BerandaLorong KataGemoy No More

Gemoy No More

Joget Dulu, Fakta Belakangan

Tulisan ini bagian dari sistem kesadaran reflektif RielNiro 📷 – Sistem Sunyi
Lama Membaca: 3 menit

Jogetnya lucu, orangnya menggemaskan. Soal watak, nanti dulu.

Gemoy
ge-moy / kata benda konseptual dalam Kamus Satiris Lorong Kata.

Kegemasan yang menjadi selubung bagi watak berlawanan, membuat pesona mendahului pemeriksaan perilaku.

Kamus Satiris Lorong Kata kembali menerima pekerjaan yang agak merepotkan. Ada satu kata yang sudah telanjur akrab di telinga publik, sering mengundang senyum, bahkan bisa membuat orang dewasa mendadak berperilaku seperti penggemar yang melihat idolanya lewat di depan mata. Kata itu gemoy. Urusan kamus menjadi menarik ketika sebuah kata mulai bekerja jauh melampaui arti yang dibawanya.

Setelah melalui pertimbangan redaksional yang tidak ringan, Kamus Satiris Lorong Kata menetapkan gemoy sebagai kata benda konseptual. Dalam pemeriksaan lapangan, ditemukan kebiasaan publik yang lebih mudah mengingat joget seseorang daripada apa yang dikerjakannya. Kamus merasa perlu turun tangan sebelum urusan kegemasan sepenuhnya diambil alih oleh tim pencitraan.

Gemoy punya daya yang jarang dimiliki pidato panjang atau janji yang dirangkai dengan bahasa meyakinkan. Senyum, gerak tubuh yang mengundang tawa, atau tingkah yang terasa polos bisa membuat orang cepat merasa akrab. Sifat-sifat baik pun mulai menempel, meski belum tentu pernah diperiksa. Baru beberapa kali melihatnya di layar, rasanya sudah seperti kenalan lama.

Daya semacam ini punya nilai jual di dunia politik. Persona dibangun, penampilan dikemas, gestur diulang sampai melekat dalam ingatan. Pekerjaan ini disebut Gemoyfikasi: usaha menjadikan kegemasan sebagai daya tarik yang terus bekerja. Panggung mendapat tontonan, penonton mendapat hiburan, sementara tokoh yang tampil memperoleh kedekatan yang mungkin membutuhkan waktu jauh lebih lama jika dibangun melalui rekam jejak.

Tim pencitraan tentu memahami hitung-hitungan semacam ini. Di luar panggung, orang tertawa melihat joget, membagikan video, mengulang gaya bicara, lalu ikut menyebarkan pesona yang sama. Sosok yang semula hanya dilihat dari kejauhan perlahan terasa seperti kenalan sendiri. Di media sosial, penggemar bisa ikut mengerjakan promosi tanpa pernah merasa sedang bekerja. Begitu tokoh pujaannya dikritik, urusan itu mendadak terasa pribadi.

Di pihak penonton, ada gejala lain yang perlu diberi nama: Gemoyisme, kecenderungan membiarkan rasa gemas ikut menentukan penilaian terhadap watak. Kalau sudah telanjur suka, kesalahan kecil bisa terasa lucu dan kekurangan tampak lebih mudah dimaklumi. Begitu muncul pertanyaan tentang janji yang pernah disampaikan, ingatan yang begitu tajam merekam joget mendadak perlu bantuan arsip.

Orang yang lucu bisa saja baik, dan yang menggemaskan pun mungkin memiliki watak terpuji. Kamus tidak mengusulkan semua orang tampil dengan wajah tegang seperti sedang mengurus surat keterangan. Persoalan muncul ketika pesona diberi hak istimewa untuk menilai sesuatu yang belum diperiksa. Senyum boleh jadi barang bukti, tetapi putusan tetap membutuhkan berkas lain.

Dalam urusan asmara, kita pernah mendengar kisah seseorang yang jatuh hati pada pasangan yang manis, lucu, dan pandai membuat suasana terasa menyenangkan. Kawan-kawannya ikut senang; cerita tentang si dia selalu punya bagian yang menggemaskan. Seiring waktu, kebiasaan berbohong, sikap mengendalikan, keegoisan, atau perlakuan yang menyakitkan mulai terlihat. Orang yang dulu selalu punya cara membuatnya tersenyum kini justru menjadi sumber persoalan.

