Tokoh Kependudukan Dunia

[ Haryono Suyono ]
 
0
200
Haryono Suyono
Haryono Suyono | Tokoh.ID

[ENSIKLOPEDI] Dia pantas disebut sebagai tokoh kaliber dunia di bidang kependudukan dan keluarga sejahtera. Di tangan mantan Kepala BKKBN/Menteri Negara Kependudukan dan Menko Kesra dan Taskin, ini program kependudukan Indonesia mencapai puncak keberhasilan yang diakui dunia. Dia mutiara dunia tentang kependudukan dan keluarga sejahtera.

Prof Dr H Haryono Suyono, MA, yang juga pantas digelari Bapak Keluarga Berencana Indonesia, itu dengan kreatif, inovatif dan bekerja keras bahkan sering melampaui batas panggilan tugasnya, sukses menggalang keluarga berencana di Indonesia. Dia mengampanyekan semboyan sederhana: Dua Anak Cukup, tanpa mempermalukan suami-isteri yang punyak anak lebih dari dua.

Di bawah kepemimpinan pria kelahiran Desa Pucang Sewu, Pacitan, Jawa Timur, tanggal 6 Mei 1938, itu BKKBN mendapat banyak penghargaan nasional dan internasional. Sebagai badan atau lembaga koordinasi BKKBN dua kali berturut-turut mendapatkan penghargaan Development Management Awards dari Lembaga Manajemen di Filipina, Jepang dan Hongkong. Tak heran, bila majalah TIME pun pernah menempatkannya sebagai satu dari lima puluh tokoh dunia dalam bidang kependudukan.

Sebelum menjabat Kepala BKKBN, putera bangsa berlatar pendidikan statistik, komunikasi massa dan sosiologi, itu tiga belas tahun menjabat sebagai Deputi di BKKBN Pusat. Dia memimpin berbagai kegiatan operasional. Selama berkiprah di BKKBN, berbagai pendekatan dan gebrakan kependudukan (keluarga berencana) yang dianggap inovatif mencuat ke permukaan dan membawa nama Indonesia melambung ke arena internasional.

Ditambah dukungan luar biasa dari Presiden Soeharto, membuat pendekatan inovatif menjadi contoh dari komitmen yang harus dilakukan oleh para pimpinan negara, mengajak masyarakatnya mengadakan perubahan dan pembaharuan dalam pola pembangunannya, terutama menuju keluarga sejahtera.

Di tangan Haryono, Gerakan Nasional KB telah ikut menghantar Presiden Soeharto untuk mendapatkan Penghargaan PBB UN Population Awards dalam bidang kependudukan (1988). Peristiwa ini sekaligus merupakan kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia karena ternyata peristiwa itu bersamaan dengan Hari Ulang Tahun Presiden Soeharto. Ini merupakan peristiwa internasional pertama Pak Harto berpidato di forum internasional PBB di New York. Ch. Robin Simanullang – Sahbuddin Hamzah (Diterbitkan juga di Majalah Tokoh Indonesia Edisi 26)

02 | Presiden Gerakan KB Dunia

Di samping itu, BKKBN juga mendorong lembaga-lembaga terkait untuk mendapatkan penghargaan internasional, misalnya, RRI dan PKK berulang kali mendapat penghargaan internasional.

Pada tingkat internasional, Haryono adalah pendiri dan sekaligus Wakil Ketua Board of Director PIACT dan PATH, yang bergerak di bidang KB dan Kesehatan. Selain itu, Haryono menjadi Presiden Gerakan KB dunia, International Council for Management on Population Program (ICOMP) untuk dua masa jabatan yang berakhir 1997.

Dalam semangat GNB yang dipimpin oleh Pak Harto (1993-1994), Haryono menjadi Ketua Pendiri Partners in Population and Development, suatu organisasi kemitraan yang bergerak dalam upaya pengembangan kemitraan di bidang Kependudukan dan Pembangunan. Pada waktu itu beliau masih menjabat sebagai Sekretaris Jenderal dari organinasi tersebut yang kemudian berkantor di Dhaka, Bangladesh.

