Bapak Roman Modern Indonesia

[ Marah Rusli ]
 
0
1104
Marah Rusli
Marah Rusli | Tokoh.ID

[ENSIKLOPEDI] Roman baru dikenal di tahun 1920 setelah Marah Rusli hadir dengan karya fenomenalnya, Siti Nurbaya. Berkat karyanya itu, ia dianggap sebagai pengarang roman pertama dalam sejarah sastra Indonesia sekaligus pembaharu dalam penulisan prosa yang ketika itu lebih banyak berbentuk hikayat. Sehingga tak berlebihan bila HB Jassin kemudian memberinya gelar sebagai Bapak Roman Modern Indonesia. 

Pria bernama lengkap Marah Rusli bin Abu Bakar ini sudah tertarik pada dunia sastra sedari kecil. Hal itu ditandai dengan kegemaran Marah Rusli mendengar kisah-kisah dari buku roman Barat yang kerap dibawakan tukang kabba, sebutan untuk pendongeng di Sumatera Barat yang berkeliling kampung menjual ceritanya.

Ayahnya, Sultan Abu Bakar, adalah seorang bangsawan dengan gelar Sultan Pangeran yang bekerja sebagai demang. Sementara ibunya seorang wanita biasa. Gelar “Marah” di depan namanya, diberikan oleh keluarga ayahnya sebab ibunda Marah Rusli tidak memiliki gelar Puti yang biasa disandang putri bangsawan.

Marah bersekolah di Rofdenschool, Bukittinggi dan menamatkan pendidikannya di sekolah yang kerap disebut sebagai ‘sekolah raja’ itu di tahun 1910. Semasa bersekolah, pria kelahiran Padang 7 Agustus 1889 ini dikenal sebagai siswa yang cerdas dan berprestasi. Sehingga ketika lulus, salah satu gurunya yang bernama Hoornsma menganjurkan Marah untuk belajar ke negeri Belanda. Namun, orang tuanya tidak mengizinkan karena Marah merupakan anak semata wayang.

Marah Rusli kemudian hijrah dari Padang ke kota Bogor untuk melanjutkan studinya di sekolah dokter hewan. Setelah merampungkan kuliahnya, ia kembali ke kampung halamannya. Namun tanpa sepengetahuannya, ayahnya telah menjodohkannya dengan gadis sekampungnya. Marah pun berontak, berbagai alasan ia lontarkan untuk membatalkan perjodohan tersebut. Namun, tak ada satu pun yang berhasil mencairkan kekerasan hati ayahnya. Akhirnya, dengan terpaksa, ia menerima pernikahan itu, dengan syarat, setelah menikah ia akan langsung menceraikan istrinya. Tentu saja, syarat tersebut ditolak mentah-mentah. Marah yang merasa semakin terpojok akhirnya secara diam-diam meninggalkan Padang, dan kembali ke Bogor.

Ketika bermukim di Kota Hujan itulah, roman Siti Nurbaya lahir. Roman yang pengerjaannya mulai dirintis tahun 1918 itu ditulis berdasarkan pengalaman di sekitar adat dan tradisi di kampung halamannya sekaligus pengalaman pribadinya yang dipaksa menikah dengan gadis pilihan orangtuanya.

Ketika naskah roman tersebut terbit di tahun 1920, ayahnya sempat mengirim sepucuk surat. Dalam surat tersebut, sang ayah menyayangkan tindakan putra tunggalnya itu karena dianggap menabrak adat istiadat yang berlaku. Meski begitu, nyatanya Siti Nurbaya mendapat sambutan yang baik terutama dari kalangan pemuda dan memicu mereka untuk berbuat hal yang serupa, yakni mendobrak aturan adat yang kuno.

Selain dunia sastra dan kesehatan hewan, Marah juga cukup aktif dalam organisasi olahraga. Pada tahun 1950, ia pernah menjabat sebagai kepala perekonomian dan pendiri Voetbalbond (perkumpulan sepak bola) di Semarang. Masih di kota yang sama, Marah Rusli juga sempat duduk sebagai komisaris PSSI. Kemudian di tahun 1952, Marah pensiun sebagai dokter hewan dengan pangkat terakhir sebagai Dokter Hewan Kepala.

Tak dapat dipungkiri, berkat Siti Nurbaya, Marah Rusli dianggap sebagai pengarang roman pertama dalam sejarah sastra Indonesia. Ia dianggap sebagai pembaharu dalam penulisan prosa yang ketika itu lebih banyak berbentuk hikayat. Maka tak berlebihan jika HB Jassin kemudian memberinya gelar sebagai Bapak Roman Modern Indonesia.

