Manajemen Ketahanan Pangan dan Ekonomi Sirkular di Al-Zaytun

Perlu Ditiru dan Diadopsi Pemerintah

AS Panji Gumilang Gula dan Semut Indonesia Karunia Ilahi Korupsi Ketahanan Pangan Indonesia, Mestinya Adidaya Visi Indonesia Raya 2024-2050
 
1
1048
Penulis bersama Tim Majalah Horas Indonesia di Istana Beras Al-Zaytun mendapat penjelasan dari Ustad Abdul Halim Sekretaris YPI-Zaytun

Oleh: Dr. Sampe Purba

Al-Zaytun adalah Pondok Pesantren modern berasrama di daerah Indramayu, Pantai Utara Jawa Barat di bawah pimpinan Syaikh Panji Gumilang. Visi Al-Zaytun adalah Pusat Pendidikan Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian Menuju Masyarakat Sehat, Cerdas dan Manusiawi. 

Beberapa hari yang lalu – out of curiosity – penulis berkesempatan datang di Ponpes ini, menghadiri wisuda sarjana IAI Az-AZIS (Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia). Orasi ilmiah dibawakan pembicara tamu Dahlan Iskan, Jend. (purn) Kivlan Zen dan Ch. Robin Simanullang.  Kami mendengar langsung dari Syekh Panji bagaimana pengelolaan pendidikan termasuk manajemen pangan diselenggarakan. Keesokan harinya Ustad Abdul Halim, Sekretaris Yayasan membawa rombongan kami berkeliling di beberapa fasilitas pertanian, peternakan, laboratorium dan industri pendukungnya.

@tokoh.id

Ma’had Al-Zaytun: Menyanyi Indonesia Raya 3 Stanza #mahadalzaytun #indonesiaraya #indonesiaraya3stanza #indonesiaraya🇲🇨 #pesantrenalzaytun #alzaytunviral #azzaytun

♬ original sound – Tokoh Indonesia – Tokoh Indonesia

Penulis Dr. Sampe Purba di Peternakan (Pemuliaan) Sapi Zaytun

Areal Ponpes sekitar 1600 Hektar yang dibeli secara bertahap sejak tahun 1990an. Gedung Sekolah, Kampus, Asrama dan Perkantoran terletak di tengah dengan luas 324 Hektar. Sekitar 650 Ha merupakan lahan tanaman keras, palawija, pusat perikanan dan lahan peternakan, dan 600 Ha di sisi luar sebagai lahan persawahan produktif. Jumlah peserta didik (mulai tingkat SD hingga Mahasiswa), tenaga kependidikan dan karyawan berjumlah sekitar 8.000 orang. Apabila rata-rata konsumsi ¼ kg beras, itu artinya per hari harus disediakan dua ton beras, di luar sayuran, buah-buahan maupun makanan suplemen pendukung.

Di Al-Zaytun seluruh kebutuhan pangan warganya dipenuhi dari hasil sendiri, dengan strategi pemberdayaan masyarakat setempat yang ditopang teknologi tepat guna. Eks pemilik lahan, masyarakat sekitar maupun pendatang diberi kesempatan menggarap persawahan dengan sistem bagi hasil, mereka difasilitasi dan dimodali. Mereka tergabung dalam Paguyuban Petani Penyangga Ketahanan Pangan Indonesia. Musim tanam dua kali setahun. Bibit padi dan sarana produksi disediakan, yang akan diperhitungkan setelah panen (yarnen = bayar panen). Sisanya dibagi dua dengan Al-Zaytun, yang membeli seluruhnya sesuai harga yang ditetapkan oleh Pemerintah.

Gabah yang telah dibersihkan disimpan dalam satu silo berkapasitas 1000 ton. Al-Zaytun memiliki satu rangkaian penggilingan padi terpadu berbentuk horizontal. Jenis ini hanya ada dua di Indonesia. Padi digiling sesuai kebutuhan. Mesin gilingan padi tersebut hanya dilayani dua orang saja, mulai dari masuk gabah di ujung sini hingga keluar beras premium di ujung sana yang telah terjahit dalam karung-karung. Teknologi dan komputer membantu kelancaran kerja. Kapasitas giling 50 Ton per hari. Karena tempat penyimpanannya di silo berbentuk kerucut terbalik, maka yang akan digiling pertama adalah gabah pada urutan terbawah dengan prinsip First In First Out (FIFO). Dengan suhu yang tepat, kualitas gabah tetap terjaga. Syekh Panji menyebut ini adalah adaptasi modern dari ilmu Nabi Yusuf yang mampu menjaga dan menyimpan 7 tahun panen gandum di Mesir kuno tanpa cacat.

