Ketika Kenyataan Dianggap Antek Asing
Semua boleh salah, kecuali pemimpin
Keberhasilan sudah diumumkan. Kini tinggal memastikan tidak ada laporan yang berani membantahnya.
Ada satu pekerjaan yang mungkin lebih melelahkan daripada menjalankan program pemerintah, yaitu menjelaskan mengapa program yang belum berhasil: sebenarnya sudah berhasil. Apalagi kalau pemimpinnya telanjur mengumumkan keberhasilan itu dengan penuh kebanggaan.
Bayangkan seorang pemimpin yang baru saja meresmikan program unggulannya. Di hadapan kamera, ia bercerita tentang masa depan yang lebih baik dan betapa besar perhatiannya kepada rakyat. Para pembantunya bertepuk tangan riang, bahkan ketika sang pemimpin menyelipkan olok-olok terhadap para pengkritiknya. Berita keberhasilan segera tersebar, lengkap dengan foto sang pemimpin yang tersenyum di tengah masyarakat.
Beberapa waktu kemudian, laporan dari lapangan mulai berdatangan. Pelaksanaannya ternyata tidak semulus yang dijanjikan. Ada warga yang mengeluh karena manfaat program belum mereka rasakan. Puluhan ribu orang justru dilaporkan menjadi korban keracunan makanan dari program tersebut. Seorang pakar bahkan menunjukkan data yang berbeda dari angka-angka keberhasilan yang selama ini diumumkan.
Sang pemimpin tentu mendengar semua itu. Ia hanya heran mengapa masih ada orang yang tidak bisa melihat keberhasilannya.
Para pembantunya segera bekerja. Mereka menjelaskan bahwa program sebesar itu membutuhkan waktu dan masyarakat harus bersabar. Keluhan warga dianggap wajar karena perubahan memang tidak selalu mudah. Sementara itu, data dari pakar tadi perlu diperiksa lagi, terutama siapa yang membiayai penelitiannya dan mengapa ia begitu rajin mengkritik pemerintah.
Fokus persoalan pun bergeser: orang-orang yang semula mempertanyakan kinerja program kini justru sibuk dipaksa menjelaskan alasan mereka mempertanyakannya.
Sang pemimpin kembali tampil di hadapan kamera. Ia meyakinkan masyarakat bahwa programnya berjalan sesuai rencana. Bahkan, menurutnya, hasilnya sudah melampaui harapan. Ia masih sempat berseloroh bahwa nilai 100 hanya milik Tuhan. Kekurangan yang ditemukan di lapangan hanyalah persoalan teknis yang sedang diselesaikan.
Rakyat yang mengeluh mungkin bertanya-tanya, harapan siapa sebenarnya yang sudah dilampaui.
Namun, pertanyaan semacam itu sebaiknya disampaikan dengan hati-hati. Terlalu banyak bertanya bisa membuat seseorang dianggap tidak memahami persoalan atau memang tidak menyukai sang pemimpin. Apalagi jika ia datang membawa data yang berbeda. Jangan-jangan ada kepentingan asing di belakangnya.
Begitulah, sebuah program yang belum jelas hasilnya bisa menghasilkan begitu banyak kepastian tentang orang-orang yang mengkritiknya.
Sebenarnya, tidak ada yang aneh jika seorang pemimpin membela programnya. Kebijakan besar memang membutuhkan waktu, dan tidak semua kritik memiliki dasar yang kuat. Seorang pakar pun bisa keliru. Justru karena itulah pemerintah memiliki banyak cara untuk memeriksa hasil pekerjaannya, termasuk mendengarkan pengalaman masyarakat yang setiap hari berhadapan dengan pelaksanaan program tersebut.
Persoalan muncul ketika pemeriksaan itu hanya boleh menghasilkan satu kesimpulan.
Dalam keadaan seperti ini, rapat evaluasi bisa berlangsung sangat serius. Para pejabat datang membawa laporan tebal dan bahan presentasi yang sudah disiapkan berhari-hari. Mereka membahas berbagai kendala di lapangan, lalu merancang narasi agar rakyat paham betapa mulianya niat pemerintah. Tidak tertutup kemungkinan mereka mengusulkan tambahan anggaran untuk memperbaiki komunikasi publik. Sementara itu, masalah yang dikeluhkan warga mungkin masih sama seperti sebelum rapat dimulai.
Ada satu pertanyaan yang rupanya tidak pernah masuk ke dalam bahan presentasi: bagaimana kalau program yang sudah diumumkan berhasil itu memang belum berhasil? Pertanyaan tersebut bisa membuat rapat menjadi tidak nyaman. Apalagi jika jawabannya mengharuskan sang pemimpin mengakui bahwa penilaiannya selama ini keliru.
Maka, lebih mudah memeriksa orang yang membawa kabar buruk. Metode penelitiannya dipersoalkan dan pernyataan lamanya dicari. Laporan yang semula dimaksudkan untuk memperbaiki program akhirnya berubah menjadi bahan pemeriksaan terhadap pembuat laporan. Sementara itu, kesimpulan sang pemimpin tetap tidak tersentuh.
Kenyataan boleh masuk ke ruang rapat, asalkan bersedia menyesuaikan diri dengan kesimpulan yang sudah ada.
Anehnya, semakin banyak kritik yang datang, semakin besar pula keyakinan sang pemimpin bahwa ia sedang berada di jalan yang benar. Menurutnya, orang yang berani melakukan perubahan besar memang harus siap menghadapi penolakan. Ia bahkan bisa merasa sedang berkorban demi rakyat yang belum sepenuhnya memahami pengorbanannya. Ia pernah mengeluh diserang dan dituduh menghamburkan anggaran, padahal, menurutnya, ia hanya ingin memberi makan rakyat.
Orang-orang di sekelilingnya tentu tidak ingin mengecewakan pemimpin yang begitu mencintai rakyat. Mereka semakin berhati-hati menyampaikan kabar buruk. Angka-angka yang kurang menyenangkan diberi penjelasan tambahan, sementara keberhasilan sekecil apa pun mendapat tempat istimewa dalam laporan. Para pembantu yang merangkap buzzer bahkan bisa membuat keberhasilan kecil itu tampak luar biasa di media sosial.
Lama-kelamaan, laporan yang sampai ke meja sang pemimpin semakin menggembirakan. Ia pun semakin yakin bahwa masyarakat sebenarnya puas, meskipun di luar sana masih banyak orang yang mempertanyakan hasil pekerjaannya.
Ia tidak harus menutup mata terhadap kenyataan. Cukup menyediakan penjelasan yang membuatnya tidak perlu mengubah keyakinan. Ketika programnya bermasalah, ia menekankan bahwa tingkat kesalahan hanya 0,00017% dari seluruh makanan yang dibagikan. Keluhan masyarakat menunjukkan perlunya sosialisasi. Kalau perlu, badan lain diikutkan, lengkap dengan tambahan anggarannya. Temuan para ahli yang bertentangan dengan laporan pemerintah dianggap belum memahami besarnya visi sang pemimpin.
Kritik yang terus berdatangan bahkan bisa menjadi bukti bahwa perjuangannya sedang mendapat perlawanan. Orang-orang yang mempertanyakan hasil pekerjaannya kini dicurigai tidak menginginkan negara ini maju. Barangkali, menurut para pembantunya, ada pihak asing yang merasa terganggu oleh keberhasilan sang pemimpin.
Rupanya, kenyataan pun perlu berhati-hati agar tidak dituduh menjadi antek asing.
Dalam lingkungan kekuasaan seperti itu, para pembantu semakin mahir membaca keinginan pemimpinnya. Mereka tidak perlu lagi diperintah untuk memperindah laporan. Cukup mengetahui kabar seperti apa yang akan disambut dengan senyuman dan kabar seperti apa yang membuat mereka harus memberikan penjelasan panjang. Maklum, siapa pula yang ingin mengalami abrupt breakup seperti menteri sebelah, ketika pagi masih rapat dan sore sudah menjadi mantan?
Akibatnya, seorang pemimpin bisa menghabiskan waktu berjam-jam mendengarkan laporan tanpa pernah benar-benar mengetahui apa yang sedang dialami rakyatnya. Ia tetap berpidato tentang keberhasilan. Para pembantunya bertepuk tangan riang sambil cengengesan. Di luar ruang rapat, masyarakat masih menunggu perbaikan yang dijanjikan.
Mungkin suatu hari seorang pembantu yang cukup berani akan menyampaikan bahwa program kebanggaan itu memang perlu diperbaiki. Sang pemimpin bisa saja mendengarkannya dengan saksama, lalu bertanya mengapa orang-orang di sekelilingnya mulai terpengaruh oleh kritik yang tidak berdasar.
Rapat berikutnya pun terpaksa membahas persoalan baru: bagaimana mengembalikan kepercayaan para pembantu kepada keberhasilan program tersebut. Sementara itu, programnya sendiri masih menunggu untuk dievaluasi.
Dan sang pemimpin tetap yakin bahwa ia telah melakukan yang terbaik bagi rakyatnya. Keyakinan itu semakin teguh setiap kali ia naik podium dan membuka pidato dengan kalimat kesukaannya, “Saya mendapat laporan…”
Di luar sana, rakyat masih menunggu kapan laporan mereka sampai.
(Atur Lorielcide / TokohIndonesia.com)