Pilihan pasangan dan pilihan politik punya urusan masing-masing. Namun keduanya memperlihatkan kebiasaan serupa: setelah telanjur menyukai kesan, kita bisa sibuk mencari alasan untuk mempertahankannya, bahkan ketika kenyataan mulai mengganggu. Mengubah penilaian terasa lebih berat jika kita sudah mengajak orang lain ikut mengagumi. Ternyata, yang perlu dipertanggungjawabkan kadang bukan hanya orang yang kita percaya, tetapi juga keyakinan kita sendiri.

Dalam politik, keputusan seorang pemimpin menyentuh kehidupan banyak orang. Kedekatan yang dibangun melalui tontonan pada akhirnya harus berhadapan dengan janji, tindakan, dan hasil kerja. Joget boleh menghibur, tetapi jabatan publik bukan penghargaan bagi penampilan terbaik. Sejauh yang diketahui kamus, kemampuan membuat orang gemas belum bisa dipakai sebagai pengganti rekam jejak.

Anda Mungkin Suka

Kamus Satiris Lorong Kata tidak bermaksud membubarkan kegemoyan dari muka bumi. Itu pekerjaan yang terlalu besar, bahkan untuk lembaga yang baru saja mengesahkan satu kata benda konseptual. Kegemasan boleh tetap tinggal di tempatnya. Perkara watak rupanya masih membutuhkan pemeriksa tersendiri.

Maka, Gemoy No More. Silakan berjoget, silakan tertawa, silakan menyukai siapa pun. Kamus tidak akan mengganggu kesenangan itu.

Orang yang berjoget sudah selesai tampil. Penontonnya masih sibuk membela. Jadi, siapa yang sedang diperiksa: orang yang berjoget atau penonton yang telanjur percaya?

(Atur Lorielcide / TokohIndonesia.com)

Gemoy
Kata benda konseptual untuk kegemasan yang menjadi selubung bagi watak berlawanan, membuat pesona mendahului pemeriksaan perilaku.

Gemoyfikasi
Usaha menjadikan kegemasan sebagai daya tarik yang terus bekerja. Persona dibangun melalui penampilan, gestur, dan pengulangan yang membuat seseorang terasa akrab di mata publik.

Gemoyisme
Kecenderungan membiarkan rasa gemas ikut menentukan penilaian terhadap watak. Kesan menyenangkan dapat membuat kekurangan lebih mudah dimaklumi dan pertanyaan yang merepotkan tertunda.

Persona dan Panggung
Senyum, gerak tubuh, tingkah yang mengundang tawa, dan joget dapat membangun kedekatan dalam waktu singkat. Di dunia politik, persona semacam ini memiliki nilai jual karena kedekatan melalui tontonan bisa terbentuk lebih cepat daripada kedekatan melalui rekam jejak.

Penggemar dan Pembelaan
Penonton ikut menyebarkan pesona ketika membagikan video, mengulang gaya, atau membela tokoh yang disukai. Ketika kritik datang, persoalan tokoh pujaan bisa terasa seperti persoalan pribadi.

Pesona dan Watak
Kesan awal belum tentu menggambarkan perilaku seseorang secara utuh. Dalam politik, kedekatan yang dibangun melalui tontonan pada akhirnya harus berhadapan dengan rekam jejak, janji, tindakan, dan hasil kerja.

Gemoy No More
Bukan perang terhadap senyum, joget, atau kegemasan. Istilah ini menyoroti kebiasaan memberi pesona kewenangan untuk menentukan kepercayaan sebelum perilaku dan rekam jejak mendapat penilaian yang layak.

Gemoy No More menahbiskan Gemoy sebagai kata benda konseptual dalam Kamus Satiris Lorong Kata. Tulisan ini membaca jarak antara persona menggemaskan dan watak yang belum tentu tercermin di dalamnya, termasuk ketika pesona menjadi bagian dari komunikasi politik.

Gemoyfikasi dan Gemoyisme menjadi istilah pendamping untuk membicarakan pembentukan persona serta kecenderungan penonton membiarkan rasa gemas memengaruhi penilaian. Ketiganya merupakan perangkat konseptual satir untuk membaca gejala sosial, bukan penilaian otomatis terhadap setiap orang yang tampil menggemaskan.

Joget mengundang tawa, persona membangun kedekatan. Tapi pesona tidak menceritakan watak, dan kegemaran publik tidak menggantikan rekam jejak, janji, tindakan, atau hasil kerja.

 

 

Kuis Kepribadian Presiden RI
🔥 Teratas: Habibie (24.2%), Jokowi (19%), Gusdur (15.3%), Soeharto (9.8%), Megawati (9.8%)
Artikulli paraprak

Populer (All Time)

Terbaru