Memberantas Mafia Peradilan

[BERITA TOKOH] – MAFIA HUKUM – Aparat penegak hukum dan masyarakat sama-sama memiliki tanggung jawab moral dalam memberantas mafia peradilan.
Ketika ditanyakan bagaimana memberantas mafia peradilan? Jaksa Agung Muda Intelijen Edwin Pamimpin Situmorang mengatakan, dari pengalamannya berkarir di kejaksaan bahwa sumber utama penyebab adalah masyarakat yang bermasalah hukum itu sendiri.
Dalam percakapannya kepada TokohIndonesia.com beberapa waktu lalu di kantor Kejaksaan Agung Jl. Hasanuddin No. 1, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (27/3/2012), Edwin juga mengatakan, sebenarnya mafia peradilan itu adalah istilah yang tidak resmi yang terlanjur menjadi populer.
Walau demikian, Edwin mengatakan, tidak bisa dimungkiri bahwa memang terjadi penyimpangan akibat ulah segelintir pelaku-pelaku aparat penegak hukum. Aparat penegak hukum itu siapa? polisi, jaksa, hakim, penasehat hukum dan petugas LP. Kira-kira begitu kan? Ini yang saling bermain.
Status sosial kita sekarang ini bukan lagi dilihat dari pendidikan tapi dilihat dari duit.
Tapi sebenarnya menurut Edwin yang lebih berperan lagi, masyarakat sendiri yang terkena masalah hukum. Ia melihat sumber pertama dari sana. “Rasanya dari pengalaman saya, itu justru inisiatif pertama itu dari sana (masyarakat) menggoda untuk melakukan itu. Ini sebenarnya yang harus kita tanggulangi bersama,” kata pria kelahiran 6 Oktober 1952 ini.
Namun biar bagaimanapun, menurut Edwin, aparat penegak hukum diberikan suatu kepercayaan dan tanggung jawab yang besar. Itu wajib harus (dipertanggungjawabkan). “Apapun itu tidak boleh alasan, saya terpakso kata orang Padang itu, karena gajinya kecil. Pada akhirnya datang iming-iming begini, saya tergoda, banyak kebutuhan. Anak-anak sekolah dan segala macam,” tegas Edwin bahwa hal itu tidak bisa menjadi alasan.
Walaupun Edwin mengakui, betapa masih kecilnya dulu gaji yang diterima (aparat penegak hukum) itu. Tetapi sejak awal seharusnya sudah mempersiapkan diri, untuk mau bersakit-sakit dulu.
Ia melihat permasalahan yang dihadapi aparat penegak hukum saat ini adalah masalah keterpurukan dan kemerosotan moral. Maka untuk mengubah hal itu, pertama memerlukan teladan dari pemimpin. “Terapi yang paling mujarab itu adalah keteladanan dari figur pemimpin, harus dimulai dari atas. Harus dari atas menunjukkan, bahwa inilah hal yang baik yang harus dilakukan. Tapi ketika dari atas sudah mulai melakukan tari serampang 12 maka anak buah itu bukan tari serampang 12, tari serampang 24, langsung dua kali lipat. Nah begitu, melihat kepemimpinan,” kata Edwin lagi.
Kemudian harus ada sistem kontrol yang ketat dan sistem reward dan punishment yang benar yang harus dibenahi. Menurutnya setiap kesalahan harus mendapat hukuman dan bisa juga akibat ketidakpuasaan terhadap karir kepegawaiannya kemudian tergoda untuk melakukan hal yang menyimpang.
Hal-hal seperti itu menurut Edwin sangat perlu diperhatikan. “Saya pikir kalau orang sudah terpuaskan, bahwa dia bisa berkarir dengan baik maka akan terjaga integritasnya untuk melakukan hal-hal yang demikian,” ujar Edwin Pamimpin.
Namun semua itu tidak akan dapat berjalan dengan baik, butuh peranan dari berbagai pihak untuk bahu membahu memperbaiki, baik aparat dan masyarakat. “Tidak boleh hanya satu, tapi keseluruhan, harus bersinergi, ” katanya.
Begitu juga masyarakat yang bermasalah hukum ketika menjadi pesakitan akan berusaha dengan segala cara upaya untuk menghindar dari sanksi hukum. “Ini yang tidak boleh, bagaimana kita menanggulangi ini. Jadi sebenarnya bukan lagi hanya moral dari penegak hukum, tapi masyarakat itu juga harus merasa ada tanggungjawab moral itu,” kata Deputi Menkopolhukam Bidang Hukum dan HAM, 2008 ini.
Sementara mengenai masalah korupsi yang makin marak terjadi, menurut Edwin itu terjadi karena adanya perubahan pandangan dalam masyarakat. Ia mencontohkan jika dulu orangtua berjuang mati-matian untuk menyekolahkan anaknya agar berpendidikan, namun sekarang sudah terbalik. “Ngapain kau Ucok sekolah tinggi jadi sarjana, S2, S3, Profesor, tapi tak bisa kau makan. Lihat si Polan sana, hanya tamatan SMA, mobilnya dua, tiga, enak dia hidupnya,” kata Edwin menjelaskan.
Menurutnya segala sesuatu telah diukur dengan materi. Dan materi ini jugalah yang membuat orang seperti kata orang Batak mardebatahon hepeng (menuhankan uang). “Jadi status sosial kita sekarang ini bukan lagi dilihat dari pendidikan tapi dilihat dari duit,” kata Edwin menjelaskan mengapa orang-orang berlomba-lomba mencari uang. Berita TokohIndonesia.com | hotsan