Thomson Hs dan Opera Batak

[ Thomson Hutasoit ]
 
0
214
Thomson Hutasoit
Thomson Hutasoit | Tokoh.ID

[WIKI-TOKOH] Tak ada yang tahu persis kapan Opera Batak pertama kali dipentaskan. Hanya yang pasti, nama Tilhang Oberlin Gultom selalu disebut sebagai perintis Opera Batak. Semasa jayanya, Opera Batak pimpinan Tilhang diundang Presiden Soekarno berpentas di Istana. Namun sejak awal 1980-an, Opera Batak perlahan surut, ditinggalkan penonton.

Seperti banyak seni pertunjukan lokal lainnya di Indonesia yang ditinggalkan penonton karena gegap gempitanya tayangan televisi, Opera Batak sebenarnya telah mati suri andai tak ada pemuda seperti Thomson Hutasoit. Perlahan, seniman yang di Sumatera Utara (Sumut) dikenal dengan nama Thomson Hs ini membangkitkan kembali Opera Batak.

Berawal pada 2002, ketika Thomson diajak menghidupkan kembali Opera Batak oleh Asosiasi Tradisi Lisan (ATL). Saat itu ATL menggagas program revitalisasi tradisi lisan di Nusantara. Perwakilan ATL di Sumut, antropolog Prof Robert Sibarani dan ahli linguistik Prof Ahmad Samin Siregar (almarhum), mengajak Thomson—sejak kuliah aktif di teater kampus—untuk menghidupkan kembali Opera Batak.

“Di Sumut, tradisi lisan yang dinilai kuat itu Opera Batak dan Hoho (sejenis tradisi lisan berupa nyanyian di Nias),” ujar Thomson.

Opera Batak dikembangkan oleh Tilhang sejak 1920-an. Menurut Thomson, Opera Batak sebenarnya lebih cocok disebut opera gaya Batak. Masyarakat Batak tidak mengenal seni peran sebelum Tilhang mengembangkan opera gaya Batak meskipun akar seni peran dalam tradisi masyarakat Batak adalah Sigalegale atau Hoda-hoda.

Sigalegale adalah teater boneka, yang konon diciptakan seorang raja yang anak tunggalnya meninggal. Adapun Hoda-hoda atau kuda-kuda mirip pertunjukan kuda lumping di Jawa.

“Hoda-hoda biasa dimainkan ketika ada raja yang meninggal. Pemainnya adalah pembantu raja yang harus ikut mati, biasanya dengan bunuh diri,” katanya.

Awal abad ke-20 menjadi penanda penting bagi perkembangan Opera Batak. Unsur khas Batak, seperti bahasa, musik, dan properti mulai dari kostum hingga tarian, ada dalam pertunjukan itu. Ada pula unsur baru seperti tradisi pemeranan atau berlakon cerita.

“Unsur berlakon dalam cerita tidak ada dalam tradisi Batak. Masyarakat Batak, termasuk Tilhang, mengenal seni peran dari opera bangsawan Melayu yang mungkin sampai ke tanah Batak, juga drama Natal yang dibawa misionaris,” ujarnya.

Pertunjukan jenis baru ini rupanya digemari masyarakat. Opera Batak pun menjadi pertunjukan teater keliling. Sebagai seni berlakon, Tilhang, sang maestro, menciptakan banyak lakon yang digali berdasarkan cerita rakyat dari tarombo atau silsilah sebuah keluarga, epos kepahlawanan seperti lakon Sisingamangaraja XII, hingga soal gender yang relatif sensitif bagi adat.

“Tahun 1930-an, lakon Boru Tumbaga amat populer. Lakon ini bercerita tentang orang kaya yang meninggal, tetapi tidak bisa mewariskan harta karena kedua anaknya perempuan. Dalam tradisi Batak, harta sang ayah jatuh ke tangan saudara laki-laki ayah. Akan tetapi, lakon Boru Tumbaga menggambarkan betapa dua anak perempuan itu melawan kesewenang-wenangan sang paman,” ujarnya.

Proyek revitalisasi

Bersama ATL, Thomson memulai proyek revitalisasi Opera Batak dengan mengajari 20 pemuda di Tarutung, Tapanuli Utara, tentang seni peran hingga disiplin akting. Mereka juga diajari musik khas Opera Batak.

Dari sinilah terbentuk Grup Opera Silindung (GOS). Inilah kelompok Opera Batak pertama sejak kematiannya pada 1980-an. Selama 2002-2004, GOS menampilkan pertunjukan Opera Batak di berbagai tempat. Mulai dari kampung warga Batak Toba di Tarutung, Sipaholon, Laguboti hingga Pematang Siantar, sampai ke Jakarta demi promosi Kabupaten Tapanuli Utara.

GOS menjadi grup percontohan upaya menghidupkan tradisi lisan. “Lahirnya GOS membuat Opera Batak kembali dikenal masyarakat,” katanya.

Pementasan kami selalu ditonton banyak orang. Antusiasme penonton Opera Batak masih tinggi. Bahkan, banyak penonton rela berdiri melihat pementasan kami.

Sebelum mati suri, di Sumut ada sedikitnya 30 grup Opera Batak. Grup itu umumnya didirikan oleh mereka yang pernah menjadi anak buah langsung Tilhang. Meski mati suri, para pemain lama Opera Batak dapat dijumpai di beberapa tempat dalam aktivitas adat Batak.

Saat Thomson bersama ATL memulai program revitalisasi Opera Batak, hanya Marsius Sitohang, bekas pemain Opera Batak lama, yang terlibat. Marsius, kini dosen luar biasa Jurusan Etnomusikologi Universitas Sumatera Utara, mengajarkan seni Opera Batak kepada GOS.

Belakangan, saat pentas keliling GOS di Sipaholon, Laguboti, dan Pematang Siantar yang digelar pada 2004, pemain lama Opera Batak seperti Alister Nainggolan dan istrinya, E Silaban, pun dilibatkan.

Upaya Thomson menghidupkan kembali Opera Batak berlanjut tahun 2005, saat sastrawan kelahiran Harianboho, Samosir, yang bermukim di Belanda, Sitor Situmorang, mengajaknya mendirikan Pusat Latihan Opera Batak (PLOt).

“Bersama Lena Simanjuntak yang tinggal di Koeln, Jerman, Sitor menyampaikan catatan atas revitalisasi yang kami lakukan di Tarutung. Lena dan Sitor ikut mendukung biaya kontrak sekretariat PLOt di Pematang Siantar dan operasionalnya hingga tiga tahun,” katanya.

Di PLOt, Thomson makin aktif memberi pelatihan Opera Batak kepada generasi kedua GOS. PLOt juga menghubungi para pemain lama Opera Batak di Pematang Siantar dan Simalungun.

Akhir 2005, PLOt kebanjiran order pentas dari Badan Informasi dan Komunikasi Provinsi Sumut untuk sosialisasi bantuan langsung tunai di Balige hingga oleh para calon kepala daerah di sekitar Tapanuli guna menarik massa dalam pilkada.

“Pementasan kami selalu ditonton banyak orang. Antusiasme penonton Opera Batak masih tinggi. Bahkan, banyak penonton rela berdiri melihat pementasan kami,” ujarnya.

Pemain lama

Cerita keberhasilan GOS dan PLOt menggairahkan Opera Batak sampai kepada pemain lama. Kerinduan mereka kembali berpentas membuat bertumbuhnya grup Opera Batak baru.

“Para pemain lama Opera Batak itulah yang menghidupkan kembali grup-grup Opera Batak di Parapat, Samosir, Ajibata, hingga Sidikalang,” katanya.

Namun, tugas Thomson menghidupkan kembali Opera Batak belum selesai. Sebagai Direktur Artistik PLOt, ia merancang beragam produksi dan pelatihan. Tahun 2008, PLOt mengadakan pelatihan bagi generasi muda dari 10 kota dan kabupaten. Pelatihan ini dibiayai Pemerintah Provinsi Sumut. Keberhasilan PLOt lalu menarik minat banyak pemerintah daerah di sekitar Danau Toba.

Thomson juga membuat repertoar pementasan Opera Batak. Tiga repertoarnya, Opera Danau Toba, Srikandi Boru Lapian, dan Sijonaha Penipu Ulung, adalah tafsir atas perkembangan Opera Batak.

Opera Danau Toba bertutur tentang legenda terbentuknya danau, dihubungkan dengan kondisi kini di sekitarnya. Srikandi Boru Lapian merupakan penghargaan pada epos kepahlawanan putri Sisingamangaraja XII. Sementara Sijonaha Penipu Ulung dari cerita rakyat tentang ganjaran terhadap perbuatan buruk manusia.

Thomson yakin, upaya menghidupkan Opera Batak tidak sebatas menyelamatkan kesenian. Ketika televisi tidak memberi ruang pencerahan, Opera Batak justru mendidik penontonnya. e-ti

Sumber: Kompas, Rabu, 14 Juli 2010| Penulis: KHAERUDIN dan AUFRIDA WISMI WARASTRI

Data Singkat
Thomson Hutasoit, Seniman / Thomson Hs dan Opera Batak | Wiki-tokoh | Batak, opera, teater

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here