang bilang, ‘Ah orang Indonesia korupsi melulu. Orangnya memang begitu, tidak bisa berubah.’ Saya percaya semuanya akan tiba pada waktunya,” kata Kesty mendasarkan pendapatnya itu dengan referensi “Centhini.”

“Alam saja berubah. Gunung yang tidak aktif bisa menjadi aktif. Bangsa ini bisa berubah, if we want to,” kata Kesty.

Setidaknya itu yang dibaca Kesty dari “Serat Centhini”. e-ti

Sumber: Kompas, 28 November 2010 | Penulis: Frans Sartono

Data Singkat
Kestity Pringgoharjono, Presiden dari “Preserve Indonesia”, 2003-sekarang / Mengangkat Centhini Modern | Wiki-tokoh | Presiden, jawa, sastra, centhini, buku, kuno

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here