Sebagai seorang yang dianggap berjasa kepada negara dan bangsa, Haryono telah diberi penghargaan Bintang Maha Putera Utama, tahun 1982 oleh Presiden. Pada tahun 1989, Haryono juga mendapat penghargaan dunia berupa Hugh Moore Awards. Pada tahun 1995 Johns Hopkins University, di Baltimore, Amerika Serikat memberikan penghargaan dengan mencantumkan namanya menjadi nama salah satu ruangan pertemuan di universitas tersebut, HARYONO HALL.

Pada 1996, atas jasa-jasanya terhadap nusa dan bangsa, Haryono kembali diberi penghargaan Bintang Maha Putera Adipradana, suatu penghargaan yang sangat tinggi dari pemerintah. Bukan itu saja. Pemerintahan Presiden BJ Habibie, memberikan bintang tertinggi, Bintang Republik Indonesia Utama, 1998. Pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, tepatnya pada perayaan Hari Keluarga Nasional ke IX tahun 2002 di Propinsi Gorontalo, Haryono mendapat Penghargaan Peniti Emas.

Dalam kiprahnya di bidang pendidikan dan akademis, Haryono (1994) mendapat penghargaan dari Universitas Airlangga Surabaya, dengan mengukuhkannya sebagal Guru Besar atau Profesor dalam Bidang Sosiologi Kesehatan Masyarakat. Tahun 1995, Haryono memperoleh gelar kehormatan Doktor Honoris Causa dalam bidang Kedokteran dari Monash Universitydi Melbourne, Australia.

Atas jasa-jasanya di bidang kesehatan dan kedokteran, Haryono (Oktober 1996), juga diangkat menjadi anggota kehormatan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Pengangkatan ini merupakan pertama kalinya dalam sejarah IDI, lantaran Haryono dinilai punya arti besar dalam pengembangan ilmu serta pelayanan kesehatan dan kedokteran di Indonesia.

Selain aktif mengajar di berbagai Universitas, Haryono juga aktif dalam berbagai organisasi profesi, antara lain, sebagai Ketua Umum Ikatan Peminat dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI), Ketua Umum Ikatan Sosiologi Indonesia (ISI) dan Anggota Kehormatan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Penasehat Ikatan Ahli Gizi Indonesia.

Kegiatannya di kalangan akademisi di luar negeri membuat Haryono dipercaya sebagai penasehat atau anggota berbagai komite internasional, misalnya Komite Urusan Urban dari Kota Kobe di Jepang dan Lembaga Kerjasama Internasional di Melbourne, Australia. Ch. Robin Simanullang – Sahbuddin Hamzah (Diterbitkan juga di Majalah Tokoh Indonesia Edisi 26)

03 | Dana Sejahtera Mandiri

Awal 1996, Haryono dipercaya dan ditunjuk sebagai Wakil Ketua I Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (Damandiri) bersama-sama Sudono Salim dan Sudwikatmono. Yayasan ini diketuai langsung oleh Pak Harto. Usaha Yayasan ini, membangun keluarga sejahtera, sekaligus dikaitkan dengan pengentasan kemiskinan, mendapat sambutan sangat baik di kalangan rakyat yang sangat membutuhkan di seluruh pelosok pedesaan.

Proses pemberdayaan yang hampir tidak dapat dilaksanakan karena tidak adanya dana, telah dapat dipecahkan oleh yayasan dengan dukungan Pak Harto yang secara pribadi memimpin sendiri yayasan tersebut.

Setelah tidak berkecimpung di lingkungan pemerintahan, Haryono tetap aktif menggerakkan kegiatan Yayasan Damandiri. Selain itu, Haryono bersama teman-temannya juga mendirikan Yayasan Indonesia Damai Sejahtera (INDRA), duduk sebagai ketua. Juga menjabat Wakil Ketua Umum Yayasan Stroke Indonesia (YASTROKI). Yastroki mendirikan Nusantara Stroke and Medical Center, dan beliau mengemban tugas sebagai Komisaris Utama.

Dia juga aktif mengajar di beberapa perguruan tinggi, terutama di Universitas Airlangga Surabaya. Selain mengajar, Haryono juga dipercaya oleh UNAIR untuk memimpin Program Pasca Sarjana dan ditunjuk sebagai Ketua Program Studi Pengembangan Sumber Daya Manusia.

Satu bentuk kepeduliannya terhadap dunia pendidikan, selaku Wakil Ketua Umum Yayasan Damandiri, Haryono Suyono giat melakukan tur ke 25 kota di Jawa dan Bali untuk merealisasikan program yang sekaligus cita-citanya, yakni mengadakan program pengembangan remaja mandiri melalui sekolah unggul. Program itu bertujuan untuk meningkatkan sumber daya manusia usia SMA baik yang sedang bersekolah maupun sudah tidak lagi bersekolah. Program ini digalang bekerja sama dengan Lembaga Indonesia untuk Pengembangan Manusia (LIPM) Universitas Airlangga Surabaya.

”Secara teknis, program itu menempatkan atau menugaskan kepala sekolah atau guru untuk ‘magang’ sebagai upaya pembelajaran langsung di sekolah yang lebih maju. Pada gilirannya, mereka diminta untuk mengaplikasikan apa yang didapat ke sekolah tempat mereka berasal,” ujarnya.

Program remaja mandiri memelajari standar dan persyaratan akademis sebagai syarat masuk bagi para siswa yang akan melanjutkan perguruan tinggi. Sementara itu untuk siswa yang tidak bisa melanjutkan, program tersebut untuk mendorong mereka mengikuti kursus keterampilan yang lulusannya banyak dibutuhkan masyarakat. Lembaga kursus keterampilan mandiri yang diikuti tentu saja harus bermutu dan berkompetensi baik serta memenuhi syarat.

Selain itu, Haryono juga duduk sebagai Badan Pendiri Yayasan YAPPINDO, suatu yayasan yang bergerak di bidang pendidikan yaitu STEKPI (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Keuangan dan Perbankan Indonesia). Juga aktif sebagai anggota Badan Pendiri Yayasan Indonesia Sejahtera (YIS).

Di samping itu, Haryono pernah menjabat sebagai Penasehat Ahli dari PT Citra Televisi Pendidikan Indonesia. Keikutsertaannya diharapkan dapat membawa warna tersendiri pada kedekatan televisi dengan masyarakat.

Di bidang kepramukaan, 1983-1998, Haryono selaku Kepala BKKBN aktif sebagai anggota Majelis Pembimbing Nasional (Mabinas) Gerakan Pramuka. Di lingkungan BKKBN dibentuk juga Saka Kencana yang kemudian melakukan kegiatan di seluruh Indonesia. Selaku Menko Kesra dan Taskin, Haryono (1998-1999) diangkat sebagai Ketua Majelis Pembimbing Nasional Harian Gerakan Pramuka (Mabinari).

Kemudian, meskipun tidak lagi berada di pemerintahan, Haryono masih dikenal luas di kalangan pemerintahan dan organisasi kemasyarakatan. Oktober 2002, dia dipilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Himpunan Pandu dan Pramuka Wreda (HIPPRADA), periode 2002-2006.

Belakangan, November 2005, dia dipercaya menjabat Ketua Umum DNIKS (Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial) menggantikan Ir Bustanil Arifin. Sebuah lembaga yang antara lain bertujuan memberikan pertimbangan dan rekomendasi kebijakan tentang kesejahteraan sosial kepada pemerintah, legislatif, dunia usaha dan lembaga swadaya masyarakat lainnya.

DNIKS yang sebelumnya bernama Komite Nasional untuk Kesejahteraan didirikan di Jakarta, 17 Juli 1967, oleh Alwi Sutan Oesman, Sumantri Praptokusumo, Ijas Suhada, Dr Salekan, AM Pasila STh, Nasaruddin Latif dan Djadjat Drajat.

DNIKS kemudian menjadi anggota International Council on Social Welfare (ICSW), sebuah organisasi dunia di bidang kesejahteraan sosial yang didirikan di Paris, 1928. Ch. Robin Simanullang – Sahbuddin Hamzah (Diterbitkan juga di Majalah Tokoh Indonesia Edisi 26)

Data Singkat
Haryono Suyono, Menko Kesra dan Taskin (1998-1999) dan Kepala BKKBN (1983-1998) / Tokoh Kependudukan Dunia | Ensiklopedi | Menko Kesra, Kepala BKKBN, BKKBN, Menteri Kependudukan, Kependudukan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here