BerandaLorong KataAkal Sehat Masuk Istana

Akal Sehat Masuk Istana

Dari luar kekuasaan, kini duduk di dalamnya

Tulisan ini bagian dari sistem kesadaran reflektif RielNiro 📷 – Sistem Sunyi
Lama Membaca: 2 menit

Dulu ia mengoreksi kekuasaan dari luar. Kini ia berada di dalamnya. Akal sehat pun mendapat tugas baru: bagaimana membuat kekuasaan tetap terlihat masuk akal.

Saat kekuasaan dianggap mulai kehilangan akal sehat, Rocky Gerung punya pekerjaan yang cukup sederhana. Ia tinggal berdiri di luar, menunjuknya, lalu menjelaskan di mana letak ketidakmasukakalannya. Dari posisi itu, ia bisa menjadi pengkritik siapa saja yang sedang memegang kekuasaan, tanpa harus membawa tanda pengenal, duduk di ruang rapat, atau menunggu kursi yang disediakan negara.

“Akal sehat” memang sudah lama menjadi bagian dari bahasa Rocky. Saat berbicara di Kuala Lumpur pada 2019, ia mengatakan bahwa akal sehat bukan hanya perkara politik sesaat, melainkan sebuah peradaban. Kalimat itu cukup menggambarkan bagaimana istilah tersebut melekat pada cara Rocky berbicara tentang politik dan kekuasaan.

Begitu pula dengan kata “dungu”. Istilah itu bukan sekadar kata sifat yang sesekali lewat dalam kamus politik Rocky. Masih di tahun 2019, ketika mengkritik wacana masa jabatan presiden tiga periode, ia menyebut cara berpikir di balik usulan tersebut dungu. Beberapa tahun kemudian, 2025, ia kembali menggunakan istilah itu ketika membedakan pendemo dengan perusuh. Kata itu menjadi bagian dari cara Rocky membaca kekuasaan.

Pada masa kampanye 2019, ketika Prabowo masih menjadi calon presiden, Rocky bahkan mengatakan bahwa ia akan mengkritik Prabowo 12 menit setelah dilantik jika kelak menjadi presiden. Ia menyebut dirinya sebagai pengkritik kekuasaan dan menegaskan akan mengkritik siapa pun yang menjadi presiden.

Dua belas menit terdengar singkat untuk sebuah janji yang ternyata harus menunggu bertahun-tahun. Prabowo akhirnya menjadi presiden. Rocky tetap berada di luar pemerintahan dan terus menjalankan perannya sebagai pengkritik. Sampai kemudian, 2 Oktober 2026, Prabowo melantiknya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden atau Wantimpres. Orang yang selama ini berdiri di luar kekuasaan kini mendapat kursi di dalamnya.

Menariknya, Rocky tidak melihat perpindahan itu sebagai perubahan posisi yang perlu dipersoalkan. Setelah dilantik, ia mengatakan, “Saya cuma pindah dari luar ke dalam, apa bedanya?” Menurutnya, sikap dan pandangannya tetap sama. Bahkan ia menegaskan tetap membawa sikap radical break.

Rocky sendiri mengatakan bahwa Wantimpres perlu melihat perbedaan antara persepsi masyarakat dan persepsi pemerintah, lalu memberikan pertimbangan kepada Presiden ketika keduanya tidak sejalan.

Dulu akal sehat digunakan untuk menguji apakah kekuasaan masih masuk akal. Kini ia berada di dalam kekuasaan, di tempat ia juga perlu membantu menjelaskan kebijakan dan menjembatani perbedaan persepsi antara pemerintah dengan masyarakat.

Maka yang berubah mungkin bukan akal sehatnya, melainkan arah pekerjaannya. Dulu ia bisa bertanya kepada kekuasaan, “Mengapa ini masuk akal?” Kini pertanyaan itu bisa berbalik menjadi, “Bagaimana membuatnya tetap terlihat masuk akal?”

Kini akal sehat tidak lagi hanya berdiri di hadapan kekuasaan. Ia duduk bersamanya. Bisa jadi yang sedang kita saksikan bukan sekadar akal sehat masuk ke Istana.

Kekuasaan sedang belajar masuk ke dalam akal sehat.

Anda Mungkin Suka

(Atur Lorielcide / TokohIndonesia.com)

 

Kuis Kepribadian Presiden RI
🔥 Teratas: Habibie (24.5%), Jokowi (19.1%), Gusdur (15.5%), Megawati (9.9%), Soeharto (9.6%)

Populer (All Time)

Terbaru