Aktris Duta TKW

[ Lola Amaria ]
 
0
451
Lola Amaria
Lola Amaria | Tokoh.ID

[SELEBRITI] Mengawali karirnya sebagai model, wanita berkulit hitam manis ini merambah dunia film. Tak hanya berakting, Lola juga menjajal kemampuannya sebagai sutradara. Lewat film besutannya Minggu Pagi di Viktoria Park, ia dinobatkan sebagai Sutradara Terbaik dalam Jakarta International Film Festival (Jiffest) ke-12 tahun 2010.

Putri pasangan almarhum Anas Maliki dan Yayan ini lahir di Jakarta pada 30 Juli 1977. Paras cantiknya sempat menghiasi beberapa sampul majalah di era tahun 90-an. Sebelumnya, Lola harus berusaha keras menemukan karir yang cocok bagi dirinya. Lola bahkan mengaku pernah bekerja sebagai karyawan humas salah satu anak perusahaan Humpus milik Tommy Soeharto, meski hanya bertahan selama tiga bulan.

Sebuah kesempatan datang saat majalah Femina menggelar lomba model Wajah Femina 1997. Lola yang saat itu tidak yakin teryata justru berhasil menjadi pemenangnya. Berawal dari situlah Lola kemudian menggeluti panggung model dan telah banyak membintangi iklan berbagai produk mulai shampoo, kosmetik, otomotif, hingga minuman kesehatan.

Anak sulung dari tiga bersaudara ini kemudian mencoba peruntungannya di dunia seni peran. Debutnya diawali dengan membintangi sinetron Penari di mana Lola berperan sebagai seorang penari erotis bernama Sila. Keterlibatannya dalam film garapan sutradara Nan Triveni Achnas tersebut membuat aktingnya banyak dilirik para sutradara sehingga Lola menjadi kebanjiran tawaran untuk bermain dalam sejumlah judul sinetron. Sinetron lain yang pernah melibatkan Lola sebagai pemain adalah Arjuna Mencari Cinta, Tali Kasih dan Merah Hitam Cinta.

Berbekal pengalamannya sebagai bintang sinetron, ia pun mulai mencoba peruntungannya di dunia film layar lebar. Pada tahun 2000, Lola tampil dalam sebuah film layar lebar berjudul Tabir. Masih di tahun yang sama, menyusul film berlatar zaman penjajahan Jepang, Dokuritsu. Setahun kemudian, ia bermain dalam film bertajuk Beth, lalu tahun 2002 Lola beradu akting dengan aktor Ferry Salim dalam film besutan Nia Dinata, Cau Bau Kan.

Sebagai produser sekaligus pemain film Novel Tanpa Huruf R. Setelah itu ia juga menjadi sutradara film Betina yang berhasil meraih penghargaan Netpac Award dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2006. Betina juga menjadi salah satu film produksi Indonesia yang ditayangkan di luar Indonesia, yaitu di Festival Film Internasional Singapura Ke-20

Belakangan wanita berdarah Palembang-Sunda ini mulai bergeser ke balik layar, meski beberapa kali masih tampil di depan kamera. Tahun 2004, Lola memulai kiprahnya sebagai produser sekaligus pemain film Novel Tanpa Huruf R. Setelah itu ia juga menjadi sutradara film Betina yang berhasil meraih penghargaan Netpac Award dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2006. Betina juga menjadi salah satu film produksi Indonesia yang ditayangkan di luar Indonesia, yaitu di Festival Film Internasional Singapura Ke-20.

Pada awal tahun 2007, Lola mulai melebarkan sayapnya ke dunia internasional dengan keterlibatannya sebagai bintang film produksi Taiwan berjudul Detour to Paradise. Dalam film garapan sutradara Lee Ti-Tsai alias Andy Lee itu, Lola berperan sebagai tenaga kerja wanita dengan profesi pembantu rumah tangga (PRT). Agar fasih berperan sebagai PRT, Lola telah melakukan serangkaian penelitian tentang kehidupan para pekerja wanita di sana.

Tiga tahun kemudian, Lola menggarap film Minggu Pagi di Victoria Park yang mengangkat kisah TKW Indonesia dalam kemasan cinta dan kisah hidup lainnya. Namun sayang, film tersebut tampaknya kurang begitu diminati masyarakat. Lola Amaria mengaku kecewa dengan kenyataan pahit yang harus diterimanya ini. Menurutnya, hal tersebut lantaran penayangannya berbenturan dengan jadwal piala dunia hingga membuat masyarakat jarang pergi ke bioskop.

Tak hanya lantaran berbenturan dengan piala dunia saja, namun film yang dibintangi aktris Titi Sjuman itu juga harus bersaing dengan film-film Hollywood. Hal ini juga yang menyebabkan penjualan tiketnya tidak mencapai target yang diinginkan.

Meski dinilai kurang sukses, film garapan Lola nyatanya banyak menuai pujian dari kritikus film. Lewat Minggu Pagi di Victoria Park, Lola bahkan dinobatkan sebagai Sutradara Terbaik dalam Jakarta International Film Festival (Jiffest) ke-12 tahun 2010. Dalam film tersebut, Lola dinilai mampu memberikan sentuhan unik pada tema yang cukup sering ditampilkan di layar lebar. Ia juga mampu memperlihatkan pengarahan yang baik sepanjang film.

Selain Jiffest, film tersebut juga masuk dalam sejumlah kategori dalam ajang Festival Film Indonesia 2010. Kategori-kategori tersebut adalah pemeran utama wanita terbaik, pendukung wanita terbaik, sutradara terbaik, cerita asli dan adaptasi terbaik, tata sinematografi terbaik, tata artistik terbaik, penyuntingan terbaik, dan film terbaik. Meski kemudian yang berhasil keluar sebagai pemenang hanya Aline Jusria untuk kategori Penyuntingan Terbaik.

Meski belum berkesempatan menggenggam Piala Citra sebagai penghargaan tertinggi insan perfilman nasional, Lola tak kecewa. Penghargaan hanya imbas dari kerja kerasnya, bagi Lola yang terpenting adalah proses, bagaimana ia menemukan dunianya. Lola mengaku menikmati posisinya sekarang ini, yang berada di belakang layar sekaligus masih ikut nimbrung di depan kamera dalam beberapa kesempatan.

Duta TKW

Karena sering bersentuhan dengan dunia TKW, baik sebagai aktris maupun sutradara yang secara khusus mengangkat romantika hidup TKW, Lola Amaria ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja, Muhaimin Iskandar sebagai duta TKW.

Terpilihnya Lola sebagai Duta TKW memang belum diumumkan secara resmi. Namun, ia ini mengaku siap sedia manakala ditunjuk menjadi duta bagi para pahlawan devisa itu.

“Bagi saya, ini adalah tugas mulia. Jadi kapan saja saya benar-benar siap menjadi duta TKW,” papar Lola Amaria saat ditemui di Departemen Tenaga Kerja, Gatot Subroto, Jakarta Pusat seperti dikutip dari situs okezone.com.

“Kalau yang namanya perintah kan harus dijalankan, tetapi saya pun selalu ingin berbagi dengan mereka, karena TKW tetap menjadi bagian dari hidup saya. Makanya saya selalu membuat film tentang TKW,” akunya.

Kendati telah terpilih menjadi seorang duta, namun wanita yang masih hidup melajang ini memastikan dirinya tetap akan berkarier di dunia hiburan dan produktif membuat film. “Aku akan tetap membuat film karena menjadi duta itu kan bisa diatur pekerjaannya, karena tidak selalu bekerja,” pungkas lulusan public relation Interstudy itu. eti | muli, red

Data Singkat
Lola Amaria, Aktris / Aktris Duta TKW | Selebriti | sutradara, film, teater, artis, manis

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here