Kapolri Brilian dan Terpercaya

[ Tito Karnavian ]
 
0
338

03. Urgensi Revisi UU Antiterorisme

Bom Kampung Melayu ‘membuktikan’ urgensi revisi UU Antiterorisme, guna menguatkan pencegahan aksi teror. Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menyambut pernyataan Presiden Jokowi untuk memprioritaskan revisi Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme itu.

Dalam revisi UU tersebut, Kapolri berharap masalah pencegahan harus terakomodir supaya ada kegiatan yang betul-betul sistematis dan komprehensif untuk mencegah. Dalam hal ini, sejumlah perbuatan awal terorisme, semestinya dapat ditindak secara hukum. Selain payung hukum yang berfungsi sebagai pencegahan, penerapan program rehabilitasi juga perlu diatur untuk pihak-pihak yang sudah terpengaruh pemikiran radikal.

Kapolri menyebut perbuatan awal tersebut diantaranya sejumlah pelatihan militer yang kerap diadakan kelompok teroris sebelum melancarkan teror. Selama ini Polri tidak bisa menangkap orang-orang yang ikut serta dalam pelatihan itu sebelum mereka terbukti melakukan aksi teror.

”Kalau mereka menggunakan senjata kayu, airsoft gun, kami tidak bisa tangkap mereka. Mereka naik ke gunung, latihan kamping, padahal sebetulnya niat kegiatan kamping itu bagian dari menuju operasi serangan teror. Nah, harusnya itu bisa dikriminalisasi atau ditindak. Banyak hal yang harus dikriminalisasi sebelum peristiwa teror terjadi,” jelasTito Karnavian saat menjenguk korban bom bunuh diri terminal Kampung Melayu di RS Polri Said Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat malam 26 Mei 2017.

Selain itu, kata Kapolri, orang yang terindikasi masuk jaringan teroris seharusnya bisa ditindak. Contohnya, setelah memetakan organisasi teroris, siapa pun yang masuk organisasi itu sepanjang bisa dibuktikan dia masuk organisasi itu, dia bisa dipidana. “Itu otomatis kami powerfull menangani kasus terorisme,” katanya. Maka, Tito mengharapkan RUU Antiterorisme bisa segera diselesaikan dan diundangkan agar dapat menjadi payung hukum bagi Polri dalam menjaga kondisi keamanan negara.

Bom Kampung Melayu
Bom bunuh diri terjadi di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, Rabu (24/5/2017) sekitar pukul 21.00 WIB. Sebanyak 16 orang menjadi korban. Dua orang terduga pelaku teror bom bunuh diri tewas, tiga polisi gugur, enam polisi dan lima warga sipil mengalami luka-luka.

Kapolri memastikan bahwa pelaku bom bunuh diri tersebut bernama Ahmad Sukri dan Ichwan Nurul Salam. Kedua pelaku teridentifikasi berdasarkan hasil tes DNA. Kedua pelaku tergabung dalam Jamaah Ansharut Daulah (JAD), termasuk network ISIS. Mereka merencanakan serangan dengan sasaran personel kepolisian. Kedua teroris itu sebetulnya sudah ada dalam radar Densus 88, terkait dengan peristiwa sebelumnya.

Tito mengungkapkan, JAD punya struktur bawah tanah yang cukup rapi. Ada tingkat pusat yang ditempati Aman dan Zainal, kemudian ada cabang yang disebut Mudiriyah, dan di bawah cabang ada lagi sel-sel kecil.

Ahmad dan Ichwan, bergabung dalam Mudiriyah Bandung Raya. Kelompok itu punya sejumlah rencana serangan terhadap pos-pos polisi. Salah satunya yakni rencana menyerang pos polisi di Simpang Lima, Senen, Jakarta Pusat. Tapi berhasil tercium Densus dan digagalkan. Demikian juga serangan di Waduk Jatiluhur, akhirnya ditangkap dan ada yang meninggal.

Mereka lalu bergerak ke Kabupaten Bandung, tepatnya di Cicendo. Bom meledak secara prematur di Taman Pandawa, yang sedianya diledakkan di kantor kepolisian seperti Polda Jawa Barat dan beberapa polres dan polsek di Bandung.

Polisi menemukan adanya kesamaan pola bom di Kampung Melayu dan Bandung. Saat itulah, nama-nama anggota mereka sudah muncul. Akhirnya satu persatu dari mereka ditangkap Densus 88. “Di antaranya ada nama Ahmad Sukri dan Ichwan. Sudah ada namanya sehingga mereka dilakukan pengejaran,” kata Tito. Namun, pemahaman mereka akan teknologi semakin tinggi. Sehingga, tampaknya mereka berkomunikasi dengan hati-hati agar tidak terlacak polisi.

Penulis: Ch. Robin Simanullang | Bio TokohIndonesia.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here