Fufufafa
Sebuah istilah baru untuk memahami cara manusia berbicara tanpa harus selalu memahami apa yang dikatakannya
Ada kata-kata yang tidak perlu memiliki arti sejak lahir. Cukup menunggu sampai dunia memberinya cukup banyak contoh.
Fufufafa
fu-fu-fa-fa / kata benda, kata sifat, kata kerja.
Dalam Kamus Lorong Kata, fufu-fafa adalah istilah untuk ucapan atau perilaku yang mengandung absurditas, kemunafikan, penjilatan, hujatan, atau campuran semuanya, terutama ketika disampaikan dengan keyakinan penuh oleh seseorang yang seharusnya tahu apa yang sedang dibicarakannya. Orang yang gemar memproduksinya disebut fufufafa, sedangkan tindakan melakukannya disebut berfufufafa.
Istilah ini tidak mengenal pangkat, jabatan, gelar akademik, atau panjang-pendeknya daftar penghargaan. Ia bisa ditemukan dalam percakapan warung kopi, kolom komentar, ruang rapat, podium kenegaraan, sampai konferensi pers yang semula dijadwalkan untuk menjernihkan persoalan, tetapi berakhir dengan menambah persediaan persoalan baru.
Dari segi kebahasaan, fufufafa merupakan kata yang menarik karena bunyinya terasa akrab, meskipun maknanya belum tentu. Ia terdengar seperti celotehan, tiruan suara, atau bunyi yang keluar ketika seseorang belum menemukan sesuatu yang lebih berguna untuk dikatakan. Tidak ada kesan bahwa kata ini sedang memikul tanggung jawab besar. Bunyi fu-fu-fa-fa seperti berjalan santai, tanpa terbebani kewajiban untuk sampai pada suatu pengertian.
Asal-usulnya belum dapat dipastikan. Kamus Lorong Kata tidak akan mengarang etimologi hanya agar sebuah kata terdengar lebih berpendidikan. Dalam urusan bahasa, mengakui bahwa asal-usul sebuah istilah belum jelas jauh lebih terhormat daripada menciptakan silsilah yang meyakinkan. Lagi pula, tidak semua kata menemukan kegunaannya pada saat pertama kali muncul. Ada kata yang baru terasa penting setelah kehidupan menyediakan cukup banyak contoh untuk menjelaskan mengapa kata itu diperlukan.
Keistimewaan fufufafa terletak pada kelenturan bentuknya. Ia dapat menjadi kata benda untuk menyebut ucapan atau perilaku, kata sifat untuk menerangkan sesuatu yang mengandung ciri-ciri tersebut, sekaligus kata kerja dalam bentuk berfufufafa. Sebuah pernyataan bisa terasa fufufafa, seseorang bisa berfufufafa, dan sebuah forum dapat mengalami kefufufafaan ketika pembicaraan di dalamnya semakin panjang tetapi persoalan yang hendak dijawab tidak juga bergerak ke mana-mana.
Dari kata dasarnya, beberapa bentuk turunan dapat dibayangkan. Fufufafais dapat dipakai untuk menyebut proses mengubah persoalan yang sebenarnya sederhana menjadi rangkaian pernyataan yang semakin membingungkan. Fufufafisme bisa menjadi nama bagi kebiasaan berpikir atau berkomunikasi yang melahirkan gejala tersebut. Sementara itu, fufufafolog adalah sebutan bagi orang yang menghabiskan banyak waktu untuk mengamati, mengumpulkan, dan mengklasifikasikan contoh-contohnya.
Yang terakhir ini tentu bukan profesi resmi. Belum ada fakultas yang membuka program studi Fufufafologi, meskipun bahan kuliahnya tampaknya tersedia cukup banyak. Bahkan, beberapa contoh mungkin dapat dipakai sebagai soal ujian tanpa perlu membuat skenario fiktif.
