Birokrat Tulen Asli Betawi

[ Sylviana Murni ]
 
0
320
Sylviana Murni

[DIREKTORI] Perempuan kebanggaan warga Betawi ini sudah kenyang makan asam garam sebagai birokrat/PNS di lingkungan pemerintahan DKI Jakarta. Sejumlah jabatan strategis pernah dia emban seperti Kepala Biro, Wali Kota Jakarta Pusat, Kepala Satpol PP hingga terakhir sebagai Deputi Gubernur Bidang Pariwisata dan Kebudayaan. None DKI Jakarta 1981 dan Guru Besar bidang Manajemen Pendidikan ini aktif berorganisasi dan menjadi pengajar di beberapa universitas.

Sylviana Murni, perempuan Betawi asli, lahir di Jakarta, 11 Oktober 1958 sebagai anak ketiga dari sepuluh bersaudara. Ayahnya H. Dani Moerdjani, seorang tentara dengan pangkat terakhir Kolonel dikenal tegas dan disiplin. Sedangkan Ibunya, Hj. Ni’mah, seorang ibu rumah tangga yang mengajar anak-anaknya untuk taat beragama, rendah hati dan menghormati orang lain.

Sejak muda, Sylviana senang bergaul dan ikut kegiatan di luar rumah. Ia pernah menjadi sekretaris Karang Taruna Kelurahan Pisangan Timur dan Sekretaris OSIS SMAN 12, Jakarta. Saat kuliah, kegiatan organisasi yang diikutinya semakin banyak diantaranya Sekretaris Senat Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jayabaya (1977-1979), Kabid Ekstern Kohati HMI Cabang Jakarta (1978) dan Waka Kohati PB HMI (1981).

Terhitung sejak tahun 1985, Sylviana yang pernah menjadi None Jakarta 1981 ini meniti karier sebagai PNS dengan menjadi Staf Penatar Badan Pembinaan, Pendidikan, dan Pelaksanaan Pedoman Pemghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP-7) DKI (1985-1987). Kariernya terus menanjak dengan menduduki beberapa jabatan kepala di antaranya Kepala Bagian Kebudayaan Biro Bintal DKI (1995-1997), Kepala Biro Bina Sosial DKI (1999-2001) dan Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (DKCS) DKI (2001-2004).

Sylviana sempat cuti sebagai PNS karena terpilih menjadi anggota DPRD DKI periode 1997-1999 dari Golkar. Namun ketika terbit peraturan pemerintah (PP) yang mengharuskan PNS tidak memihak atau netral dari partai politik, ia memilih kembali menjadi PNS dan melepas jabatan anggota legislatifnya. Saat itu, Sylviana yang sudah mencapai tingkat Eselon IV dipercaya sebagai Kepala Biro Bina Sosial DKI (1999-2001).

Sembari meniti karier, Sylviana menyempatkan diri untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ia berhasil menyelesaikan S2 di Fakultas Ekonomi Univesitas Indonesia (1999) dan S3 di Universitas Negeri Jakarta (2005). Ia juga mendapat gelar profesor dan ditetapkan sebagai Guru Besar bidang Manajemen Pendidikan di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Jakarta. Hal ini menjadikan Sylviana menjadi wali kota pertama di Indonesia yang meraih gelar guru besar. Sementara bagi komunitas Betawi, Sylviana termasuk orang kedua setelah Profesor Yasmin Shahab yang meraih gelar akademis tertinggi dan bergengsi di dunia kampus.

Saat dipercaya sebagai Kepala Dinas Pendidikan Dasar DKI (2004-2008), Sylviana makin dikenal karena namanya sering disebut dalam liputan media massa. Dia ramah dengan wartawan dan rajin blusukan ke lapangan. Tidak heran bila banyak kepala sekolah SD dan SMP di Jakarta yang merasa dekat dengan Sylviana sebab dia sering datang mendadak ke sekolah, berdialog dengan para guru dan siswa.

Pada tahun 2008, ibu dua anak ini diangkat menjadi  Wali Kota Jakarta Pusat (2008-2013). Dia tercatat sebagai perempuan pertama yang menjabat sebagai Wali Kota di Jakarta Pusat yang memiliki 44 kelurahan di delapan kecamatan.

