Omon-omon Framework
Menuju Ilmu Peromon-omonan
Sudah waktunya ada istilah untuk membicarakan keberhasilan yang kadang lebih berhasil dalam cerita daripada dalam kenyataan.
o-mon-o-mon / kata benda, kata sifat, kata kerja.
Coba ucapkan beberapa kali. Bunyi katanya ringan, sedikit jenaka, seperti sesuatu yang sebenarnya sudah lama kita kenal tetapi belum sempat kita masukkan ke dalam kamus. Kamus Lorong Kata merasa perlu mengambil prakarsa ini. Soal anggaran dan ketersediaan tenaga ahli bisa dibicarakan belakangan, setelah istilahnya diresmikan.
Omon-omon berurusan dengan cara sebuah keberhasilan diceritakan sampai ukurannya berubah di telinga pendengar. Hasil yang biasa saja bisa terdengar luar biasa setelah beberapa kali diceritakan, terlebih jika dunia maya ikut dikerahkan untuk menyebarkannya. Pekerjaan yang belum rampung sudah keburu mendapat sambutan, sementara hasil akhirnya masih harus menyusul. Ceritanya telanjur berangkat jauh, hasilnya menyusul kalau sempat.
Ilmu peromon-omonan bisa mulai dirintis dari sini. Nama bidangnya sudah tersedia, meskipun kurikulumnya masih perlu dibicarakan. Mata kuliah Pengantar Omon-omon barangkali tidak terlalu sulit diselenggarakan. Bahan ajarnya tersebar luas, dosennya mungkin sudah banyak, dan calon mahasiswanya tidak perlu dicari terlalu jauh. Yang agak merepotkan justru ujian akhirnya: bagaimana menguji kemampuan seseorang dalam membesar-besarkan keberhasilan tanpa membuat hasil ujian itu sendiri menjadi Omon-omon?
Lulusan bidang ini kelak dapat menyandang gelar pengomon-omon. Sebutan itu cukup profesional untuk dicantumkan pada kartu nama, apalagi jika ukuran hurufnya dibuat sedikit lebih besar daripada jabatan yang sebenarnya. Pengomon-omon senior tentu sudah berpengalaman mengolah cerita. Ia tahu angka mana yang perlu disorot, bagian mana yang sebaiknya dilewati, dan bagaimana menyampaikan kemajuan dengan intonasi yang membuat orang segan bertanya. Barangkali tersedia pula sertifikasi profesi. Sertifikatnya perlu diperiksa, walau pemeriksaan itu bisa saja menghambat karier pemiliknya.
Para peneliti dapat mengembangkan omonologi untuk mempelajari seluk-beluk Omon-omon, sementara omonometri mengurus pengukurannya. Jarak antara klaim dan kenyataan mungkin dapat dihitung dalam persen, kilometer, atau jumlah tepuk tangan sebelum hasil pekerjaan diperiksa. Para ahli bebas memperdebatkan satuan mana yang paling sahih. Makalah diterbitkan, seminar digelar, kesimpulan ditunggu dengan harap-harap cemas. Jika hasil penelitiannya belum jelas, setidaknya kegiatan ilmiahnya sudah berlangsung.
Hal ini makin menarik ketika Omon-omon berkembang menjadi omon-omonisme, sebuah paham yang menempatkan cerita keberhasilan di posisi terhormat. Kenyataan tetap dibutuhkan, setidaknya sebagai bahan awal untuk menyusun narasi. Sesudah itu, ia perlu menyesuaikan diri dengan kebutuhan cerita. Kalau hasilnya mendukung, silakan tampil di panggung utama. Kalau kurang mendukung, barangkali masih tersedia tempat di catatan kaki. Para penganut omon-omonisme mungkin akan menyebutnya strategi komunikasi. Kamus Lorong Kata belum memiliki cukup data untuk memastikan apakah istilah tersebut sudah masuk dalam kurikulum mereka.
Bahan penelitian semacam ini tidak sulit ditemukan. Sebuah produk memang bagus, lalu dipasarkan dengan semangat yang membuatnya seolah-olah sanggup mengubah kehidupan umat manusia. Sebuah lembaga mencatat pencapaian yang patut diapresiasi, kemudian mengulang pengumumannya begitu sering sampai orang lebih hafal slogan keberhasilannya daripada hasil pekerjaan yang diumumkan. Kenyataannya ada, angkanya mungkin benar, dan pencapaiannya bisa saja layak dirayakan. Namun, setelah dipilih, dirangkai, lalu dipresentasikan berkali-kali, bagian yang kecil dapat mengambil tempat seolah-olah mewakili keseluruhan.
Di panggung, semuanya tampak beres. Sebuah keberhasilan mendapat pencahayaan terbaik, sementara pekerjaan yang gagal atau belum selesai dibiarkan di belakang panggung. Pembawa acara mengumumkan suksesnya kegiatan, hadirin bertepuk tangan, dan acara berjalan sesuai susunan. Hampir tak ada yang bertanya tentang ruang belakang. Pertunjukan sudah berlangsung dengan lancar, jadi untuk apa merusak suasana?