Bibit padi adalah bibit unggul hasil pemuliaan sendiri. Ada jenis kualitas Thailand, kualitas padi Jepang hingga padi unggul daerah. Al-Zaytun mengembangkannya sendiri, karena menurut Syekh Panji, kualitas bibit padi pemerintah selama ini adalah ex bibit IR yang sudah agak lama tidak diperbaharui, serta boros pupuk kimia pula.

Tanaman padi menggunakan pupuk kandang yang berasal dari limbah kotoran ratusan sapi, domba, kambing, dan ribuan ayam hasil pemuliaan (peliharaan) di sana. Bekas pepadian dan tanaman buah-buahan musiman lainnya dijadikan sebagai campuran kompos. Adapun sisa-sisa limbah makanan harian santri merupakan santapan ikan dan sapi-sapi. Sapi-sapi itu dengan gembira menyantap sisa makanan yang bebas dari pupuk kimia organik.  Itulah sesungguhnya wujud ekonomi sirkular.

Al-Zaytun saat ini sedang membangun dua kapal penangkap ikan berkapasitas masing-masing 600 gross ton (GT) atau rata-rata dua kali kapasitas kapal nelayan besar sebagai bagian dari rencana pusat perikanan terpadu. Progressnya telah melewati 75%. Kapal dilengkapi dengan tempat penyimpanan ikan (cold storage) modern, yang mampu berlayar dan menangkap selama lima tahun di Laut Arafura (sesuai izin yang sudah dimiliki). Setiap 15-30 hari ada kapal menjemput tangkapan. Al-Zaytun berencana membangun 90 kapal sejenis.

Advertisement

Pembangunan awal Al-Zaytun tahun 1996 dan diresmikan oleh Presiden B.J Habibie tahun 1999. Presiden RI Ke-2 HM Soeharto pernah menginap di Ponpes ini tahun 2004. Beberapa Menteri dan Pejabat Senior seperti Harmoko, Menteri Agama Malik Fajar, Mantan Kepala BIN Hendropriyono, Jenderal Wiranto hingga Kepala KSP yang sekaligus Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia, Jenderal Moeldoko telah berkunjung dan menyatakan kekagumannya akan sistem pengelolaan pendidikan yang terpadu dengan pertanian modern. Ini adalah pusat pendidikan yang memberi kesempatan kepada anak-anak didik melihat secara vocational bagaimana suatu pesantren modern didirikan dan dikelola dengan menjaga keseimbangan kelestarian alam, lingkungan, warga sekitar dan manusia. Diharapkan anak-anak lulusannya akan dapat berkiprah dengan baik kelak di manapun, sesuai dengan motto Al-Zaytun

“Menghantar peserta didik untuk jadi dirinya pada zamannya”

Pada tulisan berikutnya akan kami jelaskan bagaimana Al-Zaytun mencukupi seluruh kebutuhan konsumsinya mulai dari air minum, garam, kecap, teh, lauk-pauk, gula, sabun dan sebagainya secara mandiri.

Pusat Pendidikan Al-Zaytun tidak terlalu jauh dari Jakarta. Kami menghimbau kiranya Pemerintah, dunia pendidikan, industri dan masyarakat pergi dan belajar serta berstudi banding ke sana. Al-Zaytun adalah salah satu mutiara bersinar terintegrasi pendidikan, pertanian, perkebunan dan peternakan terpadu. Model ini, kalau saja dapat ditiru dan diadopsi Pemerintah, Pemerintah Daerah dan dunia industri, maka – Insya Allah – Indonesia akan mampu lebih mandiri. Haleluyah

Jakarta, Mei 2023

Penulis adalah Lulusan Lemhannas RI dan Alumni Universitas Pertahanan RI

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini