Memasak dengan Cinta

[ Sisca Soewitomo ]
 
0
246
Sisca Soewitomo
Sisca Soewitomo | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Wajahnya mulai akrab di mata pemirsa saat membawakan acara memasak di sebuah stasiun televisi pada tahun 90-an. Berkat kepiawaiannya meramu masakan, banyak ibu rumah tangga terinspirasi untuk menjadi koki di dapurnya sendiri. Dedikasinya pada dunia memasak ditandai dengan puluhan buku, ribuan demo masak, dan sejumlah murid yang kini telah menjadi chef terkenal.

Perkembangan dunia kuliner di Tanah Air beberapa tahun belakangan ini makin menunjukkan geliatnya. Hal tersebut ditandai dengan merebaknya program acara kuliner di layar kaca. Jika dulu program-program semacam itu lebih banyak dibawakan ibu paruh baya, kini, lebih banyak diisi oleh para chef muda. Sebut saja, Farah Quinn, Ririn Marinka, dan Rima Melati Adams. Usia muda ditunjang dengan penampilan yang menarik dinilai mampu membuat acara masak memasak menjadi lebih menghibur.

Menurut Sisca Soewitomo, kecantikan atau ketampanan wajah chef hanya sekadar pemanis dalam dunia masak. Karena baginya yang membuat seorang chef diinginkan atau tidak adalah kemampuannya. Sisca memang tidak hanya bicara saja. Di tengah serbuan para chef muda nan rupawan itu, ia masih terus berkiprah di dunia kuliner yang membesarkan namanya. Wajah ibu tiga anak ini telah menyapa pemirsa televisi di tahun 90-an. Program demo masak bertajuk Aroma yang saat itu disiarkan di Indosiar setiap akhir pekan selalu menjadi tayangan yang ditunggu-tunggu para ibu dan remaja putri.

Selama hampir 12 tahun, setiap pagi di akhir pekan, Sisca menyapa para penggemar setianya dan memperkenalkan resep dari berbagai masakan. Senyuman khas dan gaya bicaranya yang santun menjadi penyemangat kaum ibu untuk belajar memasak. Sejak itu nama wanita kelahiran Surabaya, 8 April 1949 ini semakin naik daun. Terlebih di masa itu belum banyak ahli kuliner di Indonesia yang menjadi figur publik. Kini, meskipun sudah tak lagi tayang sejak beberapa tahun lalu, acara demo masak itu kembali diputar ulang.

Kendati sudah tak lagi disibukkan dengan jadwal syuting program televisi tersebut, Sisca masih mengisi kesehariannya dengan berbagai kegiatan di dunia tata boga. Ia kerap mendapat undangan dari berbagai daerah di Nusantara untuk memamerkan kebolehannya meracik masakan. Jika sedang tidak disibukkan dengan kegiatan demo masak, Sisca menggunakan waktu luangnya untuk menulis buku. Hingga saat ini, Sisca berhasil merilis puluhan buku kumpulan resep. Bahkan, 10 buku diantaranya dibeli hak ciptanya oleh penerbit Malaysia dan diterbitkan di sana dalam bahasa Melayu. Dalam meramu resep, Sisca mengaku mendapatkan ide dari ilmu dasarnya, yaitu bumbu. Apalagi Indonesia kaya akan bumbu yang bisa diramu menjadi ribuan resep. Yang penting, ada keseimbangan bahan baku dalam satu resep.

Di sela-sela kegiatan itu, Sisca masih sempat mengurus restorannya, Dapur Enak Sisca Soewitomo di Mal Kelapa Gading, lakarta Utara. Sesekali ia juga menyapa para pelanggan yang berkunjung di tempat makan yang menyediakan beragam masakan Indonesia itu. Menurutnya, sebagai chef, ia tidak boleh hanya memasak makanan namun juga harus tahu keinginan masyarakat. Hal itu juga menjadi salah satu kunci yang membuatnya masih diinginkan untuk tampil dalam khazanah kuliner Tanah Air.

Kecintaan pemilik nama lengkap Sis Cartica Soewitomo ini pada kegiatan masak memasak sudah dimulai sejak kecil. Sisca lahir dari pasangan berdarah ningrat yakni Rp. Tjipto Soemirat, seorang pegawai di kantor Bea dan Cukai di Surabaya sementara ibunya Rr. Chrysantini Slamet Condokaryono, ibu rumah tangga yang selain sibuk dengan aktivitas di dalam rumah, juga membantu penghasilan keluarga dengan membuat usaha katering kecil-kecilan. Dari ibundanyalah, Sisca kemudian mengenal dunia kuliner. Sejak masih kecil, sulung dari lima bersaudara ini kerap membantu ibunya dalam menyiapkan beragam penganan, terutama menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Diakuinya, sang ibu memang sangat pintar memasak, begitu juga dengan neneknya, mulai dari membuat masakan rumah hingga kue-kue ringan. Saat usianya baru menginjak 4 tahun, ia sudah terjun ke dapur membantu sang nenek membuat kue kastengel. Dari situ, Sisca yang sejak kecil tergolong doyan makan ini mulai merasa penasaran tentang bagaimana meramu masakan agar terasa enak.

Lahir dan dibesarkan di sebuah keluarga yang mengedepankan kedisiplinan khas budaya Jawa, membuat Sisca sudah terbiasa dengan berbagai aturan. Misalnya saja setiap makan, seluruh anggota keluarganya harus berkumpul di meja makan, makan pun harus selalu dihabiskan. Sebagai anak sulung, Sisca juga diharuskan selalu memberi contoh pada keempat adiknya agar selalu disiplin dalam berbagai hal.

Meski orangtuanya berkecukupan, Sisca dan keempat saudaranya tak pernah diberikan uang jajan sejak SD hingga SMP. Sebagai gantinya, mereka semua diharuskan membawa bekal dari rumah. Agar punya tambahan uang saku, saat menginjak SMP, Sisca mulai membuat kue untuk dijual. Kue-kue yang ia buat saat itu antara lain kue sus, roti, dan bolu kukus. Setiap hari, kue buatannya dijajakan keliling kampung oleh pembantunya. Meski sibuk membuat kue bukan berarti ia lupa belajar, terlebih sang ayah amat menekankan pentingnya pendidikan. Selain itu, ayah Sisca juga mengharuskan semua anak-anaknya untuk gemar membaca buku.

Menjelang remaja, Sisca diharuskan ayahnya agar dapat menyetir mobil sendiri. Selain mengajarkan kedisiplinan dan kemandirian, ayah Sisca juga sangat ketat dalam membatasi pergaulan kelima anaknya terutama dengan lawan jenis. Akibat aturan yang terlalu keras itu, Sisca pernah merasa sebal dan sedikit terkekang, namun di kemudian hari ia merasa bersyukur karena berkat didikan sang ayahlah, ia bisa menjadi seperti sekarang.

Sisca yang menghabiskan masa kecil dan remajanya di Surabaya ini kemudian pindah ke Jakarta setelah menamatkan pendidikannya di SMAN 4 Surabaya mengikuti ayahnya yang dipindahtugaskan. Sisca kemudian melanjutkan kuliahnya di ibukota dan mendaftar di fakultas kedokteran, Universitas Trisakti. Menjadi dokter memang menjadi impiannya sejak kecil.

Di masa-masa awal kuliahnya, ia diperkenalkan pada Soewitomo Soeleiman, pria asal Surabaya yang menetap dan bekerja di Jakarta. Tak lama setelah perkenalan itu, tepatnya pada tahun 1969, di usia yang masih relatif muda yakni 21 tahun, Sisca memutuskan untuk menyudahi masa lajangnya meski ketika itu kuliahnya baru menginjak tahun kedua. Keputusan untuk menikah muda dipilih Sisca bukan tanpa pertimbangan sama sekali. Menurutnya, meski telah menikah dan memiliki anak, ia masih dapat berkarya.

Setelah menikah, Sisca mulai berpikir untuk mengembangkan kemampuannya agar dapat memiliki penghasilan sendiri. Ia pun kemudian memutuskan untuk berhenti kuliah dan mencari sekolah yang lebih cepat menghasilkan dan bisa membuatnya maju dalam berkarir. Apalagi, tak lama setelah menikah, ia langsung dikaruniai momongan. Sisca kemudian mendaftar dan diterima di dua jurusan sekaligus, yaitu Seni Rupa dan Perhotelan di Akademi Trisakti. Namun akhirnya ia memilih Perhotelan lantaran ingin mengembangkan hobi memasaknya yang telah terlihat sejak masih balita.

Sisca percaya, memasak itu seharusnya disertai dengan perasaan cinta. Dengan begitu, segala sesuatunya akan lebih terasa indah. Ia memberi contoh, seorang ibu akan memasak seenak mungkin agar anak-anaknya suka karena ada perasaan kasih sayang dan cinta.

Sambil menimba ilmu di bangku kuliah, Sisca mulai bekerja. Awalnya, ia bekerja sebagai field personnel alias pekerja lapangan di acara PATA (Pacific Asia Travel Association) Conference yang diadakan di Indonesia pada 1974 selama dua minggu. Salah satu syaratnya, bisa berbahasa Inggris. Kebiasaan membaca buku berbahasa Inggris yang ditanamkan ayahnya sejak kecil menjadi terasa manfaatnya. Sisca dengan mudah memenuhi persyaratan dan mengikuti pelatihan selama enam bulan.

Selain itu, ia sempat magang dan bekerja paruh waktu di beberapa hotel, termasuk Hotel Hilton yang belakangan menawarkannya pekerjaan namun kemudian ditampiknya. Setelah lulus kuliah di tahun 1976, Sisca sempat menjadi asisten dosen hingga kemudian diangkat menjadi dosen di almamaternya. Bahkan pada tahun 1980, karena kecerdasannya, Sisca mendapatkan beasiswa untuk mendalami ilmu kuliner di China Baking School, Taiwan. Tiga tahun berselang, penyuka tokoh kartun Mickey Mouse ini juga berhasil mendapatkan beasiswa untuk menempuh pendidikan di American Institute of Baking, Manhattan, Amerika Serikat. Selama itu, ia terpaksa meninggalkan ketiga anaknya di Jakarta bersama suami. Namun, ia yakin, kalau hati tenang, anak-anak juga akan tenang.

Begitu kembali ke Tanah Air, Sisca diangkat menjadi dosen senior merangkap Kepala Bagian Humas dan Kepala Bagian Pengabdian Masyarakat. Selama menjadi dosen, Sisca sudah banyak melakukan penyuluhan di depan ribuan orang. Ia bahkan beberapa kali dipanggil Ibu Tien Soeharto untuk membuat resep tempe sekaligus memopulerkan makanan tersebut masuk ke hotel. Sisca juga pernah mendapat kepercayaan untuk menjadi koordinator program roti masuk desa. Saat itu, Presiden Soeharto mencanangkan penganekaragaman makanan selain beras, di antaranya mi dan roti. Dengan dibantu timnya yang terdiri dari para mahasiswa, jadilah Sisca berkeliling ke berbagai daerah melakukan penyuluhan dan demo. Selama kurun waktu itu, hampir 500 kali demo masak ia lakukan. Banyak muridnya yang kini telah menjadi chef terkenal, antara lain Tatang, Rudy Choiruddin, Deddy Rustandi, dan Haryanto Makmoer.

Sisca menjadi dosen hingga tahun 1991. Setelah itu, ia bekerja di sebuah majalah wanita hingga 1995. Kemudian ia pindah ke pabrik makanan beku dan menjabat sebagai Product Development Manager yang bertugas membuat formula resep antara lain nugget dan dimsum.

Lantaran sering membawakan demo masak ke berbagai daerah saat menjadi dosen dulu, tahun 1997, Sisca mendapat tawaran untuk membawakan acara demo masak di Indosiar bertajuk Aroma. Sejak itu, namanya mulai naik daun sebagai presenter acara memasak di televisi. Tahun 1999, Sisca kembali mendapat tawaran, kali ini dari tabloid Nova untuk berbagi ilmu memasak pada ibu-ibu di seluruh Indonesia.

Saat karirnya mulai meroket di tahun 2003, Sisca harus merelakan kepergian sang suami menghadap Ilahi karena penyakit jantung di usianya yang akan menginjak 60 tahun. Kala itu, Sisca tengah bersiap-siap berangkat memberikan demo masak. Sedangkan sang suami, tengah bersantai di atas tempat tidur selepas mandi. Tanpa memberikan pertanda sebelumnya, ia lantas meregang nyawa seketika tepat di atas tempat tidur. Kepergian Soewitomo secara tiba-tiba sempat membuat Sisca tenggelam dalam kesedihan. Kehilangan suami yang sangat dicintainya tersebut menjadi pukulan terberat dalam langkah hidup Sisca. Pasalnya, Sisca menganggap bahwa peran sang suami sangatlah besar dalam karirnya di bidang kuliner. Namun lambat laun, Sisca berusaha untuk tegar dan menganggapnya sebagai kenyataan yang memang menjadi takdir sang Khalik. Sisca pun kembali merangkai hidup dan karirnya tanpa kehadiran sang suami.

Meski merasa kehilangan yang teramat dalam, ibu tiga anak ini merasa bangga karena pernikahannya yang telah berjalan selama hampir 34 tahun hanya mampu dipisahkan oleh kematian. Kini, meski tanpa pendamping hidup, ia justru merasa tertantang untuk terus berkarya di dunia kuliner, meramu berbagai resep masakan terbaru bagi kaum ibu di Indonesia.

Sisca percaya, memasak itu seharusnya disertai dengan perasaan cinta. Dengan begitu, segala sesuatunya akan lebih terasa indah. Ia memberi contoh, seorang ibu akan memasak seenak mungkin agar anak-anaknya suka karena ada perasaan kasih sayang dan cinta. Menurutnya pula, rasa masakan itu enak karena adanya kebiasaan. Baginya, tidak ada wanita yang tidak bisa memasak.Ia sendiri mengaku tidak pintar memasak. “Saya juga masih belajar memasak,” ujar wanita yang logat Jawanya masih kental ini merendah.

Baginya, berbagi ilmu dapur sangatlah menyenangkan. Karena dengan begitu, ia merasa dekat dengan ibu-ibu di seluruh Indonesia. Sisca juga mengaku tak punya rahasia, ia ikhlas berbagi ilmu dan resep kepada para penggemarnya. Terlebih sebagai orang beragama, Sisca percaya bahwa rezeki sudah ada yang mengatur. Ia justru terharu bila ilmu yang dibagikan bermanfaat bagi orang lain. Tak jarang, ibu-ibu yang datang di demo masaknya mengatakan, mereka berhasil mendapat penghasilan tambahan dari berjualan makanan berdasarkan resep yang pernah ia bagikan. Di samping itu, ia juga memikirkan anak-anak yang perlu mendapat sajian keluarga yang berkualitas. Nah, tanggung jawab untuk menyediakan masakan ada di pundak para ibu.

Yang menarik, Sisca tak hanya pernah melakukan demo masak di depan ibu-ibu atau pejabat, tapi juga keluarga Kapak Merah yang terkenal sebagai pelaku kriminal. Meski demikian, demo masak yang saat itu disponsori World Food Organization, sebuah lembaga makanan internasional, dikerjakan Sisca secara profesional, ia tak pernah pandang bulu. Karena Sisca menganggap, bagaimana pun, mereka juga punya anak-anak yang harus diberi makan. Saat itu, ia membawakan resep Bubur Ceker Ayam, masakan yang bergizi tapi murah sehingga tetap terjangkau. Usai berdemo, semua perlengkapan yang dibawanya kecuali kompor menjadi rebutan warga. Lucunya lagi, menjelang pulang, mereka berpesan agar ia melapor kepada mereka jika sewaktu-waktu ada yang menodong di perempatan lampu merah.

Di sela-sela kesibukannya, Sisca masih menyempatkan waktu luang bersama keluarga. Ketiga anaknya, Deddy Mulyawan, Novia Rizkihadiyanti, dan Heygar Soewitomo selalu setia menemani di setiap waktu luangnya. Terlebih lagi dengan kehadiran para cucu, hidup Sisca pun semakin berwarna. Seperti diakuinya, walaupun tidak menuntut semua anak dan menantunya pintar memasak, hampir semua anaknya bisa memasak. Jika hari libur tiba, pasti semua anak dan cucunya akan berkumpul di kediamannya yang luas dan asri di daerah Pancoran, Jakarta Selatan.

Kendati usianya telah melampaui separuh abad, Sisca masih terlihat awet muda padahal ia mengaku tidak mengkonsumsi suplemen khusus. Hanya saja, menurut wanita yang telah menunaikan ibadah haji di tahun 2006 ini, ia selalu membatasi jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsinya. Selain itu, lantaran mengidap penyakit darah tinggi dan diabetes yang diturunkan kedua orang tuanya, Sisca amat menghindari daging kambing untuk dimakannya.

Tak hanya itu, yang terpenting, wajah harus sering-sering terkena air wudhu. Menurutnya, dengan sering membasuh wajah dengan air wudhu, ia yakin wajah akan terasa lebih segar dan awet muda ketimbang usianya. Yang terakhir jangan lupa untuk selalu mensyukuri apa yang kita dapat. Baginya, dengan selalu bersyukur, otomatis akan selalu berpikir positif terhadap berbagai hal. Hasilnya, wajah akan selalu segar.

Kecintaannya pada dunia kuliner membuat Sisca bertekad untuk tetap berkarya hingga akhir hidupnya. Meski begitu, bukan berarti ia memaksakan diri untuk terus bertahan. Selama ia masih mampu, ia akan terus memberikan yang terbaik. Sisca mengaku, sudah banyak tawaran untuk membuka restoran yang memanfaatkan namanya. Namun, ia menampik tawaran tersebut karena merasa tidak sanggup menanganinya. Menurut Sisca, setiap pekerjaan yang tidak bisa ditangani dengan baik akan memberikan hasil yang tidak maksimal. Karena itu, ia memilih melepasnya daripada mengecewakan orang yang memercayainya. muli, red

Data Singkat
Sisca Soewitomo, Ahli Tata Boga / Memasak dengan Cinta | Direktori | makanan, Chef, kuliner, koki, Universitas Trisakti, masakan, memasak

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here