Akselerasi Transformasi dan Kepemimpinan UI

[ Gumilar R Somantri ]
 
0
589

03 | Berpikir di Luar Kotak

Gumilar R Somantri
Gumilar R Somantri

Akhir Juni lalu Prof Dr Gumilar Rusliwa Somantri (44) menerbitkan dua buku sekaligus, “Transformasi Pendidikan Tinggi di Era Knowledge Based Society: Studi Kasus Universitas Indonesia” (170 halaman) dan “Transformasi Perguruan Tinggi Berbasis Riset dan Berdaya-Usaha: Catatan Pengalaman FISIP UI 2002-2006” (96 halaman). Ia mengubah FISIP UI sejak jadi dekan tahun 2002 berkat kepemimpinan “berpikir di luar kotak” atau “thinking out of the box”.

Buku Transformasi persembahan lengkap untuk mengawal perubahan Universitas Indonesia (UI) jadi universitas riset dan berkewirausahaan. Gumilar sering menyebut “turbulensi” sebagai kata kunci untuk menggambarkan proses transformasi itu.

“Dukungan dana dari pemerintah turun seiring dengan otonomi pendidikan. Biaya pendidikan meningkat dan globalisasi serta kompetisi juga terus naik. Pasar juga butuh pelayanan pendidikan tinggi yang lebih baik. Inilah tantangannya,” kata Gumilar tentang bukunya.

Mau tak mau pengelolaan universitas harus lebih profesional dan itu sudah dibuktikan Gumilar lewat buku Catatan Pengalaman FISIP UI. Ia tak membusungkan dada karena bukti sudah terlalu banyak. “Kata orang, FISIP UI maju pesat. Harus diakui kami paling rapi dalam implementasi administrasi akademik dan non-akademik. Bahkan, kami pelopor di ASEAN yang mengenalkan sabatical leave dengan orientasi acedemic-contagion-effect yang sangat berorientasi keilmuan,” ujarnya dengan menyebut contoh sosiolog Dr Robert Lawang dan pengajar ilmu politik Dr Makmur Keliat sebagai contoh.

Kedua buku saling baku kait, melengkapi, dan terprogram dengan berbagai solusi konkret. Pertama, Gumilar menawarkan kepemimpinan di fakultas yang memiliki keunikan karena keberagaman ilmu (sosial, politik, administrasi, komunikasi, kriminologi, dan lain-lain) ke tingkat universitas.

“Kini zamannya ilmu-ilmu sosial dan politik. Setiap fakultas telah mempunyai sistem serupa, tinggal dikonvergensikan dengan kepemimpinan yang mengandalkan keberagaman,” katanya.

Kedua, keberagaman disiplin ilmu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) tentu akan membentuk inkorporasi yang lebih padu. “Ini masalah capacity building. Contohnya fitur-fitur telepon genggam yang tak ada artinya jika berdiri sendiri-sendiri. Namun, kalau disajikan bersamaan, telepon genggam menjadi benda yang meledakkan perubahan besar,” katanya.

Ketiga, di kedua buku itu Gumilar banyak bercerita tentang good governance sebagai satu-satunya opsi dalam pengelolaan universitas sebagai lembaga pendidikan. “Tak bisa lain, good governance telah menjadi tuntutan wajar. Masalah tinggal bagaimana setiap fakultas dan juga universitas bersama-sama mengubah UI dari good menjadi great,” tambahnya.

Gumilar ditunjuk jadi ketua Panitia Pengarah Hari Lahir Pancasila yang menghadirkan 600 intelektual dan tokoh dalam “Seminar Pancasila” tahun 2006. Acara itu dilanjutkan dengan pembacaan “Maklumat Keindonesiaan” dan pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 1 Juni di Jakarta yang dihadiri sekitar 3.500 tokoh.

“Itu prakarsa bersama-sama yang dimulai karena kegalauan kami terhadap anggapan bahwa Pancasila itu salah. Padahal, ia merupakan nilai-nilai inti dari kehidupan kebangsaan kita,” ujarnya.

Advertisement

Di kalangan alumni ia dijuluki “The Green Dean” (Dekan Peduli Alam) karena kehirauan dia pada pelestarian lingkungan. Ia kolektor berbagai jenis ikan, aneka unggas, dan beragam tanaman. Kampus ia sulap menjadi taman asri yang membuat betah dosen, karyawan, serta mahasiswa. Ia memang lahir sampai jadi siswa di daerah Bumi Priangan.

“Ayah orang India alias Indhiang, kota kecil di Tasikmalaya. Ibu asli Turki alias Turunan Kidul, di Tasik Selatan,” kata Gumilar tertawa lepas.

Berpikir di Luar kotak
Sebagai dekan ia percaya pada moto “berpikir di luar kotak” alias artinya “tidak mau biasa”. Kampus yang jadi tempat sekitar 8.000 mahasiswa belajar kini bak hotel berbintang lima. Karyawan wajib berseragam, tetapi gaji mereka naik rata-rata 20 persen per tahun. Gaji dosen inti rata-rata Rp 9 juta per bulan (di luar gaji PNS) berkat kas fakultas yang terbesar kedua di UIโ€”sekitar Rp 30 miliar per tahun.

Di kampus ada restoran masakan Korea, toko IT (information technology), toko suvenir, toko buku internasional, atau kantin yang menampung 20 pedagang kaki lima. Dari parkir motor saja FISIP UI mendapat penghasilan tambahan sekitar Rp 200 juta. FISIP terpilih sebagai kampus tebersih dan terindah UI, merebut Piala Rektor dalam lomba yang pertama kali diadakan tahun 2006.

Rasa mewah terasa di Miriam Budiardjo Resource Center atau Selo Soemardjan Research Center yang sudah empat tahun ber-“Wi-Fi”. Ruang kerja staf pengajar layaknya kantor eksekutif perusahaan raksasa yang bertebaran di Jalan Sudirman, Jakarta. Perpustakaannya lengkap dan dikunjungi 700-1.000 orang per hari.

Gumilar memelopori terselenggaranya Research Days yang di UI pertama kali diadakan FISIP tahun 2004. Waktu penyelenggaraan tahun 2006 dipresentasikan 200 karya ilmiah. Kesempatan itu juga dimanfaatkan jadi ajang pertemuan perdana dekan FISIP se-Indonesia dan berbagai kegiatan ilmiah domestik serta internasional lainnya. UI pun tak mau kalah dan akan menyelenggarakan Gelar Ilmu tanggal 29 Juli mendatang.

“Semua dekan, termasuk almarhum Pak Selo Soemardjan, almarhumah Ibu Miriam Budiardjo, atau Pak Juwono Sudarsono, sampai Pak Martani Huseini adalah para pelopor dengan cara masing-masing. Insya Allah saya hanya meneruskan saja,” ujar pria kelahiran 11 Maret 1963 ini. “Saya memakai pola ‘berpikir di luar kotak’ untuk memotong lingkaran setan. Bagi FISIP yang terpenting memperbaiki infrastruktur dulu, baru fokus ke berbagai upaya mencapai academic excellence,” ujar mantan ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah saat sekolah menengah atas (SMA) di Tasikmalaya itu.

Bagi sebagian orang ia mengganggu “harmoni”. “Saya banyak belajar mengendalikan perasaan dengan memasukkan rasionalitas dalam menilai keadaan. Akselerasi membutuhkan toleransi agar perubahan yang cepat juga menimbang cermat kondisi riil. Cara berpikir di luar kotak tak mudah dimengerti orang, saya juga selalu memeriksa kelemahan-kelemahan saya,” kata doktor lulusan Fakultas Sosiologi, Universitas Bielefeld, Jerman, itu.

Metafora Pulang Kampung
Gumilar adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara, sekaligus anak lelaki tertua. “Saya diwajibkan Ayah lari pagi dan memberi makan ikan di kolam dekat sawah. Lari pagi untuk kesehatan diri dan kasih makan ikan untuk tambahan uang sekolah. Setelah itu, baru sekolah,” kenangnya.

Ayahnya guru lulusan sarjana muda dan menjadi kepala sekolah dasar. “Tak heran jika kami anak-anak wajib punya rapor bagus. Kalau rapor jelek, itu aib bagi keluarga. Ayah saya juga mengerjakan lahan tanaman sayur dan buah, sama dengan penduduk kampung lainnya. Ia menanam jeruk dan nanas. Ia pernah bergabung dengan Tentara Pelajar TNI AL, tetapi memutuskan menjadi pendidik.

Jejak sang ayah yang telah membangkitkan keinginan Gumilar ikut-ikutan menjadi guru walau pernah terobsesi jadi jenderal atau dokter. “Kenapa jenderal? Sebab Ayah suka cerita tentang tokoh-tokoh pergerakan nasional yang mimpin. Saya kagum kepada dokter karena mengobati orang sakit. Sederhana kan?” katanya sambil tertawa renyah.

Sang ayah satu-satunya orang desa yang berlangganan koran. “Kami langsung tahu informasi apa yang terjadi di luar desa. Selain koran, sumber lainnya radio yang selalu memancarkan warta berita RRI Jakarta,” katanya lagi.

“Ada prinsip yang selalu saya ingat hingga kini. Kami tujuh bersaudara dididik mengatasi rasa malas dan malu. Malas membuat kami tidak mau berusaha, maunya dapat hasil besar tanpa berkeringat. Bagi saya itu tidak adil dan dalam agama tidaklah halal mendapatkan sesuatu tanpa berkeringat. Rasa malu juga membuat kita enggan bertanya, padahal banyak yang kita tak tahu dalam hidup ini,” tuturnya.

Dengan bekal dua pesan penting inilah Gumilar tetap gembira meski ketika sekolah di sekolah menengah pertama (SMP) harus menempuh jarak lima kilometer (km) dari desa. Begitu juga ketika harus melanjutkan sekolah di SMA Negeri Ciawi, Tasikmalaya. Jaraknya sekitar 40 km dari desa. “Makanya, saya indekos di rumah kerabat di kota kawedanan tersebut. Seminggu sekali saya pulang dengan bus antarkota. Turun dari bus, belum langsung tiba di rumah, jalan kaki lagi dua jam. Karena jadwal sekolah sore hari, acara ‘pulang kampung’ itu saya lakukan menjelang magrib. Tak heran baru tiba di rumah sekitar jam sembilan malam,” kenang dia.

Perjalanan ini sering kali terasa melelahkan, meskipun ia tidak sendirian karena ada teman-teman sekampung. Namun, tak jarang kaki terantuk batu di jalan terjal dan gelap. Itu sebabnya ia senang sekali kalau sedang bulan purnama, jalan agak terang.

Metafora “pulang kampung” bersama teman di bawah temaram Bulan menghindari jalan terjal dan gelap inilah yang membentuk kepribadian Gumilar memimpin FISIP UI. Ia selalu ingin bersama-sama mengerjakan apa pun, enggan meninggalkan dosen, karyawan, maupun mahasiswa yang dia asuh nun di belakang sana. e-ti, Kompas, budiarto shambazy, imam prihadiyoko

Data Singkat
Gumilar R Somantri, Rektor Universitas Indonesia (UI) 2007-2011 / Akselerasi Transformasi dan Kepemimpinan UI | Ensiklopedi | Guru Besar, Rektor, UI, ahli, penulis, Dekan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here