BerandaLorong KataFufufafa Uangnya Gak Ada

Fufufafa Uangnya Gak Ada

Pelajaran Matematika yang Sulit Dipahami Guru

Tulisan ini bagian dari sistem kesadaran reflektif RielNiro 📷 – Sistem Sunyi
Lama Membaca: 2 menit

Saya baru tahu uang ternyata bisa tidak ada sekaligus ada dalam waktu yang hampir bersamaan.

Pagi itu saya membaca Kamus Lorong Kata. Saya berhenti cukup lama pada sebuah istilah: fufufafa. Istilah itu dipakai untuk menyebut ucapan atau perilaku yang mengandung absurditas, kemunafikan, penjilatan, hujatan, atau campuran semuanya, terutama ketika disampaikan dengan keyakinan penuh oleh orang yang seharusnya tahu apa yang sedang dibicarakannya.

Saya tersenyum membaca penjelasannya. Sebagai guru, saya cukup akrab dengan hal-hal yang terdengar masuk akal saat diucapkan, lalu terasa berbeda ketika berhadapan dengan kenyataan sehari-hari.

Belakangan saya membaca berita tentang kesejahteraan guru. Dalam pembahasan soal itu, Presiden Prabowo mengatakan uangnya belum ada. Berita tersebut langsung membawa pikiran saya kepada kehidupan yang dijalani setiap bulan. Gaji sudah memiliki alamat masing-masing: kebutuhan rumah, ongkos berangkat mengajar, makan, serta berbagai pengeluaran yang tidak bisa ditunda. Kalau ada yang bertanya apakah gaji guru cukup, jawabannya tidak perlu dicari terlalu jauh. Coba saja hidup dengan gaji itu.

Beberapa waktu kemudian muncul berita tentang insentif fiskal Rp1 triliun bagi pemerintah daerah yang berhasil menjalankan program Makan Bergizi Gratis. Saya tidak keberatan anak-anak mendapat makanan bergizi karena mereka memang membutuhkannya. Namun, angka satu triliun terasa sulit dilewatkan begitu saja setelah mendengar bahwa uang untuk kesejahteraan guru belum tersedia. Pikiran saya kembali pada kebutuhan hidup yang harus dihitung setiap bulan, lalu bertanya mengapa satu urusan bergerak begitu lambat sementara urusan lain dapat mencapai angka sebesar itu.

Kesejahteraan guru masih berhadapan dengan kalimat “uangnya belum ada”, sedangkan program lain memperoleh dukungan anggaran hingga satu triliun rupiah. Saya memahami bahwa keduanya memiliki tujuan dan pos anggaran yang berbeda. Meski begitu, rasa ganjil itu tetap tertinggal. Sebagai guru yang setiap bulan harus memastikan penghasilan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, sulit mengabaikan kenyataan bahwa kesejahteraan kami terus berbenturan dengan alasan yang sama, sementara anggaran negara bergerak dalam hitungan triliunan untuk keperluan lain.

Saya kembali teringat pada fufufafa. Istilah yang pagi itu masih terasa seperti entri kamus mendadak menjadi begitu dekat dengan berita yang sedang saya baca. Rupanya, contoh yang saya cari tidak perlu jauh-jauh. Besok saya tetap masuk kelas, mengajar, memeriksa pekerjaan murid, lalu pulang dengan urusan sekolah yang belum selesai. Kehidupan guru terus berjalan, sementara pembicaraan tentang kesejahteraan masih berputar di tempat yang sama dan belum juga mendekati tujuan yang kami harapkan.

Anda Mungkin Suka

Saya tidak sedang meminta satu triliun itu diberikan kepada guru. Yang mengganjal hanyalah kenyataan bahwa urusan kami selalu tiba di tempat yang sama: uangnya belum ada. Sementara itu, angka-angka triliunan terus bermunculan untuk keperluan lain.

(Atur Lorielcide / TokohIndonesia.com)

Lorong Kata adalah ruang esai dan refleksi di TokohIndonesia.com, tempat gagasan dan kesadaran saling menyeberang. Dari persoalan publik hingga perjalanan batin, dari hiruk opini hingga keheningan Sistem Sunyi, di sini kata mencari keseimbangannya sendiri. Berpijak pada semangat Merdeka Roh, Merdeka Pikir, dan Merdeka Ilmu, setiap tulisan di Lorong Kata mengajak pembaca menatap lebih dalam, berjalan lebih pelan, dan mendengar yang tak lagi terdengar.

Pintu masuk Sistem Sunyi akan dimuat saat tab dibuka.

 

Kuis Kepribadian Presiden RI
🔥 Teratas: Habibie (24.3%), Jokowi (19.2%), Gusdur (15%), Soeharto (9.9%), Megawati (9.6%)

Populer (All Time)

Terbaru