Tito, Jejak Cemerlang

Tito Karnavian
 
0
1542

02 | Tito Berprestasi Sejak Belia

Kapolri Jenderal Tito Karnavian, sudah berprestasi sejak kecil. Selalu berprestasi dalam pendidikan dengan meraih juara (terbaik) sejak SD, SMP, SMA, Akpol, PTIK dan Lemhannas, sampai meraih gelar doktor magna cum laude.

Sejak SD, SMP dan SMA, Tito selalu juara. Dia juga penerima bintang Adhi Makayasa sebagai lulusan Akpol terbaik 1987, penerima bintang Wiyata Cendekia sebagai lulusan terbaik PTIK 1996, dan penerima Bintang Seroja sebagai peserta Lemhannas terbaik 2011. Tito juga menyelesaikan pendidikan Sesko di Royal New Zealand Air Force Command & Staff College, Auckland, New Zealand (1998); Sespim Pol, Lembang (2000).

Tito Karnavian di tengah kesibukannya dalam tugas-tugas kepolisian, juga berhasil meraih gelar akademis Master of Arts (MA) bidang Studi Kepolisian dari University of Exeter, UK (1993); Bachelor of Arts (BA) bidang Strategic Studies, Massey University, New Zealand (1998), dan Ph.D (doctor) bidang Studi Strategis tentang Terorisme dan Radikalisasi Islam di S. Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University, Singapore, dengan predikat magna cum laude (2013).

Tito bernama lengkap Jenderal Polisi Drs. Muhammad Tito Karnavian, MH, PhD, lahir pada tanggal 26 Oktober 1964 di Palembang, Sumatera Selatan. Ayahnya bernama Drs. H Achmad Saleh bin Saleh Mualim (lahir di Lubuklinggau, 28 Agustus 1938, meninggal 27 Oktober 2016), alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya dan seorang wartawan (mantan penyiar Radio Republik Indonesia – RRI). Ibunya bernama Hj Kardiah berprofesi sebagai bidan. Tito adalah anak ke-2 dari 4 bersaudara. Tiga saudaranya adalah Prof Dr Diah Natalisa MBA, Dr. Iwan Dakota SpIP, dan Dr. Fifa Argentina, SpKK.

Sang Ayah mengisahkan mengapa dia memberi nama Tito Karnavian kepada puteranya itu. Nama Tito diambil dari nama Presiden Yugoslavia, Josip Broz Tito yang punya hubungan pertemanan sangat akrab dengan Presiden Soekarno. Bung Karno dan Tito adalah penggagas Gerakan Non-Blok pada 1961. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Non Blok pertama diadakan di ibu kota Yugoslavia, Beograd. “Saya mengagumi Josip Broz Tito dan Soekarno,” kata Sang Ayah.

Sedangkan nama Karnavian, diambil dari kata Karnaval. Saat Tito lahir di Rumah Sakit Charitas, Palembang, 26 Oktober 1964, kebetulan di depan rumah sakit itu sedang ada karnaval mahasiswa Unsri. “Saya juga sering mengurusi karnaval mahasiswa. Salah satunya karnaval di Unsri,” kata Sang Ayah.

Dengan nama Tito Karnavian itu, Sang Ayah berharap puteranya kelak menjadi pemimpin yang cerdas, berdisiplin, jujur, berpengaruh dan disegani serta berbakti untuk kepentingan masyarakat, bangsa, negara dan dunia.

Masa kecil Tito terbilang sangat berwarna, dengan segala dinamika dan romantikanya. Sebagaimana anak-anak umumnya, Tito suka bermain petak-umpet, layangan, perang-perangan dan lain-lain. Tito juga sering berenang di Sungai Musi bersama teman-teman sebayanya. “Tito kecil dulu bisa menyeberangi Sungai Musi,” kenang Sang Ayah. Saat itu mereka tinggal di Tangga Buntung 36 Ilir, sebelum pindah ke Jalan Sambu No. 36 Rt 02 Rw 01, Palembang.

