Overconfidence, Kiranya Jokowi Tersadar

Joko Widodo Ganjar Pranowo Prabowo Paling Setia Visi Jokowi? Anies Baswedan
 
0
106
DRAKOR: Overconfidence dan indikasi pengkhianatan kepada PDI Perjuangan. Presiden Joko Widodo berkumpul bersama Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Ketua Umum PKB Abdul Muhaimin Iskandar, dan Plt Ketua Umum DPP PPP Muhamad Mardiono di Jakarta, Minggu (02/04/23) tanpa mengundang Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Mereka disebut akan membentuk Koalisi Besar dengan Capres Prabowo. Foto Repro: Antara

Presiden Jokowi dan dua putranya, Gibran dan Kaesang, secara kolaboratif tampak overconfidence, terutama belakangan setelah beberapa hasil survei menunjukkan 70-82 persen responden menyatakan puas atas kinerja Presiden Jokowi; serta beberapa partai politik dan kelompok relawan pun menyatakan tegak lurus atas telunjuk Presiden Jokowi. Jokowi terjebak yang berpotensi meruntuhkan nama harumnya.

Jokowi mulai berusaha tampil sebagai King Maker kandidat kontestan Pilpres 2024. Namun, sejauh ini tampaknya dia gagal karena terindikasi adanya hasrat politik dinasti: Kaesang tiba-tiba jadi Ketua Umum PSI, Gibran berpeluang menjadi Cawapres dengan karpet merah yang digelar Mahkamah Konstitusi yang diplesetkan publik sebagai Mahkamah Keluarga.

Bermain di antara tiga Capres. Dari hasil survei dua tahun terakhir, ada tiga besar kandidat yang muncul yakni Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto dan Anies Baswedan. Dua kandidat, Ganjar dan Prabowo, menyatakan akan melanjutkan program Jokowi. Sementara, Anies mengambil sikap sebagai ‘antitesa’ Jokowi yang akan melakukan perubahan.

Ganjar Pranowo yang memang lahir dari rahim parpol yang sama dengan Jokowi yakni PDI Perjuangan, sangat merasa yakin bahwa Presiden Jokowi akan secara total mendukungnya memenangkan Pilpres 2024 demi kelanjutan dan percepatan program pembangunan yang sudah berhasil dilakukan Jokowi. Diyakini Jokowi sebagai kader terbaik PDI Perjuangan akan militan dan setia pada garis perjuangan Tri Sakti Bung Karno yang menjadi ruh dari program pemerintah selama Jokowi menjabat Presiden (2014-2024) dan juga sebelumnya saat menjabat Gubernur DKI Jakarta (2012-2014) dan Walikota Solo (2003-2012). Tampak tidak terbersit sedikit pun keraguan atas militansi dan kesetiaan Jokowi pada garis perjuangan PDI Perjuangan tersebut.

Sementara, Prabowo Subianto, pesaing yang dikalahkan Jokowi dalam dua kali Pilpres (2014 dan 2019) serta kemudian ‘berjiwa besar’ atau lebih tepatnya ‘ mengambil kesempatan’ penawaran Presiden Jokowi untuk menjabat Menteri Pertahanan. Prabowo memainkan peran ‘sempurna’ sebagai Pembantu Presiden dengan memuja-muji Jokowi dan mengatakan ‘tidak malu’ akan melanjutkan program pembangunan Jokowi. Prabowo dengan sangat massif memperagakan diri sebagai loyalis tulen Jokowi dan keluarganya, terutama kedua putranya Gibran dan Kaesang.

Pengamatan Redaksi Tokoh Indonesia, Jokowi pun tampak merasa tersanjung dan secara sadar, atau tidak sadar, kelihatan ingin tampil cawe-cawe sebagai The Godfather dan King Maker politik Pilpres 2024 hingga terkesan overconfidence. Ada beberapa indikasi tentang hal ini. Di antaranya, ketika Presiden Jokowi menghadiri pertemuan para Ketum Parpol pendukung pemerintah (Gerindra, PKB, Golkar, PPP, PAN) tanpa mengundang Ketum PDI Perjuangan, di Kantor DPP PAN di kawasan Warung Buncit, Jakarta, Minggu (02/04/23). Pertemuan itu disebut akan membentuk Koalisi Besar dengan Capres Prabowo Subianto atas restu Jokowi. Sebelumnya, Golkar dan PKB telah membentuk Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR, Bacapres Prabowo); serta Golkar, PPP dan PKB telah membentuk Koalisi Indonesia Baru (KIB, belum ada Bacapres); hal mana kedua koalisi itu menyatakan tegak lurus kepada Presiden Jokowi. Dan sejumlah kejadian indikasi lainnya.

Namun semua itu masih dipandang sebagai suatu strategi Jokowi untuk memastikan kemenangan Capres PDI Perjuangan Ganjar Pranowo dan menduetkannya dengan Prabowo Subianto sebagai Cawapres.

Tapi makin lama mulai sulit disembunyikan bahwa ada strategi lain yang ingin dimainkan Jokowi. Para pengamat mulai bicara, Jokowi main dua kaki bahkan lebih condong mendukung Prabowo ketimbang Ganjar; serta ingin berperan sebagai King Maker kendati secara verbal menyebut perihal Capres dan Cawapres itu urusan parpol bukan urusannya.

Kecurigaan mulai muncul ketika Kaesang tiba-tiba mendapat privilese menjadi Ketum PSI. Namun, Jokowi masih berhasil menepis dengan menyatakan bahwa Kaesang itu sudah berkeluarga, itu hak dan pilihan pribadinya.

Tapi kecurigaan muncul lagi. Ketika Ketua TPN Ganjar Presiden Arsjad Rasjid di celah Rakernas IV PDI Perjuangan (29/9/2023) meminta Gibran masuk dalam TPN Ganjar. Gibran menjawab, “akan lebih dulu berkonsultasi dengan keluarga.” Pernyataan Gibran yang mengejutkan Arsjad Rasjid. Sekaligus menyingkap tabir tentang konsultasi politik keluarga Presiden Jokowi. Bertolak belakang dengan pernyataan Jokowi ketika menepis campur tangannya atas ditetapkannya Kaesang sebagai Ketum PSI, bahwa itu adalah hak pribadi karena sudah berkeluarga.

Advertisement

Tabir itu pun semakin terbuka ketika Rakernas Projo di Indonesia Arena, Kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Sabtu (14/10/2023). Walaupun Presiden Jokowi di ruang terbuka berusaha menunda deklarasi Projo mendukung Capres Prabowo di arena Rakernas karena “yang didukung tidak ada di sini.’ Lalu Projo pergi ke rumah Prabowo dan menyatakan dukungan Projo kepada Capres Prabowo. Ibarat sebuah babak drama seri.

Tabir itu semakin telanjang tanpa rasa malu ketika Mahkamah Konstitusi yang dipimpin adik ipar Jokowi mengabulkan satu permohonan uji materi UU Pemilu tentang persyaratan calon Presiden dan Wakil Presiden (16/10/2023) yang dipandang menggelar karpet merah kepada Gibran menjadi Cawapres pendamping Prabowo.

Atas berbagai kejadian ‘drama hukum dan politik’ tersebut berbagai kalangan menilai Jokowi mabuk kekuasaan mengingkari amanat reformasi yang anti Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Jokowi dituding mabuk kekuasaan dengan membangun politik dinasti. Di sisi lain, PDI Perjuangan dan simpatisannya merasa Jokowi selaku kader PDI Perjuangan telah mengkhianati partai yang membesarkannya; bahkan telah mengorkestra keluarganya untuk membangun dinasti politik baru.

Namun demikian, pengamatan Redaksi TokohIndonesia.com menunjukkan, sampai saat pasangan Capres Ganjar Pranowo dan Cawapres Mahfud Md didaftarkan Ke KPU (19/10/2024) Ketum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan para kader militan dan simpatisannya, juga TPN Ganjar Presiden, masih punya sisa keyakinan bahwa Jokowi adalah kader terbaik PDI Perjuangan yang sepenuhnya mendukung Ganjar Pranowo.

Sisa keyakinan tersebut pasti akan sirna, manakala Gibran benar-benar menjadi Cawapres Prabowo, dan Kaesang membawa gerbong PSI mendukung Prabowo, dan/atau Jokowi menyatakan dukungan kepada Prabowo. Dan, sebagai konsekuensi di mata sebagian besar rakyat, nama harum Jokowi akan runtuh. Kiranya Jokowi tersadar sehingga nama harumnya masih tetap berkibar.

Catatan Kilas Ch. Robin Simanullang

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini