Ketika Pengikut Nommensen Berkhotbah
Ilusi Heroisme Rasul Nommensen

Teks Yeremia 15:15-21 yang mencatat keluhan Nabi Yeremia kepada Tuhan karena penderitaannya, serta jawaban Tuhan yang menguatkan dirinya, menjadi nats khotbah Minggu 30 Agustus 2026 di seluruh Gereja HKBP. Di sebuah gereja di Jakarta, seorang Pendeta berkhotbah dengan menarasikan kesamaan penderitaan Nabi Yeremia dengan Rasul Nommensen, bahkan lebih dari Nabi Yeremia, karena menurut Sang Pendeta: “Nommensen tidak hanya mengalami reherehe, bahkan hendak disembelih untuk dikurbankan kepada Debata Mulajadi Nabolon.” Tampaknya Sang Pendeta sangat kental sebagai Pengikut Nabi/Rasul Nommensen karena mungkin “kurang rajin” belajar dari teologi (Alkitab), sejarah dan budaya Batak.
Inti isi teks Yeremia 15:15-21 adalah memuat doa dan keluh kesah Yeremia kepada Tuhan atas penderitaan serta celaan yang ia tanggung karena menyampaikan firman-Nya (ayat 15–18), di mana ia sempat merasakan kepedihan yang mendalam dan pergumulan batin. Menanggapi hal tersebut, Tuhan memberikan janji pemulihan dan penguatan bagi Yeremia untuk kembali menjadi pelayan serta “tembok berkubu dari tembaga” yang dilindungi dari orang-orang jahat (ayat 19–21).
Makna inti teks Yeremia 15:15–21 tersebut dapat dirangkum ke dalam tiga poin utama: 1) Kejujuran dalam Pergumulan (Ayat 15–18): Menggambarkan sisi kemanusiaan nabi yang mengalami penderitaan, kesepian, dan keputusasaan emosional akibat kesetiaannya menyuarakan kebenaran; 2) Panggilan untuk Pertobatan (Ayat 19a): Tuhan menuntut Yeremia untuk memurnikan kembali sikap hatinya dan berbalik dari ketakutan serta keraguan agar layak menjadi penyambung lidah-Nya; 3) Jaminan Perlindungan Ilahi (Ayat 19b–21): Janji Tuhan bahwa kekuatan pelayan-Nya tidak berasal dari situasi yang melingkupinya, melainkan dari penyertaan Allah yang memampukannya berdiri teguh bagai “tembok tembaga” di tengah penolakan.
Esensi nats ini “dipelintir” Sang Pendeta terutama ketika menganalogikan Nommensen sama dengan Nabi Yeremia. Apalagi Sang Pendeta bukan hanya menarasikan kesamaan penderitaan Nabi Yeremia dengan Nommensen, bahkan lebih dari Nabi Yeremia, karena menurut Sang Pendeta: “Nommensen tidak hanya mengalami reherehe (ejekan, caci-maki), bahkan hendak disembelih untuk dikurbankan kepada Debata Mulajadi Nabolon.”
Narasi Sang Pendeta yang tampaknya sangat kental mengidolakan dan mengultuskan Nommensen bahkan sangat mungkin menempatkan diri sebagai Pendeta Pengikut Nabi/Rasul Nommensen. Hal ini bisa dimaklumi kalau Sang Pendeta kurang menggali dan belajar dari Alkitab (teologi), sejarah dan budaya: 1) Secara teologis apa inti makna nats tersebut?; 2) Sejarah: Apa dan siapa serta bagaimana sesungguhnya Nommensen menjalankan “misi”-nya di Tanah Batak?; 3) Kultural (Kosmologi Batak): Siapa Debata Mulajadi Nabolon dan apa Esensi Mangase Taon/Mangalahat Horbo?
Dalam kesempatan ini saya tidak menguraikan ketiganya secara khusus, baiklah hal tersebut sebagai bahan renungan bagi para jemaat Gereja Batak terutama bagi Para Pendeta Batak. Namun, kali ini saya melampirkan cuplikan dari Buku Hita Batak: A Cultural Strategy Jilid 3 Perikop tentang: 1) Nommensen Dibekali Mandat Khusus; dan, 2) Nommensen Hendak Disembelih?
UNDUH PDF: Ilusi Heroisme Nommensen
Teks lampiran (PDF) tersebut menunjukkan bahwa menganalogikan penderitaan Nommensen “seolah-olah lebih parah dari Nabi Yeremia karena hendak disembelih untuk kurban” adalah bentuk pelintiran sejarah dan teologi yang tidak akurat. Narasi tersebut bersumber dari konstruksi sejarah heroisme-kolonial, bukan realitas fakta budaya Batak maupun fakta sejarah perjalanan misi Nommensen itu sendiri.
Berikut pemaknaan dan poin-poin ringkas mengenai isi teks PDF tersebut:
Pertama, Bantahan Atas Narasi “Nommensen Hendak Disembelih/Dikurbankan”:
1) Tidak Ada Tradisi Korban Manusia (Mangalahat Jolma): Dokumen menegaskan bahwa tuduhan/narasi yang menyebut Nommensen hendak disembelih dan dikurbankan kepada Debata Mulajadi Nabolon adalah penyesatan sejarah dan penistaan terhadap nilai budaya Batak.
2) Makna Mangalahat Horbo: Pesta adat Horja Bius Mangase Taon yang dihadiri Nommensen adalah ritual doa tahunan ucapan syukur atas hasil panen dan permohonan berkat. Hewan yang dikurbankan adalah kerbau/kuda (hewan ternak terbaik), bukan manusia.
3) Kritik atas Misleading Content: Narasi dramatis mengenai “penyembelihan misionaris” sengaja dihembuskan oleh sebagian penulis Eropa/misionaris untuk menonjolkan heroisme personal dan menggambarkan masyarakat Batak secara negatif (membunuh karakter/stereotip kanibalis biadab).
Kedua, Legitimasi Otoritas dan Realitas Perlindungan Nommensen
1) Mandat Khusus Kolonial: Nommensen datang ke Silindung bukan tanpa perlindungan, melainkan dibekali surat mandat khusus bermeterai dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan Gubernur Padang, serta didampingi beberapa pengawal/intelijen.
2) Posisi Bertindak Layak Penguasa/Residen: Saat hadir di acara adat, Nommensen tidak berada dalam posisi terancam disembelih sebagai “domba di tengah serigala”, melainkan justru bertindak tegas, berani, bahkan digambarkan seperti Residen/tuan besar yang berhasil melucuti senjata para raja yang hadir. Ia juga dibekali senjata api (pistol dan laras panjang).
3) Strategi Politik Adat: Tanah untuk mendirikan Huta Dame didapatkan melalui penggunaan ‘surat sakti’ (ancaman) kompeni bukan pendekatan dan kesepakatan (padan) dengan raja-raja lokal.
Ketiga, Keterbatasan Pemahaman Budaya dan Teologi Lokal
Kurangnya Pemahaman Misiologis: Para misionaris awal (termasuk Nommensen) dinilai kurang memahami secara mendalam filosofi kebatakan. Contohnya:
a) Menganggap Debata Mulajadi Nabolon sebagai berhala/setan, padahal dalam pandangan teologi Batak, Ia adalah Sang Khalik Maha Besar (Sang Causa Prima);
b) Memandang upacara Mangalahat Horbo sekadar ritual kafir dan transaksi daging (jambar), tanpa memahami makna kolektivitas, hak/kewajiban adat, dan persekutuan spiritualnya.
Penulis: Ch. Robin Simanullang



