Bukan cuma itu saja. Siti Nurbaya juga dianggap sebagai roman terpenting pada masanya, karena dalam karya sastra tersebut, ia mulai meletakkan landasan pemikiran-pemikiran yang mengarah kepada emansipasi wanita dan mendobrak adat yang tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Ia ingin melepaskan masyarakat dari belenggu adat yang tidak memberi kesempatan bagi para pemuda untuk menyatakan pendapat atau keinginannya.

Di tahun 1911, saat usianya baru menginjak 22 tahun, Marah menemukan cinta sejatinya, seorang gadis berdarah Sunda kelahiran Bogor. Mereka pun mengucap janji sehidup semati sebagai pasangan suami istri, meski pernikahan itu tanpa sepengetahuan dan seizin orang tuanya. Kebahagiaan kian bertambah lengkap, setelah pasangan ini dikaruniai tiga orang anak, dua putra dan satu putri.

Untuk menghidupi keluarganya, Marah bekerja sebagai ajunct dokter hewan di Sumbawa Besar. Meski lebih dikenal sebagai sastrawan, Marah Rusli memang tetap menjalani karirnya sebagai dokter hewan. Berbeda dengan Taufiq Ismail dan Asrul Sani yang memang benar-benar meninggalkan profesinya sebagai dokter hewan karena memilih menjadi penyair.

Marah pernah menjabat sebagai Kepala Perhewanan di Bima di tahun 1916. Setelah itu ia diangkat menjadi kepala peternakan hewan kecil di Bandung, lalu mengepalai daerah perhewanan di Blitar pada tahun 1918. Tahun 1920, Marah ditunjuk sebagai asisten dokter di almamaternya. Setahun kemudian, ia hijrah ke Jakarta. Tahun 1925, ia ditugaskan ke Balige, Tapanuli, Sumatera Utara.

Meski disibukkan dengan kegiatannya sebagai dokter, ia tetap menjalankan hobi menulisnya. Pada tahun 1924, ia melahirkan roman terbarunya yang berjudul La Hami. Novel yang mengisahkan kehidupan masyarakat Sumbawa itu didedikasikan sebagai tanda terima kasihnya kepada penduduk yang telah banyak membantu selama ia bertugas di pulau itu.

Selama masa revolusi, Marah Rusli menetap di Solo. Pada tahun 1946, ia masuk ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia) yang mengurus pengangkutan angkatan darat, pertanian, perhewanan, dan perikanan, serta makanan untuk keperluan ALRI Tegal. Tak hanya itu, ia juga disibukkan dengan kegiatannya melatih pegawai-pegawai kehewanan. Dua tahun setelah bergabung dengan ALRI, ayah tiga anak ini dipercaya menjadi dosen Sekolah Dokter Hewan di Klaten.

Selain dunia sastra dan kesehatan hewan, Marah juga cukup aktif dalam organisasi olahraga. Pada tahun 1950, ia pernah menjabat sebagai kepala perekonomian dan pendiri Voetbalbond (perkumpulan sepak bola) di Semarang. Masih di kota yang sama, Marah Rusli juga sempat duduk sebagai komisaris PSSI. Kemudian di tahun 1952, Marah pensiun sebagai dokter hewan dengan pangkat terakhir sebagai Dokter Hewan Kepala.

Sastrawan yang melahirkan tokoh fiksi Siti Nurbaya, Saiful Bahri, dan Datuk Maringgih ini meninggal dunia di Bandung, 17 Januari 1968 pada usia 78 tahun. Jenazah kakek musisi Harry Roesli itu dikebumikan di Bogor, Jawa Barat. Setahun setelah kepergiannya, Pemerintah Republik Indonesia memberi hadiah tahunan dalam bidang sastra untuk romannya yang legendaris, Siti Nurbaya. Roman Siti Nurbaya memang fenomenal, hingga tahun 1996 tercatat telah 22 kali dicetak ulang, diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia, serta pernah diangkat dalam sinetron di tahun 90-an.

Selain Siti Nurbaya, Marah juga meninggalkan berbagai karya sebagai warisan budaya yang tak ternilai harganya, antara lain Tambang Intan Nabi Sulaiman, yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Belanda dan diterbitkan di Jakarta ; Anak dan Kemenakan ; dua naskah roman yang masing-masing berjudul Memang Jodoh dan Tesna Zahera ; serta Gadis yang Malang, sebuah karya terjemahan dari novel Charles Dickens. eti | muli, red

Data Singkat
Marah Rusli, Sastrawan, dokter hewan / Bapak Roman Modern Indonesia | Ensiklopedi | Bangsawan, pionir, penulis, pelopor, roman, Dokter hewan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here