Tito kecil mulai mengenyam pendidikan formalnya di SD di kawasan Tangga Buntung 36 Ilir itu, kemudian pindah ke SD Xaverius 4 Palembang. Namun, pada saat Tito duduk di kelas tiga SD, kedua orang tuanya bercerai. Suatu kondisi keluarga yang sangat tidak diinginkan oleh anak-anak, tak terkecuali Tito dan ketiga saudaranya. Ayahnya kemudian menikah dengan Hj Supriyatini, SPd, MSi dan Sang Ibunda menikah dengan H. Andi Swandi Hatta.

Perceraian kedua orangtuanya tentulah menimbulkan efek psikologis bagi Tito dan tiga kakak-adiknya. Namun kondisi itu tidak sampai berakibat menghambat kesempatannya mengecap pendidikan di sekolah yang tergolong terbaik di kota kelahirannya. Kedua orangtuanya tetap berkomitmen untuk menyekolahkan putera-puterinya. Tito kecil juga menyadari kondisi rumah tangga orang tuanya yang membuatnya harus lebih mandiri. Kendati perceraian orang tuanya sangat menyedihkan baginya, tapi berkat kesadaran yang timbul dari dalam dirinya, Tito berhasil menamatkan pendidikan SD-nya 1976 dengan prestasi terbaik.

Advertisement

Kemudian, Tito melanjut ke SMP Xaverius 2 Palembang, tamat 1980. Lalu melanjut ke SMA Negeri 2 Puncak Sekuning Palembang, tamat 1983. Dia aktif kegiatan pramuka di sekolahnya sejak SMP hingga SMA. Dalam setiap jenjang pendidikannya, Tito selalu meraih prestasi terbaik, juara. Dia dikenal sebagai siswa yang cerdas, berdisplin dan punya semangat tinggi yang lahir dari dalam dirinya sendiri.

Sebagaimana dituturkan Sang Ayah dan Sang Ibunda serta Ibu tirinya Hj. Supriatini dan Ayah tirinya Andi Swandi Hatta, Tito memang sejak kecil menerapkan hidup penuh semangat kejuangan dan kemandirian yang muncul dari dalam dirinya sendiri.

Sang Ayah mengatakan, Tito sejak masa kecil, memang anak yang memiliki tekad kuat dan komitmen serta mandiri dalam setiap usaha yang dijalaninya. Juga memiliki rasa persaudaraan yang tinggi dengan saudara-saudaranya. Dia anak pemberani dan terkadang terkesan nakal. Dia sering bangun kesiangan. Dia bisa berangkat ke sekolah dengan kaos kaki yang asal-asalan dan hanya membawa sebuah buku yang digulung dan dimasukkan ke kantong belakang. Alasannya, buku pelajarannya sudah selesai dibacanya, maka tak perlu dibawa.

Tapi dalam mengerjakan tugas sekolah (PR, pekerjaan rumah), Tito selalu berdisiplin. Sebagai contoh, manakala Tito punya PR (pekerjaan rumah) dari sekolah, tugas itu akan diselesaikan lebih dulu sampai tuntas, barulah dia mau diajak temannya bermain. Sikap disiplin itu muncul dari kemauan Tito sendiri.

Hj. Supryatini mengatakan, sejak kecil Tito telah menunjukkan diri sebagai pemimpin yang cerdas. Kalau tengah bermain perang-perangan, Tito tidak pernah mau kalah. Kalau dia terkena tembak, dia mengatakan cuma tangannya yang kena, sehingga dia tidak mati.

Dia cerdas. “Saat Tito duduk di bangku SD Xaverius 4 dan SMP Xaverius 2 terus mendapatkan prestasi, peringkat satu atau dua. Berlanjut saat sekolah di SMA 2 Palembang,” kata Hj. Supriatini.

Sang Ayah menimpali, Tito juga gemar membaca. Terutama cerita-cerita detektif, petualangan atau kepahlawanan. Jiwa kepemimpinannya sudah terlihat sejak kecil terutama saat di SMA. Dia pernah menjadi ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMA Negeri 2 Palembang. Tito juga tergabung dalam vokal grup.

