Pemimpin yang Tak Pernah Tidur

Soemino Eko Saputro
 
0
639

02 | Memilih Kereta Api, Bukan Pertamina

Soemino Eko Saputro
Soemino Eko Saputro | Tokoh.ID

Setelah meraih gelar insinyiur sipil dari ITS Surabaya, Soemino Eko Saputro, berkesempatan memilih satu dari tiga tawaran ikatan dinas. Pilihannya jatuh ke Perum Kereta Api. Dia malah mengabaikan PT Pertamina dan PT Semen Gresik yang menurut pandangan umum lebih memiliki masa depan yang menjanjikan.

Soemino tidak menyesal meskipun setelah jadi karyawan gajinya sempat dibayar cicil. Keteguhan hatinya membawahikmah. Soemino pernah menduduki posisi tertinggi di Perusahaan Umum Kereta Api, sebagai Direktur Utama.Setelah mengalami pasang dan surut, bintang Soemino bersinar kembali. Departemen Perhubungan membentuk Direktorat Jenderal Kereta Api, dan menunjuk Soemino sebagai Direktur Jenderalnya yang pertama. Menteri Perhubungan Ir Hatta Rajasa agaknya tidak salah pilih, karena Soemino dengan segudang pengetahuan dan pengalaman, siaga penuh 24 jam, berpikir dan bekerja untuk kemajuan kereta api.

Semula pria kelahiran Delanggu, Jawa Tengah, tanggal 10 Septem-ber 1947 ini, tak pernah berkhayal untuk bekerja di Perum Kereta Api. Titik singgung antara Soemino muda dan dunia kereta api awalnya sederhana saja. Ibunya seorang pedagang beras, lebih memilih jasa kereta api untuk mengirim beras sampai ke Jakarta. Di situlah Soemino sering berhubungan dengan armada angkutan peninggalan Belanda tersebut.

Setelah lulus Insinyiur Jurusan Teknik Sipil di ITS, Soemino mendapat tawaran tiga ikatan dinas sekaligus yakni Pertamina, Semen Gresik dan Kereta Api. Dengan Semen Gresik, Soemino sudah disodori akte kesepakatan ikatan dinas di depan notaris, tinggal membubuhkan tanda tangan. Soemino sempat bingung, namun akhirnya malah menjatuh-kan pilihan pada kereta api.

Belum lama bekerja di kereta api, Soemino pusing juga karena gajinya selalu dibayar cicil dua kali. Padahal waktu itu, di Departemen PU, seorang insinyur sipil mendapat posisi yang bagus. Waktu itu pembangunan sedang pada puncaknya,” kata Pak Mino dalam wawancara khusus dengan tim wartawan Majalah Tokoh Indonesia. Apalagi Semen Gresik me-nawarkan posisi yang bagus padanya.

Memang sebelum menanda-tangani akte kesepakatan ikatan dinas, Soemino bertanya kepada salah seorang pegawai senior di Perumka: “Bagaimana prospek kereta api?”

Jawabannya: Pertama, ini per-usahaan pemerintah yang sangat dibutuhkan oleh rakyat, jadi sam-pai kapan pun hidup, tidak bakal-an mati. Kedua, seorang sarjana, kalau masuk di kereta api, yang pasti tidak akan kelaparan. Ketiga, di kereta api, tidak banyak sarjana yang masuk. Jadi kalau ada sarjana yang masuk, peluang untuk berkarir jauh lebih lebar dibandingkan dengan yang lain. Keempat, (yang diambil Soemino sebagai bahan pertimbangan untuk memenangkan pilihan di kereta api), kalau masuk ke PU, sarjana luar biasa banyaknya, sehingga persaingan untuk memperoleh posisi bagus mungkin berat.

Akhirnya, Sumino berpikir ke depan, memutuskan masuk ke kereta api. Begitu menandatangani akte ikatan dinas di kereta api, sepulangnya dari situ, Soemino grogi juga. Masuk sekolah ikatan dinas, dia diledek teman-temannya: “Ngapain masuk kereta api, gajinya diangsur dua kali.” Namun Soemi-no jalan terus. Dua temannya, Jasmani dan Indrayono, bersama-sama dia masuk ke kereta api. Namun, Jasmani lari meninggalkan ikatan dinas, sedangkan Indrayono memilih bagian mesin, dan berta-han di kereta api sampai sekarang.

Soemino mengenang, walaupun sama-sama ikatan dinas, Allah SWT memberikan jalan yang berbe-da-beda pada orang yang berbeda-beda. Kawan Soemino laju karirnya tidak maksimal, tidak seperti dirinya yang kebetulan mendapat keberuntungan yang lumayan.

Lulus pendidikan ikatan dinas, Soemino belum juga yakin mau masuk ke mana. Dia tidak lang-sung melaporkan kelulusannya ke Perum KA yang memberinya ikatan dinas. Dia sempat ‘bersembunyi’ di Malang. Lantas dia dipanggil dan dibawa ke Bandung untuk meneri-ma penugasan. Dia masuk Perum Kereta Api tahun 1975, dan aktif tahun 1976.

Advertisement

Soemino diminta menemui Pak Sayid, Kepala Subdit Jalan dan Bangunan. Soemino menggambar-kan Pak Sayid sebagai seorang yang mengerti benar mengenai perkereta-apian, khususnya perihal track (jalur). Di situ Soemino diharuskan bertugas selama enam bulan. Agak-nya, setiap dia menemui pimpinan, waktunya dipotong. Kemudian menghubungi kantor Perumka di Manggarai, masa tugasnya juga diperpendek.

Sehingga waktu tugas yang semestinya enam bulan dipersing-kat menjadi tiga bulan. Setelah bertugas tiga bulan, dia melapor ke Pak Sayid, meminta keterangan tentang penugasan berikutnya, atau mau dikemana-kan. Lantas Pak Sayid bertanya padanya: “Kamu senangnya di mana?” Soemino menjawab, “kalau tidak di Jakarta, ya Surabaya.”

Kenapa? Soemino menginginkan tempat yang ramai, penuh tantangan dan punya banyak hal yang harus dilakukan. Seminggu kemudian, Soemino ditempatkan di Surabaya. Ini hal yang jarang terjadi, karyawan yang baru lulus dan menjalani masa percobaan tiga bulan langsung ditempatkan di Surabaya.

Di Surabaya, dia ditempatkan pada kualifikasi A. Di situ ada pengawas A, pengawas B, pengawas C. Soemino langsung ditempatkan pada peng-awas A. Tetapi, Soemino tidak genap enam bulan bertugas di situ. Lantas dia diangkat menjadi Kepala Inspeksi di Malang (13-12-1977 sd 17-10-1978).

Rupanya Soemino selalu bernasib mujur. Belum lama di Malang, dia disuruh berangkat ke Jepang untuk menem-puh pendidikan tentang Makna Perencanaan. Kembali ke Malang sepulang dari sekolah di Jepang, tidak berapa lama kemudian, dia dipindahkan ke Jember sebagai Kepala IKD 11. Di Jember, dia bertugas selama tiga tahun (18-10-1978 sd 29-09-1981).

Di Jember, Soemino menarik pengalaman dan pelajaran berhadapan dengan orang-orang Jember keturunan Surabaya dan Madura. Soemino merasa tertantang berurusan dengan para karyawan yang keba-nyakan keturunan Madura. Dia belajar bagaimana mengelola dan mengoordinir sumber daya manusia (SDM).

Saat itu kondisi perkereta-apian sangat jelek. Di Jember, Soemino menjabat sebagai Kepala Bagian Jalan dan Bangunan. Kepala Eksploitasi ada di Surabaya, kala itu dipimpin Edi Ruslani, membawahi Madiun, Surabaya, Malang dan Jember. Edi orangnya keras bukan main. Setiap pagi Edi jalan kaki untuk mengecek jalur (jalan) kereta api, karena itu dia tahu persis kondisi jalur. Dan secara berkala melakukan inspeksi.

Daerah Jember, awalnya mencakup jalur kereta api mulai dari Jember – Kalisat – Bondowoso – Panarukan, Kalisat – Banyuwangi, dan Rambu Puji – Lumajang. Bilamana ada inspeksi oleh Kepala Eksploitasi, yang dipanggil mendampingi adalah Kepala Jalan dan Bangunan. Dia harus berada di gerbong kereta paling belakang. Saat itu ada kereta seperti eksekutif, namanya KA Nusantara, khusus untuk inspeksi. Mereka duduk di belakang menghadap ke jalan. KA yang paling tidak enak, kereta yang paling belakang.

Biasanya pada setiap inspeksi pasti ada korban. Korbannya, kalau tidak Kepala Seksi, ya Kepala Distrik. Kalau kondisi kereta jelek, kotor dan tidak karuan, pejabat yang bertanggung jawab, besok atau lusa hilang karena diganti. Inspeksi bertujuan memfinalisasi orang itu, mau terus atau tidak.

Di saat ada inspeksi, karena wilayahnya di Jember, Soemino harus menjemput di Prengil. Siap siaga di Prengil. Begitu kereta berhenti yang turun duluan Kepala Eksploitasi. Setelah salaman, semuanya masuk lagi. Yang lain nongkrong di belakang, sedangkan Soemino sepanjang perjalanan, mendampingi Kepala Eksploitasi.

“Itu pekerjaan bagian Jalan dan Bangunan. Gerbong kotor dimarahi, apalagi kalau goyang, isi gelas tumpah, pasti dimarahi,” kenang Soemino. Demikianlah kerasnya disiplin di kereta api saat itu. mti/crs-sh-ri

***TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini