Kapolri Brilian dan Terpercaya

[ Tito Karnavian ]
 
0
333

08. Lima Cara Mengatasi Radikalisme

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, unsur terpenting dari radikalisasi adalah adanya proses transfer ideologi. Proses itu sebenarnya memiliki dampak positif dan negatif terhadap pola pikir seseorang dalam memandang sebuah ajaran atau pemahaman.

Radikalisasi bisa berdampak positif bila mengarah pada pendalaman sebuah ajaran. Namun, bisa menjadi negatif jika meyakini cara kekerasan dalam menyebarkan suatu pemahaman.

“Kalau radikal dalam memahami agama kenapa tidak. Tapi kalau menggunakan kekerasan, itu yang berbahaya,” ujar Tito dalam diskusi bertajuk ”Membedah Gerakan Radikalisme-Terorisme dan Solusinya’ yang diselenggarakan oleh Garda Bangsa, di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Kamis (19/1/2017).

Kapolri mengatakan dalam mencari solusi pemberantasan terorisme, disiplin ilmu komunikasi bisa menjadi pisau analisis yang signifikan jika melihat transfer ideologi sebagai akar persoalan. Dari sudut pandang ilmu komunikasi maka ada lima unsur yang terlibat dalam transfer ideologi, yakni pengirim informasi, konten informasi, penerima, media, dan konteks sosialnya.

Dengan demikian, kata Kapori, ada lima cara yang saat ini dilakukan untuk mencegah proses radikalisasi. Pertama, menetralisasi orang-orang yang berpotensi menjadi sender atau orang yang melakukan perekrutan. Kedua, melemahkan ideologi radikal yang mereka coba sebarkan dengan membuat ideologi tandingan yang bersifat moderat.

Ketiga, menyebarkan ideologi tandingan tersebut kepada kelompok masyarakat yang rentan menjadi sasaran radikalisasi. Keempat, dengan mengawasi media yang menjadi sarana penyebaran paham radikalisme. Kelima, memahami konteks sosial dan budaya yang ada di setiap lapisan masyarakat.

Kapolri Tito Karnavian memberi misal pada kasus Poso, yang jadi konteks penyebab utamanya itu adalah dendam. Maka proses transfer pemahaman radikal itu bisa dicegah jika aparat penegak hukum memahami semua unsur yang ada.

Tito meyakini upaya penanggulangan terorisme tidak akan berhasil jika hanya dilakukan melalui ranah penegakan hukum. Menurut Tito, saat ini diperlukan adanya ideologi tandingan yang bersifat moderat untuk meredam maraknya penyebaran pemahaman radikalisme di masyarakat. “Terorisme tidak bisa ditangkal hanya dengan menangkap dan menembak pelaku. Counter ideologi dilakukan dengan memoderasi narasi radikal mereka,” katanya.

Dalam hal ini, Tito menuturkan, peran para ahli agama sangat diperlukan untuk membantu pemerintah memberantas terorisme. Sebab, penyebaran paham radilkal kerap dilakukan oleh kelompok teroris melalui narasi ideologi dengan mengutip ayat-ayat kitab suci yang multiinterpretasi.

Dia mengapresiasi konsep Islam Nusantara di kalangan Nahdlatul Ulama, merupakan salah satu contoh ideologi tandingan. Menurut Tito, jika dilakukan secara intens, maka konsep Islam Nusantara akan mencegah upaya radikalisasi kelompok teroris. “Ini yang harus intens karena Islam Nusantara itu kan moderat dan berlandaskan kearifan lokal,” ucapnya.

Namun, Tito menyayangkan penye-baran ideologi tandingan tersebut terkendala dengan adanya fenomena silent majority. Meski kelompok moderat jumlahnya banyak, tetapi mereka cenderung diam ketika menemukan paham radikalisme menyebar di masyarakat.

Penulis: Ch. Robin Simanullang | Bio TokohIndonesia.com

Footnotes:

1] KBBI: brilian/bri•li•an/ a pandai sekali; cemerlang; hebat (tentang kemampuan otak, berpikir); mengagumkan.
2] Kepala Bagian Mitra Divisi Humas Polri Kombes Pol Awi Setiyono di kompleks Mabes Polri, Selasa (13/12/2016) mengungkap skenario para pelaku penemuan bom di Bintara, Bekasi, yang disasar untuk Istana Negara.
3] Kapolri Jenderal Tito Karnavian saat menjabat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) saat menjadi pembicara pada “Australia-Indonesia Ministerial Council on Law and Security” 8 Juni 2016 di Sydney Australia. Tito yang saat itu calon tunggal Kapolri, adalah anggota rombongan pemerintah Indonesia yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan.
4] Kapolri Jend. Pol. Drs. M. Tito Karnavian, M.A., Ph.D., saat memberikan Kuliah Umum “Peran & Kebijakan Polri dalam Menjaga Keutuhan, Kerukunan, dan Toleransi di Indonesia” di Bale Sawala, Gedung Rektorat Unpad, Jatinangor, Kamis (22/12/2016).
5] Kapolri Jenderal Tito Karnavian saat menghadiri ‘Apel Nusantara Bersatu’ yang dihelat atas gagasan Panglima TNI di Silang Barat Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Rabu (30/11/2016).


Data Singkat

Jenderal Polisi Drs. Haji Muhammad Tito Karnavian, MA, PhD, Kapolri ke-23 / Kapolri Brilian dan Terpercaya | 26 Oktober 1964 | Ensiklopedi | T | Laki-laki, Islam, Palembang, Sumatera Selatan, polisi, polri, pemimpin

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here