Kapolri Brilian dan Terpercaya

Tito Karnavian
 
0
533

04. Strategi Berantas Terorisme

Kapolri Jenderal Tito Karnavian[3] mengatakan strategi pemberantasan terorisme dilakukan dengan tetap menempatkan “law enforcement strategy” sebagai yang utama dan “soft approach.”

Tito Karnavian mengatakan serangan teroris yang terjadi saat ini merupakan gelombang kedua aksi teroris yaitu neksus (gabungan) antara jaringan Al Qaeda dan Al-Jamaah Islamiyah.

Jamaah Islamiyah adalah jaringan teroris satu-satunya yang aktif di kawasan melingkupi Malaysia, Indonesia, Filipina bagian Selatan, hingga beberapa daerah di Australia. Kekuatan neksus tersebut karena ketersediaan ideologi, keuangan dan senjata.

Menurut Tito Karnavian, gelombang kedua teroris itu ditandai dengan berjayanya kelompok ISIS mulai 2013 yang dipimpin oleh Abu Bakr al-Baghdadi di Suriah dan Irak dan merupakan amalgamasi (percampuran dua elemen) tauhid jihad Irak yaitu Al-Qaeda in Iraq (AQI) dan bekas tentara Saddam Husein.
ISIS mengokupasi wilayah yang tidak bertuan secara hukum karena kerumitan politik internal Suriah yang terbagi atas sejumlah kepentingan. Begitu pula negara-negara besar terbagi karena ada yang membela pemerintah Surian dan ada yang mendukung kaum pemberontak.

Tito menjelaskan serangan di Jakarta jelas menunjukkan bahwa hal itu bukan inisiatif lokal tapi sepenuhnya tindakan ISIS yang ingin menciptakan Paris attack di Jakarta. “Serangan itu bahkan diinisiasi oleh teroris yang dipenjara di Nusa Kambangan,” jelas Tito.

Untuk menangani dan juga mencegah serangan teror tersebut, kata Tito, maka Indonesia pun harus meyakinkan negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia dan juga Inggris untuk bersatu melawan ISIS.

Dia bilang, Suriah saat ini dinilai dapat menjadi ‘melting pot’ bagi organisasi-organisasi teroris dan dapat menciptakan jaringan global teroris yang baru. Menurut Tito, Pemerintah Indonesia mencatat setidaknya sudah terkonfirmasi hampir 500 orang Indonesia sudah berangkat ke Suriah dan sekitar 150 orang lain belum terkonfirmasi, sehingga total ada lebih dari 600 orang Indonesia bergabung dengan ISIS.

Strategi
Namun, menurut Tito, pendekatan yang dilakukan tetap menempatkan “law enforcement strategy” sebagai yang utama dan “soft approach” untuk mengatasi ideologi teroris. “Penegak hukum tetap di garis depan tapi didukung dengan intelijen dan militer di belakang. Kami menggunakan law enforcement led strategy sehingga HAM tetap dilindungi karena semuanya berdasarkan proses hukum yang dibawa ke pengadilan. Pertarungan kami bukan hanya menangkap di lapangan saja tapi juga di pengadilan sehingga publik puas dan HAM ditegakkan,” kata Tito Karnavian.

Dia mengungkapkan, pencegahan terhadap perekrutan untuk bergabung ke ISIS antara lain dilakukan dengan mencegah orang dengan prinsip hijrah dan jihad pergi ke Suriah.

Cara selanjutnya adalah mengubah ideologi. Dalam hal ini, pemerintah perlu mengundang ulama atau orang-orang bekas anggota kelompok agar meyakinkan ke anggota yang masih aktif bahwa Suriah bukan tempat untuk hijrah.

Advertisement

Selain itu, kata Tito, aparat juga membangun jaringan intelijen, baik BIN maupun BAIS, untuk mendeteksi mereka yang ingin direkrut dan pergi ke Suriah. Jaringan kerja sama juga diperluas ke negara-negara transit seperti Singapura, Malaysia, Hong Kong, Turki karena kebanyakan mereka pergi ke Suriah melalui Turki dan menggunakan maskapai penerbangan Turki.

Strategi lainnya adalah membekukan rekening kelompok teroris sehingga memotong keuangan mereka. Tito mengungkapkan, setidaknya sudah ada 30 rekening individu dan 5 kelompok termasuk rekening Al Jamaah Islamiyah, Al Haramain Foundation Indonesia, Jammaah Anshorut Tauhid (JAT), Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI) yang merupakan organisasi sayap Jamaah Islamiyah dan Mujahidin Indonesia Timur yang dibekukan.

Strategi berikutnya adalah dengan pengelompokan para terpidana teroris menjadi tiga kelompok yaitu: Kelompok pertama, “hardliner” bagi mereka yang sangat kuat ideloginya seperti Abu Bakar Baasyir dan Aman Abdurahman; Kelompok kedua adalah mereka yang militan tapi masih bisa diubah ideloginya seperti pelaku Bom Bali Imam Samudera; dan Kelompok ketiga adalah kelompok pendukung yang memberikan dukungan informasi, perlindungan hingga keuangan tapi dapat diubah ideologinya dengan menggunakan pendekatan lunak.

Menurutnya, memahami level radikal para pelaku teror sangat penting karena motif itu yang nantinya menentukan pendekatan yang akan diterapkan kepada mereka. Tito mengatakan, adapun sejumlah motif para pelaku teror adalah (1) motif spiritual, (2) motif emosional misalnya balas dendam dan (3) motif materialisme karena mereka dijanjikan akan mendapat gaji besar di Suriah.

“Setelah mengetahui motif maka proses konseling deradikalisasi dapat dilakukan dengan lebih tepat, misalnya bila motif pelaku teror adalah materi maka disediakan kursus keahlian atau lapangan kerja bagi para mantan teroris. Bila motifnya adalah emosional atau spritual, BNPT menggunakan pendekatan agama dan budaya yang dengan berkeja sama dengan NU dan Muhammadiyah,” jelas Tito Karnavian.

Tito juga mengingatkan, selepas dari penjara, para mantan pelaku teror dan keluarga inti mereka juga harus tetap dimonitor oleh kelompok khusus yang terdiri dari para peneliti, intelijen dan psikolog. “Memang tidak mungkin mereka semua bisa diubah tapi setidaknya sudah ada 20-25 orang yang telah mengalami deradikalisasi,” kata Tito.

Penulis: Ch. Robin Simanullang | Bio TokohIndonesia.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini