Tolu Pinta Batak (Tricita Batak)

Hagabeon, Hamoraon dan Hasangapon

[ Modernisasi Duniawi dan Sekularisme Batak ] [ Mahkota Teologi Kemajuan Nommensen ] [ Stigmatisasi Late, Elat dan Teal ] [ Hita Batak A Cultural Strategy ]
 
0
113
Tolu Pinta Batak (Tricita Batak: Hagabeon, Hamoraon dan Hasangapon (3H)

Salah satu, nilai-nilai luhur klasik Batak yang terus hidup, mengalir dan menggeliat dalam eksistensi intersubjektif Hita Batak, adalah Tolu Pinta Batak, tiga cita-cita hidup orang Batak yang juga tepat kita sebut sebagai Tricita Batak yakni Hagabeon, Hamoraon dan Hasangapon (3H); Yang selama ini, terutama sejak era kolonisasi dan misionisasi, telah didistorsi, dimisinformasi, bahkan didisinformasi, diubah arah, dimanipulasi dan dipalsukan, menjadi bahan ejekan, penistaan dan pembunuhan karakter Batak.

Oleh Ch. Robin Simanullang (The Batak Institute)

 

Dengan Tolu Pinta Batak yakni Hagabeon, Hamoraon dan Hasangapon atau populer disebut 3H tersebut, orang Batak dinarasikan sebagai orang yang menghalalkan segala cara, cara biadab, untuk mencapai obsesi keserakahan dan pendewaduniawian Hagabeon, Hamoraon dan Hasangapon tersebut, dan bahkan dinarasikan menggunakannya untuk menindas kemanusiaan, sebagai sumber late, elat (dengki), teal (kesombongan, sok hebat), hosom (benci, dendam), perkelahian dan perang hingga kanibal. Narasi yang sangat jauh menyimpang dari nilai luhur filosofis dan spiritualitas-religius asli yang dikandung Tolu Pinta Batak tersebut.

Dalam paradigma dan perspektif Hita Batak, dalam frame strategi kebudayaan, sebagai suatu tatanan berpikir, belajar dan berkarsa raksasa, yang memfasilitasi dan menampilkan revitalisasi, perubahan dan penyempurnaan narasi (narasi baru) dengan kontemplasi nilai-nilai luhur budaya dan religi sebagai meta-narasi yang transformatif, berpandangan jauh menjemput masa depan, Orde Hidup Baru, secara linear, sampai tujuan keabadian yang diamanatkan oleh Sang Pencipta; Dalam paradigma ini, sebagai penutup, berikut kita narasikan secara singkat apa dan bagaimana itu sesungguhnya (eksegese) Tolu Pinta Batak (Tricita Batak) tersebut: Untuk kita berdayakan dan wujudkan sebagai penegasan keberadaan dan eksistensi intersubjektif Hita Batak dalam Orde Hidup Baru, Orhiba!; Yang bermartabat insan titisan Illahi (Debata), Anak/Boru ni Raja, yang dalam terminologi Injil dianugerahi sebagai Anak-anak Allah, yakni mereka yang menapaki hidup dan kehidupan nyata (perilaku saksi nyata) di Jalan Hidup: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup!

Terminologi Tolu Pinta Batak (Tricita Batak): Hagabeon, Hamoraon dan Hasangapon (Keturunan/Kehidupan Kemanusiaan, Kekayaan/Kesejahteraan Sosial dan Kewibawaan/Kemuliaan Martabat). Kita awali dari sudut pandang etimologi, menelaah akar kata, asal kata dari Tolu Pinta Batak tersebut. Akar atau asal kata yang menunjukkan orisinalitas pengertian setiap rangkaian susunan kata dari Tolu Pinta Batak tersebut. Apa akar kata dan berbagai dimensi orisinalitas keterkaitan setiap kata tersebut dalam sistem ketatabahasaan dan pemaknaannya. Yang akan menjelaskan orisinalitas pengertian dan pemaknaan Hagabeon, Hamoraon dan Hasangapon tersebut.

Tolu Pinta, secara etimologi berasal dari kata bahasa Batak asli: Tolu dan Pinta: Tolu, tiga, atau tri; Pinta, minta, permintaan, meminta berkat dan kemuliaan martabat; pininta, keinginan dan kehendak kuat, sintasinta (cita-cita); pininta ni roha, perminta­an dan kehendak kuat dari segepap jiwa (obsesi jiwa); pininta ni tua, berkat tuah, berkat anugerah; pintapinta, permintaan cita-cita dalam tonggo, doa berkat.[1] Pinta, minta; dipinta, diminta; maminta, meminta.[2]

Tolu Pinta adalah tiga cita utama dan kehendak kuat (usaha, upaya kuat) dari segenap jiwa (tondi, sahala), yang juga merupakan permintaan dan doa, sekaligus dipercaya merupakan anugerah, berkat bertuah (pininta ni tua), bukan semata-mata atas upaya kuat sendiri, yakni Hagabeon, Hamoraon dan Hasangapon (Keturunan/Kehidupan Kemanusiaan, Kekayaan/Kesejahteraan Sosial dan Kewibawaan/Kemuliaan Martabat). Jadi Tolu Pinta Batak itu tidak hanya bersifat jasmani, tetapi lebih lagi bersifat rohani (religius). Ketiga pinta tersebut adalah saling terkait satu kesatuan utuh yang tidak terpisahkan, holistik.

Pinta Parjolo (Cita Pertama): Hagabeon adalah amanat Illahi atas kelanjutan keturunan (generasi) yang bermakna kelanjutan kehidupan manusia dalam semua dimensi kemanusiaannya. Hagabeon, berasal dari kata gabe, imbuhan ha (ke) dan on (an). Gabe, artinya, 1) jadi, menjadi sesuatu, penciptaan, ada pertumbuhan, kehidupan; 2) berketurunan, beranak-pinak, mempunyai banyak keturunan; Gabegabean, hamil, mengan­dung;  Bungabunga ni hagabeon, sulung; Na gabe, kaya, mulia dan terberkati dengan banyak keturunan berakhlak mulia; Hagabeon, berketurunan laki-laki dan perempuan; kekayaan (anakhonhi do hamoraon di ahu: anakkulah kekayaanku), sejahtera, bahagia dan bermartabat mulia karena berketurunan yang terberkati; 3) Marsigabean, marsigabegabean: bersilaturahim, selamatan, saling mengucapkan selamat dan memohon berkat; Barita gabe, berita baik.[3]

Hagabeon (harfiah) adalah kekayaan, kesejahteraan, kebahagiaan dan kemuliaan martabat karena berketurunan yang terberkati. Hagabeon adalah tua (berkat) hidup dan kehidupan kemanusiaan berkelanjutan. Jadi dapat kita ‘defenisikan’, kendati disadari pendefinisian bukan pengertian yang terbaik karena keterbatasannya; bahwa Hagabeon adalah kekayaan hidup kemanusiaan berkelanjutan (sustainable life) amanat dan anugerah Debata (Illahi), serta kekayaan dan kesejahteraan sosial, kebahagiaan, kemuliaan martabat dan anugerah (tua) atas (karena, melalui) keturunan yang terberkati berakhlak mulia. Itulah pengertian hakiki dari Hagabeon, Pinta (cita) Hita Batak yang pertama.

Advertisement

Hagabeon bermakna hakiki amanat Illahi tentang kehidupan manusia berkelanjutan: Beranak-cuculah (marhagabeon) memenuhi dan menguasai bumi. Orang Batak dalam beranak-cucu (hagabeon) berkelanjutan (amanat Illahi) diatur dalam suatu sistem silsilah patrilineal, supaya mempunyai keteraturan dalam struktur sosial kekerabatannya yang intersubjektif dalam Dalihan Na Tolu (DNT). Suatu sistem kekerabatan dan hagabeon (keturunan) berkelanjutan yang sangat unggul dan orisinal, tidak ada duanya di dunia. Banyak bangsa beradab di dunia yang sudah kabur sistem hagabeon (keturunan bermartabat berkelanjutan) dan/dalam sistem kekerabatannya. Siapa kakek dari kakeknya saja tidak tahu, atau tidak merasa ada ikatan kekerabatan lagi. Hagabeon itu, terikat dan termanifestasikan dalam sistem kekerabatan DNT, secara holistik dan berkesinambungan yang bersumber dari kearifan mitologi penciptaan Batak. Dr. Raymond J. Nogar (1963) menyebut dunia dan manusia tidak akan memiliki penjelasan dan kemungkinan keberadaan yang berkelanjutan jika mereka tidak diberi bagian dalam keberadaan Allah yang kekal, Pencipta mereka.[4]

Pinta Padu­a­hon (Cita Ke­dua): Hamoraon adalah ke­ka­yaan harta benda material yang berfungsi sosial parbahulbahul na bolon (punya bakul besar untuk didistribusikan) dan bersifat moral, akhlak-moral mulia (non-material). Ha-mora-on, berasal dari kata mora, artinya, kaya, mamora, berkeadaan, berkekayaan; Na mora, yang kaya; Hamoraon, kekayaan, material dan non-material; Anak/Boru ni na mora, putera/puteri orang kaya material dan non-material (materi dan non-materi), bahkan lebih bersifat non-material daripada material; Na mora di roha, yang kaya hati; Hati (sebagai pusat berpikir), pikiran, akhlak dan moral.[5]

Jadi dalam paradigma Tolu Pinta Batak, Hamoraon adalah kekayaan harta benda material yang berfungsi sosial parbahulbahul na bolon (punya bakul besar untuk didistribusikan) dan bersifat akhlak-moral mulia (non-material, Na mora di roha), hal mana materi dan non-materi berjalan seiring, Na mora di arta jala na mora di roha (Yang kaya harta juga kaya hati). Jika seseorang mempunyai kekayaan harta berlimpah dan berakhlak mulia di sebut na mora jong; Tetapi kendati kaya harta, jika miskin hati (tidak berakhlak mulia, tidak parbahulbahul na bolon, paramak so balumon, partataring so ra mintop; pemilik bakul besar, tikar yang terus digelar dan dapur yang terus mengepul, distribusi)[6], dia akan disebut: Jolma na pogos, jolma si mago, si buriapus (Manusia miskin, manusia kehilangan akhlak, laknat). Atensi, penting diingat: Premis[7] bahwa Batak adalah insan sangat religius sejak leluhur sebelum kristenisasi dan islamisasi: Doktrin klasik empiris, “Saluhut panggulmit ni ngolu saguru tu lomo ni Debata do.” Jadi, hamoraon (harta) juga tidak terlepas dari rohani, bahkan mesti berada di bawah kendali rohani (spiritual-religius). Hamoraon lebih bermakna kekayaan moral daripada kekayaan harta benda: Hamoraon adalah kekayaan harta benda yang berfungsi sosial dan berakhlak mulia. Orang yang memiliki harta benda berlimpah (mamora hian), tanpa berfungsi sosial dan berakhlak mulia, akan disebut (dikategorikan) Jolma na pogos roha (manusia miskin hati, yang dipandang sebagai manusia paling miskin). Amanat klasik Batak: Tumagonan do na mora di roha, sian na mora di arta (Lebih baik kaya hati daripada kaya harta). Dalam paradigma nilai luhur budaya inilah Hamoraon dimaknai. Pemaknaan di luar paradigma nilai luhur budaya tersebut, adalah penyimpangan, penyimpangan perilaku, juga penyimpangan narasi.

Pinta Patoluhon (Cita Ketiga): Hasangapon adalah kewi­ba­waan dan kemuliaan agung bermartabat yang merupakan (berkekuatan) kekayan akhlak, moral, perilaku dan karakter empiris yang bersifat moral dan spiritual-religius. Ha-sangap-on, berakar kata, sangap, artinya mulia, agung, terhormat, berhati mulia, rajawi,  prestise, dihormati karena patut dihormati; Marsangap (marhasangapon), terhormat, berwibawa,  bermulia; Pasangaphon, memuliakan, menghormati; Dipasangap, dimuliakan, dihormati; Na sangap, orang mulia; orang berakhlak mulia, para bangsawan; Marsisangapi, berbeda dalam kemuliaan, tidak sama mulia.[8]