Ketika menjabat sebagai Wali kota Jakarta Pusat, Sylviana menjalankan konsep “bekerja tanpa mengenal ruang dan waktu.” Selain lincah berkeliling dari kelurahan ke kelurahan, Sylviana piawai menggunakan perangkat teknologi komunikasi dan media sosial untuk mendukung pekerjaan. Saat itu, banyak camat dan lurah yang dibuat kaget karena Sylviana tiba-tiba sudah berada di kantor mereka, tanpa pemberitahuan sama sekali. Sylviana juga melakukan terobosan dengan membuat Pelayanan Terpadu Malam Hari untuk menjawab tantangan dari Gubernur Fauzi Bowo yang meminta para  Wali Kota melakukan pelayanan langsung di tengah pemukiman masyarakat. Pelayanan Terpadu Malam Hari ini memberikan 23 jenis layanan dan pernah dilakukan di sejumlah kelurahan, salah satunya, Kelurahan Kwitang.

Selain itu, ada pengalaman lain yang tak terlupakan bagi Sylviana saat menjabat sebagai wali kota. Saat itu, Foke sidak ke Monas dan menjadi marah karena melihat lingkungan sekitarnya kotor dan tidak terawat. Sadar bahwa kebersihan Monas adalah tanggung jawabnya, Sylviana langsung mendirikan sebuah tenda ukuran 3 x 6 meter di sisi barat Monas. Di situ dia ‘ngantor’ selama beberapa pekan untuk memantau langsung perbaikan dan penataan Monas.

Selain lincah berkeliling dari kelurahan ke kelurahan, Sylviana piawai menggunakan perangkat teknologi komunikasi dan media sosial untuk mendukung pekerjaan.

Pada masa Joko Widodo menjadi Gubernur DKI Jakarta, Sylviana diangkat menjadi Asisten Sekda bidang Pemerintahan DKI Jakarta (2013). Karena posisinya itu, ia sempat menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Jakarta Barat. Sylviana menggantikan posisi Burhanuddin, yang maju menjadi calon legislatif pada Pileg 2014.

Saat dilantik menjadi Plt Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Pemprov DKI Jakarta (2013-2014) menggantikan Effendi Anas yang pensiun, nama Sylviana jadi pembicaraan publik karena untuk pertama kalinya perempuan ditunjuk memimpin Satpol PP yang dikenal suka main gebuk kepada pedagang kaki lima (PKL) ataupun korban gusuran. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo saat itu berharap, wajah Satpol PP yang terkesan garang menjadi lebih segar dengan menunjuk perempuan sebagai pimpinan. Jabatan yang diemban Sylviana itu hanya berlangsung selama satu tahun, sampai akhirnya Jokowi melantik Kukuh Hadi Santoso sebagai Kepala Satpol PP DKI Jakarta.

Posisi Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta sempat kosong setelah Fadjar Panjaitan mengundurkan diri tahun 2013. Posisi PNS nomor satu di DKI Jakarta ini menjadi rebutan dan nama Sylviana juga masuk sebagai salah satu dari sembilan calon Sekretaris Daerah (Sekda). Namun, Sylviana harus memendam harapannya setelah ia dilantik menjadi Deputi Gubernur bidang Budaya dan Pariwisata DKI Jakarta (2015). Posisi Sekda DKI Jakarta kemudian diduduki oleh Saefullah.

Karier Sylviana yang cemerlang membuat dia dilirik menjadi calon wakil gubernur. Sylviana sebelumnya sempat mengikuti fit and proper test yang diadakan Partai Gerindra untuk menjadi cawagub dari Sandiaga Uno. Namun akhirnya Sylviana berlabuh di Koalisi Cikeas.

Istri dari H. Gde Sardjana ini diudang ke Puri Cikeas, kediaman Susilo Bambang Yudhoyono. Beberapa saat kemudian, namanya bersama Agus Yudhoyono resmi diumumkan sebagai pasangan calon dari Partai Demokrat, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Amanat Nasional (PAN). Sebagai calon wakil gubernur pada Pilkada DKI Jakarta 2017, Sylviana mengundurkan diri dari statusnya sebagai PNS DKI Jakarta pada Jumat, 23/9/2016. Agus-Sylviana akan bersaing dengan pasangan Ahok-Djarot dan Anies-Sandiaga. Bio TokohIndonesia.com | cid, red

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here