“Dia aktif di organisasi. Jiwa kepemimpinannya memang sudah terlihat sejak sekolah. Saya benar-benar bangga dengannya,” kata Budiono, guru olahraga Tito Karnavian di SMAN 2 Palembang. Senada, Emi Simanungkalit, guru Fisika Tito di SMAN 2 Palembang mengatakan, prestasi akademik Tito juga bagus, dia anak yang cerdas.[3]

Dia juga anak gaul, dikenal sebagai sosok yang ramah dan rendah hati. Bergaul dengan teman-teman sebayanya nimbrung di penjual mie, model, pempek, dan nongkrong hingga larut malam di Jalan Kapten A Rivai, dekat kediamannya di Jalan Sambu, Palembang.[4]

Sementara, Sang Ibunda, Hj Kardiah mengatakan Tito adalah anak cerdas yang lebih cepat tanggap ketimbang teman-temannya. Tito sejak kecil selalu fokus setiap mendengarkan penjelasan guru di kelas. Tito selalu mendapat peringkat satu di kelas. Sehingga, pengakuan Sang Ibunda, dulu banyak ibu-ibu dari teman Tito datang meminta resep supaya punya anak yang cerdas. “Bahkan guru Tito juga datang. Padahal, Tito sama saja dengan anak yang lain,” ungkap Hj. Kardiah.

Prestasi Tito terbukti, setamat SMA, dia berhasil lulus tes masuk empat perguruan tinggi. Yakni Fakultas Kedokteran Unsri, Hubungan Internasional FISIP UGM, STAN dan Akabri. Namun, akhirnya Tito memilih Akabri (Kepolisian) dengan pertimbangan praktis soal biaya, ingin meringankan beban orang tua.

Sang Ibunda yang berprofesi bidan menginginkan Tito menjadi dokter. “Saya bidan, dulu saya sarankan anak saya ambil kedokteran, tetapi dia malah berkata, nanti ibu keluar banyak uang untuk biaya. Tito tidak mau jadi beban,” ujar Kardiah. Alasan yang sama juga dikemukakannya kepada Sang Ayah. Jika dia memilih masuk universitas, tanggungan orang tuanya akan amat berat. Selain uang kuliah, juga sewa kamar kos dan uang makan/saku bulanan. Sementara jika memilih Akabri, semua biaya itu tak perlu ditanggung orangtuanya.

Alasan Tito dipahami dan diterima kedua orang tuanya. Tito direstui memilih masuk Akabri (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Pada saat itu (tahun 1980-an), semua taruna Akademi Kepolisian (Akpol) dan Akademi Angkatan Darat (Akademi Militer – Akmil), Akademi Angkatan Udara (AAU), dan Akademi Angkatan Laut (AAL), wajib menjalani pendidikan dasar di Akabri, Magelang, selama beberapa bulan. Setelah itu, baru disebar ke akademi sesuai dengan pilihan awal masing-masing.

Tito diberangkatkan orang tuanya ke kampus Akabri di Magelang, Jawa Tengah dengan membawa bekal uang Rp 12.000. Bekal yang cukup memadai. Saat itu harga bensin premium Rp 350 per liter dan harga emas Rp 10.000 per gram.

Pendidikan di Akabri-Akpol tidaklah mudah, melainkan membutuhkan totalitas kemampuan, keuletan, kesungguhan, kecerdasan dan kekuatan jasmani dan rohani. Tahun pertama adalah masa yang paling krusial. Tidak sedikit taruna yang merasa berat dan sempat berpikir untuk keluar (galau).

Tito juga sempat berniat mundur saat baru memasuki tahun kedua. Dia sempat mengemukakan niatnya itu kepada orang tuanya. Namun, dia sendiri mengurungkan niat mundur tersebut, setelah mempertimbangkan dengan matang. Tito pun kembali bangkit penuh semangat dan fokus melanjutkan pendidikannya di Akpol. Akhirnya dia lulus dengan predikat terbaik, menerima penghargaan Bintang Adhi Makayasa (lulusan terbaik Akpol, 1987).

Sebelum lulus, Tito sempat bercerita kepada orang tuanya. Saat cuti dari pendidikan di Magelang, Tito bersama 10 orang temannya pulang naik kereta api. Saat berada di kereta api, tak sengaja mereka bertemu paranormal dari Beijing. China. Menurut paranormal tersebut dari semua mereka (10 orang rekannya) itu hanya Tito yang di keningnya terlihat ada sinar.

Selain itu, saat akan dilantik lulus taruna, malam harinya nenek Tito bermimpi, Tito berjalan paling depan memegang bendera. Dan ternyata, esok harinya, 18 Juli 1987, pada upacara Prasetya Perwira Remaja Akabri di Istana Negara, Presiden Soeharto melantik dan menyematkan penghargaan Bintang Adhi Makayasa (lulusan terbaik Akpol, 1987) kepada Tito. Tito putera Sumsel pertama yang meraih Adhi Makayasa Akabri-Akpol.

Pendidikan bagi Tito adalah syarat mutlak untuk meningkatkan kualitas diri dan jembatan emas untuk meraih keberhasilan dalam tugas pengabdian kepada masyarakat, bangsa dan negara. Maka, betapapun padat dan tinggi kesibukannya sebagai perwira korps bhayangkara, Tito selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas diri melalui pendidikan dan kursus-kursus.

Selain pendidikan formal hingga meraih gelar doktor, Tito juga mengikuti berbagai kursus,  di antaranya: Advanced English Course, The British Council, Jakarta, Indonesia (1991); Management of Serious Crimes (MOSC), AFP College, Canberra, Australia (2000); Post Blast Investigation Course, Louisiana Police Academy, Batonrouge, USA (2001); Anti Terrorism Course, British High Commissioner, Singapore (2005); Maritime Security Conference and Course, Kuala Lumpur, Malaysia (2006); National Tactical Officers Association (NTOA) Conference and Course, Los Angeles, USA (2006); Short Course on Radicalisation by Australian Foreign Affairs and Trade, Sydney, Australia (2010); Gold Command Crisis Management Course, Bramshill Police Institute, UK (2010); dan Short Program of Course Separatism Movement in United Emirat Arab (2014).

Penulis: Ch. Robin Simanullang | Bio TokohIndonesia.com

Footnotes:

1] Terungkap, Penggusuran Kalijodo Ternyata Ide Tito Karnavian; http://news.liputan6.com/read/2569410/terungkap-penggusuran-kalijodo-ternyata-ide-tito-karnavian

2] Kapolda Tito, Negosiator Ulung yang Muluskan Jalan Ahok Relokasi Kampung Pulo; https://news.detik.com/berita/3000873/kapolda-tito-negosiator-ulung-yang-muluskan-jalan-ahok-relokasi-kampung-pulo

3] Mengenal Komjen Pol Muhammad Tito Karnavian MH PhD, Calon Tunggal Kapolri. Wong Palembang yang Jago Seberangi Sungai Musi; http://bengkuluekspress.com/mengenal-komjen-pol-muhammad-tito-karnavian-mh-phd-calon-tunggal-kapolri/

4] Tito Karnavian, Anak Nongkrong yang Berprestasi Sejak Muda, RMOL, Rabu, 22 Juni 2016; http://www.rmolsumsel.com/read/2016/06/22/53130/Tito-Karnavian,-Anak-Nongkrong-yang-Berprestasi-Sejak-Muda-


Data Singkat

Jenderal Polisi Drs. Haji Muhammad Tito Karnavian, MA, PhD, Kapolri ke-23 / Kapolri Brilian dan Terpercaya | 26 Oktober 1964 | Ensiklopedi | T | Laki-laki, Islam, Palembang, Sumatera Selatan, polisi, polri, pemimpin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini