Pemburu Arsip Sejarah

[ Ichwan Azhari ]
 
0
77
Ichwan Azhari
Ichwan Azhari | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Selama tujuh tahun di Eropa, Ichwan Azhari memburu arsip sejarah Nusantara di berbagai perpustakaan dan kampus, terutama di Jerman dan Belanda. Pendiri Pustaka Humaniora (Pusra) kelahiran Medan 16 November 1961, itu juga menemui para misionaris yang pernah bertugas di Indonesia.

Pengembaraannya tak sia-sia, mengingat arsip lama sejarah Nusantara relatif tersimpan rapi di Eropa. Banyak dari arsip itu masih utuh, sesuai aslinya. Sebagian hanya tinggal satu sehingga dia tak bisa mendapatkan aslinya.

Padahal, arsip-arsip langka itu sangat berharga bagi sejarah Indonesia. Beberapa arsip yang ditemukan Ichwan adalah surat kabar terbitan Indonesia (sebagian besar dari Sumatera Utara), peta lama, mata uang logam dan kertas, foto-foto, majalah, buletin, kartu pos, serta sejumlah piringan hitam.

Semua dokumen itu dia gandakan dan sebagian dia beli aslinya. Saat pulang ke Tanah Air tahun 2001, arsip yang didapatkan dari Eropa ikut serta. Sebagian orang sempat mencibirnya sebagai konyol lantaran jauh-jauh dari Eropa hanya membawa “barang rongsokan”.

Kini, kumpulan arsip itu menjadi koleksi utama Pustaka Humaniora (Pusra) yang didirikannya pada April 2006. Baginya, pengumpulan dokumen itu penting untuk menyibak sejarah Nusantara akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, terutama tentang Sumatera.

“Dari sini kita bisa tahu, ternyata pergerakan sejarah sebelum kemerdekaan tak hanya di Jawa, melainkan di berbagai penjuru Tanah Air, termasuk Sumatera,” kata suami dari Netty Herawati ini.

Koleksi Pusra yang didirikannya bertambah lengkap lantaran sumbangan kolega dan berbagai instansi pemerintah. Seluruh koleksi Pusra dikelompokkan menjadi tujuh golongan yang terdiri dari 3.399 jenis. Untuk arsip koran-koran lama, jumlah yang berhasil dia kumpulkan sebanyak 10.000 lembar.

Beberapa koleksi yang membanggakannya adalah koran- koran akhir pada abad-19 yang terbit di Sumatera Utara, prangko zaman revolusi, uang zaman revolusi, dan uang kebon. “Semua ini hanya berlaku di Sumut. Saya sudah cek beberapa museum tidak ada yang mengoleksi, terutama uang kebon dan koran lama,” katanya.

Ia mempunyai sekitar 1.800 lembar koleksi prangko dari zaman Belanda, Jepang, dan awal revolusi serta 1.500 lembar uang lama dan uang kebon.

“Awal November ini 6.500 koleksi buku, majalah, dan koran lama kami dipinjamkan untuk perpustakaan Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Unimed (Universitas Negeri Medan),” ujarnya.

Menggabungkan
Ichwan memperoleh sebagian besar arsip sejarah dari Jerman dan Belanda. Penggabungan seluruh arsip dari kedua negara itu menjadi kesatuan data sejarah yang saling melengkapi.

Setelah mempelajari sebagian besar arsip yang didapatkan, kata dia, perusahaan swasta Eropa di Sumatera Utara itu lebih dulu masuk daripada Pemerintah Belanda. Perkembangan ini sangat memengaruhi migrasi penduduk, konflik, kekejaman sistem kapitalisme, intelektualitas, serta dinamika sosial dan budaya masyarakat Sumut, khususnya Medan dan sekitarnya.

“Saya ingin membangun data selengkapnya tentang Sumut pada masa itu,” ucapnya. Untuk mewujudkan keinginan itulah, kesempatan mengajar dan belajar di Jerman 1995-2001 dimanfaatkannya guna mencari arsip-arsip pendukung.

Ichwan bercerita, suatu hari, pada masa studi doktoralnya di Jerman, ia mendapat tugas dari sang profesor menemui seorang pendeta yang pernah bertugas di Tapanuli Utara bernama Kawinsky. Melalui pendeta itu, dia tahu bahwa banyak misionaris Jerman yang menyimpan foto, dan tulisan berharga pada akhir abad-19 sampai awal abad-20 tentang Sumut.

Di Jerman terdapat lembaga misionaris terkenal di Wuppertal yang menyimpan Arsip Nommensen dan surat-surat Si Singamangaraja XII. Arsip ini, kata dia, belum dibaca dan diteliti dengan kritis. Sementara di Belanda, Ichwan banyak mendapatkan arsip koran, foto, dan peta lama Sumut.

Berbekal arsip-arsip berharga itu, keinginan Ichwan membangun perpustakaan sendiri semakin kuat. Dalam benaknya, perpustakaan swasta seperti yang tumbuh subur di Jerman dan Belanda mestinya bisa berdiri di Medan.

“Sejarah kita mestinya kita juga yang memiliki dan merawatnya. Tetapi selama ini, justru orang lain yang jauh di sana, yang merawat dan memeliharanya sampai sekarang,” ujarnya.

Pendirian Pusra tak lepas dari aktivitasnya sebagai pengajar tamu di Jurusan Indonesia, Fakultas Orientalis, Universitas Hamburg, Jerman, tempat dia juga menyelesaikan studi S-3 tentang sejarah pada 1995-2001. Dari kegiatan itulah, dia bisa menyisihkan sebagian penghasilan untuk mengumpulkan arsip-arsip sejarah.

Mengontrak
Sekembali dari Jerman, Ichwan tinggal di rumah kontrakan di Medan. Uang yang dia peroleh selama mengajar dan mendapat beasiswa di Jerman nyaris habis untuk membeli berkas- berkas lama tentang Sumatera. “Itulah harta yang saya bawa dari Jerman.”

Belum sempat membuat perpustakaan, ia menyicil dengan menyusun dan mengelompokkan arsip-arsip tua tersebut. Pada tahap ini pula ia mendapat banyak masukan dan tambahan koleksi dari teman-teman di Medan.

Baru pada April 2006 perpustakaan Pusra berdiri dengan lima orang pengelola. Pusra menempati rumah sewaan di Jalan Tuasan 69 Medan, sekitar satu kilometer dari Kampus Universitas Negeri Medan (Unimed).

Pada tahun pertama beroperasi, tamu bisa menikmati perpustakaan secara gratis. Semua pengunjung boleh membaca, tapi tak bisa membawa pulang buku. Pusra menyediakan foto kopi bagi mereka yang ingin menggandakan koleksi penting.

Memasuki tahun kedua, April 2007, pengelolaan perpustakaan diperbaiki sebab ia kesulitan mencari biaya operasional. Selama itu biaya operasional perpustakaan ditutup dari koceknya. Maka, diberlakukanlah sistem keanggotaan. Mereka yang menjadi anggota Pusra dipungut iuran Rp 20.000 per enam bulan. Dana itu untuk perawatan koleksi perpustakaan dan honor lima karyawan.

Selama sekitar 12 tahun, sejak 1995, dana yang dikeluarkan Ichwan untuk Pusra tak kurang dari Rp 500 juta. “Itu hasil menyisihkan penghasilan selama bertahun-tahun juga ha-ha-ha.”

Pada perjalanannya, Pusra tak hanya menawarkan koleksinya untuk dibaca dan dipakai sebagai bahan penelitian, tetapi juga melayani penjualan buku “langka” atau buku yang jarang ditemukan di toko buku. Pusra pun berkembang menjadi komunitas, beberapa buku langka, seperti Tan Malaka di Medan, dicetak ulang. Pusra juga menjadi tempat diskusi para mahasiswa.

Pengunjung Pusra semakin ramai, jumlah anggota aktif 169 orang. Setiap hari tak kurang dari 30 pengunjung dari berbagai kalangan, mulai murid sekolah dasar sampai dosen, memenuhi rumah sewaan bertipe 70 itu. (ANDY RIZA HIDAYAT, Kompas 31/10/2007). ti

Data Singkat
Ichwan Azhari, Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial (Pussis) Unimed, 2007 / Pemburu Arsip Sejarah | Direktori | IPB, Dosen, sejarah, IKIP

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here