Bentuk-bentuk itu merupakan permainan bahasa dalam Kamus Lorong Kata, bukan istilah baku yang sudah diakui dalam tata bahasa Indonesia. Namun, bahasa sehari-hari tidak selalu menunggu pengesahan untuk menemukan kata yang dirasanya berguna. Kadang-kadang, kata baru muncul karena istilah yang tersedia terlalu serius untuk menggambarkan sesuatu yang begitu konyol. Fufufafa memiliki kelebihan itu: ia dapat menerangkan keadaan yang sulit dijelaskan tanpa membuat penuturnya ikut kehilangan akal sehat.
Secara semantik, wilayah maknanya juga cukup luas. Ia tidak sekadar menunjuk ucapan yang keliru atau tidak masuk akal. Orang bisa salah bicara karena kurang informasi, salah memahami pertanyaan, atau memang tidak tahu. Kekeliruan semacam itu masih dapat diperbaiki dengan penjelasan. Fufufafa mulai terasa ketika sesuatu yang janggal disampaikan dengan keyakinan penuh, ketika pujian kehilangan ukuran, kritik dibalas dengan penghinaan, atau jawaban malah menimbulkan pertanyaan baru.
Sebuah kalimat bahkan bisa benar secara harfiah, tetapi tetap terasa fufufafa karena dipakai untuk menghindari pokok persoalan. Pujian bisa tulus, tetapi menjadi fufufafa ketika kebesaran kata-katanya jauh melampaui hal yang sedang dipuji. Lelucon juga dapat masuk ke wilayah ini apabila disampaikan pada saat orang lain sedang menghadapi sesuatu yang tidak pantas diperlakukan sebagai bahan tertawaan. Yang membuatnya menarik bukan semata-mata bunyi atau susunan katanya, melainkan jarak antara ucapan, keadaan, dan tanggung jawab orang yang mengucapkannya.
Maka, mulai hari ini, Kamus Lorong Kata menahbiskan fufufafa sebagai istilah satiris untuk ucapan dan perilaku yang memenuhi pengertian tersebut. Keputusan ini tidak memerlukan rapat ahli, seminar nasional, atau pengesahan dari lembaga bahasa. Tidak ada anggaran perjalanan dinas yang perlu disiapkan, panitia khusus, maupun sambutan pembukaan yang menjelaskan mengapa bangsa kita membutuhkan lebih banyak percakapan bermutu. Ia berdiri sendiri, sederhana, cukup dengan satu penetapan: bahwa istilah itu kini resmi menjadi bagian dari Lorong Kata.
Tentu, definisi memerlukan contoh penggunaan. Kamus biasa mengumpulkan contoh untuk memperlihatkan bagaimana kata bekerja dalam kalimat. Kamus Lorong Kata melakukan hal serupa, hanya saja bahan penelitiannya tidak perlu dicari terlalu jauh. Kehidupan publik sudah menyediakan cukup banyak bahan, termasuk dari orang-orang yang pekerjaannya semestinya membuat mereka lebih berhati-hati ketika berbicara.
Salah satu bentuk yang mudah dikenali adalah pujian yang ukurannya terus membesar sampai hampir tidak menyisakan ruang bagi kenyataan. Dalam sebuah video yang diunggah pada November 2023, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memuji Gibran Rakabuming Raka dengan gambaran bahwa ia jarang berbicara, tetapi sekali berucap bisa mengguncang dunia. Video itu berasal dari masa kampanye Pilpres 2024, bukan komentar terhadap polemik dokumen pendidikan yang kembali ramai pada 2026. Belakangan, potongannya beredar dengan konteks yang membuatnya seolah-olah berkaitan dengan polemik tersebut.
Frasa “mengguncang dunia” tentu tidak dilarang dalam bahasa Indonesia. Dunia memang bisa diguncang oleh banyak hal, dari penemuan ilmiah sampai gempa bumi. Persoalannya terletak pada ukuran pujian. Jika sebuah ucapan dianggap mampu mengguncang dunia, kita patut bertanya apakah dunia memang begitu mudah terguncang atau bahasa pujian sedang kehilangan alat ukurnya. Kamus Lorong Kata tidak memiliki perangkat untuk mengukur besarnya guncangan tersebut. Kami hanya mencatat bahwa dalam politik, seseorang kadang-kadang belum perlu melakukan sesuatu yang mengguncang dunia untuk terlebih dahulu mendapat pujian yang seolah-olah sudah mengguncangnya.