Pengomon-omon paling berbakat adalah mereka yang akhirnya percaya pada cerita buatannya sendiri. Mula-mula ia masih mengetahui jarak antara apa yang terjadi dan apa yang dikatakannya. Lama-kelamaan, cerita itu menjadi tempat tinggal yang nyaman. Setiap kali kenyataan membawa kabar yang kurang menyenangkan, ia bisa kembali ke sana dan menemukan gambaran diri yang jauh lebih meyakinkan. Pertunjukan terus berlangsung meski penonton sudah pulang. Sutradara, pemain, sekaligus penonton utamanya kini orang yang sama.
Lama-lama, ada yang mulai terganggu oleh pertanyaan tentang hasil pekerjaan. Angka yang dulu dipamerkan kini perlu dijelaskan, kabar yang kurang menyenangkan dianggap merusak suasana, dan orang yang bertanya bisa ikut dicurigai punya niat tertentu. Rupanya, menjaga cerita keberhasilan kadang membutuhkan pekerjaan tambahan. Hasilnya mungkin tidak bertambah, tapi urusan menjaganya justru makin sibuk.
Kamus Lorong Kata tentu belum sanggup menyelesaikan seluruh persoalan ilmu peromon-omonan. Bahkan, belum ada jaminan bahwa kamus ini bebas dari gejalanya sendiri. Sebuah istilah bisa terdengar begitu cemerlang sampai penciptanya tergoda menganggap penemuan kata sebagai penemuan dunia baru. Karena itu, Omon-omon layak dipakai untuk membaca orang lain, tetapi sesekali perlu diarahkan kembali kepada diri sendiri. Justru di sanalah istilah ini menemukan kegunaan yang paling tidak nyaman.
Bagaimanapun, sebuah keberhasilan boleh diumumkan dengan meriah. Pita dipotong, bunga berdatangan, pidato berlarut-larut sampai mikrofon kepanasan. Plakat peresmian pun disiapkan dengan huruf yang cukup besar agar terbaca dari kejauhan. Jika yang paling megah dari seluruh perayaan itu ternyata hanya ceritanya, plakat tersebut tetap bisa dipasang.
Omon-omon telah berhasil diselenggarakan.
(Atur Lorielcide / TokohIndonesia.com)
Omon-omon
Gejala ketika cerita tentang suatu keberhasilan tumbuh lebih besar daripada pencapaian yang diceritakannya. Ceritanya bisa berangkat dari fakta yang benar, tetapi gambaran yang terbentuk belum tentu mewakili keseluruhan kenyataan.
Pengomon-omon
Orang yang mengolah cerita keberhasilan sehingga terdengar lebih mengesankan daripada hasilnya. Ia bisa menyadari apa yang sedang dilakukannya, atau lama-kelamaan ikut percaya pada cerita yang dibuatnya sendiri.
Omonologi
Ilmu yang mempelajari seluk-beluk Omon-omon, termasuk bagaimana sebuah cerita memperoleh kemegahan yang tidak selalu dimiliki hasilnya.
Omonometri
Pengukuran jarak antara klaim keberhasilan dan kenyataan. Satuan bakunya masih menunggu kesepakatan para ahli, termasuk kemungkinan penggunaan jumlah tepuk tangan sebagai instrumen ukur.
Omon-omonisme
Paham yang menempatkan narasi keberhasilan sebagai sesuatu yang perlu terus dipertahankan, bahkan ketika kenyataan mulai memberikan keterangan berbeda.
Tingkat I: Pembumbuan
Pencapaian dikemas agar terdengar lebih mengesankan. Bagian yang menguntungkan mendapat sorotan, sementara kekurangan mungkin luput dari cerita. Jarak antara klaim dan kenyataan mulai terbentuk, tetapi koreksi masih bisa diterima.
Tingkat II: Pembesaran
Pengemasan telah menjadi pola. Cerita keberhasilan semakin menentukan gambaran pencapaian, sedangkan hasil yang kurang mendukung cenderung tersisih. Orang lebih mudah mengingat pengumuman keberhasilannya daripada memeriksa apa yang sesungguhnya telah dicapai.
Tingkat III: Pertahanan
Cerita keberhasilan sudah telanjur menjadi sesuatu yang perlu dijaga. Pertanyaan tentang hasil terasa mengganggu, kritik dianggap merusak suasana, dan tenaga yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki pekerjaan bisa terserap untuk mempertahankan narasi. Pengomon-omon bahkan mungkin mulai kehilangan jarak terhadap ceritanya sendiri.
Klasifikasi awal ini merupakan perangkat baca satir, bukan instrumen diagnosis. Batas antartingkat tidak selalu tegas dan pengembangannya masih terbuka.
Omon-omon Framework disusun untuk membantu membaca bagaimana cerita tentang keberhasilan dapat tumbuh melampaui hasilnya. Istilah dan klasifikasi di dalamnya merupakan perangkat konseptual satir yang terbuka untuk pengembangan.
Kamus Lorong Kata belum menerbitkan sertifikat kompetensi bagi siapa pun yang menggunakannya, termasuk para penyusunnya sendiri.



Tulisan ini bagian dari sistem kesadaran reflektif

