Walikota yang Gagah Berani

[ Bagindo Azizchan ]
 
0
97
Bagindo Azizchan
Bagindo Azizchan | Tokoh.ID

[PAHLAWAN] Meski suasana sedang sulit dan genting, ia terus berjuang mempertahankan keberadaan pemerintah sipil di kota Padang. Perjuangannya terhenti setelah Belanda menjebak lalu membunuhnya.

Bagindo Azizchan, putra pasangan Bagindo Montok dan Djamilah ini lahir di Kampung Along Laweh Koto Padang pada 30 September 1910. Anak ke-empat dari enam bersaudara ini menamatkan pendidikan dasarnya di HIS pada tahun 1926. Azizchan kemudian melanjutkan pendidikannya ke MULO di Surabaya. Tahun 1929 setelah tamat dari MULO ia melanjutkan ke AMS di Jakarta. Kemudian di kota yang sama ia melanjutkan ke Recht Hoge School (Sekolah Tinggi Hukum).

Namun karena masalah keterbatasan keuangan, ia memutuskan untuk berhenti hanya sampai tingkat II. Tahun 1933, Azizchan mendirikan kantor pengacara kemudian bergabung dalam Jong Islameten Bond (Ikatan Pemuda Islam). Tahun 1935, ia membentuk lembaga Folks Unicer Siseit (Lembaga Pendidikan) dan menjadi guru.

Meskipun hidup di masa-masa sulit, hal itu tak lantas membuatnya mau bekerjasama dengan pemerintah kolonial Belanda.

Ia terpilih menjadi Walikota Padang pada masa awal kemerdekaan, tepatnya 15 Agustus 1946. Memangku jabatan sebagai seorang pemerintah daerah bukanlah hal yang mudah pada waktu itu, karena peperangan masih berlangsung maka ia harus berusaha sekuat tenaga untuk tetap memperjuangkan, mengembangkan keberadaan pemerintah sipil di kota Padang.

Ia berkunjung ke Markas Besar Sekutu dan mengadakan perundingan setelah sehari sebelumnya resmi dilantik sebagai walikota. Hasil perundingannya dengan pihak sekutu membuahkan dua butir kesepakatan, yakni:

(1) Setuju melakukan kerjasama seratus persen untuk menanggulangi masalah keamanan terutama di Padang yang semakin rawan;
(2) Membicarakan langkah-langkah teknis lalu lintas kereta api dan pos.

Setelah melakukan perundingan, di kantornya ia mengadakan perayaan HUT Kemerdekaan RI secara tertutup. Meskipun saat itu situasi di kota Padang dalam keadaan genting namun ia tetap bertahan. Sang walikota kemudian menerbitkan surat kabar Republik Indonesia Cahaya dengan tujuan untuk mengimbangi kampanye yang dilakukan NICA.

Operasi militer yang dilakukan tentara sekutu pada 23 Agustus 1946 guna menghancurkan tentara RI berhasil digagalkan lewat perlawanan gerilya. Dalam situasi genting kala itu, Azizchan masih sempat mengunjungi tahanan rakyat dan mengusulkan kepada tentara Sekutu agar melepaskan para tahanan.

Sebagai seorang walikota yang memegang teguh prinsip, ia bertekad untuk tetap menegakkan pemerintahan meski dalam keadaan sesulit apapun. “Entahlah kalau mayat saya sudah membujur barulah Padang akan saya tinggalkan”, sebaris kalimat itu seakan menggambarkan kegigihannya dalam mengemban tanggung jawab sebagai seorang walikota. Baginya, jabatan adalah sebuah amanah untuk mengabdi kepada masyarakat, bangsa dan negaranya.

Berdasarkan penandatanganan naskah persetujuan Linggarjati oleh pemerintah RI dan Belanda pada 25 Maret 1947, masing-masing pihak yang telah bersepakat semestinya dapat menciptakan suasana saling menghargai, namun hal sebaliknya terjadi di kota Padang. Hal itu disebabkan karena pihak pemerintah Belanda tidak menghormati hasil kesepakatan yang telah disetujui dalam Perjanjian Linggarjati. Mereka cenderung mau menang sendiri dan suasana panas permusuhan pun semakin terasa.

Dalam suatu perjalanan menuju Padang, tepatnya di suatu daerah bernama Arang Parahu, mobil yang ditumpanginya dihentikan oleh Mak Uniang Rasyidin seorang aktivis RI.

Aktivis itu kemudian memberikan peringatan pada Bagindo Azizchan agar tidak masuk kota Padang karena ancaman tentara Belanda.

Mendengar hal tersebut tak membuat nyalinya menciut, ia tetap melanjutkan perjalanannya menuju Padang. Tak ayal, sang walikota pun menjadi sasaran kebringasan tentara Belanda. Skenario jahat dibuat ketika ia diminta datang untuk menentramkan situasi pasca insiden yang terjadi pada 19 Juli 1949. Insiden yang berlangsung di Lapai tersebut melibatkan seorang tentara Belanda bernama van Erp dengan sejumlah orang Indonesia. “Perangkap” yang mereka pasang berhasil menjebak sang walikota. Pria yang dikenal sebagai seorang pemimpin yang gagah berani itu pun dibunuh tentara Belanda.

Bagindo Azizchan dikenal dengan kesetiaan dan tanggung jawabnya dalam melaksanakan tugas-tugas sebagai seorang walikota dalam kerangka negara kesatuan RI. Ia rela bersusah payah untuk melindungi masyarakat kotanya sampai harus mengorbankan hidupnya. Sudah selayaknya perjuangan dan pengorbanannya menjadi inspirasi dan semangat juang seluruh rakyat Indonesia. Atas jasa-jasanya kepada negara, Bagindo Azizchan diberi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia No.082/TK/Tahun 2005, tanggal 7 November 2005. e-ti

Data Singkat
Bagindo Azizchan, Walikota Padang, 15 Agustus 1946 / Walikota yang Gagah Berani | Pahlawan | pahlawan nasional, mulo, HIS, AMS

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here