Mengisahkan Kei Lewat Musik

[ Eky Talaut ]
 
0
358
Eky Talaut
Eky Talaut | Tokoh.ID

[WIKI-TOKOH] Lebih dari separuh hidup Eky Talaut dihabiskan untuk memperkenalkan Kei, kampung halamannya di Maluku Tenggara, kepada masyarakat Indonesia. Melalui musik dan lagu, ia ingin berkisah banyak tentang kearifan di tanah leluhurnya.

Berikut ini adalah sepenggal lagu daerah ciptaanya :Basudara di bumi larwul ngabal Potong kuku rasa di dageng siyo Ale susah beta susah Katong pikir bae bae

Lirik lagu ini merupakan sepotong lirik dari lagu berjudul Bumi Larwul Ngabal (Tanah Kei) yang ia ciptakan. Secara keseluruhan, lagu itu berpesan agar perbedaan yang ada di antara warga Kei tidak merusak tali persaudaraan.

Lagu ciptaan Eky ini merupakan satu contoh kecil dari hampir 100 lagu daerah – berbahasa Kei – yang diciptakannya. Tidak berbeda jauh, banyak lagu lainnya pun menyampaikan pesan soal kehidupan masyarakat, hubungan kekerabatan, dan persahabatan di Kei.

Selain itu, beberapa lagunya juga ada yang menceritakan soal indahnya alam Kepulauan Kei, yang terdiri dari 68 pulau, di tenggara Ambon, Provinsi Maluku.

“Banyak orang belum mengenal Kei. Melalui musik saya coba mengenalkan Kei,” tuturnya. Sebagian dari lagu ciptaannya itu telah direkam perusahaan rekaman dan dipasarkan juga di kota-kota lain di Indonesia.

Selain mengenalkan Kei ke masyarakat Indonesia, Eky juga membuat lagu-lagu daerah itu untuk melestarikan bahasa daerah Kei di masyarakat Kei sendiri. Apalagi, selama ini tidak banyak lagu daerah berbahasa Kei yang bisa didengarkan warga Kei.

Alat musik bambu

Eky menyumbangkan sejumlah lagu ciptaannya untuk dipelajari di sekolah dasar sampai sekolah menengah atas di Kei. “Lagu saya ini bersama lagu daerah lain ciptaan musisi senior Kei telah dibukukan dan menjadi acuan pelajaran lagu daerah ke murid-murid,” ujarnya.

Eky tidak berhenti dengan menciptakan begitu banyak lagu. Tahun 2004, dia mencoba mencipta alat musik. Pikiran ini tebersit setelah dia melihat tidak ada alat musik tradisional dari Kei. Mulailah dia membuat sejumlah alat musik berbahan baku bambu.

“Saat itu saya sedang jalan-jalan di hutan, lalu mendengar suara gesekan pohon bambu yang tertiup angin. Suara itulah yang menginspirasi saya membuat alat musik dari bambu,” katanya.

Namun, untuk mewujudkan mimpi membuat alat musik ini tidak mudah. Tak gampang memilih bambu bagus agar bisa menghasilkan
suara yang enak didengar. Belum lagi saat harus melubangi bambu untuk membuat rongga suara, atau saat harus memotong kulit bambu untuk dijadikan senar.

Alhasil, setelah tiga tahun mencoba dia baru bisa membuat satu jenis alat musik. Alat musik yang terdiri dari enam bambu berukuran sekitar setengah meter itu dinamakannya “leiswanwan”.

Setiap bambu ada senarnya. Senar itu berasal dari bagian kulit bambu yang ditipiskan dengan pisau sehingga menyerupai senar gitar. Setiap senar pada setiap bambu menghasilkan suara berbeda.

Selang satu tahun, dia berhasil membuat alat musik lain. Alat musik yang dinamakan “ekal”, kependekan dari namanya Eky Talaut, ini hampir mirip dengan biola. Bedanya, senar menggunakan kulit bambu yang telah ditipiskan dan senar dari dawai menggunakan tali tipis.

Satu tahun kemudian, Eky berhasil lagi membuat alat musik. Alat musik yang dinamakan “dehir” ini terdiri dari delapan bambu berukuran setengah meter sampai satu meter.

Setiap bambu dibunyikan dengan memukulkan sandal jepit di ujung bambu sehingga bisa menghasilkan nada mulai do rendah sampai do tinggi atau tangga nada dua oktaf.

“Dua kali saya mengikutsertakan alat-alat musik ini dalam festival, selalu juara. Rasanya senang karena dengan alat musik ini tujuan semula saya mengenalkan Kei melalui musik bisa tercapai,” tuturnya.

Setiap kali penampilan, alat-alat musik ini tidak berdiri sendiri, tetapi digabung dengan alat musik lain, seperti tifa dan gong. Juga selalu dibarengi nyanyian lagu dan tarian daerah Kei.

Sukses yang diraih bapak dari tiga anak ini tidak dicapai dengan mudah. Apalagi, Eky terlahir dari keluarga yang ekonominya terbatas.

Eky dibesarkan di Pulau Tanimbar Kei. Saat itu, untuk mencapai Tual, ibu kota Maluku Tenggara, perlu dua minggu perjalanan dengan kapal laut. Ketika usianya masih 10 tahun, Eky harus berpisah dengan orangtuanya. Dia pindah ke Desa Taar, Tual, untuk melanjutkan pendidikan sekolah dasar.

Di Taar, dia harus bekerja keras. Sepulang sekolah, Eky harus mencabuti rumput liar yang mengganggu pertumbuhan ketela pohon yang ditanam kerabat tempat dia menumpang.

Lulus sekolah menengah pertama, dia merantau ke Ambon karena tidak ada lagi biaya untuk melanjutkan sekolah. Setelah hidup terkatung-katung beberapa bulan, dia memperoleh pekerjaan di kapal pencari ikan.

Hobinya bernyanyi dan bekal bermain gitar, yang pernah diajarkan ayahnya ketika dia masih kecil, mendorong Eky menjadi penyanyi. Tahun 1976, saat kapalnya sandar di Tegal, Jawa Tengah, dia coba ikut kontes Pop Singer. Di luar dugaan, dia keluar sebagai juara kedua.

Dengan bekal ini, Eky lalu ke Jakarta dan sempat ke Surabaya untuk mengembangkan hobinya itu. Tahun 1984, dia memutuskan pulang ke kampung halaman dan menjadi musisi lokal. Dia juga diterima bekerja menjadi pegawai negeri sipil.Kerja keras yang dilakoninya itu berbuah. Dia bisa menyekolahkan ketiga anaknya sampai perguruan tinggi. Eky bertekad terus mengenalkan Kei ke masyarakat Indonesia, bahkan ke dunia internasional.

Sayangnya, tekad ini terbentur soal dana. Dua undangan agar dia memainkan alat musik ciptaannya plus lagu daerah dan tarian Kei di Yogyakarta dan Singapura, Agustus mendatang, belum tentu bisa dipenuhinya karena tak ada biaya.

“Saya sudah meminta bantuan dana ke Pemerintah Kota Tual, tetapi sampai sekarang belum ada jawaban. Sayang, padahal seni Kei ini juga bisa mengangkat nama Indonesia di mata dunia internasional,” tuturnya. e-ti

Sumber: Harian Kompas, Kamis, 8 April 2010 | A Ponco Anggoro

Data Singkat
Eky Talaut, Pegawai negeri sipil Pemerintah Kota Tual / Mengisahkan Kei Lewat Musik | Wiki-tokoh | Pencipta Lagu, Penyanyi, musik, pns, bambu, alat

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here