BerandaLorong KataSalam Tiga Jari

Salam Tiga Jari

Ketika Suara Rakyat Direndahkan

Tulisan ini bagian dari sistem kesadaran reflektif RielNiro 📷 – Sistem Sunyi
Lama Membaca: 2 menit

Saat suara direndahkan dan diolok-olok, tubuh mencari jalan lain untuk berbicara.

Dalam The Hunger Games, tiga jari terangkat sebagai salam perpisahan. Di bawah Capitol, gestur kecil itu pelan-pelan menjelma tanda solidaritas dan perlawanan. Penguasa punya banyak cara untuk menunjukkan kuasa; rakyat menemukan cara sendiri untuk menegaskan bahwa mereka masih ada.

Adegan fiksi itu terasa dekat ketika salam tiga jari muncul dalam aksi #IndonesiaSadar di Jakarta, 28 Oktober 2026 lalu. Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, mahasiswa dan sejumlah elemen masyarakat sipil mengacungkan tiga jari sambil membawa slogan getir: sadar dipalak, sadar dibakar, sadar dimiskinkan.

Hampir seabad setelah Sumpah Pemuda, anak-anak muda kembali turun ke jalan menyuarakan kegelisahan tentang negeri sendiri. Ikrar persatuan itu sudah lama menjadi bagian dari sejarah tetapi suara warga rupanya masih bisa diperlakukan sebagai sesuatu yang boleh diabaikan.

Kita tahu, kritik kepada pemerintah sering punya nasib aneh. Persoalan bisa menunggu lama untuk dijawab, sementara satu ejekan segera menyebar ke mana-mana. Pada 18 September 2026 lalu, Presiden Prabowo Subianto menyindir para pakar yang melontarkan kritik dengan ucapan, “saking pintarnya jadi goblok.” Pernyataan itu disampaikan dalam pidato HUT ke-28 Partai Amanat Nasional.

Analisis pakar bisa keliru dan tuduhan tetap perlu dibuktikan. Tetapi ketika kritik dibalas dengan ejekan, yang ramai dibicarakan justru kalimat ejekannya. Potongan video beredar, orang sibuk memperdebatkan ucapan presiden, sementara persoalan yang memicu perdebatan kembali menunggu giliran. Kritik memang mendapat panggung, hanya saja yang tampil sering kali si pengkritik, bukan masalah yang dibawanya.

Cara lain yang sering digunakan kekuasaan untuk menghindari pertanyaan yang tidak menyenangkan adalah sibuk mempersoalkan siapa yang bertanya. Kritik terhadap kebijakan mendadak dikaitkan dengan kesetiaan kepada negara, sementara tuduhan antek asing dijadikan jalan pintas untuk menyingkirkan pokok persoalan. Argumen tak perlu dibedah jika pengkritiknya lebih dulu dibuat tampak mencurigakan.

Suara kritis di ruang publik sering berhadapan dengan ejekan dan kecurigaan, sementara di internet persoalannya lebih jauh. Komdigi mengakui telah menurunkan 486 konten media sosial terkait demonstrasi 27 Agustus 2026 lewat patroli siber, meski membantah membatasi akses internet. Komnas HAM masih meneliti jenis konten yang diturunkan dan dasar hukumnya. Dalam keadaan seperti itu, salam tiga jari menjadi bahasa bisu yang mudah dikenali: sebuah tangan terangkat, tangan lain membalas, sementara kata-kata yang menyertainya tetap bisa diperdebatkan, dipelintir, atau dijadikan bahan olok-olok.

Dalam The Hunger Games, salam itu lahir di bawah rezim yang menanamkan ketakutan. Di Indonesia, sejarah dan keadaannya berbeda, tetapi gestur itu tetap akrab: ia menunjukkan bahwa rakyat melihat, mengingat, dan menyimpan keberatan. Tiga jari memang tidak menyelesaikan persoalan, tetapi ia menandai bahwa persoalan itu belum hilang.

Simbol semacam ini mudah berakhir sebagai gaya. Ia muncul di kaus, foto profil, atau unggahan media sosial, sementara pasar punya bakat mengemas apa saja termasuk ketidakpuasan. Bahkan kemarahan bisa tampil rapi di kaus baru, lengkap dengan ukuran S sampai XL.

Tetapi salam tiga jari di jalanan Jakarta bukan sekadar urusan gaya. Pada 28 Oktober, massa aksi sempat tertahan barikade aparat ketika hendak menuju Bundaran HI. Slogan mereka membawa tuntutan tentang lingkungan, anggaran, pendidikan, hukum, dan kebebasan sipil. Di antara spanduk dan tangan yang terangkat, ada persoalan yang menunggu jawaban. Menganggapnya sekadar pose tentu lebih mudah daripada menjawab apa yang membuat orang merasa perlu mengangkat tangan bersama-sama.

Tiga jari yang terangkat itu membawa tuntutan nyata. Di seberangnya, kekuasaan masih harus belajar mendengar rakyat tanpa sibuk menertawakan cara mereka berbicara, apalagi membungkam suara yang tak ingin didengarnya.

Anda Mungkin Suka

(Atur Lorielcide / TokohIndonesia.com)

Lorong Kata adalah ruang esai dan refleksi di TokohIndonesia.com, tempat gagasan dan kesadaran saling menyeberang. Dari persoalan publik hingga perjalanan batin, dari hiruk opini hingga keheningan Sistem Sunyi, di sini kata mencari keseimbangannya sendiri. Berpijak pada semangat Merdeka Roh, Merdeka Pikir, dan Merdeka Ilmu, setiap tulisan di Lorong Kata mengajak pembaca menatap lebih dalam, berjalan lebih pelan, dan mendengar yang tak lagi terdengar.

Pintu masuk Sistem Sunyi akan dimuat saat tab dibuka.

 

Kuis Kepribadian Presiden RI
🔥 Teratas: Habibie (24.1%), Jokowi (19%), Gusdur (15.1%), Soeharto (9.9%), Megawati (9.7%)
Artikulli paraprak

Populer (All Time)

Terbaru