Bentuk lain muncul dalam perdebatan mengenai ijazah. Pada Juli 2025, Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan menanggapi polemik ijazah seorang mantan presiden dengan mempertanyakan pentingnya ijazah dan mengatakan bahwa ia sendiri tidak tahu di mana menyimpan ijazahnya. Menurutnya, yang lebih penting adalah kontribusi kepada negara.
Tentu, kontribusi kepada negara merupakan hal penting. Ijazah yang tersimpan rapi tidak otomatis membuat seseorang berguna, sebagaimana dokumen yang hilang tidak menghapus seluruh pekerjaan yang pernah dilakukannya. Namun, persoalan kontribusi dan persoalan dokumen bukan dua hal yang harus saling meniadakan. Seseorang bisa berjasa sekaligus tetap diminta menunjukkan dokumen ketika dokumen itulah yang sedang dipersoalkan.
Menjawab pertanyaan tentang ijazah dengan menyebut kontribusi ibarat menjawab pertanyaan tentang alamat rumah dengan menjelaskan betapa baiknya hubungan kita dengan para tetangga. Informasinya mungkin benar, bahkan mungkin membuat kita terlihat sebagai tetangga teladan. Namun, alamat rumah yang ditanyakan tetap belum ditemukan.
Dalam tata bahasa Kamus Lorong Kata, ini dapat disebut fufufafa jenis pengalihan semantik: pembicaraan berpindah dari persoalan yang sedang ditanyakan ke persoalan lain yang terdengar lebih luhur. Kontribusi tidak kehilangan nilainya hanya karena dokumen sedang dipersoalkan. Justru karena kontribusi dan dokumen memiliki fungsi berbeda, keduanya tidak bisa saling menggantikan begitu saja.
Ada pula fufufafa yang bekerja melalui laporan tentang keadaan. Pada September 2026, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Suharyanto menyampaikan dalam rapat terbatas bersama presiden bahwa roda kehidupan masyarakat di Kalimantan berjalan normal di tengah kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap. Dua hari kemudian, ia meminta maaf dan menjelaskan bahwa kata “normal” merujuk pada indikator terbatas, seperti lalu lintas darat, perdagangan, dan pelayanan masyarakat yang masih berjalan. Ia juga menegaskan bahwa pernyataannya tidak dimaksudkan untuk mengabaikan penderitaan masyarakat terdampak.
Kamus Lorong Kata mengenali pola semacam ini sebagai ABS, Asal Bapak Senang. Nama itu memang sudah lama beredar dalam percakapan birokrasi. Kita tidak perlu memastikan apakah seseorang sungguh-sungguh berniat menyenangkan atasannya untuk melihat persoalan dalam cara sebuah keadaan dilaporkan. Sebuah laporan bisa menyebut fakta yang benar, tetapi tetap memberikan gambaran yang tidak utuh ketika bagian yang masih berjalan dipakai untuk mewakili keadaan secara keseluruhan.
Jalan raya tetap dilalui kendaraan, perdagangan berlangsung, dan pelayanan dasar tersedia. Semua itu mungkin benar. Namun, ketika kualitas udara memburuk, kesehatan terganggu, kegiatan pendidikan terdampak, dan penerbangan terhambat, kata normal menjadi persoalan tersendiri. Rupanya, kehidupan bisa berjalan normal dalam laporan sementara masyarakat yang menjalaninya harus berhadapan dengan keadaan yang jauh dari normal.
ABS tidak selalu memerlukan kebohongan terang-terangan. Kadang-kadang, cukup memilih bagian kenyataan yang paling nyaman untuk dilaporkan, lalu membiarkan bagian yang menyulitkan berada di luar bingkai. Dalam bentuk ini, fufufafa bukan hanya persoalan pilihan kata. Ia menyangkut cara kenyataan disajikan kepada orang yang membutuhkan gambaran utuh untuk mengambil keputusan.
Bentuk yang berbeda muncul ketika sebuah kesimpulan dipakai sebagai bukti otomatis bagi sesuatu yang justru masih perlu dibuktikan. Pada Oktober 2026, menanggapi putusan Mahkamah Konstitusi dalam polemik dokumen pendidikan yang dipersoalkan, Wakil Presiden Gibran mengatakan, “Kalau saya tidak lulus SMA, kan saya enggak mungkin bisa kuliah. Saya kan kuliah sampai S1 juga di Singapura.”
Kalimat itu terdengar sederhana karena dibangun dari sesuatu yang benar-benar terjadi: ia memang menempuh pendidikan tinggi. Namun, pertanyaan yang sedang dibahas berkaitan dengan dokumen yang menunjukkan pemenuhan persyaratan pendidikan. Keberhasilan mencapai tahap berikutnya tidak otomatis menjelaskan seluruh proses dan dokumen pada tahap sebelumnya, terutama ketika justru hal itulah yang sedang dipersoalkan.
Untuk keperluan Kamus Lorong Kata, teknik ini dapat disebut fufufafa jenis lompatan logika. Hasil akhir diperlakukan sebagai bukti otomatis atas seluruh proses yang mendahuluinya, meskipun hubungan antara keduanya masih membutuhkan penjelasan. Kita tidak perlu menyimpulkan bahwa seseorang pasti tidak lulus SMA untuk melihat bahwa jawaban tentang gelar sarjana belum dengan sendirinya menyelesaikan setiap pertanyaan mengenai dokumen pendidikan sebelumnya.
Lompatan logika memiliki keistimewaan: ia dapat disampaikan dengan sangat tenang dan terdengar begitu masuk akal bagi orang yang tidak memeriksa hubungan antara premis dan kesimpulannya. Dalam bentuk yang lebih licin, hasil yang terlihat di ujung perjalanan seolah-olah dikirim kembali ke masa lalu untuk membuktikan bahwa seluruh perjalanan pasti berlangsung sesuai urutan yang dibayangkan. Kamus Lorong Kata menyebutnya kredensial sebagai mesin waktu. Fitur ini belum tersedia dalam sistem pembuktian biasa, tetapi tampaknya cukup populer dalam percakapan publik.
Dari lompatan logika, kita bergerak ke bentuk fufufafa yang lebih kasar. Pada September 2026, dalam pidato politik, Presiden Prabowo Subianto menyindir sejumlah pakar yang dianggap melontarkan fitnah dengan mengatakan bahwa saking pintarnya mereka bisa menjadi goblok. Di sini, pembicaraan tentang ketepatan kritik bergeser ke penghinaan terhadap orang yang menyampaikan kritik. Jika pendapat seorang pakar keliru, tentu ada ruang untuk membantah data, metode, atau kesimpulannya. Tetapi menyebut orang yang mengajukan kritik sebagai goblok tidak dengan sendirinya membuat kritik itu gugur. Kata makian bukan alat uji ilmiah, meskipun sesekali tampaknya dipakai seolah-olah bisa menggantikan seluruh proses pengujian.
Pada kesempatan lain, Prabowo menggunakan istilah londo ireng untuk menyebut pihak-pihak yang dinilainya melayani kepentingan asing. Istilah itu menjadi bahan perdebatan, disertai penjelasan bahwa sasaran yang dimaksud bukan seluruh wartawan atau pengkritik pemerintah. Kritik terhadap kepentingan asing tentu bukan hal yang terlarang. Namun, ketika pengkritik lebih dahulu ditempatkan dalam kategori yang mencurigakan, pembicaraan mengenai isi kritik berisiko berhenti sebelum dimulai. Orang akhirnya lebih sibuk memikirkan siapa yang dicurigai sebagai londo ireng daripada memeriksa bukti tentang kepentingan asing yang sedang dibicarakan.
