Penggemar dan Pakar Keris

[ Haryono Haryoguritno ]
 
0
477
Haryono Haryoguritno
Haryono Haryoguritno | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Mantan Ajudan Presiden Soekarno ini seorang penggemar keris, yang kemudian lebih kompeten digelari pakar keris!  Saking senangnya pada benda pusaka warisan nenek moyang itu, Ir. Haryono Haryoguritno rela menukar mobil Mercy-nya dengan keris. Hobinya terhadap keris, juga sempat membuat isterinya kaget, kesal dan cemburu. Betapa tidak? Jika dia sampai menimang-nimang kerisnya di tempat tidur.

Suatu kali, tahun 1978, isterinya Indreswari Radityani (insinyur sipil air lulusan ITB dan pengajar di Universitas Indonesia), sempat syok. Pasalnya, mantan ajudan presiden pertama RI, Soekarno (menggantikan Bambang Widjanarko, pada akhir tahun 1960-an) sepulang dari perjalanannya ke Solo, Jawa Tengah, mobil Mercy 280 S Tiger tahun 1972 warna putih miliknya ditukar dengan tiga bilah keris milik bangsawan Mangkunegaran.

Kala itu, Haryono mengaku sangat tengah tergila-gila keris. Sehingga saat melihat tiga bilah keris pusaka keraton itu, dia langsung jatuh cinta. Tiga keris pusaka yang digandrungi Haryono itu berdapur (model) Parungsari luk (berlekuk) 13 tangguh (masa pembuatan) Pajang, lalu keris luk 13 pamor Ron Genduru (pamor atau motif logam yang muncul di permukaan bilah seperti gambar blarak, daun kelapa) dan keris Tilamupih (dapur keris lurus, kinatah atau bertatahkan emas) berperabot intan milik bangsawan Solo itu. Salah satunya, Parungsari luk 13, masih dia simpan sebagai salah satu keris kesayangannya.

Isterinya juga pernah mencemburui keris kesayangan Haryono. Kala itu, sampai-sampai mertuanya terpaksa turut campur. Sang Mertua sempat menyita keris kesayangannya, yang rupanya memang indah. Keris itu berdapur Kalamisani (jenis dapur lurus) bikinan empu Brajasetika pada masa pemerintahan Raja Solo Paku Buwono (PB) IX.

Saking senangnya terhadap keris itu, Haryono sering membawa keris ini ke tempat tidur dan menimang-nimangnya di samping istrinya, seperti layaknya istri kedua. Karena itu, pantas saja isterinya kesal dan cemburu. Apalagi saat itu, mereka belum punya anak, padahal sudah lama menikah. “Bagaimana punya anak kalau saya malah ngelon (tidur bersama) keris?” ungkap Haryono berseloroh, sebagaimana ditulis Jimmy S Harianto (Kompas 27 Desember 2005).

Namun, sesuai perjalanan waktu, isterinya mulai memahami hobinya. Tidak pernah lagi terjadi konfrontasi dengan istri karena keris. Sang Isteri sudah bisa menerima hobinya, yang kini telah menjadi keahliannya. Bahkan, Indreswari sudah punya keris kesayangan pemberian suaminya. Sebuah keris bertatahkan emas hampir tiga perempat badan bilah. Sebilah keris yang terindah di antara puluhan bahkan ratusan koleksi keris Haryono.Pasangan ini dianugerahi dua putri dan menantikan kehadiran cucu kedua.

Dengan dorongan moril dari isterinya, Haryono Haryoguritno bahkan berhasil mengabadikan kecintaan dan pengetahuannya tentang keris dengan menulis buku berjudul Keris Jawa, Antara Mistik dan Nalar. Sebuah buku tebal dan mungkin terlengkap tentang pengetahuan keris. Buku yang disusun dari akumulasi pengetahuannya lebih dari 30 tahun tentang keris ini sudah naik cetak dan akan diluncurkan awal tahun 2006.

Haryono bersama timnya dari perkumpulan penggemar keris yang pernah dipimpinnya, Damartaji, pun berusaha meyakinkan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) agar keris Indonesia diakui dunia sebagai salah satu warisan budaya manusia yang harus dilestarikan.

Perjuangan ini berbuah. UNESCO, dalam sidangnya di Paris, 25 November 2005, mengakui keris Indonesia diakui dunia sebagai salah satu warisan budaya manusia yang harus dilestarikan, Oral and Intangible Heritage of Humanity.

UNESCO juga mengakui keris sebagai tradisi Indonesia yang masih mempunyai fungsi sosial di masyarakatnya, merupakan pula manifestasi seni unggul Indonesia, mempunyai falsafah hidup, di samping juga tak diingkari memiliki kandungan mistik. Menurut Haryono, keris tidak hanya diukur dari bendanya saja, tetapi juga nilai abstraknya sehingga muncul pengakuan (UNESCO) itu.

Semasa masih mahasiswa Jurusan Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB), Haryono penggemar bongkar-pasang motor Harley Davidson. Dia sendiri mengaku mulai mengalihkan hobinya dari Harley Davidson ke keris sepulang tugas dari Irian Barat pada masa Soekarno, ketika dia memegang pangkalan Angkatan Laut di Manokwari. Sepulang dari Irian, Haryono menjual Harley Davidson-nya yang ketiga bertahun 1952 saat pindah dari Surabaya ke Jakarta. Ketika pindah ke Jakarta, Haryono berusia 36 tahun dan belum menikah.

***TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Titik Singgung Wayang dan Keris

Dunia pewayangan tanpa sastra, karawitan, batik, candi, pertanian, falsafah, kesaktian dan keris tidaklah lengkap; dan juga tidak mungkin terwujud sebuah pakeliran yang agung. Peranan sastra dan karawitan sudah jelas, sedangkan unsur batiknya dimanifestasikan baik secara wantah maupun tergubah dalam pakaian wayang (wayang orang, golek dan kulit).

Lebih dari pada itu, bentuk manifestasi visuaInya pun masih dilengkapi lagi dengan narasi oleh Ki Dalang yang berupa janturan dan pocapon, antara lain berbunyi : punapa to busana nira Sang Noto ing Ngastina … dan seterusnya.

Arjuna dikenal sebagai pemakai kain batik berpola Limar Ketanggi, Yudistira dengan Limar Jobin, Kresna dengan Parang Modang, Werkudara dengan Poleng Bang Bintulu, Suyudana dengan Parang Barong, dan seterusnya.

Di dalam hal candi, usaha pemvisualisasian hanya dilakukan dengan memakai gunungan, yang sering dipakai untuk menggambarkan kayu, gunung, laut, mega, gapura, dan lain lainnya. Jadi dalam hal candi, usaha Ki Dalang dititikberatkan pada janturan, pocapan maupun kombangan; dan bahkan sempat pula tercipta lakon ‘mBangun Candhi Saptorenggo’.

Unsur pertanian berkaitan dengan pranata mangsa, ulu wetu, polo kesimpar, polo gumantung, polo kependhem, dan lain-lainnya (Gemah Ripah Loh Jinowi), sudah merupakan keharusan yang mutlak dalam janturan mengenai kemakmuran sebuah kerajaan atau asrinya sebuah pertapaan, juga seramnya atau ‘angker’nya sebuah hutan belantara, misaInya hutan Setra Ganda Mayit (Dhandhang Mangore).

Tidak ada adegan peperangan atau perkelahian dalam pewayangan yang tidak mengandung atau menampilkan unsur kesaktian. Kita selalu ingat akan Aji Norantaka dari Gatotkaca, Panglimunan-nya Arjuna, Wungkol Bener dari Bima, Panggoblakan dari Anoman, Pancasona-nya Rahwana dan lain-lainnya. Kesaktian-kesaktian atau aji tersebut di atas termanifestasikan dengan mantra dan atau olah semedi/raga tertentu.

Orang sakti menjadi kebal, ‘Unatah mendat jinara menter, ora tedhas topok paluning pandhe, sisaning gurinda, tilasing kikir’. Tahan panasnya api, bisa terbang, amblas bumi, menghilang, dan lain sebagainya. Kadang-kadang malah karena ulah lawan tandingnya sendiri, maka kesaktian tersebut dapat terwujud secara otomatis, misaInya aji Candha Birawa.

Senjata, jimat dan pusaka juga merupakan sumber kesaktian atau supremasi terhadap lawan tanding. Siapa yang tidak mengenal Jamus Kalimasada, Kembang Wijayakusuma, Cundha Mani, Gada Lukitasari atau Rujakpolo, dan lain sebagainya. Dan apabila kita bicara mengenai falsafah dalam dunia pewayangan, maka saratri daton badhe pendhot!

Keris Dalam Dunia Pewayangan
Sulit untuk mengatakan, manakah yang lebih beruntung, dunia pewayangan karena keris, ataukah dunia perkerisan karena wayang. Yang jelas, kedua-duanya merupakan puncak kebudayaan nasional, dan tak dapat dipisah-pisahkan satu sama lain.

Sayang, kawruh padhuwungan tidak begitu populer bagi para dalang, sehingga janturan-janturan mereka mengenai pusaka/keris seringkali menjadi ‘steril’, dan lebih disayangkan lagi karena tidak adanya usaha para dalang untuk mencoba menambah pengetahuan dan wawasannya mengenai keris. Alangkah idealnya apabila aspek-aspek perkerisan dapat ditampilkan dalam pentas pewayangan, niscaya akan dapat menambah ‘gebyar’ atau ‘dimensi’ pentas itu sendiri.

Untuk mencoba menanggapi ‘kekosongan’ ini, maka tulisan yang tidak konklusif dan kadang-kadang terasa cengkah serta berasal dari berbagai sumber ini disajikan. Adapun mengenai bagaimana pengejawantahan kawruh padhuwungan dalam pentas wayang, hal ini sepenuhnya diserahkan kepada kearifan para dalang sendiri. Berikut ini dapat disebutkan beberapa petikan tentang hal tersebut, antara lain.

Dalarn sebuah pakem padhuwungon yang ‘nota bene’ merupakan karangan pujangga tersohor Raden Ngabehi Ranggawarsita dari Surakarta (kira-kira 190 tahun yang Ialu), disebutkan bahwa :
Sri Paduka Maha Raja Dewo Budo, inggih punika Songhyang Gurunata (Girinatc) ingkong owit yaso dedamel warna-warni, ingkong kathahkathah mboten kacario saken, namun kopethik nalika yaso dhuwung wonten Ing Kayangan Kaendran dhapur Lar Ngotap, Posopati, scha dhapur Cundrik; ginambar ing angka 1, 2, 3; Ingkong dame/ noma Empu Romadi, kola tahun Jawi 142.

Ungkapan dalarn bahasa Jawa tersebut bagi pembaca masa kini tentu sulit untuk diterima sebagai fakta sejarah. Sebagai referensi dapat diingat tentang ‘asal-usul’ para tokoh Pandawa dan Korawa yang dimulai dari Nabi Adam, Nabi Sis, ….Bhatara Guru dan seterusnya, yang ditulis dalam Kitab Paramayoga/Pustaka Raja Purwa yang juga merupakan mahakarya pujangga Ranggawarsita. Selain itu, dalam dunia pewayangan kita juga mengenal pusaka Pasopati, yakni senjata Arjuna pemberian Bhatara Guru (cocok) yang berupa sebuah bedhor (panah) yang ber-dapur Wulan Tumanggal (tidak cocok).

Di dalam narasinya, Ki Dalang kadang-kadang menyebutkan (menurut lakonnya) sebagai berikut:
‘dupi den unus curiganira, ponang pamor pusakaning Sang Dipati Ngawangga pating karetip pindha konang sayuta …’

Yang dimaksud dengan pusaka tersebut adalah sebilah keris dhopur Jalak yang kemudian dikenal dengan nama Kyai Jalak. Untuk menambah ‘keotentikan’ ungkapan tersebut, dianggaplah bahwa seolah-olah negeri Ngawangga itu memang benar benar ada dan terdapat di Pulau Jawa, persisnya di Daerah Istimewa Yogyakarta (menurut Raffles, dalam bukunya : The History of Java). Sampai kini (menurut cerita orang), di dusun Wangga terdapat mesjid tempat dimana disimpan Kyai Jalak tersebut. Benar tidaknya hal ini, wallahualam bissawab. Dengan sebagai tambahan, Raffles juga menentukan tentang ‘negeri-negeri’ yang lain, misaInya :

– Kerajaan Dwarawati (Kresna) di daerah Pati
– Kerajaan Mandura (Baladewa) di Pulau Madura bagian barat
– Kerajaan Mandaraka (Salya) di antara Tegal & Pekalongan
– Banjarjungut (Dursasana) di sekitar Kebumen
– Talkandha (Bisma) di Banjarnegara
– Kahyangan Indrakila (Bhatara Indra) di Jepara
– Kerajaan Pringgandani (Gatotkaca) di seb. Utara Dat.Ting.Dieng
– Kerajaan Indraprastha (Pandhawa) di Dataran Tinggi Dieng.
– dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, dalam menanggapi penentuan ‘lokasi geografis’ kerajaan/ negeri-negeri tersebut hendaknya perlu dipakai suatu kebijaksanaan yang cukup arif, karena kebenaran. historisnya memang cukup menyangsikan.

Di Surakarta, pada waktu ini terdapat keris yang bernama Cundhamani, yang di dalam dunia pewayangan dikenal sebagai encis pusaka Pandhita Dorna.

Keris dhapur Kalarnisani yang merupakan ‘copy’ atau putran dari keris Kanjeng Kyai Kalamisani, adalah sebuah keris lurus dengan hiasan kembang-kacang, sogokan muka dan belakang, lambe gajah dua, sraweyan, greneng dan lain sebagainya. Konon, Kanjeng Kyai Kalamisani yang asli adalah kepunyaan Raden Sadewa yang kemudian diberikan kepada Raden Gatotkaca.

Arjuna, selain dikenal sebagai pemilik Pasopati, juga mempunyai keris-keris Kyai Pulanggeni dan Kyai Kalanadhah.

Adipati Karna, selain memiliki keris Kyai Jalak, juga mempunyai keris Kyai Kaladete yang sangat terkenal karena ampuhnya, karena meskipun tuannya itu telah gugur, keris pusaka tersebut masih dapat berbicara menirukan suara tuannya yang mernanggil-manggil Arjuna sebagai lawannya. Selanjutnya, bagaimana lengkapnya cerita lakon tersebut, pembaca tentunya telah mengetahuinya.

Cakil mempunyai keris dengan luk 9 atau 21, dhapurnya Jalak Ngoceh, bukan Jalak Ngore. Keris tersebut pada akhirnya justru ‘memakan’ tuannya sendiri.

Ada yang mengatakan bahwa Prabu Yudhistira mempunyai keris dhapur Tilarn Upih atau Tilam Sari.

Prabu Kresna memiliki keris dhapur Brojol; sedangkan keris Kyai Kalamunyeng pembicara lupa siapa pemiliknya.

Selain dalam dunia pewayangan, keris lebih-lebih terkenal dalam legenda, babad atau dongeng-dongeng yang sangat dikenal oleh masyarakat Jawa Sebagai contoh misalnya :

Keris Kyai Sengkelat (pusaka kerajaan Majapahit)
Keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten (pusaka pusaka kerajaan pada zaman pemerintahan Dernak-Pajang, yang dibuat pada zaman Majapahit).

Keris Kyai Carubuk, pusaka Sunan Kalijaga (Demak-Paiang)
Keris Kyai Setan Kober, pusaka Haryo Penangsang (Jipang)
Tombak Kyai Baru, milik Ki Ageng Mangir, menantu dan sekaligus juga musuh bebuyutan Panembahan Senopati (Mataram)
Kyai Plered adalah juga sebuah tombak pusaka yang pernah digunakan oleh Danang Sutawijaya (P. Senopati) untuk membunuh Haryo Penangsang. dan lain-lainnya. (www.nikhef.nl) e-ti

Data Singkat
Haryono Haryoguritno, Penggemar dan Pakar Keris / Penggemar dan Pakar Keris | Direktori | Ajudan, keris, Penggemar

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here