Jakob Oetama Sepuluh Windu

 
0
48

Jakob Oetama Sepuluh Windu

[BERITA TOKOH] – LEADERSHIP – Dr (HC) Jakob Oetama genap berusia 80 tahun, Selasa, 27 September 2011. Pencapaian usia panjang ini patut disyukuri oleh keluarga dan kerabat dekat khususnya, serta karyawan Kompas Gramedia umumnya, mengingat pada usia sepuluh windu ini Jakob masih tetap dalam kondisi sehat dengan pikiran yang tetap cemerlang.

Tidak dapat dipungkiri, fisik Jakob menuju ringkih, akan tetapi tidak demikian dengan pikiran dan pandangannya; selalu muda, segar dan mencerahkan. Saat Jakob berbicara di depan para karyawan Kompas Gramedia dalam berbagai kesempatan, khidmat selalu didapat. Bukan karena semata-mata penghormatan kepada sosok pendiri perusahaan yang mengakar ini, lebih karena tutur kata dan bicaranya selalu bernas, berisi, dan baru (novel).

Memulai karir sebagai guru sekolah menengah pertama di Jakarta awal tahun 1950-an, Jakob terjun ke dunia jurnalistik saat ia menjadi redaktur Mingguan Penabur tahun 1956, berlanjut mendirikan majalah Intisari tahun 1963. Bersama PK Ojong, dua tahun kemudian Jakob menerbitkan Harian Kompas untuk pertama kalinya 28 Juni 1965. Sepeninggal Ojong, Jakob meneruskan Harian Kompas sehingga mencapai puncak kejayaannya di bisnis harian cetak, hingga saat ini.

Pihak luar menyebut sinis Kompas tengah mempraktikkan “jurnalisme kepiting”, jurnalisme yang menunggu kesempatan mencapit tetapi diam jika terkena hardikan. Rupanya gaya yang menjadi sindirin pihak luar itulah yang terus dipraktikkan Jakob sebab baginya menyelamatkan ribuah karyawan dan keluarganya jauh lebih berarti daripada memenuhi selera gagah-gagahan, tetapi hanya sekali hidup setelah itu mati.

Jakob adalah orang yang merasakan benar pasang-surutnya Harian Kompas, khususnya setelah Kompas mengalami pemberangusan pada masa Soeharto berkuasa tahun 1978. Pemberangusan Harian Kompas memberi pelajaran tersendiri, sekaligus konsekuensi kehati-hatian yang tinggi yang tercermin lewat judul berita yang tidak provokatif. Pihak luar menyebut sinis Kompas tengah mempraktikkan “jurnalisme kepiting”, jurnalisme yang menunggu kesempatan mencapit tetapi diam jika terkena hardikan. Rupanya gaya yang menjadi sindirin pihak luar itulah yang terus dipraktikkan Jakob sebab baginya menyelamatkan ribuah karyawan dan keluarganya jauh lebih berarti daripada memenuhi selera gagah-gagahan, tetapi hanya sekali hidup setelah itu mati.

Jakob pada usianya yang mencapai 80 tahun hari ini, tetap semangat bekerja karena falsafah yang ditanamkannya adalah “bekerja adalah ibadah”, sebagai perluasan makna “Ora et Labora”. Maka tidak aneh jika Jakob tetap menyampaikan pidato tanpa teksnya yang bernilai saat syukuran lahirnya KompasTV beberapa pekan lalu. Jakob sendirilah yang menancapkan tonggak baru di lingkungan Kompas-Gramedia, bahwa Kompas tidak lagi sebuah “Newspaper”, tetapi sudah mewujud menjadi “Newsbrand”. Artinya, sebagaimana selalu ditekankan Jakob, konten Kompas tidak melulu hadir dalam bentuk print (cetak), tetapi juga dalam bentuk online, video, dan sejumlah aplikasi seperti iPad, PlayBook atau Android. Pada usianya yang ke-80, Jakob masih berkesempatan menyaksikan metamorfosa “Newspaper” menjadi “Newsbrand” tersebut. (PEP, Kompas) Berita TokohIndonesia.com | Kompas

© ENSIKONESIA – ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA

 

Tokoh Terkait: Jakob Oetama, | Kategori: Berita Tokoh – LEADERSHIP | Tags: Wartawan, Kompas, Pers, HUT

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here