Rangkaian ini menyediakan bahan yang cocok untuk level tertinggi dalam Kamus Lorong Kata. Kritik dibalas dengan serangan terhadap pengkritik; pengkritik diberi label yang membuat isi kritiknya ikut dicurigai; lalu ketika ucapan menjadi kontroversi, pembicaraan dapat beralih kepada cara orang lain menafsirkan atau menyebarkannya. Dalam satu rangkaian, persoalan awal bisa tertinggal jauh di belakang, sementara perdebatan baru terus bermunculan di sekeliling ucapan yang pertama.
Tidak semua contoh fufufafa berbentuk serangan atau lompatan logika. Kadang-kadang ia datang dalam bentuk lelucon yang salah tempat. Ketika Hasan Nasbi, yang saat itu memimpin Kantor Komunikasi Kepresidenan, ditanya mengenai teror kiriman kepala babi kepada jurnalis Tempo, ia menjawab, “dimasak saja”. Hasan kemudian menjelaskan maksud ucapannya, sementara Prabowo menilai respons tersebut ceroboh dan keliru.
Dalam percakapan biasa, kalimat itu mungkin dimaksudkan sebagai kelakar spontan. Namun, pertanyaan yang dihadapi bukan tentang bahan makanan, melainkan teror terhadap media. Ketika publik membutuhkan penjelasan mengenai ancaman terhadap jurnalis, jawaban yang mengarah ke dapur justru membuat pemerintah harus menjelaskan kembali apa yang sebenarnya ingin disampaikan. Persoalan awal belum selesai, tetapi percakapan sudah memperoleh babak tambahan.
Kamus Lorong Kata menyebutnya kelakar salah tempat. Tidak semua lelucon buruk harus menjadi urusan negara. Tetapi ketika pejabat diminta menanggapi teror terhadap pers, pilihan kata memiliki konsekuensi yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengatakan bahwa maksudnya bercanda. Humor boleh spontan; tanggung jawab atas ucapan tidak ikut spontan menghilang.
Dari berbagai contoh itu, tampak bahwa fufufafa memiliki beberapa wilayah makna: sanjungan yang kehilangan ukuran, pengalihan semantik, normalisasi parsial, lompatan logika, serangan terhadap pengkritik, dan kelakar yang salah tempat. Bentuknya berbeda-beda, tetapi ada satu hal yang membuatnya saling berdekatan: ucapan yang seharusnya membantu menjelaskan persoalan justru membuat persoalan itu semakin kabur, semakin jauh, atau semakin sulit dibicarakan.
Kata ini juga tidak mengenal batas ideologi. Ia hadir bukan semata di kubu yang berseberangan dengan kita, melainkan juga pada orang yang tidak kita sukai, dan tetap bertahan bahkan ketika pembicaranya berasal dari kelompok yang kita dukung. Jika fufufafa hanya dipakai untuk menertawakan lawan politik, ia akan kehilangan kegunaan kamusnya dan berubah menjadi senjata dalam perang komentar. Tentu, jauh lebih menyenangkan menemukan fufufafa pada orang yang tidak kita sukai. Kita tidak perlu berdebat panjang untuk menikmati kesalahannya. Yang lebih sulit adalah mengenalinya ketika keluar dari mulut orang yang kita bela.
Orang yang merasa istilah ini ditujukan kepadanya tidak perlu buru-buru mengajukan keberatan. Kamus Lorong Kata tidak menyebut nama siapa pun dalam definisi resminya. Pembaca dipersilakan menguji sendiri contoh-contoh yang tersedia. Bila ada yang merasa definisi ini terlalu luas, silakan mengajukan sanggahan. Kamus ini terbuka untuk masukan, selama masukan tersebut tidak sekadar menjelaskan mengapa orang yang mengajukannya tidak mungkin berfufufafa.
