Karakter dan Budaya Anggur

[ Yolanda ]
 
0
230
Yolanda
Yolanda | Tokoh.ID

[WIKI-TOKOH] Adakah hubungan antara anggur atau “wine” dan kebudayaan? Bagi Yolanda Liz Simorangkir (47), General Manager VIN+, toko anggur di Kemang, Jakarta Selatan, dua hal itu bisa berhubungan erat. Katanya, “Rasa ‘wine’ mencerminkan budaya di mana minuman itu diproduksi.”

Yolanda memberi contoh. Anggur dari Spanyol, kata dia, rasanya lebih hangat, terbuka. Itu mirip karakter masyarakat di negeri itu. Anggur dari Australia lebih ramah dan mudah didekati, seperti gaya orangnya.

“Kalau dari Perancis, rasa wine-nya lebih elegan, agak kompleks, dan terkesan klasik. Bukankah karakter umum orang Perancis seperti itu?”

Obrolan pada Rabu (11/11) siang itu hanya cuplikan dari kecakapan Yolanda dalam seluk-beluk anggur, minuman hasil fermentasi buah anggur. Sebagai pengelola toko anggur, dia tak hanya lihai mengurus manajemen, tetapi juga memahami minuman itu hingga rinci.

Kami berbincang di lounge VIN+ dengan sorot lampu temaram. Kontras dengan lalu lintas Kemang yang padat dan terik matahari menyengat, ruangan ber-AC itu adem. Musik blues mengalun pelan. Di meja, anggur merah dituang dalam beberapa gelas besar dan kecil.

“Ukuran gelas juga memengaruhi rasa. Untuk jenis ini, lebih enak pakai gelas besar. Kalau gelasnya kecil, rasanya terlalu pekat,” papar Yolanda sambil menyeruput anggur merah dari gelas besar dan kecil.

Yolanda adalah nama populer di kalangan masyarakat penggemar anggur di Jakarta. VIN +, yang didirikan kakaknya, Reimer Simorangkir, adalah distributor dan pengecer anggur yang laris. Toko itu dilengkapi restoran dan lounge bagi mereka yang berhasrat mencicipi minuman sambil mengobrol ke sana kemari.

Didukung

Padahal, baik Yolanda maupun kakaknya, yang mengajari segalanya tentang anggur, Reimer Simorangkir, bukan berasal dari keluarga yang akrab dengan minuman beralkohol ini sejak kecil. Bahkan sebaliknya, ayah mereka, Amos Simorangkir (80), adalah pendeta Gereja Advent yang mengharamkan alkohol.

Saat sang ayah tahu dua anaknya terjun ke dalam bisnis anggur, secara terang-terangan dia menyatakan ketidaksetujuannya. “Ayah bilang, ‘Saya tidak menyetujui anak-anak saya berbisnis wine. Tetapi, karena anak-anak saya sudah dewasa, sudah tahu risiko yang mereka hadapi, saya hanya bisa support,” kenang Yolanda.

Karena ayahnya yang pendeta tersebut, Yolanda sejak kecil sudah sering berpindah-pindah tempat tinggal, bahkan hingga ke luar negeri. Ia bahkan lahir di Amerika Serikat saat sang ayah kuliah S-2 di negeri Paman Sam itu. “Dulu bahkan saya tinggal lebih lama di Amerika daripada di Indonesia,” tutur Yolanda, yang sampai saat ini mengaku lebih lancar menulis dalam bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia.

Setelah sekolah ayahnya selesai, keluarga ini kembali ke Indonesia, tepatnya ke Bandung, tempat sang ayah menjabat sebagai Rektor Universitas Advent Indonesia. Kelas 5 SD ia kembali ke AS, kelas 1 SMA lalu kembali lagi ke Indonesia. Kelas 3 SMA, Yolanda dan keluarganya pindah lagi ke AS. “Sejak itu sampai saya menikah dan punya anak pertama baru kembali ke Indonesia,” kata perempuan berdarah Batak-Manado ini.

Itu pun di luar rencana keluarga tersebut. Orangtua Yolanda memperkirakan anak-anaknya akan memilih tinggal di AS sampai tua sehingga mereka memutuskan menetap di negara itu, tepatnya di daerah Redlands, California. “Sampai sekarang mereka masih tinggal di sana. Malah anak-anaknya satu per satu pulang dan tinggal di Indonesia. Tinggal adik saya yang masih di Amerika,” kata anak keempat dari lima bersaudara ini.

Tak sengaja

Yolanda memasuki dunia anggur tanpa disengaja. Mantan suaminya kerja di bisnis anggur dan kerap membawa pulang minuman itu. Perempuan itu mencoba meminumnya sekadar untuk mencicipi. Itu terjadi tahun 1994.

Tahun 1999, Yolanda bercerai dan kakaknya, Reimer, mengajak dia menangani pemasaran toko Kemang Duty Free yang juga menjual anggur. Saat sang kakak membuka bisnis anggur sendiri tahun 2004, dia diminta menangani pemasaran. “Dari mencicipi, belajar serius, sampai kemudian memasarkan anggur, semuanya saya lakoni begitu saja,” kata dia.

Demi mendalami seluk-beluk anggur secara serius, Yolanda mengunjungi beberapa negara yang punya sejarah dan budaya anggur, seperti Perancis, Australia, Austria, Spanyol, dan Afrika Selatan. Di Perancis, dia mendatangi Bordeaux, kawasan penghasil anggur terbaik di dunia. Perjalanan itu memberi kesan mendalam.

“Masyarakat di sana sangat bangga pada sejarah anggur dan terus mengembangkannya. Itu selaras dengan usaha mereka dalam menghargai sejarah, seperti bangunan chateau (puri dalam bahasa Perancis) berusia lebih dari 100 tahun yang tetap terpelihara indah,” katanya.

Di Jakarta, selain menangani penjualan anggur, Yolanda juga mengorganisasi kegiatan wine tasting untuk beberapa komunitas di Jakarta. Sebut saja Wine and Spirits Circle yang beranggota sekitar 900 orang dan Klubwine dengan peserta 400-an orang. Kegiatan ini digelar berkala dengan menghadirkan ahli atau produsen anggur dari luar negeri.

Kenapa mau berjibaku mengurus kegiatan anggur? “Ini bagian dari hobi dan life style. Selain rasanya nikmat, unsur anti-oksidan dalam anggur bisa membantu memperlancar peredaran darah. Itu jika diminum tak berlebihan,” ungkap Yolanda sambil menyebut dua gelas anggur sehari sebagai “dosis” ideal.

Yolanda juga membuktikan, minuman itu bisa jadi sarana efektif memperluas pergaulan. Dia banyak memperoleh teman dari hobi mencicipi minuman ini. “Sekarang, saya tak bisa lepas dari wine. Wine is a part of my life.” e-ti

Sumber: Kompas, 15 November 2009 | Penulis: Ilham khoiri- Dahono fitrianto

Data Singkat
Yolanda, General Manager VIN+Kemang / Karakter dan Budaya Anggur | Wiki-tokoh | Marketing, manager, anggur

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here