Sangap, berpadanan dengan sahala; Sahala artinya martabat, kemuliaan, keagungan, otoritas, kharisma, hikmat; Marsahala, memiliki martabat, menjadi agung, memiliki otoritas.[9] Sangap adalah pancaran (tampilan) dari sahala; Sementara, sahala adalah pancaran (tampilan, instrumen penting) dari Tondi yang terekspresikan dalam medium pamatang (tubuh) sebagai akhlak, karakter dan moral. Dalam filsafat eksistensi manusia (mitologi Batak), Tondi, adalah roh atau jiwa, unsur rohani dari tiga unsur hidup manusia: Tondi, Pamatang dan Sahala (Roh, Tubuh dan Wibawa); Rohani, fisik dan moral, merupakan representasi dari totalitas Debata Mulajadi Nabolon dalam keesaan tiga unsur (Tritunggal): Tondi (roh) representasi Batara Guru, Pamatang (tubuh) representasi Soripada, dan Sahala (Wibawa) representasi Mangala Bulan. Sementara, Pamatang (tubuh) juga merupakan kesatuan tiga unsur hosa (nyawa), mudar (darah) dan sibuk (daging); yang juga representasi Dewata Tritunggal: Hosa representasi Batara Guru, mudar representasi Soripada, dan sibuk representasi Mangala Bulan.[10] Dalam konteks ini perlu atensi: bahwa hakikat mitologi itu adalah nilai-nilai luhur manusia dalam hubungannya (persekutuannya) dengan Sang Pencipta! Kearifan filosofis dan religius Mitologi Batak (seperti juga mitologi lainnya, dan wahyu dalam agama samawi), bukan kebenaran ilmiah biologios, antropologis dan historis, tetapi jauh melampaui akal (ilmiah), metafora supranatural.

Jadi, Hasangapon adalah kewi­ba­waan dan kemuliaan agung bermartabat yang merupakan (berkekuatan) kekayan akhlak, moral, perilaku dan karakter empiris yang bersifat moral dan spiritual-religius, yang berhubungan langsung dengan Tondi (jiwa, roh) sebagai instrumen manusia dalam hubungan dan persekutuannya dengan Debata (Illahi). Persekutuan Allah dan manusia dalam roh. Maka, Hasangapon itu sangat ber­martabat, mulia, agung dan sakral. Hal mana kemuliaan dan keagungan Hasangapon itu terekspresikan atau teraplikasikan dalam tampilan signifikansi makna dan manfaatnya atas hidup dan kehidupan yang bermartabat dalam gaya hidup keseharian; Behaviour, perilaku nyata: Jalan Hidup!

Hasangapon, juga berpadanan dengan terminologi Sahala Harajaon (Wibawa Kerajaan) Batak, yang lebih bermakna perilaku Anak/Boru ni Raja (Putera/Puteri Raja) daripada otoritas kekuasaan. Terminologi makna Raja adalah perilaku. Maka siapa pun orang Batak yang berperilaku baik, sesuai Trisila Batak dan Tolu Tona Batak (Tiga Amanat Batak), dia adalah Raja, Anak/Boru ni Raja. Itulah makna hakiki dari Hasangapon, sebagai cita ketiga dalam Tolu Pinta Batak.

Hasangapon sebagai padanan Sahala Harajaon (Wibawa Kerajaan) Batak adalah tambang filosofi nilai luhur Parmahan na Bisuk (Penggembala Arif Bijaksana) yang antara lain mengamanahkan setiap orang (Raja) adalah penggembala tanpa cemeti, penghalau pipit di (penjaga) sawah tanpa busur (Parmahan so mantat batahi, pamuro so mantat sior), penggembala dan penjaga tanpa kekerasan; Pembajak dengan luku pembelah tali, pembelah besi dengan sembiluh bambu (Paninggala sibola tali, parsambilu sibola bosi), artinya orang yang arif dan bijaksana; Pembebas yang masuk pukat, pelepas yang terjerat perangkap (Sirungrungi na dapot bubu, siharhari na dapot sambil), orang yang penuh peri kemanusiaan, pengasih dan penyayang, membebaskan dan memerdekakan insan yang terbelenggu, dipasung, terikat dan tertindas; Meratakan yang lebih dan memenuhi yang tidak penuh (Sihorus na lobi sigohi na longa), mencegah kesenjangan sosial; Penegak hukum dan adat (Sitindangi uhum dohot adat); penegak keadilan dan niai-nilai adat-budaya. Insan pejuang signifikansi makna hi­dup dan pemulia kemanusiaan yang adil dan beradab. Sangat agung dan mulia! Memancarkan nilai-nilai moral, filosofis dan religius.