Sebab itulah, untuk sementara, Kamus Lorong Kata belum memerlukan sinonim. Fufufafa sudah cukup lentur untuk menampung pujian yang melambung, jawaban yang melompat, laporan yang terlalu nyaman, makian yang menggantikan argumen, dan kelakar yang membuat persoalan bertambah panjang. Jika kelak maknanya perlu diperluas, kita tidak perlu tergesa-gesa. Kehidupan publik biasanya akan membantu menyediakan edisi berikutnya.
Sementara itu, kamus ini mencatat satu aturan sederhana: orang yang paling yakin dirinya tidak mungkin berfufufafa belum tentu merupakan orang yang paling aman dari kemungkinan tersebut. Bahkan, keyakinan semacam itu mungkin perlu diperiksa sebagai entri tersendiri. (Atur Lorielcide / TokohIndonesia.com)
Lampiran: Panduan Level dan DLC Fufufafa
Lampiran ini menjaga sisi permainan agar esai utama tidak berubah menjadi daftar kategori. Pembaca yang ingin melanjutkan permainan bisa membuka level-level berikut.
Level permainan
Level 1 · Basic
Fufufafa ringan
Pujian yang kelewat tinggi, ucapan ganjil, atau kelakar yang membuat orang mengernyit. Belum tentu berbahaya, tetapi cukup untuk membuat kamus membuka halaman pertama.
Level 2 · Technical
Lompatan logika
Jawaban terdengar meyakinkan, tetapi hubungan antara pertanyaan dan kesimpulannya belum tuntas. Bonus fitur: kredensial sebagai mesin waktu.
Level 3 · Advanced
Pengalihan dan normalisasi parsial
Sebagian fakta dipakai untuk mewakili seluruh keadaan. Pemain dapat menemukan indikator yang masih berjalan, tetapi harus mencari bagian kenyataan yang tertinggal di luar laporan.
Level 4 · Nightmare
Serangan terhadap pengkritik
Isi kritik belum dijawab, tetapi orang yang mengajukannya sudah mendapat label. Pemain harus memisahkan pemeriksaan argumen dari penilaian terhadap orangnya.
Level 5 · Ultimate Fufufafa
Boss terakhir: serangan, label, dan klarifikasi berantai
Kritik dibalas dengan serangan terhadap pengkritik. Label membuat isi kritik ikut dicurigai. Ketika ucapan menjadi persoalan, pembicaraan beralih kepada dugaan bahwa ucapan tersebut dipelintir atau disalahpahami.
Efek khusus: persoalan awal belum selesai, tetapi perdebatan sudah memiliki beberapa babak baru.
Syarat membuka level: satu pernyataan mampu menghasilkan rangkaian kontroversi dan klarifikasi yang panjang, sementara pertanyaan awal tetap menunggu jawaban.
Downloadable Content (DLC)
ABS Edition — Asal Bapak Senang
Laporan menonjolkan indikator yang masih berjalan, sementara keadaan yang terganggu berisiko tidak mendapat gambaran seimbang. Pemain tidak perlu menebak isi hati pelapor. Cukup periksa apa yang masuk ke dalam laporan dan apa yang tertinggal di luarnya.
Lompatan Logika: Kredensial Mesin Waktu
Hasil akhir dikirim kembali ke masa lalu untuk membuktikan seluruh proses yang mendahuluinya. Tidak perlu memeriksa semua tahap, selama gelar atau hasil akhirnya sudah tersedia.
Sanjungan Tanpa Batas
Pujian meningkat sampai ukurannya jauh melampaui bukti yang tersedia. Semakin besar kata-katanya, semakin sulit mencari alat ukur yang sepadan.
Klarifikasi Berantai
Setiap penjelasan dimaksudkan untuk menjernihkan persoalan, tetapi sekaligus membuka pertanyaan baru tentang maksud, konteks, pilihan kata, atau dampak pernyataan sebelumnya.


Tulisan ini bagian dari sistem kesadaran reflektif

