02 | Keharusan, Etos Pertama dan Utama

Jansen Sinamo
Jansen Sinamo | Tokoh.ID

Jansen melewati masa kanak-kanaknya sama seperti kebiasaan umumnya anak-anak lainnya. Masih terang dalam ingatannya tentang Sidikalang, kota tempat ia dibesarkan. Hal pertama yang diingatnya adalah masa sewaktu ia belum bersekolah, saat PKI sedang gencar-gencarnya dikejar dan dihabisi TNI. Tembak menembak kerap terjadi di kotanya, membuat para orang tua panik bila anaknya tidak pulang tepat waktu. Begitu pula orang tua Jansen.

Mulai bersekolah tahun 1966, Jansen sedari awal menunjukkan prestasinya. Sejak kelas tiga SD Jansen selalu meraih juara hingga ke bangku kuliah. Bersekolah baginya terasa bagai air mengalir saja karena otaknya yang lumayan encer.

Sambil bersekolah, Jansen membantu orang tuanya yang pegawai negeri tetapi juga sebagai petani yang mengolah sawah, kebun, dan ternak. Di tengah-tengah keseharian dalam keluarganya, Jansen bertumbuh dalam asuhan, nasihat, filsafat, dan cita-cita orang tuanya.

Sebagaimana semua orang tua berkeinginan, orang tua Jansen juga menginginkan anaknya jauh lebih baik dari mereka. Sebagai sulung dari delapan saudara, Jansen menjadi tumpuan harapan dan kebanggaan kedua orang tuanya. “Kamu ini anak paling besar, adikmu tujuh, jadi kamu harus berhasil, sekolahmu harus paling maju, kamu harus mampu menjadi pengganti kami kelak bagi adik-adikmu,” pesan ayah dan ibunya terus menerus.

Kata ‘harus’ menjadi etos pertama dan utama yang secara tidak sadar tertanam dalam batinnya. Ia diharapkan menjadi orang yang bisa menjadi teladan dan layak diandalkan, dibela dan dibenarkan.

Jansen mampu melihat dan mengamini kebenaran maksud orangtuanya yang baik itu. Karena orang tuanya sudah melalui masa-masa sulit yang membuat kesempatan bagi mereka tidak terbuka luas. “Cukuplah saya bodoh, cukuplah saya tidak sekolah, sungguh betapa sakit tidak bersekolah. Bukan tidak mau sekolah, tapi waktu itu zaman Jepang, sekolah dibubarkan. Ibu cuma sempat sekolah sampai kelas satu SD saja. Sekarang, kalian harus sekolah setinggi mungkin,” kata ibunya mengenang masa lalunya saat memberi nasihat kepada anak-anaknya.

Dalam hati orangtuanya mencuat cita-cita agar kelak anaknya bisa meraih apa yang tidak pernah mereka peroleh. Keinginan untuk bersekolah tinggi ini sempat mendapat komentar bernada kuatir dari sejumlah saudara-saudaranya. “Kenapa harus disekolahkan jauh-jauh, tinggi-tinggi, apa sanggup, apa cukup dana?” Tapi orangtua Jansen bersikukuh: Jangan kuatir, Tuhan Maha Pemurah. Tiap hari pasti ada rezeki baru. Iman yang besar dari kedua orangtua ini tertanam dalam jiwa Jansen. Iman ini jugalah menjadikannya memperoleh apa yang raih sekarang.

Jansen muda terus meniti waktu di Sidikalang hingga bangku SMA. Di sela-sela kegiatan sekolah, dia mengikuti berbagai kegiatan kepemudaan dan kebudayaan baik di lingkungan sekolah, gereja, maupun kepanduan. Suasana kota kecil yang tenang di mana penduduknya umumnya bertani dan berniaga hasil bumi membuat Jansen akrab dengan alam.

Namun kelas tiga SMA Jansen pindah ke Bandung untuk mempersiapkan diri memasuki ITB Bandung. Menurut pandangan waktu itu, masuk ke ITB dengan modal lulusan SMA daerah adalah sangat sulit. Setahun di Bandung membuat perbedaan signifikan, dia pun diterima di Jurusan Fisika ITB.