Suku bangsa Batak adalah insan-insan religius. Tricita Batak (Tiga H) tersebut lebih bermakna (tidak terlepas) dari nilai-nilai spiritual, kerohanian, partondion. Sebagaimana terakumulasi dari ucapan Horas, yang sangat mengutamakan keselamatan  kehidupan partondion (kerohanian) daripada pardagingon (jasmani, keduniawian). Simak ucapan lengkapnya: Horas tondi madingin, pir tondi matogu ((Selamat-kuat roh (jiwa) teduh, kuat roh (jiwa) teguh. Kesemuanya, keselamatan dan keteguhan jiwa-roh (tondi), bukan jasmani. Tidak disebut: Horas tondi madingin, pir pamatang matogu (Selamat-kuat roh (jiwa) teduh, kuat jasmani teguh. Karena bagi orang Batak (leluhur Batak), jika kehidupan partondion (kerohanian)-nya kuat, maka parda­gingon (jasmani, keduniawian)-nya pun akan kuat (selamat sejahtera).

Jadi, hakikatnya, dalam filosofi, perspektif dan paradigma nilai-nilai luhur Batak, tidak ada tempat bagi mereka yang memiliki Hasangapon (juga Hagabeon dan Hamoraon), untuk bermegah diri, sombong, tinggi hati, mementingkan diri sendiri, iri (elat, late), apalagi membenci dan menindas orang lain, menindas kemanusiaan dengan Hagabeon, Hamoraon dan Hasangapon tersebut. Hal ini sangat berkaitan (tidak terlepas) dengan Tolu Tona Sahala Harajaon Batak (Tiga Amanat Wibawa Kerajaan Batak): yakni Parroha Hita (Berjiwa Sosial), Parmahan na Bisuk (Arif Bijaksana) dan Parpanatap tu Jolo (Berwawasan Futuristik), yang sebagian telah dikutip di atas.[11]

Maka, jika hal (bermegah diri, sombong, mementingkan diri sendiri, dsb.) itu terjadi, adalah penyimpangan! Perilaku menyimpang! Pengkhianatan kepada eksistensi kemanusiaan kehitaan Batak. Pengkhianatan serius kepada Debata! Dosa terhadap roh manusia dan terhadap Roh Kudus. Dosa terhadap persekutuan manusia dengan Allah. Membunuh, mematikan persekutuan dengan Allah! Dalam perspektif Kristen atas penyimpangan perilaku Hagabeon, Hamoraon dan Hasangapon tersebut, Kristus mengingatkan: Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah (Mrk 10:25). Maka, Hita Batak, mari songsong  Orde Hidup Baru dengan orisinalitas hakikat luhur makna Tolu Pinta Batak tersebut.

Sebagai inspirasi, Kahlil Gibran dalam syair Le Prophète (Nabi) menyuarakan perenungan: “Akankah hati saya menjadi pohon yang membungkuk di bawah buah yang dapat saya petik dan berikan kepada mereka? Akankah keinginan saya mengalir seper­ti air mancur sehingga saya mengisi cangkir mereka? Apakah saya harpa untuk tangan Yang Perkasa untuk menyentuhkan saya, atau seruling untuk nafas-Nya melewati saya? Pencari kehening­an, inilah saya, dan harta apa yang telah saya temukan dalam keheningan yang dapat disalurkan tanpa rasa khawatir?[12] Itulah, Parbahulbahul na bolon!

Dalam perkembangan dunia modern global pada era millenium ketiga ini, dalam berbagai bidang, khususnya bidang kemanusiaan, kesejateraan sosial, persaingan kekuasaan (politik) dan peradaban moral-agama, dalam berbagai dimensinya, Tiga Pinta Batak tersebut dapat diuji atau dikomparasi keunggulannya. Bagaimana manusia milenium ketiga menghadapi persaingan dalam kemanusiaan Hagabeon-nya yang sustainable? Bagaimana para profesional dan pelaku bisnis milenium ketiga menghadapi dan memenangkan persaingan dalam upaya peningkatan Hamoraon-nya? Bagaimana para pemimpin milenium ketiga menghadapi dan memenangkan persaingan dalam upaya peningkatan Hasangapon-nya (wibawa kerajaannya) yang bermartabat mulia? Tolu Pinta Batak tersebut adalah nilai luhur yang menyimpan dan memancarkan selaksa inspirasi untuk menghadapi tuntutan dan tantangan segala zaman secara beradab.

Prof. Dr. Mauritz Simatupang mengatakan nilai-nilai Hagabeon, Hamoraon, dan Hasangapon (Tiga H) tersebut juga memberikan dorongan kepada masyarakat Batak untuk meraih keberhasilan. Ketiga nilai ini menunjukkan bahwa masyarakat Batak achievement oriented (berorientasi prestasi).[13]

Ironisnya, sejak zaman kolonisasi dan misionisasi, justru terjadi penyimpangan makna atas nilai luhur Tolu Pinta Batak tersebut; Dijadikan (disinformasi) sebagai meta-narrative (narasi dominan), yang (untuk) membunuh karakter Batak, dengan menyebut Tiga H tersebut membuat orang Batak sebagai masyarakat yang menghalalkan segala cara, bia­dab dan tidak bermoral, penuh dengki, iri dan segala bentuk persaingan tidak sehat untuk meraih Tiga H tersebut. Boleh mungkin ada orang Batak yang bersifat demikian, seperti juga terjadi di dalam kelompok masyarakat lain di seluruh dunia, tapi hal itu adalah penyimpangan. Tapi, mereka menarasikan (disinformasi) seolah-olah penyimpangan itulah hakikat dari nilai Hagabeon, Hamoraon dan Hasangapon tersebut. Dan, sebagian orang Batak pun, terutama Dalle, atau setengah Dalle, bahkan para pandita mengaminkannya, bahkan menjadikan penyimpang­an perilaku dari Tolu Pinta Batak itu sebagai sumber narasi ejekan, cemoohan, penistaan terhadap dirinya sendiri, dan suku bangsanya sendiri, baik dalam percakapan sehari-hari dan bahkan narasi khotbah berperspektif ‘tali celana Eropa’ yang telah diikat di atas kepalanya; Tanpa berusaha menyelidiki hakikat nilai luhur yang sesungguhnya, ataupun merevitalisasi dan menyempurnakannya dalam narasi pengudusan dan kebenaran. Sangat ironis!

Tolu Pinta Batak (Tricita Batak) yang diuraikan singkat di atas adalah salah satu contoh narasi kontemplasi nilai-nilai luhur budaya Batak yang sangat strategis, rasional, sosiologis, filosofis dan religius, menapaki semua tantangan dan peluang zaman, dalam pancaran cahaya roh Orde Hidup Baru. Yang, sebelumnya, justru nilai-nilai luhur budaya Batak tersebut, dengan distorsi informasi, misinformasi dan bahkan disinformasi, oleh berbagai pihak dinarasikan sebaliknya sebagai keserakahan duniawi dengan menghalalkan segala cara, diubah menjadi kehinaan moral, kebiadaban; menjadi ejekan, penistaan dan pembunuhan karakter Batak.

Sampai hari ini, Hita Batak zaman ini (kontemporer) belum bisa cukup membanggakan diri pada kesuksesan-kesuksesan narasi yang brilian, sebagaimana juga belum pernah terjadi sebelumnya, yang akan (telah) mengubah pengerdilan makna hidup dan pembunuhan karakter Batak, menjadi pemuliaan hidup dan karakter Batak. Dalam cahaya terang Orhiba, Ode Hidup Baru, mari hentikan narasi terdistorsi (disinformation) seperti itu, dan  secara kolaboratif, kolaborasi sosial, masif bersama-sama, belajar raksasa, berpikir raksasa, berkarsa buddhayah raksasa melakukan revitalisasi dan pembaharuan naratif nilai-nilai luhur budaya (religius) yang strategis dan futuristik.

Saatnya kita lebih mengoptimalkan kontribusi secara kolaboratif untuk menyebarkan sinar mentari filosofi luhur budaya Batak yang murni tak bernoda, laksana gulungan ombak air bening Danau Toba nan indah menawan putih membiru, sebagai tambang falsafah dan nilai-nilai hidup bermakna, dengan membuka dan menerbitkan cahaya portal strategi kebudayaan, dengan perubahan narasi yang menarik, kreatif, inovatif dan transformatif, secara kolaboratif masif; Yang memperbaharui hidup baru bagi Hita Batak, terutama bagi putera-puteri kita sebagai generasi mulia yang akan mengenakan seragam malaikat kebatakan masa depan; Di mana kita dan generasi penerus bangkit ke ketinggian karakter dan budi luhur agung di bumi baru kemuliaan sejati sesuai kehendak Debata; Yakni, antara lain, dalam perspektif dan paradigma pancaran doktrin klasik Batak, bahwa: “Saluhut panggulmit ni ngolu saguru tu lomo ni Debata do.” The whole pulse of life depends on God’s will. Doktrin klasik Batak yang mesti diekspresikan secara empiris dalam gaya hidup, way of life yang berserah diri kepada Sang Khalik dalam kebersahajaan dan ketulusan.

Cuplikan buku Hita Batak A Cultural Strategy.

 

 

Footnote:

[1]   Bandingkan: Warneck, Johannes, 1906: Tobabataksch-deutsches Wörterbuch, s.150.

[2]   Limbong, Bernhard, 2014: Kamus Bahasa, Batak Toba-Indonesia; Indonesia-Batak Toba, h.321.

[3]   Bandingkan: Warneck, Johannes, 1906: s.66; dan Limbong, Bernhard, 2014: h.105-106.

[4] Nogar, Raymond J., Ph.D., 1963: The Wisdom of Evolution; New York: Doubleday & Company, Inc., p.394.

[5]   Bandingkan: Warneck, Johannes, 1906: s.129.

[6] Unsur Hamoraon: antara lain (1) Parbahul-bahul na bolon (punya bakul besar) sebagai simbol atau sifat memiliki dan memberi hati yang tulus sehingga hidup dengan sifat lapang dada, penuh sabar, lebih banyak memberi, dan suka introspeksi diri. (2) Paramak na so habalunon (punya tikar yang tidak pernah digulung) sebagai simbol atau sifat terbuka atau membuka diri (menjamu) semua orang tanpa memikirkan dari kaum mana (marga apa) atau kampung mana. (3) Parapi na so haitopan atau Partataring na so mintop (punya tungku masak yang tak pernah padam) yaitu sifat atau simbol punya bekal (baca: kemampuan ekonomi/finansial) untuk siap dan rela menolong dan memberi makan orang lain.

[7]   Premis: n 1 apa yang dianggap benar sebagai landasan kesimpulan kemudian; dasar pemikiran; alasan; 2 asumsi; 3 kalimat atau proposisi yang dijadikan dasar penarikan kesimpulan di dalam logika (KBBI).

[8]   Warneck, Johannes, 1906: s.179.

[9]   Warneck, Johannes, 1906: s.175.

[10] Mangkuling Mudar: Maka bagi orang Batak dikenal istilah ‘mangkuling mudar na’ (darahnya bersuara) di antara bersaudara, atau bertalian darah. Menunjukkan kepekaan (darah) di antara bersaudara, atau kerabat bertalian darah. (Bandingkan Kejadian 4: 10).

[11]  Baca: Bab 5.1.3. Sahala Harajaon Si Raja Batak, anak judul: Tiga Amanat Sahala Harajaon Batak.

[12]  Gibran, Kahlil, 1992: Le Prophète; Traduit de l’anglais et présenté par Anne Wade Minkowski; Préface d’Adonis; Paris: Gallimard, p.30.

[13]  Simatupang, Mauritz, Prof. Dr., 1995: Falsafah dan Nilai Luhur Habatahon, Suatu Kajian Awal, makalah Seminar Falsafah dan Nilai Luhur Habatahon,  50 Tahun Indonesia Merdeka, 7 Oktober 1995, di Aula Indosat, Jakarta, h.9.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here