Pentingnya Character Building

[ Urip Santoso ]
 
0
115
Urip Santoso
Urip Santoso | Tokoh.ID

[ENSIKLOPEDI] BIO 06 | Kalau dibandingkan dengan pendidikan dewasa ini, pendidikan secara umum, bukan cuma pendidikan militer, sudah kurang menekankan character building. Contohnya, perpeloncoan mahasiswa baru di perguruan tinggi, apalagi di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN), mahasiswa baru ditendang sampai ada yang mati.

Dibandingkan dengan ‘perpeloncoan’ di Belanda (KIM), lamanya sebulan tapi tidak ada kekerasan. Karena prinsipnya yang mau ditanamkan adalah respek terhadap aturan, seperti tidak boleh bohong, mencuri dan harus respek terhadap senior. Para senior juga tidak ada melontarkan kata-kata kotor atau keras, apalagi melakukan kekerasan fisik. Urip mengenang pengalamannya di Akademi AL Belanda (KIM), selama sebulan mereka tidak boleh jalan biasa, dari kelas ke kamar tidur harus lari. Senior yang memelonco juga hanya kelas tertinggi. Yang kelas dua, hanya nonton, bicara saja sama siswa yang sedang dipelonco tidak boleh. Selesai perpeloncoan mereka akrab lagi dan respek terhadap senior.

Urip memberi contoh betapa junior selalu menghormati senior. Ketika proses penyusunan buku, mereka bekerja sama dengan alumni KIM di Belanda. Salah seorang mantan KASAL Belanda, walaupun begitu dia tetap respek sama senior. Pengalaman berbeda bisa dialami di Indonesia. Tidak jarang seorang yang junior karena berpangkat tinggi, terlihat angkuh seakan-akan tidak kenal sama seniornya. Urip sendiri sering melihat dan merasakan di berbagai pertemuan. Menurut Urip, itu karena character building-nya kurang.

Salah satu contoh yang dia alami sendiri. Suatu ketika, dia diundang mengikuti acara yang diselenggarakan Laksamana Sudomo[1] dalam rangka Phinisi Nusantara. Sudomo menyambut kedatangan mereka. Pada saat yang sama, Yoga Sugama juga ada di situ. Kemudian, Sudomo memanggil Urip dengan akrab, lalu memperkenalkan, ini Jenderal Yoga Sugama, dan juga menyebut ini Laksamana Urip. Saat bersalaman, Urip memandang sorot mata Yoga Sugama, yang lagaknya seolah-olah tak mengenal Urip. Lalu, masih sambil bersalaman, Urip mengatakan: “Kamu kan dulu satu kamar sama saya bersama almarhum Zulkifli Lubis? Kala itu, Urip dan Yoga sama-sama berpangkat kapten. Yoga hanya ketawa malu. Domo sendiri terlihat agak kaget.

Sangat berbeda dengan mantan KASAL Belanda yang lebih junior dari Urip, tetapi selalu respek kepada seniornya. “Padahal kita bukan Belanda, itu hasil didikan KIM,” kata Urip.
Setelah setahun bertugas, dia pun menghadap bagian personalia, menyatakan bahwa dia tidak betah dalam tugas itu. Dia meminta spesialisasi. Tapi selama tiga tahun dia harus bertugas sebagai perwira administrasi, pindah-pindah. Tapi karena pimpinan sudah tahu bahwa dia tidak senang, maka dia tak pernah ditugaskan di kapal, hanya di darat terus.

Setelah tiga tahun, dia pun diijinkan mengikuti spesialisasi. Dia diberangkatkan mengikuti pendidikan di USNAV Deep Sea Diving & Salvage Officer Course, Washington DC – USA, 1958. Suatu pendidikan yang sebetulnya itu spesialisasi pelaut dan marinir. Dia yang sejak dulu senang di laut, melakoni pendidikan spesialisasi penyelaman dalam laut, deep sea diving dan pengangkatan kapal, itu dengan baik.

Kemudian juga mengikuti latihan renang bawah air untuk persiapan UDT (underwater demolition team) di USNAVSCOL u/w Swimmer School, Key West, Fa, USA, 1959 dan Under Water Demolition Team – UDT (SEAL), Virginia, Little Creek, USA, 1959. Kemudian pada zamannya Kennedy, UDT diganti menjadi Navy Seal, korps elit AL terkenal di Amerika Serikat. Pendidikan (kursus) spesialisasi inilah yang menentukan karir dan kehidupannya selanjutnya.

Maka, ketika dia kembali ke tanah air, Kepala Staf Angkatan Laut agak bingung mencari penempatannya yang pas. Akhirnya Urip ditempatkan pada korps khusus. Dinas khusus, yang orang lain tidak ada, hanya Urip sendiri.

Kemudian, sejak 1961, Urip bertugas dalam proyek pembersihan pelabuhan dan alur pelayaran kapal-kapal tenggelam di perairan nusantara. Dia melakukan tugas itu bersama dengan perusahaan asing. Mereka membersihkan pelabuhan dan perairan laut dari Sabang sampai Makassar. Dan rencananya akan terus dilanjutkan sampai Merauke. Tetapi, pekerjaan belum selesai, dia ditugaskan mendirikan (melatih) Pasukan Katak TNI Angkatan Laut (1961) dalam rangka perjuangan Trikora (Tri Komando Rakyat) untuk membebaskan Irian Barat dari tangan kolonial Belanda. Bio TokohIndonesia.com | crs-ms

Footnote:
[1] Sudomo, Laksamana TNI (Purn), mantan Pangkopkamtib, Menteri Tenaga Kerja (19 Maret 1983 – 22 Maret 1988) dan Ketua DPA. Lahir di Malang, 20 Sep 1926. Dia mengaku di usia tuanya merasa terlahir kembali atau justru menemukan hidupnya kembali. Dia merasa lebih tenang dan khusyuk. ”Kalau orang lain berkata hidup dimulai umur 40 tahun, saya justru mulai umur 75 tahun,” kata Sudomo. Dia yang pernah murtad, kembali lagi pada keyakinannya semula, memeluk agama Islam. (www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/s/sudomo/)

Data Singkat
Urip Santoso, Pembentuk Kopaska dan Pionir Wisata Bahari / Pentingnya Character Building | Ensiklopedi | Pengusaha, TNI, komisaris, pengajar

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here