Orang tua Jansen pernah menginginkannya menjadi seorang pendeta. Dalam benak orangtuanya, hanya ada dua profesi yang hebat, yaitu bupati dan pendeta. Profesi lain seperti pengusaha atau politisi belum ada dalam kamus mereka. Keinginan orangtua ini sebenarnya beralasan. Sejak kecil anak sulung mereka ini mempunyai minat baca yang besar. Tapi sayang, selain buku pelajaran buku lain hampir tak ada. Satu-satunya buku milik keluarga adalah Alkitab. Inilah yang dilahapnya habis. Melihat kenyataan itu, orangtuanya berkesimpulan, “Wah, ini anak calon pendeta.”

Memasuki SMP, Jansen mulai merambah dunia komik. Komik-komik karangan Kho Ping Hoo yang banyak menyisipkan filsafat populer dalam cerita-ceritanya adalah kesukaannya. Topik bacaannya pun bertambah banyak saat di ITB. Jadi tidak heran meski mengambil jurusan fisika, ia malah akrab dan doyan dengan bacaan yang bertemakan sastra, sejarah, filsafat, teologi, kosmologi, biologi, psikologi, sosiologi, antropologi, ekonomi, dan futurologi.

Public Speaking
Jansen mulai menemukan dunia public speaking waktu di tingkat tiga, dengan seringnya diundang oleh kampus untuk menjadi pembicara atau penceramah. Terkadang ia berpikir bahwa kegiatannya itu tidak jauh berbeda dengan kegiatan seorang pendeta, hanya saja topiknya lebih luas, seperti leadership, manajemen, pengembangan profesionalisme, dan topik-topik lainnya yang hangat di kalangan mahasiswa.

Bagi Jansen, menekuni karir sebagai seorang dosen bukanlah pilihan yang tepat. Pertimbangannya, dengan gaji dosen yang saat itu sangat kecil pasti tidak akan cukup untuk membiayai dirinya sendiri dan keluarganya. Oleh karena itu, ketika ia mendapat tawaran untuk bekerja di Jakarta sebagai seorang seismic engineer – yang mencoba memetakan bawah bumi untuk mencari dan memperkirakan letak sumber minyak – ia pun menerimanya.

Namun, selama menjadi engineer Jansen masih belum menemukan kebahagiaan sejatinya. Dari sisi otak dia sanggup sebagai engineer, tetapi hatinya yang tidak. Ia masih terus berkelana mencari kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan public speaking. Pencariannya terjawab tatkala dosen senior mata kuliah umum etika di ITB pergi ke luar negeri selama beberapa tahun. Karena Jansen bertahun-tahun menjadi asisten dosen tersebut, maka ia pun ditawari untuk mengisi kekosongan tersebut dengan status dosen tidak tetap. Ia pun menerimanya dengan penuh semangat dan sukacita. Setiap akhir pekan, ia menyempatkan diri ke Bandung hanya untuk menumpahkan hasratnya mengajar.

Tahun 1984 adalah turning point sejarah hidup Jansen. Ia mengikuti Dale Carnegie Training. Di sinilah ia menemukan perbedaan profesi antara seorang dosen dan trainer. Segera, ia ingin menjadi menjadi trainer, seorang public speaker. Hal itu ditunjukkannya dengan selalu datang paling pagi sebelum training dimulai dan mengikuti training tersebut dengan serius. Usaha kerasnya tidak sia-sia, begitu selesai training ia pun ditawari untuk menjadi asisten. Betapa senang hatinya saat itu. Apa yang ia nanti-nantikan kesampaian juga, dan berawal dari sinilah karirnya sebagai seorang trainer dimulai.

Namun, meski sudah menemukan tempatnya, Jansen masih tetap melanjutkan pekerjaannya sebagai seorang engineer. Tahun 1987, ia akhirnya memutuskan keluar dari dunia engineering dan sepenuhnya menggeluti dunia training dengan bergabung di Dale Carnegie Training. e-ti/atur-juka

***TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here