Sang CEO Bermata Elang

[ Zaenal Soedjais ]
 
0
171

04 | Karir Manajer Profesional

Zaenal Soedjais
Zaenal Soedjais | Tokoh.ID

Berbekal lulusan pendidikan luar negeri, ketika diminta pulang ke tanah air oleh Sotion Arjanggi, dia langsung dipercaya sebagai asisten direktur utama di PT Semen Gresik. Posisi itu tepat baginya mengingat sebelumnya dia adalah seorang konsultan.

Di Semen Gresik, ia antara lain mengerjakan berbagai proyek, membangun Semen Cibinong, membangun Semen Longa di Aceh, kemudian mempersiapkan pembangunan pabrik di Baturaja, Sumatera Selatan, dan Semen Kupang di NTT.

Kemudian, ia dipromosikan menjadi Direktur Keuangan dan Komersial di PT Semen Madura, juga sebuah perusahaan BUMN, berlokasi di pulau Madura. Dua tahun bekerja di sana pada tahun 1982-1983, dia menyampaikan tender pendirian pabrik semen di atas tanah seluas 450 ha.

Tetapi pemerintah membatalkan rencana pendirian pabrik semen Madura itu dengan alasan uang tidak ada. Oleh pemerintah, aset-aset disuruh jual ke swasta. Belakangan baru diketahuinya bahwa alasan sesungguhnya bukan soal keuangan negara.

Tetapi, dikatakan swasta tersebut tidak menghendaki adanya pabrik semen baru di Jawa Timur, tetapi menghendaki sebuah pabrik semen yang berada di Cibinong yakni Indocement, itulah yang diperluas, lalu hasil tambahannya digunakan untuk mengisi pasar daerah Jawa Timur.

Selesai mengabdi di Madura sejak tahun 1983, ia ditugaskan ke PT Pupuk Kaltim (PKT). Jabatannya sama, Direktur Keuangan dan Komersil. Namun kelas dan skala usaha PKT lebih besar. Ketika itu, Pupuk Kaltim yang sebelumnya adalah proyek Pertamina untuk memanfaatkan gas yang tersedia banyak, baru memiliki satu unit pabrik yang masih dalam pembangunan.

Ketika baru bergabung di PKT, Soedjais sudah langsung diperhadapkan pada sebuah persoalan pelik dan menantangKetika baru bergabung di PKT, Soedjais sudah langsung diperhadapkan pada sebuah persoalan pelik dan menantang, walau penyebabnya hal sepele (yang tidak terpikirkan sebelumnya). Pabrik Pupuk Kaltim I direncanakan berlokasi di off shore atau di laut. Urea Plant di atas satu tongkang, lalu Amonia Plant di tongkang yang satunya lagi. Maksudnya, jika cadangan gas habis pabrik bisa diangkat untuk dipindahkan ke daerah yang ada gasnya.

Menurut Soedjais, rencana ini menarik tetapi aneh. Pasalnya ada hal yang dianggap sepele tetapi sangat vital. Ia memberi gambaran. Jika misalnya pada waktu pabrik dipindahkan ke tempat lain, off site facility seperti listrik, air dan sebagainya, berada di darat.

Menurut Soedjais, pilihan-pilihan seperti, apakah pabrik didirikan di off-shore atau on-shore, bagi perusahaan-perusahaan besar adalah sepele, tetapi terkadang tidak pernah terpikirkan tentang fasilitas lain, seperti listrik dan air. Setelah diberi tahu, barulah dapat dipahami dan mereka yang berkepentingan tersadar.

Kalau misalnya pabrik dipindahkan ke tempat lain yang jaraknya 20 km atau lebih, mereka tidak memikirkan tentang listrik atau air yang masih tertinggal di on shore atau di darat. Itu adalah alasan pertama. Yang kedua, sebagai pabrik terapung suatu ketika harus masuk dok. Menarik pabrik berbobot ratusan ribu ton adalah pekerjaan yang sangat beresiko. Akhirnya tidak jadi terealisasi.

Di PKT, sebagai seorang direktur memperoleh banyak kepuasan batin lewat berbagai pengabdian masyarakat. Di Bontang itu, selain meningkatkan kinerja perusahaan, ia juga berperan besar membangun sebuah komunitas masyarakat baru. Setelah dipercaya menjadi direktur PT. Pupuk Kaltim selama dua periode lebih, tepatnya 12,5 tahun antara tahun 1983-1995, banyak pihak mengharapkan agar Soedjais menjadi direktur utama dengan berbagai alasan.

Namun pemerintah mengangkatnya menjadi Direktur Utama PT Asean Aceh Fertilizer (AAF), untuk menyelamatkannya dari kebangkrutan. Memang, dia pun berhasil bahkan sampai sempat memberikan dividen 50 juta dolar AS, dan sepeninggalnya PT AAF menjadi kaya raya, hutang tinggal sedikit, tetapi sebenarnya bisa dilunasi karena memiliki cash lebih dari US$ 100 juta.

Selesai dari AAF, ia melanjutkan tour of duty-nya sebagai direktur utama PT Pupuk Sriwijaya (Pusri), Palembang, sejak 23 Mei 2001. Pusri adalah sebuah perusahaan besar karena merupakan holding company dari pabrik-pabrik pupuk lain seperti PT Pupuk Kaltim, PT Pupuk Kujang, PT Petrokimia Gresik, dan PT Pupuk Iskandar Muda. Bahkan, di bawah Pusri masih ada dua perusahaan di luar pabrik pupuk yaitu PT Industry, Engineering & Construction Company dan PT Trading Company. Di sini dia diperhadapkan pada aneka problematika yang menuntut kejelian dan kehandalan manajeral.(Bersambung) Marjuka, Ch.Robin S (Diterbitkan juga di Majalah Tokoh Indonesia Edisi 12).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here